
Hari ini Sitah berangkat dengan menggunakan bus menuju kekota. Pada keesokan harinya dia telah sampai dikota. Tujuan dia selanjutnya sebuah kontrakan dimana dulu dia pernah mengontrak semasa kuliah.
Setelah setengah jam perjalanan menggunakan ojek on line. Kini berdiri dengan megah dihadapannya, sebuah gedung berlantai lima. Padahal tempat itu dulunya adalah rumah kontrakan yang terdiri dari beberapa bedakan. Pandangannya menyapu kesegala arah dan berhenti saat netranya bersitatap dengan seorang satpam yang dulu bekerja menjaga dipos satpam salah satu orang kaya ditempat itu yang bernama pak Daniel.
Sitah pun melangkah menuju kearah satpam sembari menyeret koper ditangannya.
"Mang Didin apa kabar?, syukurlah mamang masih bekerja disini," Sitah menyapa pria paruh baya yang duduk santai di pos satpam.
"Kabar baik, kamu Sitah kan yang dulu mengontrak di kontrakan juragan Otong," jawab mang Didin, sembari menyerahkan sebuah kursi bakso kepada Sitah untuk dia duduk. Mang Didin juga memberi Sitah satu botol air mineral yang masih tersegel.
"Makasih mang, mamang tau aja kalau Sitah haus he...he"
Sitah terkekeh. Dia membuka botol air mineral dan meminumnya beberapa teguk. Setelah dirasa hausnya hilang dia pun berhenti dan menarik nafas pelan.
Selanjutnya Sitah bertanya mengenai kontrakan yang ada didekat sini. Sitah juga menceritakan maksud dan tujuannya datang ke kota.
"Jadi kamu berniat mencari kontrakan sekaligus pekerjaan dikota ini," ucap mang Didin. Sitah pun menganggulkan kepalanya.
********
Semoga kerasan ya mbak disini"
"Iya bu terimakasih telah mengijinkan saya mengontrak dikontrakan ibu"
__ADS_1
Kini Sitah merasa lega, berkat mamang Didin yang memberi tahu sebuah kontrakan ibu Yuni ada yang kosong. Kini dia sudah mempunyai tempat tinggal yang sudah dibayar selama tiga bulan kedepan. Hari ini rencananya dia akan beristirahat, besok dia baru akan berkeliling untuk mencari pekerjaan.
Pagi pertama tinggal dikontrakan yang sepi membuat dia teringat kembali masa-masa kuliah yang begitu indah. Dia segera bangkit dari tempat tidur, membersihkan diri kemudian sarapan makanan yang dia masak sendiri. kemarin setelah membayar kontrakan dia langsung pergi kepasar untuk berbelanja bahan makanan. demi untuk berhemat, Sitah memasak sendiri, bagaimanapun dia harus bersyukur karena ibunya rela memberikan uang simpanannya untuk bekal hidup dikota sebelum mendapatkan pekerjaan.
Tepat jam delapan dia sudah siap dengan setelan pakaian kerja. Tadi malam dia sudah browsing di internet untuk mendapatkan informasi pekerjaan. Ada beberapa perusahaan yang rencananya akan dia datangi hari ini.
Tepat jam dua belas siang dia sudah mendatangi dua perusahaan. Perusahaan pertama ternyata telah di isi oleh orang lain. Sedangkan perusahaan kedua sudah dilakukan interview namun Sitah diminta untuk menunggu pengumuman sekitar satu bulan lamanya. Kini wanita itu memutuskan untuk pulang karena perutnya sudah mulai keroncongan. Sore harinya dia lanjut mendatangi perusahaan yang lain lagi, mencoba peruntungan siapa tahu ada perusahaan yang mau menerimanya bekerja dalam waktu dekat.
Sebulan sudah setiap hari Sitah mencari pekerjaan. Uang di dompet sudah mulai menipis. Rasa jenuh mulai menyelimuti hatinya. Dia merasa hidup ini begitu kejam, mungkinkah itu adalah hukuman dari perbuatan jahat yang sering dia lakukan.
Saat hatinya tengah putus asa, tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah nomor tak di kenal menghubunginya. Ternyata dari perusahaan Reni Baskara Grup yang memanggilnya untuk mulai bekerja. Dia memang ada memasukan lamaran keperusahaan tersebut. Namun belum ada tanggapan apapun. Kali ini perusahaan tersebut memintanya masuk kerja hari ini juga.
Hati Sitah sangat bahagia mendengar kabar tersebut. Dia langsung mandi dan berpakaian rapi, Sitah langsung berangkat dengan menggunakan angkutan umum setelah menyelesaikan sarapan paginya.
"Selamat siang pak, kenalkan ini sekertaris baru anda namanya Sitah, dia yang akan menggantikan Resti yang sebentar lagi akan resign, Sitah kenalkan, beliau pak Soko bos baru kita"
Menejer personalia membawa Sitah menemui dan memperkenalkan Sitah dengan pak Soko, orang nomor satu di Reni Baskara Grup. Kali ini Sitah sangat bahagia impiannya menjadi sekertaris menjadi kenyataan. Kini terbayarlah sudah rasa lelah dan perjuangannya selama ini.
Sitah dan pak Soko pun berjabat tangan. Saat netra mereka saling menatap, Sitah seperti pernah mengenal lelaki itu, tapi dia lupa entah dimana. Sedang pak Soko hanya merasa nama Sitah seperti nama penduduk desa Cipaganti, namun dia tidak pernah memperhatikan seperti apa rupanya wanita bernama Sitah dikampungnya.
"Silakan duduk, tolong beritahu apa saja agenda saya hari ini?"
Sitah langsung membuka dan membaca sebuah map yang tadi diserahkan oleh menejer personalia kepadanya. Dibacakan jadwal pak Soko hari ini.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong dari mana asalmu Sitah"
"Saya dari desa Cipaganti pak, jauh dipropinsi tetangga"
Pak Soko berfikir sejenak, dia mengingat-ingat nama Sitah. Beberapa detik kemudian dia mulai ingat, Sitah adalah anak Bu Tarni, terakhir yang dia ingat dia bekerja diperusahaan Gilang anak sambungnya. Terbersit sebuah tanya dihati pak Soko, apa yang menyebabkan Sitah keluar kerja dari perusahaan putranya dan pindah keperusahaan istrinya. Namun pak Soko tak ingin buru-buru menanyakan, takut terjadi kesalah pahaman diantara mereka.
Hari terus berlalu, sudah dua bulan Sitah menjadi sekertaris pak Soko, sejauh ini pekerjaannya baik-baik saja. Namun akhir-akhir ini dia sering memergoki Sitah yang sedang menatapnya. Mulai ada perasaan risih dibenak pak Soko saat dekat dengan Sitah. Sitah mulai terlihat sering mencuri pandang dan mencari perhatiannya.
********
"Hai cucu oma....semakin besar semakin ganteng saja kamu sayang"
Bunda Reni menyambut Gilang dan Sekar yang menggendong Elang saat mereka baru keluar dari mobil di carport rumahnya. Hari ini putranya datang berkunjung kerumahnya membawa serta cucu dan menantunya. Pak Soko yang ingin berangkat kerja pun ikut menyambut putra sambungnya.
"Jam berapa mulai dari sana nak?" tanya pak Soko seraya menepuk bahu putranya. Bunda Reni langsung mengajak Elang, dia ingin sekali memeluk dan menggendongnya. Namun anak itu langsung menolak dan menangis meraung-raung. Karena tak pernah bertemu. Elang merasa asing dengan omanya sendiri, dia peluk erat uminya.
"Kemarin pagi ayah, bagaimana kabar perusahaan disini yah?"
Pak Soko menceritakan kalau perusahaan dalam kondisi baik. Dia berjanji akan terus berjuang untuk mengembangkan perusahaan istrinya dengan segenap kemampuannya.
Setelah berbasa-basi sejenak, pak Soko mengajak putra sambungnya untuk kekantor. Hari ini ada meeting dengan beberapa perwakilan perusahaan lain yang mengajaknya kerjasama dalam penyediaan bahan baku produksi. Pak Soko meminta Gilang menganalisa mengenai kelayakan beberapa perusahaan tersebut dalam kerja sama yang akan mereka jalin.
Berada dalam satu mobil dengan ayah sambungnya, hati Gilang merasa bahagia, rangkulan dan tepukan tangan pak Soko dibahunya membuat hatinya begitu tenang.
__ADS_1
*****