Cintai Aku!

Cintai Aku!
Sayang


__ADS_3

"Nah, aman 'kan?" tanya Kimmy pada Felix, berdiri mendengar kepergian mobil Amoy dari pintu.


"Kamu hebat!" puji Felix mengangkat dressnya tinggi-tinggi dan masuk lalu duduk menopang kaki.


Kimmy mencebik lalu membawa gelas kosong bekas Amoy tadi ke belakang. Sementara, Felix merasa lega, melepas wig yang masih terpasang di kepalanya.


Felix duduk di kursi tamu, bersandar dengan tenang. Kimmy datang membawakan segelas jus berwarna hijau terang untuk pria itu.


"Ini apa? Jangan bilang kalau ini jus selamat datang," ujar Felix curiga, mengamati gelas di depannya.


"Bukan ... bukan .... Itu hanya jus melon, Bos Pelix!" sahut Kimmy tertawa.


"Lho, panggil suami kok masih Bos? Lucu amat kalian ini?" kata Pak Luki keluar dari dalam.


Pria paruh baya itu terhenyak menatap Felix dengan dandanan seperti itu, lalu sebentar kemudian menahan tawanya.


Sepasang suami-istri itu mengabaikan mimik wajah Pak Luki. Mereka fokus pada pertanyaan pria itu, pertanyaan tentang sebuah panggilan.


"Panggilnya ya jangan Bos lagi lah, Kim! Masa sebegitu jauhnya sama suami?" ujar Pak Luki dibarengi anggukan kepala Bu Amy.


"Hooh, lho. Kalian ini lucu sekali. Malah kayak atasan dan bawahan gitu?" gelak Bu Amy.


Felix dan Kimmy saling berpandangan, lalu meringis.


"S-Sayang ...." Keduanya mengucap kata yang sama bersamaan untuk memanggil orang yang ditatap.


Wajah mereka memerah, lalu menunduk. Bu Amy menyenggol lengan Pak Luki, lalu memberi kode agar masuk mengikutinya ke dapur.


"Pa, temeni Mama ke dapur, mau masak dulu!"


"Ayo, Ma!"


Mereka beranjak meninggalkan mereka berdua yang masih menunduk.


Felix membuka percakapan.


"Kamu ... panggil aku sayang?"


Kimmy baru akan membuka mulut, tapi pintu digedor oleh seseorang. Gadis itu belum jadi menjawab, dia memilih untuk membukakan pintu.

__ADS_1


"Ada tamu, sebentar."


Kimmy baru akan beranjak, tapi sebagai lelaki, Felix merasa ingin membantunya, melindunginya. Apalagi gedoran pintu bukan seperti bertamu, tapi malah seperti sebuah ancaman perampokan kedengarannya.


"Tunggu! Aku saja yang buka!" sergah Felix berdiri dan berjalan mendahului Kimmy.


Dengan tegap meski dirias cantik, Felix berjalan beberapa langkah ke pintu lalu membuka dan terbelalak melihat siapa yang datang.


Felix menutup lagi pintu itu lalu berlari ke belakang tubuh Kimmy.


Dasar Felix! Tadi udah niat melindungi, sekarang lihat cewek sial bin agresif itu balik lagi, malah minta perlindungan!


"Lho, kok ditutup lagi, kenapa?" tanya Kimmy kebingungan.


"Itu, si Momoy kecentilan datang lagi!" bisik Felix.


"Huh, kayaknya tegap, berani, eh ketemu wartawan sableng kok takut!"


Kimmy melangkah ke pintu, sementara Felix berada di belakangnya.


"Hey, maaf, aku ada yang ketinggalan. Coba tolong dong periksain ada syal berwarna merah jatuh, nggak?" tanya gadis itu, mencoba melongok ke dalam.


Amoy menurut. Dia menunggu dan berdiri di depan pintu. Kimmy masuk kembali dan memeriksa apakah ada syal yang terjatuh. Ternyata benar. Syal itu ada di bawah kursi yang tadi diduduki oleh si wartawan itu.


Kimmy mengambilnya, lalu mendekati Amoy dan menyerahkannya. Sementara Felix mengamatinya dari jauh.


"Makasih." Amoy menerimanya dengan pelan.


Kimmy tersenyum lalu akan menutup pintu.


"Eh, tunggu!" tahan Amoy.


"Apa lagi?" tanya Kimmy.


"Tadi, Mami Fela kok rambutnya pendek?" tanya Amoy heran.


"Ooh ... itu. Dia baru aja potong rambut, tadi kan kami bilang kan mau pergi? Nah, nganterin Tante Pela potong rambut!" jelas Kimmy berbohong.


Amoy mengangguk-angguk tanda mencoba mengerti meski ada hal yang janggal.

__ADS_1


"Ya udah, aku pamit dulu. Tiket udah kubeli. Mau segera menyusul Babang!"


Gadis itu pergi lagi dari depan rumah. Kimmy menggelengkan kepalanya.


"Eh, kok cepet banget potong rambutnya?" gumam Amoy menghentikan langkah. Dia akan berbalik menanyakan hal itu, tapi mengingat waktu, tak jadi lah dia berbalik untuk meminta kejelasan.


Gadis itu lebih memilih untuk mengejar cintanya yang entah kemana.


Fyuh!


Felix kembali duduk lemas di kursi ruang tamu. Dia kemudian meneliti kembali setiap sudut rumah, kalau-kalau ada barang si Amoy yang ketinggalan.


Tidak ada. Berarti gadis itu kemungkinan tak akan kembali lagi.


Kimmy ikut lelah menghadapi Amoy. Dia duduk kembali di hadapan Felix, mengeluarkan ponsel pintarnya.


Sedangkan Felix mengambil gelas berisi jus yang segar kemudian meminumnya. Dia menikmati jus manis itu, kemudian teringat lagi akan pertanyaan yang menggelitik, yang belum dijawab oleh Kimmy.


"Ehm!" Deheman keluar dari mulut Felix.


Kimmy masih saja duduk dan serius dengan benda pipih kesayangannya itu.


"Ehm!" Deheman kedua dilayangkan Felix. Kali ini gadis itu menatapnya aneh.


"Kenapa?" tanya Kimmy.


"Tadi itu ... Kamu panggil aku sayang?" ulang Felix.


"Ooh, itu. Belum selesai sih."


"Maksudnya gimana belum selesai?" Felix tak sabar.


"Maksudku mau bilang, sayang ... sayang aku nggak tau mau panggil Bos Pelix dengan apa?" sahutnya polos.


Kegirangan Felix runtuh seketika. Ternyata memang gadis di depannya ini perlu penanganan khusus.


******


Stop plagiarisme!

__ADS_1


Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.


__ADS_2