Cintai Aku!

Cintai Aku!
Ketinggalan


__ADS_3

Pagi-pagi benar di hari Minggu itu, bersamaan dengan acara rias merias di rumah Kimmy, tepat di parkir basement sebuah apartemen, Felix berjalan ke mobilnya, membunyikan alarm dari jauh hingga hanya terdengar mobilnya saja yang bercuit. Lalu pria itu membuka pintu, masuk ke mobil.


Felix berniat untuk mencuci mobilnya mumpung libur. Dia memeriksa dahulu barang-barang yang ada di dalam. Namun, saat melihat ke bagasi, dia mengernyitkan dahi. Ada sebuah plastik kecil berwarna hitam.


"Apa ini? Jangan-jangan bom!" ujarnya.


Dia berinisiatif meminjam tongkat satpam, kemudian mengetuk-ngetuk plastik itu memakai benda berwarna hitam panjang milik satpam.


"Empuk ... bukan bom," gumamnya.


Dia menarik plastik itu menggunakan tongkat, lalu mencolek-colek plastik dengan jarinya.


"Iya, empuk, kenyal," gumamnya sendiri.


Dengan penasaran sambil mengingat apa yang mungkin dia beli di dalam plastik itu, Felix membuka ikatannya dengan terburu, lalu melotot dan geram melihat isinya.


"Sialan, pasti gadis itu! Dalamannya ketinggalan!" gerutunya.


Dia berkali menelepon Kimmy, tapi tak ada jawaban sama sekali. Pandangannya kembali ke dalam plastik.


"Ini pasti kotor! Seorang wanita akan memisahkan benda kotor dengan plastik seperti ini, kan? Ihh! Aku buang saja!"


Pria itu mengikat plastiknya kembali, akan melayangkan plastik itu ke tong sampah, tapi dengan cepat diurungkan niatnya.


"Tunggu, tunggu. Kalau aku buang, kasihan yang menemukan. Aku kembalikan saja, lempar di mukanya kalau perlu!"


Felix memilih untuk mengganti pakaian dengan jasnya, karena menjaga image di depan orang tua Kimmy. Selama ini ibu dan adik-adik gadis itu mengenalnya sebagai Bos. Masa dia akan bercelana boxer seperti itu?


Felix bergegas masuk ke apartemennya. Pagi itu, pencucian mobil pasti belum buka, daripada nanti dia kesiangan, mendingan pagi segar ini ke desa Kimmy. Syukur-syukur disuguhi sarapan karena perutnya sudah lapar.


Pria itu memakai jasnya seperti sehari-hari, lengkap dengan dasi bergaris yang sebenarnya lama tak dia pakai karena tak suka.


Sesampainya di parkir basement, dia masuk dan menyalakan mobil lalu meluncur ke desa.

__ADS_1


*


Sebuah mobil hitam tiba di samping rumah Kimmy dengan pelan. Pria di dalamnya mengernyitkan dahi, melihat keramaian di rumah Kimmy.


"Apa aku datang di saat yang tidak tepat? Ada apa di rumah gadis aneh itu??" gumamnya melihat rangkaian janur kuning selayaknya acara perkawinan.


Felix mengamati rumah itu agak lama. Dia berpikir sebentar, menatap plastik hitam di sampingnya.


"Kalau dipikir-pikir, ngapain juga tadi aku tidak membuangnya saja dan repot-repot ke sini kalau ternyata ada acara?" gumamnya.


"Gadis aneh itu juga tak mengangkat panggilanku saat ditelepon!" gerutunya lagi.


Felix lalu mengurungkan niatnya untuk mengembalikan plastik Kimmy. Pria itu memutar mobilnya pelan-pelan, menjauh dari rumah yang ternyata sedang mengadakan acara.


Dia baru akan memutar, tapi seseorang mencegatnya dan mengetuk kaca mobil dengan keras. Seperti keadaan yang sangat gawat. Dia seorang tetangga depan rumah Kimmy yang sering melihat Felix mengantar gadis itu.


"Tuan, anda yang sering mengantar Mbak Kimmy, kan? Tolong Mbak Kimmy, dia mau mengorbankan diri untuk menikah dengan juragan Burhan karena terlibat utang. Mereka sedang memohon di dalam. Tolong Tuan!" ujarnya memohon saat Felix menurunkan kaca mobil.


Felix tak menjawab.


Felix pun kebingungan dimintai tolong dengan peristiwa mendadak pagi itu. Dia keluar saja dari mobil, membawa plastik hitam Kimmy.


Felix bergegas melangkah menuju ke rumah Kimmy dengan penasaran. Dia berdiri di ambang pintu melihat dulu keadaan di dalamnya. Pria itu melihat gadis yang biasa memakai baju bodyguard telah berdandan ala pengantin desa, sederhana tapi cantik.


Pandangan Felix bergulir, di samping Kimmy ada seorang pria tua, gemuk dan botak yang sedang dipegang tangannya oleh pria bermuka tirus yang diyakininya adalah ayah Kimmy.


Pria berwajah tirus itu terus memohon pada si gemuk botak agar tak menikahi anaknya.


"Juragan, beri tempo lebih panjang lagi agar saya bisa melunasi utang, jangan anak saya jadi korban, juragan!"


Pria itu terlihat memohon dengan bersujud-sujud, meraung di depan pria sombong itu.


Lebih dramatis lagi, Nyonya Amy berkali-kali pingsan dibuatnya. Seorang gadis yang pernah dikenalkan pada Felix sebagai adik perempuan Kimmy pun terlihat menangis sesenggukan ditahan oleh dua orang berbadan kekar. Sungguh pemandangan sedih yang melebihi sebuah upacara kematian.

__ADS_1


Dua adik lelaki yang membawa tongkat pemukul telah dibekap oleh empat pria besar juga. Felix mengira pria-pria itu adalah suruhan si pria botak.


"Tolong ... Kami akan membayar sisa utang kami, Tuan! Tolong lepaskan anak kami!" mohon ayah Kimmy terus menerus.


"Hey, Luki! Kapan kamu akan membayarnya? Omong kosong!" seru juragan Burhan.


Dia berdiri seraya menatap semua orang dengan sombongnya.


"Aku berkuasa di desa ini. Enam bulan yang lalu, mereka berutang padaku dan tak bisa membayar uang sejumlah seratus tujuh puluh juta rupiah itu. Lalu anak mereka dengan rela menyerahkan diri untuk kunikahi sebagai pelunasan utang. Hari ini aku tagih kerelaan itu. Siapa yang menyalahkanku? Jika hari ini juga ada yang mau membayarkan uang itu, kuacungi jempol!" ujar pria tua botak itu sesumbar.


Tak ada yang menjawab.


"Siapa di sini yang berani menggantikan posisiku, yang mampu membayarkan utang kalian itu!!" tawa pria botak itu menggelegar, menatap ke keluarga Kimmy. Membuat Kimmy ingin menonjok wajah bulat si juragan. Tangannya telah mengepal, tapi dia merasa iba dengan keluarganya. Ditundanya tonjokan itu untuk hadiah malam pertama nanti untuk pria itu.


Ih ... malam pertama?


Kimmy bergidik, jijik, tak mau membayangkannya.


Felix meraba saku, akan menelepon Tuan Key, tapi entah di mana benda pipih itu dia letakkan. Betapa teledornya hari itu. Dia kembali menatap ke ruangan yang seketika hening.


Felix menghela napas. Dia merasa iba juga pada keluarga Kimmy, tapi melihat begitu banyak pria penjaga dan posisinya sendiri di desa itu bukan siapa-siapa, dia tak mungkin juga melawannya sendiri dengan kekerasan. Nanti yang ada, malah dia ikut dipegangi oleh orang-orang pria itu dan keluarga Kimmy tidak selamat.


Felix berpikir keras.


Tiba-tiba setelah beberapa waktu tak ada sedikit pun suara, akhirnya keheningan itu terpecah juga karena sebuah kata.


"Aku!"


Seketika semua orang menengok ke sumber suara. Semua pasang mata menatap ke arah Felix yang terlihat bersinar karena terkena sinar matahari dari belakangnya seperti malaikat penyelamat yang sedang membawa sebuah plastik kecil berwarna hitam. Begitu pun juragan Burhan yang tak percaya ada orang yang mau melakukan hal itu.


Kimmy menatap pria itu sebagai super hero.


"Bos Pelix!!" pekiknya tak percaya.

__ADS_1


******


Plagiarisme melanggar Undang-undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.


__ADS_2