
Susan melangkah keluar dari rumah sakit sore itu. Jam kerjanya berakhir dan dia nampak sangat kelelahan. Namun, rasa lelahnya terbayar saat melihat beberapa pasien pulang dalam keadaan sehat hari itu. Juga Adele. Dia sudah nampak membaik pasca operasi. Tak ada keluhan apapun.
Saat dia memutar kunci motornya, seseorang memegang tangan Susan. Kedua mata Susan terbelalak melihat siapa yang berdiri di samping motornya.
"Yoshua?" panggil Susan tak percaya, mengucek matanya dengan kasar.
"Jangan kucek seperti itu, nanti berbuih!" canda Yoshua, berusaha tenang meski jantungnya berdegup kencang melihat Susan di depannya.
"Ah!" gelak Susan. Jantungnya pun berdegup tak berirama saat Yoshua menatapnya dengan tatapan yang menyejukkan.
"Apa kabar? Kapan kamu datang? Sudah berapa lama sampai di Indonesia? Apa kuliahmu sudah selesai? Kenapa bawa stopmap?" Pertanyaan memberondong dari mulut Susan.
"Dijawab yang mana dulu nih? Pertanyaan pertama aja aku lupa?" sahut Yoshua tersenyum.
"Aku tak sabar ingin mendengar ceritamu! Eh, kenapa kamu sampai di sini?" tanya Susan yang baru menyadari kehadiran pria itu di rumah sakit.
"Aku sakit dan butuh perawatan dokter Susan," godanya memegang perut.
"Halah ... jangan bercanda, nanti kamu sakit beneran, aku mengira kamu nggak serius?" omel Susan.
"Iya, aku serius. Sakit perut, minta diisi. Dokter Susan, maukah menemaniku makan sore?"
"Modus!" jerit Susan mewakili hatinya yang ingin menjerit sekencangnya. Pria di sebelahnya nampak makin segar dan tampan menurut mata Susan.
Tanpa menunggu persetujuan Susan, Yoshua memegang stang motor. Susan mundur tanpa perlawanan. Dia mempersilakan Yoshua untuk duduk memboncengkannya.
"Tapi aku nggak bawa dua helm!" ujar Susan saat menyerahkan helmnya ke Yoshua.
"Kamu bawa stopmapku aja. Kalo ada polisi, turun ke kantor polisi bersama stopmapku, ya? Kamu buat jaminan," kelakar Yoshua.
Susan mengepalkan tangan memukul lengan Yoshua dengan lembut sambil mengerucutkan bibir. Merajuk.
"Masa aku ditinggal di kantor polisi buat jaminan?" gerutu Susan.
"Tenang aja, diem, nurut. Pokoknya aman."
Yoshua memakai helm Susan, lalu menyalakan sepeda motornya.
"Pasti mau cari jalan tikus!" tebak Susan.
"Gitu tau, mau anterin kamu ke lubang tikus," sahut Yoshua.
"Memangnya aku tikus?" protes Susan saat sepeda motor mulai melaju.
Yoshua hanya tertawa mendengar ucapan Susan. Lalu membelokkan motor ke jalan-jalan kampung yang tak pernah diketahui oleh Susan.
__ADS_1
"Tadi kamu naik apa ke rumah sakit?" tanya Susan.
"Angkot," sahut Yoshua singkat seraya fokus ke jalanan.
"Kamu kenal daerah sini, Yosh?"
"Belum kenalan sih, tapi aku tau," jawab Yoshua.
"Ihh ...."
Susan mencubit pinggang Yoshua hingga motor oleng dan hampir menabrak ayam di pinggir jalan.
"Eh, maaf-maaf!" ujar Susan dengan penuh penyesalan.
"Nggak apa-apa, cuma akting oleng kok. Kamu cubit lagi, nanti aku akting jatuh!" sahut Yoshua.
"Idih, ogah!" jawab Susan meletakkan kedua tangan di pinggang Yoshua dengan perlahan dan ragu.
Yoshua mempercepat laju motor dan membuat Susan mendadak kaget lalu sontak memeluk pinggang Yoshua dengan cepat karena takut jatuh.
"Yoshua!" teriak Susan kesal.
Lelaki itu hanya menengok ke spion sebentar. "Kenapa sih?" Dia menahan tawa.
Sesampainya di sebuah warung makan, sepeda motor menepi. Yoshua mengajak Susan masuk ke dalam. Sebuah warung yang sederhana, menyajikan masakan kampung. Baru kali itu Susan mendatangi warung makan di belakang rumah sakit tempatnya magang.
"Mau," sahut Susan menganggukkan kepala melihat warung itu nampak bersih.
"Ayo masuk, makanannya enak-enak walau masakan kampung!" ajak Yoshua.
"Darimana kamu tau?" tanya Susan.
"Aku sekolah di sana itu," tunjuk Yoshua pada sebuah gedung sekolahan.
Susan melihat gedung yang ditunjuk oleh Yoshua. Baru sadar juga kalo ada sebuah sekolahan di belakang rumah sakit. Ternyata banyak yang tak dia ketahui.
"Itu Sekolah Negeri, favorit."
Susan mengerutkan dahi. Baru dengar ada sekolah favorit di situ. Dia tahunya sekolahnya saja yang masuk kategori favorit.
"Menurutku sih, favoritnya," imbuh Yoshua tergelak.
Susan mencubit lengan Yoshua. Gemas karena kelakuannya yang menggoda Susan terus.
"Mbak, pesen—" Yoshua menengok ke arah Susan. "Lady first," ujarnya.
__ADS_1
Susan tersenyum lalu mendekat ke meja dengan beberapa baskom yang berisi sayuran. Asap tipis keluar dari sayuran itu, menandakan panas karena baru saja dituang ke baskom setelah matang.
"Nasi, sayur kacang panjang sama ayam bakar, Mbak!" pinta Susan.
Dengan sigap sang penjual mengambilkan apa yang dipesan oleh Susan. Kemudian Yoshua baru meminta nasi dan sayur beserta lauknya pada penjual.
Mereka mencari tempat kosong sambil membawa piring makanan mereka.
"Sini," ajak Susan saat menemukan tempat pojok.
Mereka duduk berhadapan dan tak canggung lagi makan di sana.
"Jangan makan ayam bakar bagian hitamnya. Mengandung zat karsinogen yang bahaya buat tubuh," ujar Yoshua.
"Yang dokter kamu ya, sekarang?" sahut Susan.
"Eh, jangan ngeyel dibilangin," marah Yoshua serius.
"Iya, aku tau. Yosh, kamu belum cerita ini map buat apa?" tanya Susan.
"Cari kerja," ujar Yoshua singkat.
"Trua, udah dapat?" tanya Susan.
Yoshua menggelengkan kepala. "Belum," sahutnya. "Tapi aku semangat kok, kalo udah ketemu Bu dokter!" tambahnya menyunggingkan senyum.
Susan tersenyum tapi juga memutar otaknya. Mencari pekerjaan di kala ini sangat sulit. Apalagi belum memiliki pengalaman kerja. Dia sempat berpikir untuk membantu Yoshua di belakang tanpa diketahui oleh Yoshua. Bukankah dia memiliki kakak angkat dengan kuasa yang tinggi di dunia bisnis?
"Kalo ada lowongan kerja, aku kasih tau," ujar Susan.
"Siap, Bu dokter. Asal bukan lowongan jadi pasien, ya?"
"Katanya tadi sakit perut?"
Mereka tergelak. Mata Yoshua menatap ke kedua mata Susan. Dalam sesaat mata mereka bersirobok dan tertahan sebentar.
Wajah Susan nampak merona merah. Dia menunduk dan menyeruput teh manisnya untuk menghilangkan rasa gugup. Di situ, Yoshua mulai bercerita tentang kedatangannya di panti asuhan. Susan tak lagi terkejut karena telah mengetahui semua tentang Yoshua. mereka antusias menceritakan versi masing-masing tentang panti asuhan.
Di seberang jalan, nampak seorang lelaki berkacamata hitam duduk di dalam mobilnya, sedang mengamati sepeda motor Susan. Dia merasa sangat kesal karena seorang lelaki tak dikenal malah memboncengkan Susan dan mengajak di warung makan yang tak elit sama sekali.
Dion turun dari mobilnya dan berdiri di depan warung makan, membaca tulisannya sambil berkecak pinggang. Lalu perlahan masuk ke dalam. Mengamati ruangan warung. Kerah bajunya berdiri semua. Sudah seperti penagih utang bank plecit.
Matanya menangkap dua orang yang sedang bergurau sambil makan di pojok. Tambah panas saat melihat si lelaki membersihkan ujung bibir si gadis dengan jarinya dengan lembut.
******
__ADS_1