
"Kin, yang bikin nangis Tante Susan bukan Om ini ...."
Susan tergelak melihat kedua manusia di sebelahnya sedang bergelut. Manusia kecil satu itu masih menggigit tangan Yoshua yang masih sakit, tambah berdenyut-denyut karena gigitan gigi tajam Kin. Gigitan itu seperti tak bisa dilepas.
"Aduduh! Dek, lepasin gigitannya. Nanti giginya lepas, lho? Nyangkut di tangan Om!"
Setelah memikirkan kata-kata Yoshua, Kin baru perlahan melepas gigitannya. Yoshua terbelalak melihat bekasnya. Lubang-lubang itu terbentuk mirip dengan crop circle.
"Ya ampun ini anak keturunan drakula apa, ya?" gumam Yoshua menatap si anak kecil yang sekarang melotot dan berkecak pinggang.
Susan sampai terbatuk-batuk karena tertawa melihat kelakuan keduanya.
"Kin ke sini sama siapa?"
Tak nampak siapapun di belakang Kin saat itu. Dia masuk sendirian tadi. Susan bertanya-tanya siapa yang mengantarkan Kin.
"Sama Daddy. Tadi Daddy abis nemenin Mommy main free fire."
Susan dan Yoshua melebarkan matanya.
"Free fire?"
"Iya, Mommy pinjam water gun punya Kin buat nembak musuhnya, namanya Monster Dion."
Saat Susan dan Yoshua masih tak mengerti, Key dan Bianca datang dari pintu masuk dan tersenyum menatap mereka bertiga.
"Mommy! Daddy!" panggil Kin girang.
"Kak ... kenapa Kin bilang tentang Monster Dion?" Susan memasang wajah berkerut lucu.
"Ck! Khayalan Kin itu." Bianca mengibaskan tangan.
"Tapi ... kenapa Monsternya namanya Di—"
"Kebetulan ...." sela Key mengacak rambut anaknya yang sudah protes.
"Daddy bilang tadi monster gendut namanya Di—"
"Hus ... sana, sana! Beli es krim tuh sama Om Felix!"
Key memberikan kartu kredit ke tangan Kin. Anak itu cemberut menerima benda pipih yang bisa membeli segalanya. Yoshua sekali lagi tertegun melihat raut wajah Kin yang nampak bosan dengan kartu kreditnya.
Kin meninggalkan mereka berempat dengan wajah sangat datar. Sepertinya tak ada yang ingin dia beli dengan kartu kreditnya. Namun, dia tetap keluar menemui Felix.
Yoshua mengelus dada. Sultan mah pake wajah gimana pun bebas! Beda sama rakyat jelata, bawa kartu itu pasti kalap!
__ADS_1
"Yoshua, makasih atas semua yang kamu lakukan waktu itu. Kita sudah terlambat, tapi setidaknya kamu telah berusaha menyelamatkan nyawa Susan."
Key menepuk pundak lelaki muda itu. Meski meringis kesakitan karena tangan Key menyakiti pundaknya, tapi Yoshua berusaha tersenyum.
Pandangan Yoshua bergulir ke sebelah Key. Ada seorang wanita yang tak kalah ramah padanya. Tersenyum dengan manis.
"Tak usah senyum-senyum, kamu sudah laku, Sayang!" desis Key di telinga Bianca.
"Apanya yang laku!" geram Bianca mencubit pria yang mengesalkan itu. Key menyeringai di samping istrinya.
Buyar sudah anggapan Yoshua tentang keluarga yang dia kira dingin dan tak ada keramahan. Nyatanya pasangan kakak dan kakak ipar Susan nampak hangat dan lucu. Susan menahan tawa melihat pasangan itu.
Saat gelak tawa itu mereda, Key mengeluarkam sapu tangan dan mengusap peluhnya.
"Hey, Yoshua. Kamu kerja sudah dapat target?" tanya Key santai, memasukkan sapu tangannya.
Nah, baru kalau soal pekerjaan, Tuan Key mengeluarkan nada tegas dan dingin walau dalam situasi santai.
"B-bulan lalu target, Tuan Key. Bulan ini entah."
Yoshua menunduk. Dia tak bisa memperoleh target jika kondisinya masih harus dirawat di rumah sakit sampai pulih. Paling cepat dua bulan dia pulih. Itu pun kalau dia tak dikeluarkan dari perusahaan.
"Kenapa bulan ini tak bisa memenuhi target?!" Sedikit membentak Key seolah memarahi Yoshua yang bergidik mendengar suara Key yang bernada tuntutan.
"Ish!" Key kesal karena Bianca terlihat membela Yoshua.
Yoshua dan Susan sampai tak bisa berkata-kata melihat sepasang suami-istri itu.
Sebentar kemudian, Key berdehem dan suasana kembali senyap.
"Yoshua, sepertinya ada kabar buruk." Key menatap Yoshua.
Lelaki berkacamata itu mendongakkan kepala. Kata 'berita buruk' bagi sebagian orang sangat mendebarkan, termasuk Yoshua.
"Kamu sudah dikeluarkan dari perusahaan."
Meski santai, tapi ucapan Key membuat hati Yoshua menggelegar kaget. Baru saja dia memberikan cincin pada Susan, sudah mendapat berita bahwa dirinya dikeluarkan. Rasanya Yoshua sangat menyesal telah memberikan cincin itu. Andaikan dia mampu menyembunyikannya dari Susan, maka dia akan bisa mendapat banyak lagi kesempatan untuk mencari pekerjaan yang layak dahulu.
Senyum getir terukir di wajah Yoshua. Dia tak bisa merespon pemberitahuan Key. Hanya anggukan dan bibir yang terlipat menandakan kekecewaan.
Namun, dalam lubuk hatinya, dia menepis rasa kecewa karena melakukan pengorbanan untuk Susan. Gadis yang sedang termangu menatapnya berbelas kasihan.
"Kakak!" Hampir saja omelan lolos dari mulut Susan melihat sang kakak yang bagai tanpa dosa melontarkan berita mengecewakan itu.
Susan sudah bersumpah akan memberi suntikan dengan jarum paling besar jika sang kakak sakit lagi. Dia sangat kesal. Apalagi melihat wajah pucat Yoshua dengan keringat dinginnya. Bisa dipastikan dia akan kebingungan mencari pekerjaan lagi.
__ADS_1
"Ada berita buruk, tapi juga ada berita baik, Yoshua."
Yoshua memberanikan diri untuk bertanya pada Tuan Key yang sedang melipat tangan memperhatikan reaksinya.
"B-berita baiknya apa, Tuan Key?"
"Setelah sembuh, kamu bisa menggantikan posisi manager pemasaran di Sinar Group. Manager yang lama telah pikun. Dia bekerja terlalu lama di perusahaanku."
Raut semringah nampak jelas di wajah Yoshua. Dia tak percaya berita baik itu. Yoshua mencubit lengannya.
"Aw, sakit!" Ternyata dia tak bermimpi.
Sumpah Susan terpatahkan begitu Key mengatakan kalimat terakhir itu. Key mengajak Bianca meninggalkan ruangan itu dan membiarkan Yoshua dan Susan meluapkan rasa gembiranya.
"T-terima kasih, Tuan Key!" teriak Yoshua riang.
Key mengangkat tangannya sambil berjalan keluar.
"Bekerjalah dengan baik!" Hanya itu yang dia ucapkan.
"Sayang, apa manager pemasaran yang lama itu pikun?" tanya Bianca tak percaya.
"Iya, tentu saja! Dia telah bekerja dari rambutnya hitam sampai putih semua. Wajar kalau dia sudah pensiun dan pikun! Untung saja aku belum menentukan siapa penggantinya. Nah, ini jadi rejeki untuk Yoshua!"
"Ah, kamu baik, Sayang!"
"Hey, dia harus bekerja keras untuk itu!" seru Key.
***
"Selamat, Yosh!" ucap Susan tulus.
Yoshua memegang tangan Susan saat kedua orang itu telah pergi menjauh. Dia menatap Susan dengan semangat.
"Sue, aku mencintaimu!"
Susan terperangah mendengarnya. Dia tak percaya kebahagiaan bertubi-tubi datang setelah adanya peristiwa yang mengerikan dan hampir saja melenyapkan keperawanannya.
"B-benarkah itu Yosh?"
"Iya! Aku mencintaimu, Sue. I love you!" Dia menggenggam erat tangan Susan dengan penuh rasa bahagia.
Susan sampai menitikkan air mata haru dengan apa yang mereka alami bersama. Kedua pasang mata mereka saling berpandangan.
"I love you too, Yoshua."
__ADS_1