
Kimmy kemudian mengamati Felix dari atas ke bawah lalu menatap lekat ke raut wajah pria itu. Si asisten pria itu tampak berpandangan kosong memasukkan sendok demi sendok nasi dan sayur, menatap padanya. Kadang tersenyum-senyum, kadang hanya terdiam.
Aneh.
Kimmy beranjak dari duduk kemudian berlari ke arah orang tuanya yang sedang mencangkul di luar, meninggalkan nasi dan sayur di piringnya dengan pria yang masih makan dengan wajah datar, terus menatap kemana Kimmy melangkah.
Beberapa saat, gadis itu tampak berbicara serius pada kedua orang tuanya.
Tak berapa lama, Kimmy masuk lagi bersama kedua orang tuanya. Tanpa babibu, gadis itu langsung menarik lengan Felix yang belum juga menghabiskan makan paginya.
"K-kenapa?" tanya Felix ditarik tangannya oleh Kimmy disaksikan kedua orang tua beserta semua adiknya.
"Ikut aja!" ajak Kimmy.
Felix akhirnya menuruti kemauan gadis itu, diiringi tatapan datar kelima orang di rumah.
Mereka bergegas keluar rumah. Felix mengikuti Kimmy dan tak tau dibawa kemana olehnya. Mereka berjalan jauh sekali. Jalanan yang dilewati tak cukup untuk mobil. Terpaksa mereka berjalan dengan peluh mengaliri wajah selama perjalanan. Berasa jogging.
"Kita sebenarnya mau kemana, sih?" tanya Felix mulai lelah.
"Diem aja! Ikut!" ujar Kimmy galak.
"Kalau tahu diajak jalan-jalan pagi, aku tadi bisa pakai sepatu kets! Ada di mobil! Bukan pakai sandal jepit! Bisa putus!" gerutu Felix.
Kimmy tak menjawab dan terus saja melangkah cepat. Felix mengerucutkan bibirnya, tapi tetap mengikuti Kimmy juga. Beberapa orang tersenyum ramah pada mereka. Namun Kimmy tak menanggapi jauh orang-orang yang ingin menyapa. Hanya sekedar say hello saja. Tanpa basa-basi. Orang-orang menatap heran pada sepasang suami istri itu.
__ADS_1
Melewati sebuah hutan yang terasa sangat sepi. Felix merinding melewatinya. Untunglah lewatnya pagi menjelang siang. Jadi tak terlalu seram. Ingin sekali pria itu bertanya lagi, tapi lagi-lagi tatapan tajam Kimmy membuatnya menutup mulut.
"A-ada binatang buas, tidak?" ujar Felix mengedarkan pandangannya.
"Nggak ada!" tukas Kimmy galak.
Mungkin macan lebih takut padanya!
Felix memilih diam dan menurut lagi.
Akhirnya, setelah melewati hutan, sampailah mereka di sebuah rumah. Kimmy mengetuk pintu rumah yang berdinding kayu itu. Tampaknya rumah itu agak reyot.
"Sebentar!" Suara seorang kakek tua terdengar dari dalam rumah itu.
"Ini rumah kakekmu?"
Pintu terbuka. Seorang pria tua, kurus berbaju hitam dengan jenggot putih agak panjang menyembulkan kepalanya. Memandang tajam ke arah kedua orang yang sedang berdiri di depan rumahnya.
"Masuk!" titahnya.
Kimmy menarik tangan Felix untuk masuk ke dalam rumah itu. Bau kemenyan terhirup tajam di dalamnya. Belum lagi patung-patung seram yang terpajang di sana. Felix masih bingung dimana dirinya dibawa.
"Ada apa?" tanya pria tua itu setelah mereka duduk bersila di dalam.
Kimmy mendekat dan berbisik pada kakek tua itu. Mata kakek itu menatap tajam ke arah Felix.
__ADS_1
Pria itu terperanjat saat si kakek mulai menanyainya.
"Siapa namamu?"
"S-Saya ... Felix, Felix Kenzo Hartono," jawab Felix sedikit meringis.
Lelaki tua itu menyipitkan mata, mendekat ke Felix, hingga membuat Felix pun mundur karena bau petai tercium dari mulut sang kakek.
"Sopo? Elik? Ganteng gitu kok elik?" ujar si Kakek memakai kacamatanya.
Felix memutar bola matanya. Namun si kakek kembali menatapnya tajam. Sepertinya gawat sekali. Felix melirik ke Kimmy mencoba meminta pertolongan, tapi gadis itu bahkan tak menanggapi lirikannya.
"Coba aku hilangkan dulu hawa negatifnya!"
Si kakek meracau, mengambil air tawar yang sepertinya telah disediakan di botol-botol. Meniupi air itu lalu seperti mengucap mantra-mantra aneh. Kakek memasukkan air dari botol ke mulutnya kemudian menahan air itu di mulut dan ....
Cepruuuttt!!
Wajah Felix disembur oleh si kakek tanpa dosa. Felix yang tak menyangka akan terkena semburan, memejamkan matanya. Kesal. Bau petai sekarang memenuhi wajah.
Sialan, apa aku dikira ketempelan demit?
******
Stop plagiarisme!
__ADS_1
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.