Cintai Aku!

Cintai Aku!
Kehangatan Di Panti Asuhan


__ADS_3

Bu Anna tersenyum ke arah Susan. Dia menepuk bahu gadis itu dengan lembut.


"Tak ada yang tak mungkin di dunia ini, tapi ... meski kalian mirip, kalian bukan anak kembar. Identitas kalian berbeda. Putri adik Yoshua, sementara kamu datang dari keluarga yang cukup berada."


Susan tersenyum lega mendengarnya. Namun, ada hal yang masih mendesak di pikirannya.


"Bu, Ibu bilang keluarga berada? Apakah aku masih memiliki orang tua? Kata Papa Anton, orang tuaku sudah tiada."


Bu Anna berjalan ke sebuah rak. Dia meminta tolong Susan untuk mengambilkan buku yang sudah cukup usang tapi tertata rapi di rak berwarna coklat itu. Susan meraih buku yang bertuliskan data anak dan menyerahkannya ke Bu Anna.


Bu Anna berjalan diikuti Susan ke sebuah meja. Dia duduk lalu mengambil kacamata dan memakainya sebelum membuka buku. Sedikit dikibaskan telapak tangannya ke sampul buku agar debu yang sedikit menempel, terlepas.


Wanita itu membuka lembar pertama dari buku. Langsung menemukan data Susan karena dia merupakan anak pertama yang masuk ke yayasan yatim piatu sebelum seperti sekarang ini.


"Iya, kedua orang tuamu sudah meninggal, Susan. Maaf ...." sesalnya.


Susan tersenyum. "Tak apa, Bu. Aku yakin mereka sudah beristirahat dalam damai."


"Emm ... alasan apa mereka menitipkan aku ke panti asuhan? Bukankah mereka orang yang berkecukupan, Bu?" tanya Susan penasaran.


"Jadi ceritanya, dulu ibu kamu adalah seorang perawat. Dia merawat ayahmu sampai sembuh. Mereka berdua saling jatuh cinta dan lahirlah kamu, Susan."


"Jika cinta, kenapa mereka menitipkanku?"


"Ayahmu, sebelumnya telah menikah. Dan kamu lahir dari hubungan yang tidak sah," jelas Bu Anna pelan-pelan.


Susan merasa sangat sakit di relung hatinya. Seperti tertusuk, tapi dia harus bertahan. Akhirnya hanya air mata yang mendesak keluar.


"Sabar ya, Susan? Hidup manusia memang beragam cerita. Semoga kamu tidak pernah akan melakukan kesalahan seperti yang ayah ibumu lakukan."

__ADS_1


Susan menghapus air matanya. Meski menyadari tak berguna juga air mata yang mengalir dari kedua matanya, hal itu cukup membuat rasa kecewanya sedikit lega.


"Sekarang, kehidupan kamu jauh lebih baik dari kedua orang tuamu. Namun, jangan menyimpan dendam pada keduanya atas apa yang mereka lakukan. Mereka pasti punya alasan untuk melakukannya."


Susan mengangguk. Baru saja dia berpikiran jahat tentang mendiang kedua orang tuanya, tapi Bu Anna telah menyadarkannya, tanpa menunggu waktu berjalan.


"Iya, Bu."


"Kamu tak ingin mencari keluarga ayahmu, kan?" tanya Bu Anna.


Susan mengangkat wajah dan berpikir. Mencari keluarga ayahnya? Bukankah itu hanya akan memperpanjang masalah?


Susan menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Bu. Aku hanya ingin tahu di mana kedua orang tuaku dimakamkan."


Bu Anna tersenyum. Dia dengan mudah menemukan data pemakaman ayah Susan, karena ayah Susan dulunya adalah salah satu donatur panti asuhan itu.


"Baik, Bu. Aku akan mengunjungi mereka."


Suara riuh anak-anak panti asuhan berdatangan. Mereka membawa tas, pulang sekolah. Berombongan mereka menyalami Bu Anna, juga Susan.


"Mbak ini cantik!" seru anak-anak itu melihat Susan dengan takjub.


Susan terharu melihat kepolosan mereka. Mereka adalah anak-anak yang kehilangan orang tua sedari kecil. Bahkan ada beberapa bayi yang dititipkan di sini.


"Kalian semua ganti pakaian dulu, lalu kita makan siang!" ujar Bu Anna dengan sabar.


Mereka bersorak. Sepertinya acara makan sangatlah istimewa bagi mereka.

__ADS_1


Anak-anak Tuan Key pun melihat mereka dengan senang. Banyak teman, mungkin pikir Kin, Celine dan Celena.


"Susan, ayo kita makan bersama!" ajak Bu Anna.


"B-boleh?" tanya Susan.


"Tentu saja boleh!"


Bu Anna mengajak seluruh keluarga Pak Anton tak terkecuali untuk makan siang. Di sebuah ruangan besar dengan puluham kursi mengelilingi sebuah meja makan besar, mereka duduk menunggu. Tak berapa lama, anak-anak tadi, dari usia lima tahun sampai delapan belas tahun, berdatangan ke ruang makan. Mereka berkeringat tapi wajah mereka ceria.


Sup ayam, tempe goreng, sambal terasi, kerupuk menjadi idola semua orang yang duduk melingkari meja makan. Tak ada perbedaan di sana. Hanya rasa nikmat yang ada. Tak ada yang tidak menikmatinya. Bahkan Celine dan Celena menikmati minum susu mereka di stroller. Ternyata kebahagiaan bukan hanya datang dari materi yang banyak, tapi berkumpul bersama dengan keadaan sehat juga mendatangkan kebahagiaan.


Bu Anna mengenalkan dan bercerita tentang beberapa anak panti asuhan pada keluarga Pak Anton. Mereka tampak mendengarkan dengan semangat. Kadang tertawa saat mendengar keseruan dan kekocakan para penghuni panti asuhan.


Hingga petang, keluarga Pak Anton baru berpamitan pulang dengan berat hati.


"Kami mohon diri, Bu Anna. Apabila ada kesalahan kami, mohon dimaafkan selama kami mengunjungi panti asuhan ini," ujar Pak Anton.


"Kami juga mohon maaf dengan kekurangan kami sewaktu menyambut atau menjamu anda semua," sahut Bu Anna.


Bianca menyerahkan sejumlah uang untuk keperluan panti asuhan.


"Ah, terima kasih banyak, Nyonya Bianca! Pasti ini akan menjadi sangat berguna bagi kami semua," ucap Bu Anna.


Susan berpamitan, memeluk erat Bu Anna.


"Aku akan sering datang, Bu!" ujarnya.


"Iya, Susan. Kedatanganmu selalu kami harapkan!" harap Bu Anna mewakili semua warga panti asuhan yang merasa sayang pada Susan. Mungkin karena Susan pernah menjadi bagian dari mereka.

__ADS_1


******



__ADS_2