
Felix berjalan keluar dari kamar mandi berbalut handuk kimono berwarna hijaunya. Sambil mengusap rambut basah agar kering, dia berjalan ke arah kamar.
"Ini!" seru Kimmy melemparkan jas dan kemeja yang baru saja dia seterika.
Untunglah refleks Felix sangat bagus. Dia menangkap semua baju yang dilempar Kimmy.
"Serapi apapun seterikaan kamu, bakalan kusut kalau dilemparin gitu!" tukas Felix menggerutu.
"Oh, maap, Bos!" Tanpa melihat ke arah Felix.
"Dasar, Nona Mesum!" gumam Felix seraya masuk ke dalam kamarnya.
"Huh, bener-bener, ya?" gerutu Kimmy.
Kimmy menyudahi seterikaannya. Saat gadis itu di apartemen, Felix tak lagi menggunakan jasa laundry untuk merapikan semua baju. Cukup irit sebenarnya.
Dia menyiapkan kembali meja makan. Mengelap piring yang akan digunakan oleh Felix. Ditaruhnya setengah melemparkan piring itu ke meja yang biasa untuk tempat Felix makan. Untung saja supperware, jadi nggak pecah.
"Huh, aslinya aku sabar, tapi kalo Bos Pelix seperti itu terus lama-lama tekanan darahku naik!" ujarnya bergumam sendiri.
Dia menyiapkan sarapan sambil berpikir untuk membalas pria jutek itu.
Felix telah selesai mengeringkan rambut dan memakai baju kantor. Terlihat keren.
Kimmy meliriknya sebentar.
"Keren sih, tapi gualak."
"Apa katamu?" tanya Felix melotot.
"Nggak apa-apa, aku baru bertanya-tanya dan menemukan jawaban kenapa apartemen ini nggak memelihara herder," jawab Kimmy.
Felix tak menghiraukan jawaban itu. Dia menatap ke isi piring di hadapannya.
"Hmm ... ini kornet umur berapa di kulkas?" tanya Felix.
Wajah Kimmy pias. Dia cepat-cepat berlari ke belakang pintu, melongok ke tong sampah yang telah dia siapkan di sana, meneliti kembali tanggal kadaluarsa si kaleng.
"Bulan depan udah keparatt, Bos!" teriak Kimmy.
"Keparatt? Expired! Mau dipotong lidah keseleomu itu!" teriak Felix.
Kimmy berlari kembali lagi ke dapur dengan ngos-ngosan merasa bersalah.
Bukan begini pembalasan yang kumaksud! Bukan meracuni si Bos, tapi ....
Felix meletakkan sendok garpunya tanda selesai makan. Trekk!
Cepat sekali makannya??
"Bos, muntahin, nanti keracunan!" seru gadis itu memijat tengkuk pria yang masih mengunyah.
Alhasil, pria itu tersedak.
"Minum!" serunya meminta air pada Kimmy.
__ADS_1
Kimmy mengambil air di galon, memenuhi gelasnya.
"Bos, aku siapkan dulu karpet-karpetnya untuk nanti malam!" ujar Kimmy sambil menyerahkan gelas berisi air itu.
"Untuk apa?" tanya Felix seraya meneguk air.
"Untuk tetangga yang kirim doa ke Bos!"
Kimmy menunduk.
"Uhuk!" Felix kembali tersedak mendengarnya.
"Sialan, kamu pikir aku akan menghadap Tuhan gara-gara kornet?? Huh, Mesumwati!" omelnya.
Kimmy mendelik mendengar julukannya lagi, rasa sedihnya berubah lagi jadi kesal sekesal-kesalnya. Mulutnya manyun, mengerucut, lucu sebenarnya wajah gadis itu.
"Sudah, aku berangkat!!" Felix menyambar tas dan beranjak dari tempat duduk lalu berjalan keluar diikuti oleh Kimmy.
"Hati-hati, Bos!"
Meski kesal, Kimmy berpesan juga pada pria itu.
"Ya!"
"Uugh! Awas pokoknya, Bos Judes!" gerutu Kimmy usai pria itu berjalan ke parkiran.
Dia menutup pintu lalu kembali melanjutkan pekerjaan. Besok dia sudah harus kembali ke rumah mewah. Maka dari itu, sekarang apartemen harus segera dibersihkan.
"Dasar bocah!" omel Felix.
Pria itu merasa hari-harinya begitu berisik setelah menikah. Beda dengan dulu saat tak ada Kimmy, ruang apartemen yang begitu tenang.
Portal membuka setelah mobil Felix akan sampai di pos satpam. Pria itu membunyikan klakson tanda terima kasih pada satpam.
"Hati-hati, Pak Felix!" seru satpam.
Felix tersenyum. Jarang sekali dia tersenyum. Bukan karena pesan dari pak satpam, tapi karena menyadari bahwa tidak hanya satpam saja sekarang yang menyuruhnya berhati-hati, tapi juga si gadis di dalam ruang apartemennya.
Felix sampai di rumah mewah dan menjemput Tuan Muda dan Tuan Besarnya. Dia heran sekali saat melihat Tuan Besar cepat-cepat menemuinya pagi itu, disusul oleh Tuan Key. Harusnya sekarang mereka sedang sarapan.
Felix menepiskan perasaan ingin tahunya lalu membukakan pintu mobil untuk mereka.
"Key, apa Bianca akan memasak lagi untuk kita?" tanya Pak Anton di dalam mobil.
"I-iya, Pa. Selama Hana belum datang, aku menyuruhnya untuk memasak. Waktu makan di rumah mama, dia masak sup, enak kok! Maka dari itu kusuruh dia masak, Pa! Gantikan Hana sementara."
"Oh ...."
Ada nada kekuatiran dari jawaban singkat Pak Anton.
Felix masih belum mendapat kejelasan dari pembicaraan itu. Namun, baginya tak akan mengorek lagi. Itu urusan rumah tangga mereka. Lagian, Tuan Key tak memperpanjang pembicaraan lagi. Jelasnya, Nona Bianca sekarang memasak menggantikan Hana sementara. Itu saja.
Mobil tiba di pelataran kantor. Suasana kantor berjalan seperti biasa. Mereka bertiga turun dan menuju ke ruangan masing-masing. Felix berjalan mengitari ruang-ruang untuk memeriksa dan memperingatkan akan ada rapat nanti siang.
Setelah itu, dia kembali ke ruang kerja utama, bekerja dengan Tuan Key.
__ADS_1
*
Siang itu, usai beberes dan memasukkan lipatan-lipatan baju ke dalam tas bunga-bunganya, Kimmy merebahkan diri di atas karpet.
"Hai apartemen, cukup beberapa hari saja aku tidur di sini, ya? Aku besok akan kembali bekerja!" ujarnya menerawang ke langit-langit ruangan.
Agak sedih rasanya, tapi kewajiban harus dijalankan.
"Tadinya aku ingin merasakan tidur di apartemen dan terwujud. Namun, aku kesal berada di sini, tapi sekarang kok agak sedih, ya?" gumamnya.
Kimmy memposisikan tubuh untuk duduk, lalu meraih ponselnya.
"Bikin hiburan saja!" ujarnya.
Dia membuka-buka galeri dan menemukan kembali video yang membuat namanya berubah menjadi Nona Mesum.
"Ugh!" geramnya kesal.
"Mau hiburan malah nemu yang seperti ini lagi! Seperti diingatkan!"
Dia menatap video itu dan ada ide di benaknya.
*
Suasana rapat siang itu sangat teratur seperti rapat biasanya. Para kepala divisi telah berkumpul di sebuah meja besar. Begitu suasana khidmat dalam rapat. Seorang kepala divisi memulai rapat dengan mempresentasikan inovasi barunya dengan bersemangat. Semua yang hadir berkomentar pada temuan itu.
Ting!
Ponsel Felix berbunyi. Sebuah notifikasi pesan dari seorang gadis yang menyebalkan. Kimmy.
"Ngapain si Mesumwati ini, lagi rapat juga kirim-kirim pesan!"
Felix mengamati layar ponselnya, gambar seorang kakek.
"Ini siapa? Seorang kakek ditusuk? Apa kakek gadis itu?"
Wajah Felix menjadi gusar. Dengan cemas, dia memencet video itu. Gambar si kakek membuatnya mengabaikan bahwa saat itu sedang rapat.
Suara teriakan dari ponsel membuat semua kepala divisi terkejut dan menengok pada Felix yang juga kaget mengangkat kepalanya menatap semua mata yang memandangnya. Hening saat itu. Hanya suara ponsel Felix yang terdengar jelas, suara teriakan itu disusul oleh desahan dan erangan gadis. Persis sama dengan yang didengarnya malam itu.
Wajah Felix seketika memerah.
"Felix! Apa yang kamu tonton?? Sembilan belas detik berlangsung! Pasti ...." desis Key terpotong.
Felix segera beranjak, membungkuk dan berlalu dari ruangan itu tanpa mendengarkan lagi kalimat Tuan Key.
Sialan gadis itu!!
******
Ini visual Felix versi baru, untuk yang tidak setuju imaginasikan sendiri ya ....
******
__ADS_1
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.