
Susan memulai hari di rumah pertama kali. Dia merasa sangat senang bisa berkumpul dengan keluarga, meski bukan keluarga sendiri.
"Papa, aku mau cari informasi di kampus tentang program studi profesi untuk kelanjutan pendidikanku, ya?" ujar Susan.
"Oh, ya. Sama siapa?" tanya Pak Anton.
"Sendiri saja. Aku berani, kok!" ujar Susan memakai kacamatanya setelah menguncir ekor kuda rambut panjangnya.
"Oh, kalau begitu baiklah. Hati-hati, ya? Bawa mobil?" tanya Pak Anton lagi.
"Sepeda motor saja, Pa," sahut Susan.
"Lalu lintas sedang ramai. Kamu yang hati-hati benar bawa sepeda motornya, lho ya?" ujar Pak Anton mewanti-wanti lagi.
"Iya, Pa. Tenang saja," sahut Susan.
Gadis itu meraih tangan Pak Anton dan mengecup punggung tangannya lalu beranjak pergi.
"Anak yang baik, kelak kamu akan menjadi dokter yang baik dan sukses!" harap Pak Anton.
Sepeda motor melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya. Susan memang ingin mengendarai kendaraan roda dua itu untuk menikmati suasana kota, di mana dia besar. Kalau diantar sopir dengan mobil, dia tak akan menikmati pemandangan dengan maksimal.
Seorang pedagang makanan dan minuman sedang duduk di pinggir alun-alun memegangi kakinya. Susan menepikan sepeda motor, melepas helm, kemudian mendekati sang bapak penjual minuman botol.
"Kenapa, Pak? Kakinya?" tanya Susan.
"Sakit, Mbak. Sepertinya tadi saya menginjak batu dan keseleo," sahut sang bapak meringis kesakitan.
"Oh, kasihan. Coba saya lihat, Pak!"
Susan memegangi kaki si bapak. Pria itu mengaduh kesakitan saat kaki yang sakit dipegang oleh Susan.
"Ah iya, bapak keseleo. Harus istirahat ini. Nanti dipijat ya, Pak?" ujar Susan.
Si bapak mendesah pelan.
"Kalau saya istirahat, siapa yang kerja, Mbak? Istri saya di rumah sedang hamil besar. Butuh biaya untuk melahirkan. Nggak, Mbak. Saya harus kerja!" ujar bapak itu.
Susan menatap si bapak miris. Ternyata kehidupan di luar dengan berbagai macam manusia sangat beragam. Dia menatap ke sebuah mall. Beberapa orang keluar dengan wajah berseri-seri membawa kantong belanjaan yang banyak. Berbeda jauh dengan bapak ini. Dia mencari recehan untuk dikumpulkan dan disimpan bagi istri dan anaknya dalam keadaan yang sulit.
"Mm ... Bapak tunggu sini, ya?" ujar Susan.
__ADS_1
Si bapak terbengong, tak tahu apa yang akan dilakukan oleh gadis itu.
Susan membawa kotak yang berisi makanan dan minuman milik sang bapak, lalu berdiri dan berjalan ke arah mall di seberang alun-alun kota.
"Sepeda motor saya diparkir di situ, Pak. Saya tak akan membawa lari dagangan Bapak! Bapak tenang saja, ya?" pesan Susan pada pria yang masih terbengong.
"Mbak, tapi ...."
"Sudah, Bapak istirahat saja!" ujar Susan.
Gadis itu membawa kotak dan mulai berjalan menyeberang.
"Ah, sasaran pertama. Pria itu sepertinya kehausan. Dia berkali-kali mengipasi wajah dengan topinya!" gumam Susan. Dia mulai berjalan mendekat.
"Pak, apa mau beli minuman? Seger lho, Pak! Panas-panas gini!" tawar Susan.
Pria itu nampak menelan ludah. Bola matanya memperhatikan banyak jenis minuman yang dibawa oleh Susan.
"Boleh, air mineral saja, Mbak! Yang enam ratus mili!" ujar pria itu.
"Oh ya, Pak!" Susan menyodorkan kotak, mempersilakan si bapak mengambilnya sendiri.
"Berapa ya?"
"Pak, sebenarnya saya hanya bantu orang. Dia sakit, tapi butuh banyak biaya. Biasanya harga berapa ya, Pak?"
Menyadari hal konyol saat Susan menanyakan harga pada pembeli, tapi hanya itu yang bisa dilakukan karena dia memang tak tahu.
"Oh, ya sudah saya beli dua! Ini uangnya nggak usah kasih kembalian!" Pria itu memberikan uang sepuluh ribu rupiah pada Susan.
"Ah, Bapak baik sekali! Makasih, Pak!"
"Iya, Mbak. Sama-sama. Mana sih penjualnya?"
Susan menunjuk ke orang yang duduk meringis di bawah pohon seberang jalan. Lalu si pria itu mengangguk.
"Mbak, sebaiknya mencari dulu harga di internet, biar bisa mengira-ngira harganya. Soalnya, banyak orang nggak baik yang akan memanfaatkan ketidak tahuan Mbak yang baik ini!" saran pria itu sembari membuka botol air mineral dan meneguknya.
"Ah iya! Bapak benar! Makasih ya, Pak! Kenapa tidak terpikirkan oleh saya!" ujar Susan berkali-kali membungkuk. Pria itu melambaikan tangan pada Susan.
Susan meletakkan kotak lalu duduk di sisi jalan, membuka-buka ponselnya dan mencari harga tertinggi di ponsel. Lalu menghapalnya.
__ADS_1
"Mbak, mau susu satu!" ujar seorang ibu yang anaknya merengek minta sesuatu.
"Oh, oh ya Bu!" Susan mengangkat kotak lalu menyodorkan pada si ibu.
"Ambilkan yang coklat, Mbak!" ujar Ibu itu.
"Baik, Bu! Dua ribu lima ratus," ujar Susan.
"Ya, Mbak. Nah ini penjual jujur. Masa di sana susu kecil ini harganya tiga ribu?" gerutu si ibu sambil meraih susu kotak dan memberikan uang pas pada Susan.
Susan hanya tersenyum. Mungkin bagi beberapa orang, uang lima ratus menjadi sangat berarti. Buktinya, sampai menjadi kekesalan bagi pembeli.
Kemudian dia mulai berjalan menelusuri trotoar di depan mall yang terdapat banyak orang. Mendapati beberapa taksi yang mangkal di samping mall.
"Pak, beli dong!" ujar Susan.
"Jual apa, Mbak?" tanya salah seorang sopir taksi.
"Makanan kecil dan minuman!" ujar Susan memperlihatkan barang dagangannya.
"Ini berapa?"
"Tiga ribu, Pak!" sahut Susan saat si sopir menunjuk ke minuman botol.
"Ya, mau satu!" ujar si sopir.
"Kenapa mau jualan, Mbak?" tanya sopir itu melihat penampilan Susan yang masih muda, tapi berjualan asongan.
"Nggak apa-apa, Pak! Kan halal?" kelakar Susan membuat sopir itu tertawa lalu memanggil teman-temannya untuk memborong jualan Susan.
Para sopir keluar dari taksi dan mendekat ke Susan. Mereka memilih jajanan dan minuman.
"Wah, wah! Makasih ya, Pak!" ucap Susan menata lembaran uang dan koin yang dia dapat.
Saat berjalan kembali, seseorang menghadangnya.
"Wah, wah, susahnya hidupmu!" Suara tepuk tangan seseorang membuat Susan mengangkat wajahnya, menatap ke seringai di depannya.
******
__ADS_1
Poster by Ribka Stevany