
"Sarah tadi curhat apa sama bunda"
Pak Saka merangkul Sarah mengajaknya masuk kedalam rumahnya. Kali ini dia ingin lebih mengenal Sarah dan berusaha untuk bisa menjadi teman curhat putrinya. Sekarang dia adalah seorang single parent, dia harus bisa berperan sebagai ayah sekaligus ibu.
"Sarah curhat tentang rahasia perempuan ayah, Sarah kan malu kalo harus curhat sama ayah"
Pak Soko tercengang mendengar jawaban anak gadisnya. Apa yang dimaksud rahasia perempuan yang malu jika lelaki mengetahui.
"Apaan sih sayang, ayah ini kan ayah kandung kamu, ngga perlu ada rahasia, ceritalah sama ayah, pasti ayah bantu cari solusinya"
"Tidak ayah, kecuali ayah mau ini menjadi rahasia kita, dan tidak boleh seorang pun tahu" jawab Sarah, tangannya sibuk memilin ujung bajunya. Nampaknya dia sedang bimbang antara jujur pada ayahnya atau tidak.
"Ayah janji akan rahasiakan, yang penting cantiknya ayah harus selalu cerita apapun masalah yang di hadapi sama cantiknya ayah"
Pak Soko membelai rambut putrinya, dan menatapnya penuh sayang.
"Sarah tanya-tanya tentang menstruasi ayah, kemarin teman Sarah ada yang mentruasi dikelas, sampai tembus kena rok sekolahnya, karena tidak pakai pembalut"
Pak Soko mendengarkan cerita putrinya dengan hikmat. Dia baru sadar, kalau ada banyak hal yang dia tidak ketahui tentang perempuan. Dia hanya ingat istrinya selalu datang bulan sebulan sekali sekitar lima sampai enam hari. Tapi istrinya tidak pernah mengeluh sakit, tidak seperti istri kerabatnya yang selalu menangis menahan sakit saat datang bulan. Lelaki berkulit sawo matang itu selalu libur memberikan nafkah batin jika istrinya sedang halangan.
"Lalu-lalu apa yang terjadi kemudian," ujar pak Soko penasaran, dengan gaya perempuan dan sontak membuat Sarah tertawa.
"Terus dibuli sama teman-teman ayah, Sarah tidak mau itu terjadi pada Sarah"
"Nanti ayah belikan pembalut untuk persiapan kalau Sarah datang bulan, sekarang kita lihat dede Hawa dikamarnya.
"Tapi ayah, bagaimana cara membersihkan darah menstruasi, Sarah bingung.
Sesaat pam Soko berfikir, istrinya dulu tidak bercerita tentang hal itu, jangankan itu, cara memasang pembalut saja dia tidak tahu.
"Mungkin kamu bisa bertanya pada teman disekolahmu nak"
"Malu ayah, sebaiknya Sarah bertanya pada bunda Reni aja ayah, seandainya saja bunda jadi ibu sambungku, mungkin aku tidak serepot ini"
Sarah terus berdoa dan berharap dalam hatinya semoga ayahnya berjodoh dengan bunda Reni mungkin dia tidak akan setegang ini menghadapi masa-masa beranjak remaja.
********
Bunda apain sih Hawa, langsung sembuh sakitnya, mantra bunda manjur juga"
Gilang melirik pada Sekar yang dibalas dengan sebuah senyuman.
"Mungkin karena merasakan kasih sayang bunda yang tulus"
__ADS_1
"Seperti cintanya bunda pada ayahnya Hawa"
Bunda Reni langsung melotot mendengar celotehan Gilang. Dia melemparkan gumpalan tisu pada anak lelakinya yang lagi nyetir.
"Gimana acaranya Deni lancar aja kan"
Wanita tengah baya itu berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Lancar dong bun, dia tadi juga sempat mendoakan semoga bunda dan pak Soko cepat menyusul"
Bunda Reni langsung tersedak, dengan Sigap Sekar memberinya segelas air mineral, secepat kilat mertua Sekar langsung mengambilnya lalu meminumnya dengan cepat.
"pelan-pelan bunda".
Kalian semua paling gampang bicara nikah, tidak tahu rasanya ditinggal pergi oleh orang yang dicinta, kalo janda yang sudah ditinggal mati oleh suaminya maka cintanya pun ikut dibawa mati"
Wanita paruh baya itu bicara sambil bersungut-sungut. Hatinya kesal karena terus menerus diarahkan pada pernikahan yang membuat dia takut tak bahagia.
"Cinta yang sudah dibawa mati biarlah di ikhlaskan saja, sekarang ada baiknya bunda move on dan memulai cinta yang baru"
Gilang tersenyum, Sekar membelai pundak mertuanya.
"Sabar bunda, biarkan saja semua mengalir apa adanya, kalau bunda belum siap menikah lagi, jangan dipaksa"
Bunda Gilang segera turun dari mobil, setelah mobil terparkir di carport rumah Gilang.
wanita paruh baya itu bergegas masuk kedalam kamar. Di dalam kamar dia bukannya mandi atau tidur. Wanita itu justru melamun. Mengingat wajah Hawa yang begitu menyentuh hati, rasanya tak sanggup jika dia harus berpisah terlalu lama dengan bayi itu.
Bunda Reni kembali mempertimbangkan saran putranya, menikah dengan pak Soko walau tak ada cinta, demi cintanya pada Hawa dan Sarah.
Beberapa hari kemudian, pak Soko bertamu kerumah menemui Gilang setelah pulang bekerja.
"Pak Gilang saya ingin mengikuti saran pak Gilang, ingin meminang bunda Reni untuk menjadi istri saya, tapi sebelumnya bolehkah saya berbicara empat mata dengan bunda anda pak"
Gilang menyetujui keinginan pak Soko, Dia masuk kedalam menuju kamar bundanya.
"Bunda pak Soko mau bicara sama bunda, kalau dia nembak bunda terima aja bun, sayang kalo ditolak, cari cowo ganteng yang perutnya kotak-kotak tuh susah," Gilang terkekeh dan dibalas cubitan oleh bundanya.
Tak lama kemudian dia melangkah menuju ruang tamu. Bunda Reni dengan wajah gugup mengekor dibelakangnya.
Dengan perasaan tak menentu, bunda Reni duduk disofa ruang tamu. Sementara Gilang pamit masuk kekamar menemui istrinya.
Suasana hening, dua orang berbeda jenis kelamin itu kini merasa sangat gugup. Dengan wajah memerah menahan rasa gugup yang luar biasa, pak Soko mengutarakan maksud kedatangannya.
__ADS_1
"Saya memang belum bisa menjanjikan cinta untuk bunda, mengjngat bayangan wajah almarhumah masih sering terbayang. Mungkin karena belum lama meninggal"
Pak Soko menawarkan sebuah pernikahan tanpa cinta, namun dia janji akan selalu berusaha menyayangi bunda Reni dengan sepenuh hati.
"Saya bukanlah orang kaya seperti bunda Reni, saya cuma orang miskin, sebenarnya kalau bukan karena demi anak-anak, saya malu melamar ibu, sudah tidak bisa memberi harta, memberi cinta pun tak mampu, payah sekali saya ini" dia terkekeh.
"Tidak apa-apa pak, harta kan bukan tolak ukur buat kita bisa bahagia, bapak belum bisa mencintai saya, saya pun seperti itu"
Bunda Reni meremas jemarinya sendiri untuk menghilangkan rasa gugup.
"Saya sangat menyayangi kedua putri bapak, saya rela melakukan apa saja demi mereka"
********
Tok...Tok....Tok....
"Bu...buka pintunya"
Dengan wajah memerah karena terpapar sinar matahari disiang bolong, Sitah langsung menerobos masuk kedalam rumahnya melewati Tarni ibunya yang telah membukakan pintu.
Wanita itu merasa heran melihat putrinya pulang dengan berjalan kaki panas-panasan, bukankah tadi pagi dia pamit pergi keacara pernikahan Asisten pak Gilang yang bernama Deni.
"Sepeda motormu kemana Sitah, mogok!!!, kamu masukkan dibengkel mana?"
"Bukan mogok bu, tapi pura-pura mogok, aku titipkan kebengkel biar ada alasan ikut mobil pak Gilang," sahut Sitah sambil mengambil segelas air putih dan meneguknya dengan cepat"
Dia bercerita tentang kejadian barusan. Bu Tarni mendengarkan dengan wajah kesal.
"Jual mahal sekali ternyata laki-laki kaya bernama Gilang Itu, mungkin karena ada istrinya yang membuat dia bertingkah sok suci"
"Apa itu artinya pak Gilang itu tidak tertarik padaku bu, sampai-sampai makanan pemberianku pun dia tak mau terima"
Sitah mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur, tubuhnya terasa lengket setelah berjalan sekitar satu kilo meter dalam cuaca terik.
Selesai mandi Sitah kembali duduk dimeja makan, bu Tarni menghidangkan makanan yang baru saja selesai dimasaknya.
"Kamu harus lebih giat lagi dalam mendekati bosmu dikantor Sitah, fikirkan cara lain yang lebih jitu," titah bu Tarni sambil menyendokkan sayur kepiring Sitah.
"Besok ibu tidak usah lagi masak makanan enak untuk pak Gilang bu, percuma keenakan satpam"
Sitah makan dengan lahap, namun mulutnga tak berhenti bicara.
*******
__ADS_1