
Keesokan hari, Felix dan Kimmy mengunjungi Bedugul. Hari kedua ini, mereka sudah terlihat sangat dekat dan mesra. Tak seperti saat-saat sebelumnya.
"Mereka sekarang terlihat mesra," ujar tour leader pada sang sopir.
"Iya, Pak. Tadinya aku nggak yakin kalo mereka itu suami-istri, tapi karena bos menyuruh kita untuk melayani mereka dengan baik, ya kita lakukan perintah Bos!" ujar si sopir.
"Tentu saja mereka suami-istri!" sahut si tour leader. Mereka memandangi kemesraan keduanya yang seperti masih berpacaran, walau telah terikat pernikahan.
Di atas pelabuhan, keduanya menunggu kapal yang menyeberangkan mereka ke Pura Bedugul. Saling menggenggam tangan dan saling menatap.
Felix membenahi anak rambut Kimmy yang terurai di wajahnya.
"Kimmy, kamu cantik," puji Felix, membuat gadis itu tersipu.
"Babang Pelix juga tampan," balas Kimmy menunduk dan mengangkat bahu dengan wajah memerah.
Babang? Tukang ojek apa?
Mereka tak menghiraukan pandangan orang-orang, seolah dunia milik berdua, yang lain numpang napas.
Menaiki kapal tanpa melepas genggaman tangan, seolah tak ingin gadisnya tercebur danau, Felix merangkul Kimmy. Mereka kembali berfoto-foto. Seperti merayakan semalam hari jadian mereka.
Pemandangan sangat indah. Foto dengan latar belakang pura, menjadi wallpaper layar ponsel Felix. Sementara itu, Kimmy belum bisa mengganti layar.
"Kenapa? Ada kesulitan?" tanya Felix menyerupai seorang tutor.
"Ini HP apa sih, Mas?" tanya Kimmy.
"Ya biasa kan, merk Apel Kegigit?" jawab Felix mengerutkan dahi.
"Kemarin kalo buat kirim pesan, typo-typo. Nah ini sekarang kan HP-HP modelnya 4G," ujar Kimmy.
"Nah itu apa?" tanya Felix.
"Tulisannya Lte," jawab Kimmy menyipitkan mata mengamati layar.
Felix memutar bola matanya.
"Ya itu sama ...." jawab Felix menepuk jidatnya.
Dodol!
Kimmy meringis. Gadis itu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, lalu menikmati pemandangan.
Felix menatapnya lagi ....
Dasar, untung aja cantik!
__ADS_1
Kemudian, perjalanan dilanjutkan ke Danau Beratan. Di sana, mereka bisa melihat kebun strawberry dan sayur mayur yang sangat menyegarkan mata.
Felix tak henti-hentinya mengambil foto Kimmy yang sedang berjalan di depannya atau bahkan sedang menikmati pemandangan. Kamera itu penuh dengan foto-fotonya.
Senja datang kembali, membawa mereka ke hotel lain. Sebuah hotel dengan konsep keluarga lagi. Entahlah si sopir dan tour leader itu seolah memanjakan dan mendorong pasangan itu untuk bereproduksi saja.
Kimmy meletakkan tasnya di dalam kamar hotel yang lebih mewah dari sebelumnya dengan konsep alam dengan kolam renang di sebelah kamar. Bisa dibayangkan betapa mewah hotel yang seharusnya dipesankan untuk Tuan Key dan keluarga senilai dua juta lima ratus ribu semalam. Felix dan Kimmy beruntung sekali bisa bermalam di sana.
Felix merasa gerah ingin menceburkan diri melihat air yang jernih di sebelah kamar. Karena seharian itu mereka berjalan di bawah teriknya matahari, maka keringat membanjiri tubuh. Makan malam pun disediakan di sebelah kolam renang. Masakan khas Bali dan dua kelapa muda telah tersedia, hangat.
Felix mulai memasukkan kakinya di air. Pria itu hanya menggunakan boxernya. Sementara Kimmy memandangnya sambil menikmati makan malam.
"Mas ... malam-malam apa nggak dingin?" tanya Kimmy seraya memasukkan sesendok nasi dan ayam betutu ke dalam mulutnya. Merasa kepedasan, diseruput air kelapa muda yang ada di depannya.
"Gerah!" teriak Felix.
"Terserah, lah!" sahut Kimmy memperhatikan pria itu.
Badannya kekar dan atletis.
Kimmy menelan saliva saat melihat tubuh pria yang menjadi suaminya itu. Gadis itu merasa iba padanya karena belum bisa memenuhi hasrat sang suami. Namun, rasa takutnya belum bisa dia kuasai. Kimmy menggelengkan kepala.
"Sini, masuk ke kolam!" ajak Felix saat Kimmy makan lagi sesuap.
Gadis itu menelan dengan cepat suapannya. Lalu mendekati pria yang sedang menikmati dinginnya air. Dia menyentuh air. Tak terasa dingin karena memang suasana agak gerah malam itu.
Felix memegang tangan Kimmy, lalu gadis itu duduk di tepi kolam renang dengan kaus dan celana pendek.
"Mas Pel, lapar?" tanya Kimmy duduk di depan Felix.
"Tidak," jawab Felix.
Mereka saling menatap lagi. Sudah seperti orang kasmaran. Ya emang kasmaran, sih!
Felix meletakkan kedua tangan Kimmy di atas pundaknya lalu menceburkan gadis itu ke kolam. Otomatis Kimmy mengalungkan tangannya di leher pria itu. Mereka berenang sebentar dengan tertawa-tawa lepas.
Kimmy menyenggol sesuatu yang mengeras, menempel di dalam celana Felix.
"K-kok keras?" tanya Kimmy menarik tangannya. Ketimun itu begitu besar semalam. Sekarang gadis itu teringat lagi akan gesekannya.
Aaah!
Felix mengangkat bahu. Si Kuncung akhir-akhir ini memang melupakan akhlaknya.
"K-Kimmy ... maukah kamu membantuku?" tanya Felix.
"Bantu apa ...." ujar Kimmy.
__ADS_1
"Mengeluarkan bahan utama bakal bayi ini, sepertinya mau berebut keluar ...." jawab Felix.
"B-bahan utama bakal bayi??" tanya Kimmy melotot.
"Iya!"
"Dengan apa aku membantumu, Mas Pel?" tanya Kimmy.
"Dengan ... yang di dalam itu! Yang belum jadi semalam ...."
"Di sini?"
"I-iya, mungkin kalau di air tak terlalu sakit," ujar Felix.
Teori dari mana itu?
Kimmy menatap ragu pada pria itu. Namun, sentuhan bibir Felix di bibirnya sedikit mengoyakan keraguan.
"Nanti kalau sakit sekali, aku bikin dua kali, eh ... maksudku, aku panggilkan dokter!" ujar Felix merayu Kimmy karena sebatang sosis jumbo di dalam celana sudah sangat mendesak. Entah kenapa setiap berduaan dengan Kimmy, dia merasa dialiri listrik bertegangan tinggi.
"B-baiklah," jawab Kimmy. "Aku berdoa dulu!" lanjutnya memejamkan mata.
Setelah beberapa saat, mereka saling menatap. Lalu mendekat dan menempelkan bibir lagi lalu berpagutan, bertukar yang bisa ditukar oleh lidah. Pelan-pelan dan sabar sekali, Felix menelusuri kembali apa yang kemarin telah ditelusuri.
Kemudian setelah puas melakukan penelusuran, dia mulai membuka pembungkus odading yang pemiliknya telah pasrah akan rasa sakit. Kata Felix sebentar sakitnya.
Entah dia baca-baca dari mana.
Setelah keduanya tak memakai sehelai benang pun di kolam renang itu, peristiwa penusukan pun terjadi pelan-pelan.
Kimmy agak berjingkat kaget ketika sesuatu yang tumpul menyeruduknya pelan. Baru mengintip.
"Seperti digigit semut," ujar Felix menenangkan. Entah benar atau tidak.
Setelah Kimmy merasa rilex, Felix memperdalam tusukannya hingga gadis itu merintih kesakitan. Cairan merah dari bomboloni menetes di dalam air dan lenyap.
Namun, benar kata Felix, ternyata rasa sakit hanya sebentar dan lama-lama menyenangkan. Felix mengangkat Kimmy ke tepi kolam renang untuk melanjutkan perjuangannya mengeluarkan larva putih dari dalam.
Semakin lama makin cepat gerakannya lalu keduanya melakukan pelepasan. Sebuah gigitan kepuasan tercetak di leher jenjang Kimmy.
Bukan mereka yang berenang sekarang, tapi tugas tauge-tauge kecil yang berenang di rahim Kimmy.
******
Nah lho, pada komentar apa hayoo lohh .... Apa favorite kalian? Sosis jumbo? Odading? Bomboloni? Atau malah Tauge?
******
__ADS_1
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.