Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 10. Sedih


__ADS_3

Dipagi-pagi sekali, sinar matahari mulai keluar dari peraduannya. Sementara cahaya bulan mulai memudar. Seorang wanita tua dan seorang pemuda tengah mengais-ngais sampah ditempat pembuangan sampah.


Tiba-tiba sang pemuda itu berteriak.


"Nek... nenek... nek, ada mayat, ada mayat. Sang wanita tua renta dengan tertatih-tatih berjalan mendatangi cucu tercintanya.


"Ada apa cu, teriak-teriak ini masih pagi, nanti pemulung yang lain pada datang, kita tidak bisa dapat banyak. Bukankan kamu berencana membeli sepatu untuk sekolah," ucap sang nenek sambil melihat kearah cucunya. Namun alangkah terkejutnya dia saat melihat jasad seorang perempuan dengan kedua tangan dan kaki yang terikat. sang pemuda segera memeriksa denyut nadi perempuan yang tergeletak dalam keadaan terikat itu.


"Nek dia masih hidup nek, ayo kita tolong," sang pemuda langsung mengangkat tubuh perempuan itu dan meletakkannya didalam gerobak sampahnya kemudian menarik gerobak itu. Sementara sang nenek mengikuti dari belakang.


mereka terus berjalan menyusuri sepanjang aliran sungai. setelah berjalan kurang lebih setengah jam sampailah mereka di sebuah rumah panggung sederhana berukuran empat kali enam meter dengan atap terbuat dari daun rumbiah. pemuda itu mengangkat wanita yang ia temukan ditempat sampah tadi.


"Baringkan saja dikamar nenek cu. biar nenek bersihkan badannya dan ganti pakaiannya yang kotor itu. Kamu sebaiknya merebus air untuk membersihkan tubuhnya dan buatkan segelas teh hangat dan jangan lupa bawakan air hangat beserta handuk kecil untuk membersihkan tubuhnya," ujar nenek kepada cucunya.


"Baik nek, Gading segera kerjakan perintah nenek, " ucap seorang pemuda berpakaian lusuh tersebut sambil menuju kedapur menyiapkan kayu bakar dan menyalakan api. Dia merebus air dengan menggunakan tungku. Asap mengepul keluar menembus celah-celah dinding yang terbuat dari papan.


Setelah air dirasa cukup panas, Gading menuangkan kedalam baskom dan mengambil sebuah handuk kecil kemudian membawanya kekamar menemui neneknya.


"Nek ini air hangat yang nenek tadi pesan," ucap Gading sembari memperhatikan neneknya yang sedang membuka lemari mencari baju yang pas untuk dipakai oleh wanita yang baru saja ditemukan tadi.

__ADS_1


"letakkan disitu saja Gading, kamu lanjut memasak nasi dan menyayur kangkung saja. Kangkungnya kamu mutik dibelakang rumah, " ucap nenek tanpa menoleh kearah Gading. Gading pun berlalu pergi kedapur meninggalkan neneknya untuk melanjutkan memasak nasi dan sayur. sedangkan neneknya yang sudah mendapatkan apa yang dia cari langsung membersihkan tubuh wanita itu dan mengganti pakaiannya yang kotor, basah dan berbau sampah.


"Kasian sekali nasibmu nak, siapa yang tega sekali melakukan semua ini padamu. kamu sepertinya ingin melangsungkan pernikahan kalau dilihat dari pakaianmu yang memakai kebaya, dan wajahmu juga habis dihias walaupun hampir luntur karena terkena air hujan. Selesai membersihkan dan mengganti pakaian yang melekat pada tubuh wanita tadi, nenek tadi membalurkan minyak kayu putih ketubuh wanita tadi sambil mendekat kan botol minyak kayu putih yang telah di buka tutupnya kehidung wanita yang barusan ditemukan ditempat sampah.


perlahan-lahan wanita itu sadar dari pingsannya.


"Hemmmm, eeeeehhh, " wanita itu menggerakan anggota tubuhnya kemudian membuka matanya.


"Kamu sudah sadar nak, siapa namamu, " tanya nenek tersebut.


"Ja...Jangan sentuh aku, jaaangaaan sakiti aku, aku mohon," ucap wanita itu sambil terisak.


"Dia cucuku yang tadi menemukanmu ditempat sampah dan membawamu kerumah ini, namanya Gading. Nama kamu siapa nak, kenapa kamu ada ditempat sampah, ayo diminum tehnya biar tubuhmu lebih segar," ucap nenek Leni sambil mengambil cangkir berisi teh hangat dan mendekatkan kebibir wanita tadi. Kumudian wanita tadi menyeruput teh hangat sedikit demi sedikit.


"Terimakasih nek, kak Gading sudah menolong aku namaku Sekar. Sebenarnya ini adalah hari pernikahanku dengan kak Gilang. Tapi aku diculik setelah dihias, dia bilang itu mobil jemputan untuk menuju masjid dimana akan dilangsungkannya akad nikah. tanpa rasa curiga sedikit pun aku langsung masuk kedalam mobil.


aku menyadari kalau aku telah diculik setelah sekitar dua puluh menit perjalanan. aku terus meronta dan berteriak hingga kaki dan tanganku diikat oleh mereka kemudian mereka menempelkan sapu tangan basah kemulut dan hidungku, setelah itu aku tak sadarkan diri.


"Terus kamu berasal dari desa mana, nak," tanya nenek Leni lagi sembari mengusap-usap punggung Sekar untuk memberikan ketenangan.

__ADS_1


"Saya berasal dari pusat kota nek," jawab Sekar sambil meneteskan air mata.


"Pusat kota jauh sekali dari sini nak, mungkin sekitar satu hari satu malam jika menaiki bis kota dari terminal. Sedangkan dari sini keterminal kita harus naik Ojek sekitar dua jam perjalanan dan itu membutuhkan ongkos yang banyak. Sedangkan kami hanya seorang pemulung dan sambil menggarap lahan milik warga desa yang hasilnya tidak seberapa. Kalau kamu ingin pulang bersabarlah, kita akan kumpulkan uang dulu ya, " ucap nenek Leni.


"Sekarang kita makan dulu pakai sayur seadanya, maaf cuma ada nasi dan sayur kangkung, ayo makan yang kenyang biar tubuhmu cepat sehat," ucap nenek Leni sambil memindahkan nasi dan sayur Kedalam piring lalu menyerahkan kepada Sekar, kemudian mengambil piring lagi dan diisi nasi dan sayur dan diserahkan kepada Gading. Selanjutnya dia mengambil nasi dan sayur untuk dirinya sendiri. Mereka bertiga makan dengan lahap, menikmati makan pagi dengan menu sederhana namun terasa nikmat sekali, hingga makanan selesai tak satu pun diantara mereka ada yang bicara. Selesai makan Gading langsung mengangkat piring dan sisa makanan kebelakang, sementara nenek Leni meminta Sekar untuk beristirahat kembali.


Menjelang sore hari Sekar baru terbangun dari tidurnya. Tubuhnya kini terasa lebih segar. Sekar melangkah keluar menuju kedapur, dilihatnya nenek Leni sedang sibuk didapur.


"Nek Sekar bisa bantu apa,"ucap Sekar pelan.


"Kamu duduk saja Sekar, badanmu pasti masih lemas. Nenek lagi masak, sebentar lagi Gading pulang sari kebun dia sedang memetik sayuran untuk Dibawa besok kepasar, " ucap nenek Leni.


*******


Sementara itu dipusat kota, orang suruhan Gilang telah berhasil menangkap mobil yang membawa Sekar dan membawanya kekantor polisi. Dari interogasi yang dilakukan polisi dan berlangsung begitu alot karena mereka sulit untuk membuka mulut, akhirnya mereka mengaku telah memindahkan tubuh Sekar yang dalam keadaan terikat dan tak sadarkan diri kedalam truk sampah yang terletak didaerah terpencil dengan jarak ratusan kilo meter dari pusat kota. Kemudian truk sampah tersebut membawa tubuh Sekar kepembuangan akhir. mengenai plat nomor truk itu, mereka mengaku tidak mengingat plat nomor nya. Polisi langsung melakukan pemeriksaan keseluruh tempat pembungan sampah akhir. Namun tak satupun dari mereka ada yang menemukan jejak Sekar.


Ini adalah hari ketujuh pencarian Sekar, namun Sekar seolah lenyap ditelan bumi. Dikampung-kampung hingga kepelosok paling ujung propinsipun polisi sudah melakukan pencarian.


******

__ADS_1


__ADS_2