
Seorang wanita sedang celingukan di desa tempat dimana dia menguntit pria yang kemarin malam bersamanya, mengutarakan penolakan. Wanita berambut pendek itu menepikan mobil di bawah pohon rindang. Dia lalu turun perlahan mengamati sekitar. Siang hari yang terik membuat peluhnya berjatuhan. Tambah lagi, mobil tuanya tak ber-AC. Mentari pun sedang galak-galaknya siang itu sepanjang perjalanan, jalur industri. Namun, udara desa sangatlah sejuk hingga membuat gerah tubuhnya mulai menghilang.
Wanita itu tak terbiasa juga dengan suasana desa. Namun, terasa nyaman juga.
"Hmmm ... Sejak Sabtu malam itu, Felix belum juga pulang dari desa ini. Tadi aku ke apartemennya, pak satpam bilang bahwa dia belum pulang," gumamnya.
Suasana desa masih sepi. Dia sedikit hanyut dengan aroma segar ala pedesaan. Udara sejuk menghembus pelan menerpa tubuhnya yang telah basah oleh keringat.
Baru menikmati, seorang pria yang menggiring bebek-bebeknya melewati gadis itu.
"Mbak!" panggilnya.
"Eh, iya Pak!" jawab Amoy terkejut.
"Nyasar?" tanya bapak-bapak itu lagi. Mungkin dia telah mengamati Amoy sejak tadi hanya menyandar ke mobil tuanya saja.
"Ng ... cari orang, Pak!" jawab Amoy seperti mendapat bantuan.
"Siapa, Mbak?"
Orang itu berhenti di depan Amoy, membiarkan bebek-bebeknya masuk ke area sawah yang tidak ditanami, mencari cacing-cacing gemuk, kesukaan mereka.
Amoy berpikir sebentar. Apa iya, Felix aslinya orang desa ini? Coba aja, lah!
"Saya ... cari orang yang namanya Felix, Pak!" ujarnya nekat.
"Fe-Felix?"
Pria itu menggaruk kepalanya, mencoba mengingat-ingat orang desa itu yang bernama Felix. Dia menggeleng.
"Maaf, Mbak, saya nggak kenal. Kalo ada ciri-cirinya seperti apa?"
"Tinggi." Tangan Amoy seperti mengukur tinggi sekitaran Felix di atas kepalanya.
"Kekar." Amoy berlagak seperti binaragawan, menyingsingkan lengan baju dan memamerkan otot lengannya, membuat si bapak terlonjak kaget melihat sedikit bulu ketek.
Keritingnya sama punyaku. Batin si bapak.
"Umur sekitar tiga puluhan dan ... Handsome!"
Pria paruh baya itu mengerutkan dahi.
"Hensem? Asem maksud Mbaknya?"
Amoy meringis.
__ADS_1
"Bukan ... maksud saya, tampan! Sangat tampan!" ujarnya.
"Dia dari kota," tambah Amoy.
"Oohh!! Suaminya Mbak Kimmy?" ujar bapak itu memperjelas.
Amoy menggigit telunjuknya dengan bola mata kesana kemari. "Kimmy? Felix? Suami?"
"Ng-nggak ngerti, Pak!"
"Ah, si Mbak, gimana sih! Kalo itu yang dicari, sono noh rumahnya, lurus belok kanan, trus ketemu lapangan, belok kiri. Tanya rumahnya Bu Amy!" jelas bapak itu.
"Bu Amy, ya? Bukan Amoy?" tanya gadis itu.
"Bukanlah, Mbak! Masa bakmoy!" Bapak itu menepuk keras lengan Amoy.
Sialan nih bapak! Bakmoy, bakmoy! Sakit tau!
Amoy nyengir, lalu mohon permisi.
"Makasih Pak, infonya! Saya permisi dulu!" ujarnya berlari ke mobilnya lagi.
"Iya, Mbak sama-sama! Semoga bener, ya!" ujar si bapak turun ke sawah mengejar bebek-bebeknya yang telah menjauh.
"Iya, Pak!"
Mobil melaju ke jalan yang ditunjukkan oleh bapak itu.
"Lapangan ini, trus ... tanya yang namanya bu ... Amy."
Gadis itu mematikan mesin mobil lalu turun. Celingukan di depan rumah Kimmy.
"Eh, itu kan di samping rumah ini mobilnya Felix?" Raut ceria terbingkai di wajah Amoy, tak perlu lagi bertanya-tanya pada orang karena jelaslah sudah. Namun, raut wajahnya berubah saat teringat kata-kata bapak tadi tentang suami.
Felix udah jadi suami?
Dia ragu-ragu ingin mengetuk pintu rumah. Baru mengepalkan tangan di depan pintu, pria yang dia cari menyembul, membuka pintu.
Keduanya terperanjat.
"Haaah!!"
Felix otomatis menutup pintu lagi dengan keras, hingga semua orang di rumah kaget.
"Kenapa, Felix?" tanya Pak Luki melongok dari ruang tengah.
__ADS_1
Jantung Felix berdegup kencang, napasnya tersengal-sengal saking kagetnya. Dia masih terpaku di belakang pintu, memegangi dadanya. Menahan pintu seolah gadis di depan itu akan mendobraknya paksa.
"Papa, bisa panggilkan Kimmy?" tanya Felix akhirnya, pelan.
Pria paruh baya itu kebingungan dan mengangguk saja, beranjak memanggil anaknya.
"Kimmy! Kimmy! Dipanggil Felix!"
Gadis yang dipanggil bergegas mengeringkan tangannya dan tergopoh berlari ke depan, mendengar panggilan yang kelihatannya darurat.
"Apa? Kenapa, Pa?" tanyanya tengak-tengok ke depan.
"Itu, Felix. Entahlah," ujar Pak Luki mengangkat bahu.
Kimmy berjalan sedikit hingga terlihat Felix yang masih berdiri di belakang pintu depan, dan seorang gadis yang sedang mengintip dari luar, melongok di jendela, mengetuk kaca jendela dengan telunjuknya.
Amoy!
Kimmy melotot cemas pada Felix kemudian pria itu mengangguk tanda telah mengerti keberadaan gadis wartawan di depan rumah.
"Sana, masuk dulu, aku hadapi dulu!" ujar Kimmy.
Gadis itu membuka pintu hingga Amoy beranjak dari jendela dan Felix bisa masuk.
"Hai, selamat siang! Felix mana?" tanya gadis itu langsung.
"Ada urusan apa?" Kimmy balik bertanya.
"Mm ... mau tanya sesuatu. Kamu nggak menyuruhku masuk?" rengek Amoy.
"Oh, boleh, boleh. Silakan."
Kimmy membuka pintu lebar-lebar untuk gadis itu hingga dia bisa masuk. Lalu duduk begitu saja tanpa dipersilakan.
"Ini rumahnya Felix atau rumahmu?" tanya Amoy.
"Rumah ... Kak Pelix!"
Ada rencana terbersit di benak Kimmy.
******
Maaf kesayangan-kesayangan, update-nya nggak tentu ya, soalnya tiap hari mau bergadang, tapi nggak kuat badan othor ....
******
__ADS_1
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.