Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 34. Menahan Diri


__ADS_3

Sungguh bahagia sekali hati bunda Reni. Rasa bersalah dan penyesalan yang begitu menyesakkan dada kini telah berkurang. Linangan air mata bahagia terus mengalir saat mengingat, sebentar lagi dia akan dipanggil oma. Sebuah status yang diimpikan oleh semua orang tua.


Terbayang sudah dalam angannya, betapa bahagia rasanya berjalan-jalan bersama disebuah taman bermain bersama cucu dan menantu.


"Kapan kamu akan mempertemukan bunda dengan Sekar menantu bunda"


Wanita setengah baya itu sudah tidak sabar bertemu dengan menantu yang dulu sangat tidak dia inginkan, namun sekarang kehadirannnya justru dia nantikan.


Saat membayangkan sesuatu yang indah, kembali terlintas dalam benaknya, betapa buruk perbuatannya terhadap Sekar. Rasa pesimis kembali menggelayuti hati mengingat masihkah ada maaf untuknya dari Sekar dan keluarganya. Apalagi dilihatnya Gilang menarik nafas panjang saat mendengar pertanyaan darinya.


"Maafkan Gilang bunda, bukan Gilang tidak mau membawa Sekar kesini, tapi sebaiknya bunda harus menahan diri dulu untuk bisa bertemu istriku"


Gilangpun menjelaskan ada beberapa alasan, kenapa dia belum bisa mempertemukan sang bunda dengan menantunya. Diantaranya Sekar dalam kondisi hami, tidak tega rasanya mengajaknya menempuh perjalanan jauh selama puluhan jam lamanya. Kalau Gilang mengajak bundanya ke desa Cipaganti, lelaki tampan itu takut hal itu akan membuat pak Hadi orang yang selama ini tidak ingin bunda Reni tahu pernikahan Gilang dengan putrinya marah. Rasa trauma yang mendalam membuat beliau sangat membenci bundanya.


Mendengar penuturan Gilang, bunda Reni kembali tertunduk, sekarang baru dia rasakan buah dari perbuatannya. Baru sekarang dia menyadari kalau perbuatannya tidak hanya menyisakan luka dihati putranya tetapi juga menimbulkan trauma dihati pak Hadi. Kalau dulu dia yang tidak merestui Sekar masuk dalam kehidupannya sebagai menantu. Sekarang keluarga pak Hadilah yang tidak menerima dia menjadi besannya. Walau pak Hadi masih bijaksana dengan menerima Gilang sebagai menantunya karena memang Gilang tidak bersalah, demi kebahagiaan putrinya.


Gilang juga menceritakan tentang latar belakang Sekar yang ternyata bukan berasal dari keluarga broken home. Gilang kembali menceritakan bagaimana pertemuan pak Hadi dengan bu Asih yang pergi dari rumah karena ada keperluan, namun ditengah jalan dia dijambret dan dipukuli hingga tak Sadarkan diri, lalu dibuang ketempat sampah oleh para penjahat.


Tubuh bu Asih ditemukan oleh seorang pemulung bernama nenek Leni, dimana nenek Leni adalah orang yang menemukan Sekar ditempat sampah yang berbeda dan dalam kondisi terikat tak sadarkan diri. Namun beruntung Sekar tidak mengalami hilang ingatan seperti bu Asih.


Karena kondisi bu Asih yang hilang ingatan dan hamil muda, diapun diperistri oleh pak Langgam yang kini telah tiada dan menetap di desa Cipaganti bersama putra yang dikandungnya dan saat ini sudah selesai kuliah, dia bekerja pada Gilang.

__ADS_1


Berkat pengobatan dan terapi yang rutin dilakukan, kini ingatan bu Asih telah kembali. Sehingga dia ingat bagaimana asal mula dia meninggalkan anak dan suaminya selama puluhan tahun.


"Bunda benar-benar mempunyai banyak salah pada Sekar, bunda telah menghakimi Sekar atas apa yang terjadi pada rumah tangga orang tuanya"


Sesungguhnya apa yang terjadi dalam rumah tangga pak Hadi bukanlah salah Sekar, bukan pula salah orang tua Sekar. itu semua memang sudah takdir yang harus dijalani oleh mereka. Seperti halnya takdir Gilang yang harus kehilangan ayahnya dan hanya diasuh oleh bundanya.


"Mungkinkah mereka akan memaafkan bunda suatu hari nanti Gilang. Rasanya bunda ingin sekali hidup bahagia berdampingan dengan mereka," ujar bunda Reni.


"Benarkah bunda mau hidup berdampingan dengan mereka, Kalau Sekar mendengar semua ini dia pasti bahagia, Sebenarnya kalau Sekar sudah memaafkan bunda dan ingin sekali bertemu bunda, namun situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, dia sedang hamil dan ayahnya tidak setuju kalau bunda mengetahui pernikahan kami," ujar Gilang.


Bunda Reni mengungkapkan perasaannya selama ini pada Gilang. Sesungguhnya dia sangat kesepian, anak semata wayangnya sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan keuarganya berada di pulau yang berbeda. Kehadiran cucu dan menantu pasti akan sangat memberi warna dalam mengisi hari-harinya menghabiskan sisa usianya.


"Kalau bunda memang merasa kesepian, apa tidak sebaiknya bunda menikah lagi, siapa tahu Gilang bisa punya adik bayi seperti Sekar, bunda...... Gilang juga pingin punya adik, biar Gilang punya saudara," usul Gilang.


"Apa yang membuat kamu punya pemikiran demikian Gilang?" tanya bunda Reni.


Gilang pun tersenyum dan merangkul bundanya, kembali dia bercerita bahwa sejak pak Hadi rujuk dengan bu Asih kini bu Asih hamil lagi, usia kandungan hanya selisih beberapa minggu dengan Sekar. Sekar dan Guntur sangat bahagia menyambut kelahiran adiknya.


"Gilang juga ingin punya adik Bunda," ujar Gilang.


"Kamu itu lucu, sudah mau punya anak, masa masih pingin punya adik. cinta bunda hanya buat ayahmu saja, buang jauh-jauh keinginanmu untuk memiliki seorang adik Gilang," sahut bunda Reni. Gilang hanya tersenyum menanggapi jawaban bundanya. Dia tahu dihati bundanya hanya ada ayah tercintanya. Sedangkan Gilang sudah merasa cukup dewasa untuk tidak memaksakan kehendaknya.

__ADS_1


Hari telah sore, Gilang pun mengajak bundanya untuk masuk kedalam rumah. Keesokan pagi Gilang menghampiri bunda Reni yang sedang sibuk menyiapkan sarapan dimeja makan.


"Pagi bunda, kayanya makan enak nih," sapa Gilang sembari memeluk bundanya dari belakang.


"Gilang... Bunda baru sadar kalau sekarang tubuhmu jadi lebih padat dan berisi. Kamu juga terlihat semakin kekar dan berotot"


Bunda Reni memandangi seluruh tubuh putranya, tubuh Gilang sekarang terlihat lebih kekar dan gagah. Semenjak bertemu dan menikah dengan Sekar, perusahaan Reni Baskara Grup berkembang Pesat. Begitu juga perusahaan perkebunan porang juga mulai berkembang. Kehadiran Sekar benar-benar membawa dampak positif dalam kehidupan Gilang. Seandanya saja sejak dulu dia memberi restu pada mereka. Tapi menyesalpun percuma. Yang terpenting jadikan itu sebagai pelajaran berharga. Agar tidak mudah meremehkan dan menghakimi orang lain.


"Iya bunda, setiap pagi Sekar selalu meminta Gilang untuk bangun pagi kemudian olah raga, kalau malam juga, kami selalu olahraga sebelum tidur"


Gilang menyahut ucapan bundanya sambil tersenyum jail. Bunda Reni pun langsung menjewer telinga Gilang seperti saat Gilang nakal diwaktu kecil.


"Ayo kita makan, kita sudah lama tidak makan bareng," ajak bunda Reni pada putra semata wayangnya sebelum berangkat kerja.


Setelah selesai makan bersama sang bunda, Gilang pamit pada bundanya. setelah memeluk dan mencium kedua pipi bunda, Gilangpun melangkah keluar rumah. Beberapa ART yang berpapasan dengannya mengangguk hormat. Orang nomor satu diperusahaan Reni Baskara grup itu menaiki mobil kesayangannya tanpa seorang supir. Hari ini Deni di izinkan libur untuk bercengkerama dengan keluarga.


Tepat pukul setengah delapan. Gilang sampai dikantor. Resni sang sekertaris andalan Gilang menyambut kedatangan bosnya dengan sangat antusias.


" Pak hari ini dan besok kita akan adakan general meeting dengan para petinggi perusahaan yang menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan kita," ungkap Resni.


" Siapkan semuanya, kita akan adakan general meeting hari ini dan besok."

__ADS_1


Setelah Gilang memberikan intruksi pada sekertarisnya. Diapun berlalu masuk keruangannya untuk memeriksa berkas dimejanya.


*******


__ADS_2