Cintai Aku!

Cintai Aku!
Pulang Ke Desa


__ADS_3

Ceritaku ini hanya untuk hiburan ya, kalau ada part dari keseluruhan bab yang kalian nggak setuju atau nggak suka, mohon maaf, skip aja.


Maaf kalo belum balas komentar baik kalian para kesayangan. Semoga Tuhan yang balas kebaikan kalian, ya?


******


Felix melajukan mobil ke apartemen. Memasuki parkir basement, dia meninggalkan mobil dengan rapi di sana, lalu keluar dan berjalan ke ruangannya sendiri.


"Pagi, Tuan Fel ... lix," sapa satpam yang berjaga, heran tapi juga geli dengan penampilan pria itu pagi ini.


"Pagi, Pak Satpam."


Pria itu dengan cuek berjalan cepat ke ruang apartemennya karena tak punya banyak waktu.


Dia masuk, kemudian mengambil sebuah kemeja dan jas dari plastik laundry. Memang belum dia tata di lemari karena peristiwa kemarin.


"Kemarin tak sempat menata baju, malah nikah! Santai sekali aku dapat jodoh," gumamnya pelan.


"Aih, jodoh? Apa yang kukatakan??" ujar Felix gusar. Menampari mulutnya sendiri.


Dia segera menepis pikiran itu. Lalu segera memakai atribut kerja.


Usai berdandan rapi, Felix bergegas kembali lagi ke kantor. Teringat akan resiko jika terlambat lagi datang ke kantor.


*


Sore harinya, usai mengantar tuan besar dan tuan muda pulang ke rumah, dia tergesa untuk segera pulang juga.


"Tumben kamu terburu-buru, Felix? Jangan bilang kalau kamu mau mangkal," kecam Key.


"Eh, bukan Tuan. Sumpah, saya sudah cukup uang dengan apa yang diberi oleh Tuan."


Tak ada sikap mencurigakan atau nada kebohongan dari si asisten itu.


"Baiklah, tapi kamu tidak nikah, kan?" canda Key.


Deg!


"Err ... Tuan saya belum membersihkan apartemen, saya mohon ijin pulang awal."


Felix mengalihkan pembicaraan dan berusaha agar tak terlihat gusar.


"Iya, kamu ini single, tapi terburu pulang awal, seperti sudah beristri saja. Sana! Hati-hati, ya?" pesan Key lalu memasuki kamarnya untuk mandi sore.


Untung saja tuan muda tak mencurigainya.


Fyuh!


Felix bernapas lega. Terasa sesak mendengar kata 'nikah'.Dengan lunglai dia masuk ke mobil dan melaju ke apartemen.


Di dalam kamar apartemen, pria itu sedang duduk di sofa. Malas rasanya untuk berkendara jauh ke rumah Kimmy di desa. Namun, dia teringat kebaikan sang ayah dan ibu mertua, serta sikap baik adik-adik iparnya. Dia merasa tak enak jika tidak kembali.


*


"Jam berapa suamimu pulang, Kim?" tanya Pak Luki saat mereka berkumpul di ruang makan.


"Biasanya petang, Pa!" jawab Kimmy melahap sesendok nasi dengan sayur tempe dan kacang panjang. Ayam goreng pun tersedia di meja.


Hari itu dia membelikan keluarga ayam dan sayuran dengan uang yang diberi oleh bos nonanya. Jadi mereka bisa makan bergizi, bukan hanya mie instan.


"Kasihan, dia pasti bekerja keras setiap harinya. Jauh pula dari rumah ini."

__ADS_1


Pria paruh baya itu menaruh iba pada menantu kesayangannya.


"Iya, Pa."


"Sisihkan lauk dan sayur untuknya, Kimmy!" titah sang mama.


"Iya, Ma."


Apa Bos Pelix mau pulang ke sini, ya?


Kimmy merasa sangsi jika pria itu mau kembali ke rumah ini. Namun, saat dia baru menyelesaikan makan, terdengar suara mobil Felix datang di depan rumah.


"Kak, itu Bang Felix datang!" seru ketiga adiknya.


Kimmy mengangguk. Mereka berempat berhamburan keluar rumah.


"Hai, Bang Felix! Sini kubawakan tasnya!" ujar Rama.


Sedangkan Vita dan Raka menyambut dengan mencium tangan pria itu.


Ah, mereka anak-anak yang sangat baik!


Seutas senyum Felix terbentuk di wajahnya merasakan kehangatan itu. Dia sedikit menyesal kenapa tak membeli sesuatu untuk mereka saat perjalanan pulang.


"Bos Pelix, kukira kamu tak akan pulang ke rumah ini!" bisik Kimmy.


"Hmm ... aku hanya tak enak pada kedua orang tuamu!" jawab Felix.


"Wah, Felix! Sini, pasti kamu lelah dan lapar! Maaf, kami baru saja selesai makan malam. Kimmy akan menemanimu makan! Mama akan merebuskan air untukmu mandi," ujar Bu Amy menyambut kedatangan Felix.


"Makasih, Ma. Tak usah repot-repot."


Felix merasa tak enak sekali diperlakukan seperti itu. Dia duduk di kursi makan.


Felix tersenyum.


Hmm ... baru kali ini si Bos tersenyum seperti itu, manis juga senyumnya Bos Pelix!


Kimmy duduk dan menopang dagunya memandang pria itu.


Felix mengerutkan dahi melirik gadis yang sedang melihatnya, lalu mendengus.


"Kenapa melihatku seperti itu? Ambilkan piring!" suruhnya.


"Eh, iya, Bos!" Kimmy tersentak dan mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi dan sayur yang masih hangat.


"Jangan bilang kalau kamu terpesona padaku! Ingat perjanjian kita!" tutur Felix mengingatkan.


Kimmy hanya mengerucutkan bibirnya. Kemudian menyerahkan sepiring nasi dan lauk kepada pria itu. Dia menuang air putih ke dalam gelas besar dan meletakkannya di sebelah piring makan Felix. Dalam waktu singkat, pria itu melahap apa yang ada di dalam piring, tandas.


"Bos Pelix, kamu makan dikunyah apa langsung telan?" ujarnya terbelalak.


"Dikunyah, tapi tak usah sampai tiga puluh tiga kali. Bisa pingsan kelaparan aku!" sahutnya seraya mengulurkan piring kosong ke depan Kimmy.


Kimmy akan beranjak membawa piring dan gelas kosong ke belakang, tapi dicegah oleh Felix.


"Eh, mau kemana? Itu tambahin, maksudku."


"Tadi udah banyak sekali."


"Masakannya enak. Apa aku tidak boleh tambah? Ya sudah," ujar Felix.

__ADS_1


"Eh, boleh, boleh."


Kimmy segera mengambilkan lagi dengan porsi yang sama seperti pertama tadi.


"Nih," kata Felix mengansurkan sepuluh lembar uang merah pada Kimmy.


"Untuk apa, Bos?" tanya Kimmy heran.


"Itu untuk belanja seminggu. Aku tetap menjalankan kewajibanku."


Wajah Kimmy berseri. Dia merasa pria itu bertanggung jawab meski mereka hanya sebatas suami istri yang ... entahlah mau dikata apa. Sepuluh lembar itu jika digunakan seminggu di desa, akan lebih dari cukup.


"Bos Pelix, ini kebanyakan."


Kimmy memegang uang itu, menatap ke arah Felix.


"Jika sisa, tabunglah."


Wajah Kimmy kembali sumringah.


Inikah yang dinamakan nafkah lahir suami ke istri?


"Baiklah. Makasih banyak Bos Pelix!"


Gadis itu menyimpan uangnya di saku. Lalu kembali menopang dagu, memperhatikan pria itu makan lagi.


*


Usai Felix selesai makan dan mandi, serta ketiga adik sudah masuk ke kamarnya masing-masing, Pak Luki dan Bu Amy menyampaikan apa yang mereka pikirkan.


"Felix, Kimmy, kami ingin bicara. Kami lihat, sepertinya akan kesulitan jika Felix berangkat kerja dari rumah ini. Pasti kalau pagi macet kan, Felix?" tanya Pak Luki.


"Iya, Pa."


"Maka dari itu, kami menganjurkan supaya kalian berdua pindah ke apartemen Felix."


Felix terbelalak.


"Kimmy bilang, kamu tinggal di apartemen kan, Felix?"


Pria itu melirik ke arah Kimmy yang meringis.


"Bukan kami mengusir kalian. Boleh kalian tinggal di rumah ini. Kami sangat senang. Namun, jika ada tempat tinggal yang lebih dekat dengan tempat kerja, maka akan lebih baik untuk kalian berdua."


"Iya, juga."


Felix meraup wajahnya, tapi dia teringat perjanjian dengan Kimmy, bahwa mereka akan mengaku sebagai sepupu.


"Emm ... baiklah, kami akan menempati apartemen," ujar Felix akhirnya.


"Nah, besok kami akan mengantar kalian. Kami juga kepingin dong, tau tempat tinggal kalian," ujar Bu Amy menyenggol lengan suaminya.


"Iya, Felix."


"Baiklah ...." sahut Felix lemas. Tak terbayang apa yang akan para penghuni apartemen tentang mereka.


Semoga mereka tak berpikiran macam-macam.


******


Stop plagiarisme!

__ADS_1


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2