
"Gimana, Dion? Kenapa kamu malah balik, sih? Jangan bilang kamu membiarkan dokter Susan pulang sendiri!" omel Nyonya Erren saat melihat Dion berjalan lunglai mendekat.
"Dia udah dijemput, Ma. Mobilnya lebih keren, lagi?" sahut Dion lemas.
"Apa dijemput pacarnya?" tanya Nyonya Erren.
"Bukan sih, kalo dilihat dari lagaknya sepertinya sopir, tapi kayak familiar sopirnya itu, Ma?" sahut Dion berpikir.
"Ya ... mungkin mirip saja. Bukankah konon manusia punya tujuh wajah kembar di dunia ini? Yang penting sekarang, kamu fokus kejar dokter Susan, Dion! Mama tak ingin kehilangan kesempatan ini. Cita-cita Mama memiliki menantu dokter akan kesampaian, 'kan?"
Wajah Nyonya Erren berseri-seri membayangkan dia bisa memiliki seorang menantu dokter. Sebuah profesi yang bisa dibanggakan, setelah dia melihat rumor jelek dari pacar Dion yang menjadi seorang model itu sebelumnya.
"Dia akan bisa memperbaiki berita buruk tentang kisah percintaanmu, Dion!" imbuh Nyonya Erren lagi.
Dion nampaknya lelah mendengar perkataan sang Mama. Namun, dia juga setuju akan apa yang dikatakan Mamanya tentang Susan. Dion sebenarnya masih penasaran dengan gadis itu. Susah sekali untuk dirayu. Lelaki itu jadi teringat masa-masa sekolahnya, saat teman-teman membayarnya untuk menyatakan cinta pada Susan. Tak disangka, Susan menerimanya. Dia pun berhura-hura dengan uang lima juta yang didapat dari teman-temannya.
Namun, siap sangka, saat bersenang-senang dengan gadis lain, dia malah ditumpahi air soda oleh Susan. Kesal campur penasaran pada Susan dimulai saat itu.
"Iya, Ma! Mama tenang aja. Aku pasti pikirkan cara untuk mendekatinya," pungkas Dion.
***
Sementara itu di panti asuhan, dua orang masih bercakap-cakap di dalam sebuah ruangan. Sepertinya mereka belum puas mengurai kisah selama berpisah selama lima tahun itu.
Yoshua menunggu setiap cerita tentang Susan di masa lalu dari mulut Bu Anna. Dia nampak begitu antusias menunggu wanita itu mengeluarkan foto-foto usang mereka berempat di depan bangunan tua yang masih berupa rumah dari kayu, yang sekarang menjadi sebuah gedung panti asuhan atas usaha wanita itu. Bu Anna yang masih muda, Yoshua berusia lima tahun, dua bayi berusia satu bulan yaitu adiknya, Putri dan satu lagi ... tebakan Yoshua, itu adalah Susan.
"Benar, ini Susan. Dia diadopsi oleh Nyonya Winda, karena mendapatkan bayaran dari orang tua Susan saat usianya tiga tahun. Dia menangis menjerit-jerit saat itu. Kamu ingat? Usiamu sudah delapan tahun dan kamu berniat akan merebutnya kembali sambil terisak. Maaf, Yoshua ... ibu terpaksa memberikannya pada Nyonya Winda, karena itu permintaan orang tua Susan dan dia pantas berada di tempat yang layak. Saat itu, kita belum memiliki apa-apa. Kalian juga hanya makan seadanya."
Bu Anna terisak mengingat masa lalu. Dia bersikeras untuk membangun sebuah panti asuhan, tapi untuk Yoshua dan adiknya yang ditinggal kedua orang tuanya meninggal, harus hidup di situ seadanya sampai akhirnya sang adik Yoshua meninggal karena sakit. Setelah berita itu, banyak yang merasa kasihan dan memberikan sumbangan pada panti asuhan hingga menjadi besar seperti sekarang ini.
__ADS_1
"Pengorbanan Putri tak sia-sia. Kita mendapat perhatian dari pemerintah," tukas Bu Anna.
"Iya, Bu. Aku yakin, Putri di Surga juga senang melihat kita bisa merawat sampai belasan anak di panti asuhan ini dengan baik. Bu, besok aku akan mencari pekerjaan di kota. Aku akan memberikan sebagian gajiku ke panti asuhan ini jika sudah mendapatkan pekerjaan!" tekad Yoshua malam itu.
Bu Anna terharu mendengar penuturan Yoshua malam itu. Dia melihat kesungguhan dari kedua matanya.
"Yoshua, jika itu maumu, kejarlah impianmu. Jangan berhenti berusaha. Tuhan akan melihat usaha siapa yang paling besar, maka dia akan mendapatkan hasil dari usahanya di waktu yang tepat!" pesan Bu Anna.
"Iya, Bu."
"Tapi jangan lupakan sesuatu jika sudah tercapai, kejar juga hatimu, Yoshua."
Wajah Yoshua memerah. Sepertinya Bu Anna tahu siapa yang dia maksud. Yoshua beranjak dengan dalih mengantuk. Padahal wajahnya sudah semerah tomat.
"Bu, aku ngantuk. Aku mau ke kamar dulu," pamitnya.
Bu Anna tersenyum melihat gelagat anak lelaki yang telah dianggap anaknya sendiri itu. Tentu dia hapal bagaimana sikap Yoshua dari kecil.
"Ah, Ibu! Selamat malam, Bu!"
Yoshua berjalan meninggalkan Bu Anna di ruangan itu dan berjalan masuk ke kamarnya sendiri.
Malam itu, dia tak dapat memejamkan mata. Antara mencari pekerjaan dan mengejar cintanya, pikiran itu memenuhi otaknya. Teringat perkataan Ozkan. Juga impian untuk bekerja menjadi orang yang berguna, mengabdi pada panti asuhan yang membesarkannya. Semua campur aduk hingga membawanya ke alam mimpi.
***
Keesokan harinya, Susan telah berada di ruangan Adele. Dia melihat gadis itu terbaring dengan nyaman. Tak ada gejala buruk apapun yang nampak.
"Semoga pencangkokan jantung itu memang cocok dengan Adele," harap Susan.
__ADS_1
Dia meninggalkan Adele yang masih terbaring pulas, keluar kamar.
"Aduh!"
Susan menabrak seseorang yang berdiri di depan pintu dengan tangan di pintu dan mulutnya menggigit setangkai bunga mawar di sana. Kedua mata Susan membulat sempurna melihat pria itu menatapnya tajam setajam pisau daging. Bagi pria itu romantis, tapi bagi Susan, menjijikkan. Bunga mawar dengan liur si pria. Ihh ....
"Minggir!" ujar Susan dengan datar mengibaskan tangan di hidung, menaikkan kacamatanya sekarang. Bukan kacamata culun lagi yang dia pakai, tapi bentuk yang sesuai dengan wajah cantiknya itu.
Dion terpaksa menepi.
"Su—"
Baru saja akan menyusul Susan, tapi terhalang oleh para perawat yang lewat mendorong brankar dengan seorang pasien di atas brankar ke bangsal.
"Huh, belum sempat kasih bunga, udah pergi aja!" gerutunya pelan melongok-longok Susan yang sudah tak kelihatan lagi.
"Sial, udah susah payah tidur di rumah sakit, pakai karpet, nggak mandi, biar bisa ketemu dia pagi-pagi, malah dicuekkin!" omelnya sendiri.
Dion pun meletakkan bunga itu di pinggiran dan berjalan ke parkiran.
"Gagal ajak dia makan pagi, nanti siang pasti bisa ajak! Siapa sih yang mampu menolak pesona Dion?" ocehnya sendiri sambil mengangkat kerah bajunya.
Seorang ibu dengan anaknya yang berusia tujuh tahun melihat Dion yang lewat bergidik dan menutup hidung.
"Ibu, ada bunga mawar bagus di situ!" celetuk si anak.
"Jangan, Nak! itu punya mas-mas yang baunya astagfirullah itu, yang ngomong sendiri itu, nanti kalo diambil, bisa ketularan gila! Jangan ya? Nanti ibu belikan aja!"
*****
__ADS_1