
"Bos Pelix kenapa sih?"
Kimmy menyipitkan mata mendekat ke wajah pria yang berkeringat dingin itu. Pikirannya sudah tak fokus lagi.
"Aku ...."
"Kenapa?"
"Tak apa-apa," jawab Felix melanjutkan tatapannya ke layar.
Kimmy menjauh lalu mengembuskan napas kecil, meminum air putih di depannya lalu bergerak keluar ruangan.
"Eh, mau kemana?" tanya Felix.
"Mau lihat Tuan Kecil sudah bangun belum," sahut Kimmy lirih. Dia bingung juga melihat pria itu tiba-tiba seolah tak ingin ditinggalkan.
Kimmy melanjutkan langkah usai melihatnya kembali menatap layar.
*
"Iya, Bos Nona. Nanti saya pulang kampung."
Kimmy meminta ijin pada Bianca saat wanita itu menanyakan jadi tidaknya dia ke desa saat weekend.
"Oh, nanti? Boleh ...."
Bianca pernah merasakan kerinduan pada keluarga karena tidak pulang beberapa minggu. Dia pikir, mungkin Kimmy merasakan hal yang sama.
"Biar diantar Felix, ya?" tawar Bianca.
"Baik, Bos Nona," jawab Kimmy.
"Aku juga mau menginap di rumah mama nanti. Ada acara di rumah."
"Kalo boleh tau, acara apa, Bos Nona?"
"Hanya pernikahan tetangga rumah Mama. Aku tidak enak kalo tak datang ke sana."
"Oh ya, Bos Nona."
"Tolong siapkan baju-baju untuk Kin ya, Kimmy?" pinta Bianca.
"Siap, Bos Nona. Sekalian saya siapkan baju saya sendiri."
Bianca mengangguk.
*
Sore itu, Felix dan Kimmy telah masuk ke dalam mobil. Entah kenapa Felix merasa sangat aman bersama gadis itu.
"Bos Pelix, besok aku pengen pulang ke desa," kata Kimmy.
"Ya, besok aku antar. Sekalian aku menginap," jawab Felix.
Kimmy kembali menatap pria itu. Tak ada paksaan.
Kenapa dia nggak galak, ya?
"Boleh," jawab Kimmy.
Mobil melaju ke apartemen. Mereka sampai di ruang apartemen yang sudah agak berantakan.
"Bos Pelix! Kenapa ini rumah berantakan sekali?"
Kimmy mengedarkan pandangan ke sekeliling dan berdecak saat melihat tumpukan baju yang belum diseterika di sofa baru, beberapa kertas berserakan.
"Errr ...."
"Mengotori pandanganku!" omel Kimmy.
Gadis itu langsung merapikan semuanya sebelum Felix sempat menjawab.
Felix malah sibuk mengintip ke jendela apartemen.
"Bos ini kenapa sih?"
Felix menyeringai tak menjawab. Gadis itu pasti akan tertawa jika mengetahui alasannya. Dia kembali mengintip dan merasa lega saat dirasanya aman.
"Cuma ngintip satpam," sahut Felix seraya menjauh dari jendela.
"Jadi selain ngintip orang mandi, juga hobi ngintip satpam," ujar Kimmy lirih.
__ADS_1
"Enak saja!" tukas Felix.
Kimmy menggelengkan kepala, memegang sebuah seterika dan langsung mengerjakan setumpuk baju Felix.
"Masih lumayan lah, ini bukan baju kotor," gumam Kimmy.
Felix masuk ke kamar mandi. Dia berendam lama. Semua pikiran yang mengganggu hari ini membuat tegang seluruh ototnya.
"Aaah, gawat sekali Amoy tahu tempat kerjaku, tapi untung dia tak menguntit. Kalo iya, apa ya yang harus kulakukan? Apa aku mengaku saja kalo sudah beristri? Wah bakal runyam dunia," gumam Felix menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Tiba-tiba saja pintu kamar mandi diketuk oleh Kimmy.
"Kakak! Buruan mandinya!"
"Ck! Apa sih? Panggil juga Kakak! Aneh-aneh!" gerutunya.
Felix segera beranjak, meraih handuk kimono, mengeringkan rambutnya yang masih basah. Pria itu keluar dari kamar mandi dan mendapati senyuman seorang gadis di sofa tamu.
"Alahmak!"
Pucat pasi wajah Felix seperti melihat penampakan makhluk astral. Baru saja dia akan menyusun rencana, gadis yang dia hindari sudah duduk manis di apartemennya.
Felix menarik lengan Kimmy.
"K-kenapa kamu menyuruhnya masuk?" tanya Felix.
"Dia bilang ada kepentingan mendesak dengan Bos Pelix. Namanya Amoy," jawab Kimmy.
"Apa satpam memberitahu sebelumnya?"
Felix masih mencengkeram lengan Kimmy.
"Iya, kata embak itu, penting sekali, menyangkut hidup matinya! Ya aku nggak tega!"
"Hidup mati apanya! Kamu lihat kan senyumnya itu? Bikin tewas!"
Felix menaruh telunjuk ke leher dan berlagak memotong lehernya.
"Emang, siapa dia, Bos?" tanya Kimmy polos.
"Dia ... wartawan!"
Giliran Kimmy terkejut.
"Urusannya denganku, sih! Makanya kamu aku suruh ke sini, ups!"
Felix tak sengaja bicara terus terang pada Kimmy.
"Oh, jadi Bos Pelix sebenarnya udah tau? Kenapa nggak bilang?" omel Kimmy kesal pada pria itu.
"Psssst .... Dia itu ...."
Belum sampai Felix menjelaskan kalau gadis yang duduk di sofa tamu menyukainya, Kimmy sudah terlihat kesal. Dia menyerahkan baju ganti Felix.
Felix mendengus, kemudian menerima baju itu dan memakainya di dapur karena kamar berada di sebelah sofa tamu.
Kimmy menjerit dan menutup wajahnya, menggerutu karena pria sedingin dan segalak itu terburu memakai baju di dapur. Gadis itu langsung memunggungi Felix sembari membuatkan minum untuk Amoy. Sempat terlihat sedikit celdam Felix, dan terbayang hingga Kimmy tak meneliti apa yang dia masukkan ke cangkir.
Felix terpaksa menemui Amoy.
Ahh tampan sekali!
Amoy menyatukan tangan, sedikit menepuknya, mewakili perasaan yang beriak di hati bisa menemui pria idolanya itu.
"Hai, Felix!" sapanya girang. Bukan tuan rumah yang menyapa, tapi tamu dulu yang berdiri dan langsung menyalaminya.
"Hai, Amoy ... ya?" ujar Felix.
"Tadi itu, sepupumu ya, Felix?" tanya Amoy melirik ke dapur.
Felix hanya mendesah pelan. Pasrah. Namun, dia harus hati-hati terhadap gadis itu.
"Apa kabar, Felix! Lama kita tak berjumpa! Aku pulang dari Afrika! Lalu balik lagi ke sini, tanah kelahiran trus dapat kerja di kantor surat kabar harian! Yaa ... biasa Felix, cari berita!" cerocos gadis itu.
"Aku kemarin ke cafe. Kok nggak bales pesanku, sih! Eh, nomormu belum ganti, ya? Katanya, kalo seorang pria tidak ganti nomor selama sepuluh tahun, itu berarti dia patut diperjuangkan! Karena sih ya, konon itu pria setia!"
Amoy tergelak sendiri.
"Felix, kamu kerja di Sinar Group! Wah, hebat sekali, aku bisa dapat berit ... aih! Kenapa aku terlalu bersemangat begini? Hari ini cerah, ya!"
Felix memasukkan ujung kelingking ke telinga dan menggoyangkannya. Serasa kemasukan banyak kotoran setelah gadis itu bicara banyak sekali.
__ADS_1
Seorang Kimmy sudah memenuhi otaknya, sekarang terjejal dengan seorang Amoy.
Tuhan, banyak sekali cobaan hidupku!
Kimmy datang membawa nampan berisi cangkir dan beberapa cemilan.
Felix melotot pada Kimmy yang tersenyum ke arah Amoy.
Dia bakal lama kalau diberi sesajen!
"Hai adik sepupu!" sapa Amoy lagi.
Kimmy meringis menanggapinya.
Dia agak kurang, apa ya? Wajahnya tadi memelas saat datang, kenapa dia jadi begitu girang?
"Diminum," ujar Felix singkat.
Amoy langsung mengangguk. Dari siang tadi saat menguntit Felix, tenggorokannya memang terasa kering. Perutnya lapar mengawasi mobil keluar masuk rumah mewah itu. Namun, gadis itu tak melihat Kimmy di dalam mobil hingga saat keduanya turun memasuki apartemen.
Menenggak tanpa pelan hingga habis isi cangkir, Amoy langsung menunjukkan kelegaan.
"Aaaah ... segarnya!"
Felix terdiam. Dia melirik wajah Amoy yang dulu sempat memenuhi pikirannya. Namun, entah kenapa sekarang kehadiran gadis itu tak mampu menggugah perasaan seperti saat sepuluh tahun yang lalu.
Pernyataan cinta!
Ya, Felix belum menjawab pernyataan cinta Amoy. Mungkin itu yang membuat gadis bawel itu masih mengejarnya.
Beberapa saat Felix menunduk memikirkan banyak hal tentang mereka. Tentang gadis di sebelahnya itu.
Suasana ribut seketika hening dalam beberapa saat. Felix baru akan memancing peristiwa pernyataan cinta itu lagi, ketika menangkap wajah pucat Amoy.
Dia terlihat meringis kesakitan memegangi perutnya.
"Kenapa, Amoy?" tanya Felix.
"A-aku ... perutku sakit," ujarnya.
"Perlu dokter?" tanya Felix.
Amoy menggeleng. "Aku pamit pulang dulu aja, makasih Felix atas hidangannya!" ujar gadis itu beranjak dari duduknya dan berlari keluar dari ruang apartemen.
Felix mengikuti dan melihat dari atas, setidaknya mengawasi gadis yang kesakitan itu bisa mengemudi dengan baik. Terlihat mobil tua milik Amoy perlahan melaju keluar dari parkir basement.
Felix kembali masuk ke ruangan dengan sedikit menyunggingkan senyum. Paling tidak, dia bebas hari ini dari gadis yang tak memiliki rem itu.
Felix menyeruput minuman dia atas meja. Terasa aneh di lidahnya. Dia mengernyitkan dahi, membawa cangkir itu ke dapur.
"Kamu kasih apa ke minuman ini?" tanya Felix pada gadis yang sedang memasak itu.
Kimmy berhenti dan meletakkan pisaunya. Bergerak ke arah Felix dan mengendus minuman itu. Bola matanya berputar menyebut merk minuman sachet yang dia masukkan ke cangkir.
"Kamu ambil di mana?" tanya Felix.
"Plastik itu," tunjuk Kimmy ke plastik hitam di samping lemari makan.
Felix menepuk jidatnya.
"Itu kadaluarsa. Mau aku buang ...." ujarnya pelan dan berbisik.
"Aih! Kukira itu belanjaan baru beli! Banyak sekali, Bos Pelix!"
"Apa tidak terasa menggumpal?" tanya Felix.
"Tadi aku nggak tau, aku sedang memikirkan ...." Kimmy menutup mulutnya, ingatan tentang dalaman Felix yang menonjol terlintas lagi.
"Apa?"
Pria itu mengangkat alis.
"Memikirkan mbak Amoy itu," ujar Kimmy berbohong.
"Aku buang saja nanti," lanjut Kimmy menatap ke arah plastik.
"Eh! Tidak usah dibuang. Buat stok kalau perempuan itu datang lagi!" ujar Felix tertawa dan berjalan ke sofa, menunggu masakan Kimmy yang terheran mendengarnya.
******
Stop plagiarisme!
__ADS_1
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.