
Dada Susan makin berdebar saat melewati dua bulan yang dia kira masih lama tapi pada kenyataannya tiba-tiba hari ini dia sudah harus berada di dalam rumah, tak boleh keluar-keluar. Bu Shinta yang menyiapkan segala keperluan Susan karena gadis itu masih membutuhkan bantuan. Namun, banyak hal yang keluar dari mulut Nenek Kin itu.
"Susan, tiga hari sebelum nikah harus dipingit dulu. Itu anunya diratus. Itu pakai tungku di kamar mandi bisa."
Bu Sinta memberikan satu set alat peratus anu pada Susan.
"Anu apa, Ma? Ketek?" tanya Bianca mempertegas apa yang disamarkan oleh Bu Sinta.
"Ish, itu lho yang lubang—"
"Hidung?" sambar Bianca menahan tawa.
"Sini, Mama ratus hidungmu biar keset!" sahut Bu Sinta jengkel mendengar Bianca menyahut saja. "Biar nggak ingusan!"
"Idih, bilang aja yang diratus Mbak Va Gina, tuh Susan aja bingung cara pakainya!"
Bianca mengangkat dagu ke arah Susan yang mengerutkan dahi membaca cermat tulisan pada bungkusnya.
"Kamu yang kasih contoh!" tukas Bu Sinta.
"Nanti punyaku keset gimana, Ma? Kuncungnya Key kalo pangling nanti susah masuk, malah ngambeg, lho?" beber Bianca.
"Kuncang kuncung, tuh dahi Susan makin mengkeret dengarnya."
"Ini apa sih yang dibicarakan? Ada Kuncung, ada Mbak Va Gin—, astaga baru sadar!" Susan berlari masuk menutup mulutnya dan pergi dari kedua mama dan anak yang bicara tanpa disaring itu.
Kedua wanita beda generasi itu terbahak melihat Susan yang langsung masuk ke dalam kamarnya dengan wajah bersemu merah.
***
Tiga hari kemudian.
Keributan pagi terjadi saat menjelang pernikahan Susan dan Yoshua yang selama tiga hari harus menahan rindu hanya diperbolehkan berkirim pesan saja.
Dua anak kembar pasangan Key dan Bianca saling bersembunyi di suatu tempat entah di mana saat akan dirias. Mereka bilang ingin dirias dengan baju karnaval semalam, tapi ternyata perias membawakan gaun yang bercorak sama untuk mereka.
"Celena! Celine!" Key memanggil anak-anak itu.
Namun, tak ada satu pun yang nampak. Sepertinya mereka ngambeg.
"Sayang, di mana the twins?" tanya Key pada Bianca yang telah cantik memakai gaun berwarna peach kalemnya.
"Hah? Tadi mereka kusuruh duduk manis di ruang bermain? Kemana, ya?"
Bianca dan Key berdiri dan beranjak mencari sekali lagi di setiap sudut ruangan. Mereka menemukan Kin yang telah rapi dengan jasnya. Senada dengan sang daddy. Sementara gaun si kembar senada dengan sang Mommy. Namun, masalahnya itu di mana mereka sekarang? Key mencari mereka di taman belakang.
"Mommy, mereka itu ingin pakai baju karnaval."
__ADS_1
Kin yang mulai besar nampak sekali nada bicaranya mirip dengan daddynya. Bahkan lebih dingin dan angkuh.
"Baju karnaval? Ini pesta pernikahan, bukan Agustusan!" protes Bianca kesal.
"Sudahlah, Mommy. Turuti saja mereka. Pasti mereka akan keluar."
Kin dengan santainya memberikan anjuran pada sang Mommy seolah dia adalah orang yang paling mengerti pada kedua adiknya itu.
Bianca menghela napas. Habis ratusan juta untuk memesan baju satu keluarga dengan desain khusus. Dia pun ingin anaknya tampil menggemaskan saat pesta, bahkan dia telah menyiapkan sudut-sudut untuk berfoto ria.
"Mommy ...." panggil Kin membawa dua baju, satu baju dokter kecil dan satu baju pramugari kecil.
Sekali lagi Bianca harus membesarkan hati memaklumi perilaku dua anak uniknya dan satu anak sok bijaksananya itu.
"Baiklah, baiklah. Mommy tau kamu akan bilang daripada mereka tak mau ikut pesta, ya kan?"
"Nah, Mommy pandai."
Bianca mengambil dua pakaian itu dengan mendengkus lalu memanggil kedua anak kembarnya.
"Celena, Celine. Baju karnaval kalian sudah siap."
Meski pelan, tak sekeras panggilan sebelumnya, Bianca melihat satu kotak langit-langit ruangan mulai bergerak terbuka. Matanya terbelalak saat satu per satu anak perempuan itu turun dari sana melewati atas lemari dan turun sampai di lantai dengan sempurna.
"D-darimana kalian menemukan tempat yang amazing untuk sembunyi?" tanya Bianca.
"Astaga, ngidam apa sih aku dulu?"
Bianca mengelus dada dan meraup wajahnya. Tak ingin lagi memusingkan kepalanya untuk menganalisa bagaimana mereka bisa membuat lubang di langit-langit dengan sempurna. Sudahlah, bikin stres.
"Mommy, Elin mau jadi dokter kayak Tante Susan!" ucap Celine menarik baju dokter kecil dari tangan Bianca.
"Mommy, Ena nggak mau jadi pramugari! Pramugari itu tinggi! Kata Daddy kalo mau tinggi harus makan bambu! Ena nggak mau!"
Bianca melotot pada suaminya yang telah berdiri di belakang mereka merasa lega karena dua anaknya telah ditemukan.
"Trus, Ena mau jadi apa?" Bianca mencoba sabar menanyai anaknya yang paling ajaib itu.
"Mau jadi penyihir!"
Benar, kan? Ajaib?
"Mau jadi nenek sihir? Kamu mau apa kalau jadi nenek sihir?" gelak Key menertawakan Celena.
"Mau menyihir wanita-wanita yang seksi jadi kodok!" celetuknya, sementara Bianca dan Kin mencarikan baju yang menyerupai nenek sihir di lemari.
"Hahaha ... lalu, gimana cara mengembalikan mereka?" tanya Key iseng.
__ADS_1
"Suruh daddy cium mereka."
"Oh, boleh!" sahut Key girang, tapi terhenti saat tangan Bianca menjewer telinganya.
"Sayang, dia kan pura-pura jadi penyihir, biarkan dia berimajinasi," desis Key.
"Hey, aku masih ingat kamu menertawakan dia saat mau jadi penyihir! Sekarang ada untung buatmu, jadi kamu mendukungnya? Huh!"
"Iya, iya ...."
***
Sementara itu di tempat lain, Felix dan Kimmy telah selesai membersihkan rumah depan sore kemarin.
Key memberikan rumah itu untuk Susan dan Yoshua agar mereka tempati sebagai surprise kado pernikahan.
Sekarang, Felix dan Kimmy sedang bersiap pergi ke pesta pernikahan Susan. Baju yang didesain khusus untuk mereka bertiga pun nampak bagus.
"Lingga bagus dan hengsem pakai kemeja ini. Warnanya sama kan kayak Papa?" puji Kimmy.
"Mama, kemarin hengpon sekarang hengsem. Makanan apa itu, Ma?" sungut Lingga.
"Lingga, hengsem itu tampan kalo dibahasa Indonesia-in ...." tukas Kimmy membenahi kerah baju Lingga. Anak itu mewarisi hidung ibunya tapi memiliki mata setajam ayahnya.
"Handsome."
Tiba-tiba Felix sudah muncul dari dalam kamar, memakai baju yang sama dengan Lingga.
"Ah, Papa! Sama kayak Lingga beneran!" jerit anak itu merasa senang, lalu berlari ke arah ayahnya dan meminta untuk menggendong tubuhnya.
"Nah, sekarang Mama ganti dulu, ya?"
"Mama juga pakai seperti Lingga dan Papa?" tanya anak itu polos.
"Warnanya sama, tapi bajunya beda."
Felix mengecupi pipi Lingga sambil menjelaskan apa yang akan dipakai ibunya.
"Yuk, sekarang kita memanasi mobil dulu sambil menunggu Mama," ajak Felix.
"Ayo! Siapa takut!"
Lingga melingkarkan tangan ke leher ayahnya. Mereka berjalan ke luar untuk masuk ke dalam mobil.
******
__ADS_1