Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 62. Kemarahan pak Hadi


__ADS_3

Kurang ajar dia, dasar laki-laki keparat aku hajar kau, Guntur mana kunci mobilnya. Kamu tunggui ibumu dan jangan kemana-mana.


"Pak sabar pak....kita tanya dulu kebenarannya"


Tanpa mendengar ucapan Guntur, pak Hadi mengambil kunci mobil yang ada dalam saku kemeja Guntur. Dia melangkah cepat dengan langkah yang panjang-panjang menuju parkiran dimana mobilnya terparkir. Dengan kecepatan tinggi dia melajukan mobilnya menuju rumah Gilang. Hari telah sore, sementara hujan turun dengan begitu deras.


Guntur yang ada dirumah sakit terus menghubungi Gilang. Namun Gilang tak mengangkatnya. Kemudian dia menghubungi Deni orang kepercayaan Gilang.


Dari Deni dia tahu kalau vidio itu dibuat oleh Sitah dan komplotannya saat Gilang diculik tepat saat acara hari pernikahan bunda Reni dan pak Soko. Saat itu Gilang sedang kondisi pingsan terlihat di vidio Gilang yang hanya diam tak berdaya, tidak seperti Sitah yang gerakannya begitu brutal, mencium dan mencumbu suami orang. Deni juga mengabarkan kepada Guntur kalau Gilang tengah mendampingi Sekar yang harus segera melakukan oprasi caesar karena pendarahan akibat menyaksikan vidio yang dibuat oleh Sitah.


"Ibu dengar kan, kak Gilang tidak seperti yang ada difikiran ibu, tapi dia dijebak bu"


"Iya...ibu tidak menyangka kelakuan Sitah begitu nista. Demi mendapatkan suami orang dia rela merendahkan dirinya sendiri," komentar ibu Asih yang sedang memangku bayinya.


"Wajar bu, kak Gilang itu kaya raya, tampan dan berkelas, dikantor dia begitu di idolakan para karyawatinya"


"Sungguh miris kalau melihat wanita-wanita itu, demi sebuah gaya hidup yang menurut mereka menyenangkan, mereka rela merenggut kebahagiaan wanita lain. Padahal andai dia berhasil pun kehidupan mereka belum tentu bahagia karena orang seperti mereka tidak pernah puas dan tidak pernah bersyukur dengan apa yang Tuhan telah berikan. Semoga kamu mendapat jodoh wanita baik Tur, dan semoga kamu dijauhkan dari wanita-wanita hina seperti Sitah"


Guntur mengaminkan doa wanita yang amat berarti dalam hidupnya. Bu Asih juga terus mendoakan Sekar semoga dia bisa melahirkan secara Caesar dengan lancar tanpa kendala apapun. Wanita itu terus membayangkan betapa perih dan sakit hatinya kala melihat lelaki yang sangat dicintai dicumbu mesra oleh lelaki lain.


Disisi lain bu Asih juga merasa bersyukur karena Gilang bukan lelaki murahan seperti yang dia kira saat pertama kali melihat vidio viral itu. Dia berharap Gilang akan terus setia kepada putrinya walau banyak gadis- gadis di desa itu yang menginginkannya, tak perduli lelaki itu telah beristri.

__ADS_1


******


Sementara itu pak Hadi terus melajukan mobilnya kearah rumah Gilang. Saat melewati gedung perkantoran perusahaan perkebunan porang milik menantunya, pak Hadi berpapasan dengan Sitah yang baru saja keluar dari gerbang kantor. Dia mengendarai sepeda motor metik kesayangannya.


Melihat Sitah akan pulang, hatinya geram, amarah kembali menguasai hatinya. Hujan deras kini telah berhenti, menyisakan titik-titik air diatas dedaunan. Hawa dingin terasa menembus pori-pori. Namun berbeda dengan hati pak Hadi yang kian memanas. Dia menghentikan laju mobilnya tepat menghadang kendaraan Sitah, membuat wanita cantik berkulit eksotis itu menarik rem secara mendadak. Pak Hadi keluar dari mobil dengan tergesa-gesa.


"Dasar perempuan murahan, bisa-bisanya kamu menyebar vidio mesum perselingkuhanmu dengan Gilang dimedia sosial. Apa urat malumu sudah putus haaah..."


Sitah yang mendengar teriakkan pak Hadi langsung tersenyum penuh kemenangan. Membuat kedua tangan lelaki setengah baya dihadapannya mengepalkan. Urat-urat leher mertua Gilang itu mengencang.


"Pak Hadi, sudahlah...percuma saja bapak marah-marah, aku dan pak Gilang sudah resmi pacaran, kami akan segera menikah setelah Sekar melahirkan bayinya"


Seketika itu pula, pak Hadi mendekati Sitah dia melayangkan tamparannya kewajah Sitah. Amarahnya benar-benar tak mampu lagi dia tahan. Kini telapak tangan pak Hadi tepat mengenai pipi Sitah bagian sebelah kanan.


Sitah sangat geram mendapat perlakuan pak Hadi yang diluar dugaannya. Rasa panas dan perih kini dia rasakan, namun lebih panas dan perih lagi hatinya diperlakukan seperti ini oleh lelaki setengah baya dihadapannya. Untuk menutupi rasa kesal dan marah didalam hatinya, Sitah pun tersenyum menyeringai, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan terlihat kontras dengan warna kulitnya.


"Puas-puaskan saja kau tampar aku pak Hadi, setelah itu menangislah karena sebentar lagi anak gadismu akan menjadi janda, ha...ha..."


Hati pak Hadi semakin Geram, dia kembali hendak menampar pipi kiri Sitah, saat telapak tangan pak Hadi akan mendarat dipipi Sitah. Sebuah tangan yang kekar mencekal lengan pak Hadi.


"Tahan pak, tidak baik main hakim sendiri"

__ADS_1


Pak Hadi mengarahkan pandangannya kearah seseorang yang mencekal lengannya. Ternyata dia adalah satpam yang bertugas berjaga digerbang depan perkantoran perkebunan porang. Dibelakangnya beberapa karyawan menantunya berdiri memperhatikannya dengan sorot mata prihatin.


"Untuk apa kamu membela wanita minim akhlak ini, apakah kalian sedang membela bos kalian yang sedang selingkuh"


Pak Hadi berteriak kepada satpam dan menghempaskan pegangan tangan satpam dilengannya.


"Saya cuma tidak mau bapak main hakim sendiri, saya sedang membela bapak, agar bapak tidak terkena pasal penganiayaan"


Saya rela masuk penjara, asalkan saya bisa menghabisi orang yang telah membuat anakku hancur"


"Sitah! Sebaiknya kamu pulang, jangan terus memancing orang yang sedang marah"


Mendengar bentakan satpam, Sitahpun langsung melajukan kendaraannya untuk pulang. Namun sebelum pulang dia mengancam satpam, kalau dia akan memecatnya setelah dia resmi menjadi istri orang nomor satu diperusahaan mereka bekerja.


"Sabar pak, bapak harus bisa berfikir jernih, belum tentu apa yang telah kita lihat dividio itu benar adanya. Bisa jadi hanya editan"


Pak Satpam terus menjelaskan kalau sampai saat ini Gilang dan Sekar tidak bisa dihubungi. Satpam pun tak percaya bahwa Gilang tidak mungkin mau melakukan hal bodoh yang akan merusak reputasinya. Sitah memang sudah lama mengejar-ngejar pak Gilang. Bahkan Sitah rela mengirimkan makanan setiap hari yang konon dia masak sendiri, namun pak Gilang tidak pernah memakannya. Justru dia sendiri yang selalu memakan makanan yang dititipkan Sitah untuk Gilang.


Mendengar penjelasan pak Satpam, hati pak Hadi berasa lebih tenang. Dia pun pamit kepada satpam untuk pergi kerumah Gilang menemui anak dan menantunya. Kali ini dia akan menanyak Gilang dengan baik-baik, tak ingin mengumbar emosi yang hanya akan merugikan diri sendiri.


Ingatan pak Hadi kembali saat-saat kebersamaan Gilang dan Sekar, Gilang begitu mencintai putrinya. Bahkan tanpa malu dia menangis dihadapannya demi meminta Sekar untuk menjadi istrinya saat dia tak lagi merestui hubungan mereka akibat ulang bunda Reni.

__ADS_1


Hati pak Hadi semakin ragu kalau Gilang tega berselingkuh dan menghianati cinta putrinya. Kini pak Hadi telah sampai dimuka rumah Gilang menantunya. Rumah itu tampak Sepi. Diapun membuka pagar yang tidak terkunci, berjalan naik keteras dan mengetuk rumah paling megah milik menantunya.


*****


__ADS_2