
Kimmy berjalan dengan cepat seolah ada yang mengejar. Dalam hatinya hanya satu, ingin bertemu dengan balita kecil yang memanggil ibu dan pengasuhnya sama.
"Mi ... Mi ...."
Terbayang mimik lucu anak itu saat meminta sesuatu atau konsentrasi bermain. Dia akan mengerucutkan bibirnya tanpa sadar.
Kimmy berada di depan portal. Satpam mengangguk padanya. Gadis itu membalas anggukan, kemudian kembali menatap ke jalan. Sebuah taksi telah menunggunya di sana.
Kimmy segera berlari dan mencocokkan plat nomor mobil itu dengan aplikasi. Cocok. Dia lalu yakin dan menaiki mobil beserta kedua tasnya. Taksi itu mulai melaju di jalanan lengang depan apartemen.
Bersamaan dengan itu, mobil Felix sudah berada di depan portal yang mulai terangkat. Agak sedikit bingung, satpam menyatukan kedua alisnya melihat Felix dan sepupunya tak berada dalam mobil yang sama. Dia hanya mengangkat bahu dan menurunkan portal kembali saat mobil Felix telah keluar dengan bunyi klakson.
"Non, kenal sama mobil di belakang itu? Yang keluar dari apartemen sama dengan Non keluar tadi?" tanya pak sopir melirik ke spion.
Kimmy memutar badannya ke belakang. Mengamati mobil hitam berplat tiga nomor itu.
"Oh, itu kakak sepupu saya, Pak!" jawab gadis itu kembali menatap ke depan.
"Dari tadi kok ngikutin terus, ya? Kenapa Nona nggak bareng aja sama dia? Kayaknya jalurnya sama?" selidik pria gemuk itu lagi.
"Nggak, Pak! Mending saya bayar Bapak dari pada harus semobil sama dia!" sahut Kimmy kesal karena orang itu kepo sekali.
"Oh, iya sih, tapi kok aneh ...." ujar si sopir lagi.
"Pak, udah deh! Biarkan aja dia ngikutin!" sahut Kimmy.
"Lha, Nona ini jangan-jangan sama tujuan dengan sepupunya, tapi nggak satu mobil. Gimana ceritanya?" cerocos pria itu lagi sambil mengamati jalan. Sesekali melirik juga ke spion.
"Gini Pak, ini kan saya mau mutilasi, dari apartemennya ke tempat saya kerja. Mungkin bawaaan saya banyak jadi dia nggak mau bareng," ujar Kimmy asal.
Pria itu melotot mendengar penjelasan Kimmy.
"Mu ... mutilasi?"
"Iya, Pak! Maka dari itu ... eh, kenapa jadi cepat sekali mobilnya?"
Kimmy refleks meraih pegangan di atas pintu mobil, dan tangan satunya memegang erat jok bawah sebelah pahanya. Mobil itu ngebut secara tiba-tiba.
"Ng-nggak apa-apa, Non! Biar cepat sampai aja. Tenang, Non. SIM saya nggak nembak, kok!" ujar si bapak ketakutan. Wajahnya pucat sekali.
Apa sih Bapak ini? Aku kan bilang mau pindah? Hmm ... aneh!
Mobil di belakangnya pun ikut kecepatan taksi, hingga sampai ke depan komplek perumahan elite yang dituju sesuai aplikasi.
"Makasih ya, Pak!" ucap Kimmy ramah.
Dia mengulurkan uang biru yang sedikit ada semburat warna coklatnya di gambar pahlawan dalam uang itu.
Si bapak terperanjat.
"Itu pasti noda darah ...." desisnya sangat pelan. Kimmy turun dan mengambil tas-tasnya di belakang jok.
"Apa, Pak?" Kimmy mengernyitkan dahinya mendengar desisan tak jelas dari mulut bapak sopir gemuk itu.
"Eh, nggak, nggak! Ini kembaliannya!"
Bapak itu melempar dua uang hijau asal pada Kimmy. Gadis itu menangkap cepat dua lembar uang dan mengamatinya.
"Lho, Pak. Ini kebanyakan ...."
Taksi ngacir sebelum Kimmy mengembalikan uang itu.
Felix telah melewatinya saat Kimmy menurunkan tas-tas tadi. Mobilnya sudah berada di halaman depan rumah Tuan Key.
Pria itu masuk setelah melihat Kimmy mulai melewati portal depan rumah Tuan Key.
"Hai, Bos Kin!!" jeritnya dan meletakkan dua tas saat melihat balita kecil itu mengulurkan kedua tangan dan menyebut namanya.
__ADS_1
"Mi ... Imi!"
Bianca mengulurkan balitanya ke Kimmy. Mereka saling melepas rindu. Gadis itu berkali-kali menciumi Kin saking rindunya.
"Felix ... nanti kita cek ke pabrik, ya?" ujar Key tanpa menatap pria berkacamata hitam itu.
Tak ada jawaban.
"Felix!" ulangnya dengan nada lebih keras.
"I-iya, kenapa Tuan?"
Pertanyaan itu membuat Key terbelalak kaget karena jarang sekali sang asisten tak memperhatikan, padahal tadi dia merasa begitu jelas bicara padanya.
"Kamu ini kenapa!" tanya Key.
Tadi bola mata Felix melirik ke arah kedua perempuan dan satu balita bercengkerama. Dia takut Kimmy akan keceplosan tentang pernikahan, jadi dia memasang telinga untuk mendengar pembicaraan mereka.
"Ti-tidak apa-apa, Tuan!" jawabnya gugup sekali.
Key menghirup napas dalam-dalam dan mengembuskannya pelan agar emosinya reda.
"Nanti kita melakukan tinjauan langsung ke pabrik," ulangnya.
"Baik, Tuan."
Kali ini Felix membungkuk, mengerti.
"Felix, kamu makan pagi dulu!" suruh Bianca.
"Maaf, saya sudah sarapan, Nona," tolak Felix halus.
"Tumben?" ujar Bianca tak percaya.
"Iya, Nona."
"Pakai apa?"
"Sayur terong."
"Sayur terong? Ditumis? Kamu beli apa masak sendiri?" cecar Bianca.
"Terong kuah santan, Bos Nona," jawab Kimmy.
Bianca dan Key memutar kepala, melihat ke Kimmy.
"Lho, kok tahu?" tanya Bianca.
Wajah Kimmy memucat, lupa. Apalagi melihat lirikan tajam Felix dari samping kacamatanya.
"Eh, menebak saja, Bos Nona. Kalo pagi biasanya warung menyediakan sayur itu di desa saya!"
"Ooh ...." Mulut Bianca membulat.
Kimmy merasa lega, setidaknya Bos Nona percaya padanya.
Ketiga pria telah berangkat setelah Felix menunjukkan isyarat awas pada Kimmy agar tak menbocorkan rahasia.
Kimmy mengangguk, tanpa ada yang menyadari bahasa isyarat mereka. Dia pun kembali beraktivitas seperti biasa.
"Nanti kamu jaga Kin ya, Kimmy? Aku akan belajar memasak."
Bianca menggendong Kin kembali, sementara Kimmy sedang membersihkan play mate di kamar Kin.
"Wah, Nona mau belajar memasak?"
Gadis itu menepukkan tangan. Memberi semangat pada atasannya itu.
__ADS_1
"Iya, Kimmy. Selama ini aku bingung, kenapa aku tidak bisa akrab dengan kompor!" gelak Bianca.
"Oh ya, untuk sore nanti apa kamu bisa menolongku, Kimmy?" tanya Bianca.
"Iya, Bos Nona."
"Tolong belanja ya di hipermarket pusat kota! Pelayan yang biasa belanja, sibuk di rumah karena Hana sedang cuti."
"Oh, baik, Bos Nona!"
"Nanti aku buatkan daftar belanjaannya."
Kimmy mengangkat alis mendengarnya.
"Bos Nona, saya belanja sendiri?" tanya Kimmy.
"Iya, nanti aku dan Tuan Key akan membawa Kin ke undangan makan di restoran."
Bianca nampak berpikir. Kasihan juga gadia itu jika belanja banyak barang sendirian.
"Nanti aku akan meminta Felix untuk mengantarmu."
Kimmy menyeringai, terbayang wajah pria galak itu.
"Apa Bos Pelix tak bertugas untuk mengantar kalian, Bos Nona?"
"Kami bisa berangkat bertiga saja. Undangan itu hanya untuk bersenang-senang, kok! Bukan bisnis," jawab Bianca sembari menyusui Kin yang mulai rewel.
Balita itu mulai minum dengan rakusnya, tak lama kemudian dia mulai terlelap.
Kimmy mengangguk.
"Baik, Bos Nona."
Saat mereka sibuk di kamar Kin, seorang pelayan datang dan memberitahukan bahwa seorang chef telah datang dan sedang menunggu di ruang tamu.
"Oh, ya. Suruh dia menunggu sebentar lagi. Aku akan mengganti pakaian."
"Baik, Nona."
Pelayan itu kembali ke ruang tamu.
"Kimmy, tolong ambilkan baju dress biasa di kamarku. Hanya untuk belajar masak."
"Baik, Bos Nona!"
Sebentar kemudian, Kimmy datang membawakan baju yang diinginkan Bianca. Gadis itu telah memahami sifat dan keinginan Bos Nonanya.
Usai berganti pakaian, Kimmy membawakan sebuah apron berwarna pink cantik untuk Bianca. Mereka langsung turun melewati tangga, melihat seseorang sedang duduk memunggungi.
"Dia laki-laki, Bos Nona?" tanya Kimmy berbisik.
Bianca mengangkat bahu, menatap ke Kimmy. Tak tahu jika yang datang seorang laki-laki.
Mereka dengan penasaran mendekat perlahan ke pria bertato itu.
Sang pria kaget merasa ada dua perempuan yang berdiri di belakangnya, lalu memutar badannya.
"Cakepnyaa ...." desis keduanya.
Pria berkulit sawo matang, berwajah tampan, dengan rambut yang tersisir rapi ke belakang dan tubuh yang kekar. Tak akan ada yang menyangka dia itu seorang chef handal.
"Nona Bianca, nama saya chef Juno," sapanya membungkuk, memperkenalkan diri.
Bianca mengangguk kecil padanya. Kimmy tiba-tiba teringat sosok Jodi yang hidungnya mirip dengan chef itu. Hidungnya saja.
******
__ADS_1
Stop plagiarisme!
Melanggar hak cipta orang lain masuk dalam UU nomor 19 tahun 2002 pasal 72 ayat (1) yang berisi hukum pidana maksimal 7 tahun dan denda maksimal 5 Miliar Rupiah.