
Sore ini setelah menemani sang istri dari pagi, Gilang bersiap-siap untuk kembali ke kota.
"Deni, jemput aku, sekarang kita berangkat,"
Dengan ditemani oleh Deni sebagai supir pribadi, merangkap asistennya. Gilang berangkat ke kota setelah menitipkan sang istri dirumah mertua.
Sepanjang perjalanan Gilang lebih banyak tertidur, karena rasa kantuk dan lelah terus menderanya.
"Perasaan pekerjaan sedang tidak begitu banyak, tapi sepertinya bapak terlihat ngantuk dan lelah, dari tadi saya perhatikan tidur aja"
Deni merasa heran dengan kelakuan bosnya.
"Memangnya pekerjaanku cuma dikantor aja, seperti yang kamu lihat. Aku ini seorang suami Deni, sudah pasti ada pekerjaan menyenangkan yang wajib aku kerjakan dirumah. Apalagi aku akan pergi beberapa hari, Sekar terus merengek minta jatahnya ditambah"
Ucapan Gilang membuat tawa Deni lepas berderai tak tertahankan.
"Jadi bapak kelelahan karena itu," ujar Deni sembari terus tertawa.
Gilang langsung mengambil gulungan kertas dan memukulkan ke kepala Deni.
"Kamu benar-benar tidak sopan sama atasan. Nanti kalau kamu sudah menikah, kamu pasti tahu bagaimana rasanya istri merengek minta jatah di saat kita kondisi lelah," ucap Gilang sambil bersungut-sungut.
"Oh gitu yah, jadi kepingin nikah, pengen tahu rasanya dimintai jatah sama istri, enggak kebayang betapa indahnya," jawab Deni, matanya menerawang jauh kedepan dengan senyum tersungging dibibirnya.
Mendengar ucapan Deni, Gilang langsung menyarankan Deni agar secepatnya melamar Enjela seorang bidan cantik yang sudah sebulan terakhir ini dipacarinya.
Deni memang sudah ada niat ingin menikahi Enjela secepatnya. Bahkan minggu lalu Deni sudah datang kerumah orang tua Enjela untuk berkenalan dengan orang tua Enjela. Tahap selanjutnya Deni ingin mengajak Enjela ke kota untuk berkenalan dengan orang tuanya.
"Kenapa tadi tidak sekalian kamu ajak Enjela ikut serta," ujar Gilang menyela.
__ADS_1
" Emang boleh pak, jujur saya merasa sungkan sama bapak, mengajak Enjela ikut serta, itu kan urusan pribadi. Sedangkan apa yang saya lakukan sekarang kan dalam rangka bekerja"
Deni adalah sosok karyawan yang sangat profesional yang tidak ingin mencampur adukan urusan pribadi dengan pekerjaan. Deni tahu bagaimana cara menghargai dan menjaga kepercayaan atasannya. Itulah sebabnya, Gilang sangat mempercayainya.
Waktu terus berjalan, setelah semalaman Gilang tertidur, kali ini Gilang menggantikan Deni menyetir mobil. Beberapa kali mereka mereka singgah untuk ISOMA. Saat menjelang maggrib Mobil Gilang memasuki gerbang rumahnya. Dengan menunduk hormat satpam membukakan gerbang, setelah mobil berhenti dihalaman.
Setelah Gilang keluar dari mobil dia menyuruh Deni langsung pulang dengan membawa serta mobilnya. Agar Deni tidak perlu repot-repot mencari angkutan umum.
Setelah menanyakan dimana keberadaan bundanya kepada satpam. Gilang langsung menuju ketaman belakang dimana bundanya sedang menyiram bunga-bunga kesayangannya.
"Sore mama sayang, mama sehatkan ," sapa Gilang sembari menyalami bundanya, mencium punggung tangannya dan kemudian memeluknya.
"Gilang, bunda senang akhirnya kamu datang lagi. Bunda sudah sangat rindu sama kamu, apa kamu tidak rindu sama bunda nak?"
Wajah bunda Reni terlihat sembab, sepertinya ada sesuatu yang sedang difikirkannya, hingga membuat tubuhnya tampak kusut.
Melihat mata bundanya yang berkaca-kaca . Ada rasa bersalah di hati Gilang karena telah membohongi sang bunda. Seandainya bunda tahu Gilang di Cipaganti mempunyai seorang istri, mungkin saat ini bunda Reni sedang bahagia. Dia bisa berkunjung ke Cipaganti untuk bertemu Sekar, besan dan warga desa disana yang selalu ramah.
"Gilang....setiap malam, bunda selalu melangitkan doa kepada sang pencipta, agar kamu secepatnya mempunyai sebuah keluarga kecil dan membina rumah tangga. Bunda ingin melihat kamu bahagia," bunda Reni bicara sembari terisak.
"Bunda tidak perlu khawatir, Gilang selalu bahagia kok, punya istri atau tidak Gilang tetap bahagia"
Gilang menjawab singkat pertanyaan bundanya. Hatinya terus bertanya-tanya, haruskah dia berterus terang menceritakan pernikahannya dengan Sekar. Andai bundanya tahu, akankah bunda merasa bahagia dengan pernikahan nya, atau justru sebaliknya.
"Gilang...bunda sangat menyesal telah menolak memberi restu pada kamu dan Sekar. Seandainya dulu bunda membiarkan kamu menikah dengan Sekar, mungkin saat ini bunda sudah menimang cucu"
"Apakah ini waktu yang tepat untuk memberi tahu bunda untuk menyampaikan tentang rahasia yang selama ini tidak diketahui oleh bundanya"
Batin Gilang sedang bimbang, dia teringat Sekar yang selalu merasa bersalah karena menikah tanpa restu mertua, namun disisi lain ada perasaan orang tua yang harus dia hargai. Pak Hadi melarang dia memberitahu bunda tentang pernikahannya.
__ADS_1
"Apa bunda ingin punya cucu?"
Gilang mencoba bertanya, sekedar ingin mengetahui isi hati bundanya lebih dalam lagi karena dia tidak mau gegabah dalam bertindak.
"Tentu saja bunda merindukan seorang cucu nak, tapi bunda cukup tahu diri, bagaimana bunda mau punya cucu, sedangkan calon istri yang kamu ajukan kebunda, telah bunda tolak, bahkan bunda telah melukai perasaannya dan keluarganya"
Bunda Reni benar, sekarang dia sama sekali tidak berani menekan Gilang untuk menikah dengan wanita manapun, karena sepertinya Gilang tidak pernah tertarik dengan wanita manapun selain Sekar. Hal ini menyisakan rasa sakit dan penyesalan yang luar biasa bagi bunda Reni.
"Andaikan Gilang saat ini ingin menghadirkan seorang cucu, apakah bunda bahagia, andai itu bisa membuat bunda bahagia. Maka Gilang akan segera hadirkan seorang istri dan cucu dalam keluarga kita"
Gilang mulai mencoba memberitahu tentang keberadaan seorang istri yang ada dihidup Gilang.
"Benarkah Gilang. Segeralah kamu bawa seorang calon istri kehadapan bunda. Bunda janji akan merestui dengan siapa pun kamu menikah"
Kini bunda Reni telah pasrah, siapapun yang Gilang bawa untuk menjadi menantunya asalkan Gilang putranya menyukainya dia akan menerima dengan ikhlas.
"Bunda... sebenarnya ada sesuatu yang Gilang rahasiakan dari bunda selama ini, Gilang minta maaf bunda," ucap Gilang seraya menggenggam tangan bunda tercintanya.
Gilang merasa saat ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahu tentang pernikahannya dengan Sekar. Akhirnya dengan diawali ucapan Bismillah Gilang memberitahu Bundanya kalau dia telah mempunyai seorang istri di desa Cipaganti. Gilang telah bertemu dengan Sekar dan pak Hadi didesa itu. Kini Sekar dan Gilang telah menjadi sepasang suami istri dan sedang menunggu kelahiran sang buah hati.
Karena alasan itulah, Gilang mendirikan perusahaan perkebunan porang disana. Demi bisa merahasiakan pernikahannya dari sang bunda. Karena Gilang dan Sekar takut kalau sang bunda akan mengacaukan pernikahannya seperti yang sudah terjadi.
Mendengar penuturan Gilang, seketika cairan bening mengalir dari kedua sudut mata bunda Reni yang mulai timbul kerutan. Bibirnya bergetar dan terisak. Tiba-tiba bunda Reni bersujud dan berucap syukur dihadapan Gilang.
"Terimakasih nak, karena kamu telah bahagia, tanpa sepengetahuan bunda. Bunda ikhlas kamu telah membohongi bunda, bunda maafkan kamu, mungkin semua ini adalah hukuman buat bunda atas banyaknya kesalahan yang telah bunda perbuat kepada kamu dan Sekar"
Bunda Reni terus menangis bahagia dalam sujudnya. Gilangpun segera menyentuh pundak bundanya mengajaknya duduk lalu memeluknya dengan Erat. Kini sempurnalah sudah kebahagiaannya.
*******
__ADS_1