
Setelah membeli beberapa set perhiasan, Sang pemilik toko menyebutkan nominal yang harus dibayar.
Totalnya satu koma dua milyar pak," ucap sang pemilik toko sambil mengemas semua perhiasan yang dibeli oleh Gilang.
"Kak, itu terlalu mahal, kita bisa beli yang lebih murah," ucap Sekar, tangannya menyentuh dan menggoyahkan bahu Gilang. Namun Gilang hanya menjawab dengan senyuman.
Selesai membayar beberapa set perhiasan, Gilang menggandeng tangan Sekar menuju kesebuah butik langganan keluarga Gilang.
"Selin tolong kamu bantu pilihkan beberapa gaun yang cocok untuk calon istriku," titah Gilang kepada Selin pemilik butik tersebut.
"Ayo sayang, ikuti Selin dan pilih baju yang kamu suka, ingat ya tidak usah kamu melihat harganya karena masalah harga itu menjadi urusanku," ucap Gilang sembari mendudukan bokongnya disebuah sofa yang empuk yang telah disediakan oleh pemilik butik.
"Kak, yang ini bagaimana," ucap Sekar yang berjalan mendekati pujaan hatinya.
"Kedua netra Gilang memperhatikan tubuh Sekar yang terbalut Gaun berwarna ungu dengan motif garis- garis berwarna hitam. bagian pinggangnya yang ramping membuat tubuhnya semakin indah mempesona. bagian dadanya menonjol keluar semakin nampak aduhai, membuat jiwa lelakinya bangkit hingga menyebabkan pakaian bagian bawah menyesak. Rasanya mata Gilang enggan untuk diajak berkedip melihat pemandangan yang indah di depannya.
"Kak, bagus tidak," ucap Sekar setengah berteriak.
"Selin, tolong yang ini dikemas, tolong carikan beberapa lagi," ujar Gilang.
Selin dengan sigap mengambilkan beberapa model pakaian lagi. Setiap pakaian yang dicoba untuk Sekar selalu bagus dan cocok ditubuh Sekar, Ternyata calon istriku sungguh cantik," batin Gilang. Pandangannya terus menyoroti seluruh lekak-lekuk bagian tubuh Sekar seolah menembus tubuh bagian terdalam. Batinnya terus terbayang bagaimana ia hmenyusuri tubuh sekar dengan menggunakan jari jemarinya yang kokoh. mengecap manisnya madu-madu cinta yang konon rasanya manis sekali.
"Kak, sudah selesai, seluruh belanjaan kita sudah dikemas sama karyawan kak Selin.
Akhirnya Gilang dan Sekar meninggalkan Butik Selin sekitar tiga jam kemudian.
"Kak Gilang kenapa kakak harus menghabiskan uang begitu banyak untuk membeli barang ini, sayang kak uangnya, diluar sana banyak orang yang untuk makan saja susah, sebaiknya kakak jangan terlalu menghamburkan uang, daripada uang digunakan untuk membeli barang mewah kan mending disumbangkan untuk membantu orang yang tidak mampu," ucap Sekar lagi.
__ADS_1
"Biasanya aku juga sering memberikan sebagian uangku untuk disumbangkan kepanti-panti sosial. Tapi saat ini aku ingin membeli sesuatu yang dapat membuat calon istriku bahagia," ucap Galih.
Galih dan Sekar berjalan menuju mobil. kemudian mereka menyimpan semua barang belanjaannya didalam mobil. Gilang melajukan mobilnya meninggalkan butik Selin menuju jalan raya.
"Sayang kamu mau makan apa,"tanya Galih pada Sekar.
"Biasanya kalau kita makan, kan kakak yang selalu pilih restoran, karena kakak terbiasa makan direstoran. Bagaimana kalau hari ini kakak mengikuti kebiasaan aku yang selalu makan diwarung pinggir jalan," ucap Sekar.
"Ayo, aku juga perlu tahu bagaimana kebiasaan hidup calon istriku, agar jika kita menikah tidak terlalu susah untuk menyesuaikan diri denganmu," jawab Gilang
Sekar kemudian menunjukkan tempat dimana mereka akan makan, sebuah warung sea food pinggir jalan,.
"Nggak salah kita akan makan disitu? disitu kan tidak hugenis Sekar. bagaimana kita akan hidup sehat, kalau makanannya seperti itu!! " ucap Gilang.
"Kata siapa enggak sehat, buktinya aku setiap kali makan diwarung selalu makan dipinggir jalan, aku mana mampu beli makan direstoran. lagian kalo menurut kakak makanan dipinggir jalan itu tidak sehat logikanya orang miskin seperti kami ini banyak yang sakit-sakitan dong," ucap Sekar santai.
"Masuk akal sih pendapat Sekar, orang yang suka makan seadanya justru mereka lebih tahan, serangan penyakit, lebih tahan terhadap kondisi ekstrim. Mereka tidak takut kehujanan, kedinginan dan kepanasan, karena hal itu tidak akan membuat mereka sakit," batin Gilang.
"Kita makan disini kak, pak pecel lele dua porsi, minumnya es jeruk, "ucap Sekar tanpa minta persetujuan Gilang. Mereka kemudian duduk dikursi plastik yang sudah disediakan. Saat mereka sedang santai sambil menunggu pesanan.
"Sekar...kamu sekar kan," seorang laki-laki bertubuh kurus dengan tinggi sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter menyapa Sekar.
"Dino kamu mau makan juga, oh ya kenalkan ini kak Gilang, kak ini Dino tetanggaku dirumah yang dulu, dulu kami satu kelas, kami sama-sama tamat SMA" kata Sekar. mereka pun saling berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing.
"Aku enggak makan kok Sekar, kebetulan ibuku lagi sakit, badannya demam, tadi minta dibelikan nasi ayam lalapan, katanya kepingin makan enak," jawab Dino.
"Makan ayam lalapan dipinggir jalan, yang dimasak dengan alat seadanya, dia bilang makan enak!! emang biasanya makan Apa? ," tanya Gilang kepada Sekar sembari berbisik dan menyoroti semua pengunjung yang sedang makan diwarung tersebut.
__ADS_1
"Kalau orang seperti kami makanan diwarung ini sudah termasuk mewah kak, karena dalam keseharian kami biasanya makan nasi sama sayuran, kadang pakai tempe aja, atau tahu aja. bahkan kalau sudah tidak mampu beli sayuran, tahu atau tempe, kadang mereka hanya makan pakai sambal saja ," papar Sekar.
Galih sangat terkejut mendengar pemaparan Sekar. Ternyata dia termasuk orang yang sangat beruntung. Karena memiliki kekayaan yang berlimpah. makanannya pun beraneka ragam, mau makan apa tinggal beli. Sedangkan diluar sana banyak orang yang untuk makan saja harus berhemat.
Setelah beberapa saat kami menunggu, pemilik warung lalapan pun mengantarkan makanan yang kami pesan.
"Bang, tolong buatkan satu lagi, dibungkus buat mas itu, tadi dia beli satu porsi ditambah menjadi dua porsi lauknya disamakan sama yang dia pesan, nanti saya yang bayar semuanya," ujar Gilang sambil menunjuk kearah Dino. kemudian mulai menyantap makanannya.
"Enak juga, bumbunya terasa banget, enggak kalah sama menu restoran," ujar Gilang dan hanya dibalas anggukan oleh Sekar karena dia tengah sibuk mengunyah makanan.
"Mas makasih banyak ya, aku udah dibayari, jadi merepotkan," Tiba-tiba Dino menghampiri Gilang dan Sekar yang tengah asyik menikmati nasi pecel lele.
"Sama-sama, semoga ibunya lekas sehat, oh ya, kamu sekarang kerja dimana? " tanya Gilang sambil menyapu bibirnya yang terkena sambal.
"Saya bekerja serabutan, kadang mencucikan mobil tetangga, kadang mengepel rumah tetangga, kadang disuruh nyapu halaman. Saya kerja apa aja Okey mas yang penting halal.
"Ini kartu namaku, datanglah kekantorku kalau memang kamu butuh pekerjaan," ucap Gilang sembari menyerahkan kartu namanya kepada Dino.
"Terima kasih mas, besok saya akan datang ke kantor mas Gilang dengan membawa berkas lamaran," ucap Dimo dengan wajah berbinar penuh semangat.
"Sama-sama. saya tunggu kedatanganmu dikantor saya besok pagi," ucap Gilang sembari menggenggam tangan Sekar mengajaknya melangkah menuju kasir.
"Asyik juga makan diwarung lalapan pinggir jalan, masakannya pedas tapi nikmat, tadi itu sama abangnya dikasih cabe berapa kira-kira?" tanya Gilang. tangan kanannya menggenggam tangan Sekar kemudian mengecupnya cukup lama, sementara tangan kirinya sibuk mengemudi mobil.
"Besok aku tanyakan pakai cabe berapa dia," sahut Sekar santai, mereka pun sama-sama tersenyum. Gilang terus mengemudikan mobilnya menuju kediamannya.
"Kak kita mau kemana, kok lewat sini," tanya Sekar bingung, dia sepertinya pernah lewat jalan yang sedang dilaluinya.
__ADS_1
" Kita akan pulang kerumahku. Bunda mengajak kita bertemu, katanya ada yang ingin dibicarakan.
**********