Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 99. Ingin Dinikahkan Warga.


__ADS_3

Jadi kalau kita sudah jatuh cinta dengan pasangan kita, segala kekurangannya bisa kita terima, wajahnya yang jelek terlihat tampan, duitnya sedikit tidak dipermasalahkan, bahkan saat kita marahan pun hanya sebentar karena setelah itu kita akan baikkan dan kangen-kangenan. Terus yang ibu khawatirkan itunya yang kecil terasa besar"


Sitah terbahak-bahak dengan omongannya sendiri membuat ibunya mati kutu.


Akhirnya mereka menyudahi perdebatannya karena bu Tarni sudah kalah telak melawan Sitah yang memang sudah terlatih.


*****


Sementara itu dirumah bu Asih dan pak Hadi, Guntur sedang menyendiri dikamarnya. Hari libur ini hatinya terasa galau, wajah Antinia terbayang sejak pagi. Biasanya disaat jam masuk kerja dia selalu melihat pemandangan indah penyemangat hidupnya. Bekerja satu kantor dengan bule cantik membuat hatinya selalu berbunga, semangatnya membara dan hari-harinya selalu ceria. Namun dihari minggu ini, semangatnya turun drastis, saat dia membuka mata, wajah Antinia yang pertama kali menyapanya hingga dia bergegas kekamar mandi dan bersiap kerja dengan alasan ingin menjemput Antinia dan membelikan sarapan untuknya. Kemudian berangkat kerja bersama, mengerjakan semuanya bersama.


Hari ini dia tak mungkin melakukan itu, dia bingung, alasan apa yang mesti digunakan agar dia bisa bertemu Antinia. Sementara hatinya terus berontak, senyum manis Antinia menggetarkan jiwanya saat dia mengingatnya.


Guntur mengambil ponselnya, lalu dibukanya benda multi tasking ditangannya dan mulai mengetik deretan huruf hingga membentuk kata dan akhirnya sebuah kalimat dia kirimkan kepada Antinia sebagai sapaan di siang ini, setelah dari pagi menahan gelisah, resah dan gulana.


Kamu lagi apa (send)


Dia menunggu beberapa saat sambil sesekali melirik layar hand phonenya dengan hati berdebar.


Antinia sedang mengetik, dia menunggu dengan sabar menerka-nerka apa kira-kira jawaban antinia.


Aku lagi santai sendiri, sepi rasanya tak punya teman didesa ini (Send)


Guntur tersenyum membaca pesan Antinia, idenya muncul, kembali dia menggerakkan jarinya tuk merangkai kata.


Boleh aku main kesitu, aku juga lagi jenuh sendirian (send)


Ternyata seketika itu juga langsung ada balasan.


Boleh, ayo kesini (send)


Guntur segera bangun dan menyambar handuk. Dengan cepat dia melangkah kekamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Sesaat kemudian dia telah siap dengan pakaian rapi tapi santai.


"Tur....mau kemana, tolong jagakan langit dulu yah, ibu mau ke kamar kecil sebentar, udah enggak tahan nih"


Bu Asih langsung memberikan langit. Dengan terpaksa Gunturpun menyambutnya karena bu Asih langsung berlari masuk kekamar mandi. Sekitar seperempat jam kemudian, bu Asih keluar dengan wajah berseri.


"Tur....temeni ibu belanja yu..."


Guntur bingung, pertemuannya dengan Antinia sudah tertunda seperempat jam, masih harus ditunda lagi dengan menemani ibunya belanja.


"Bu Guntur sudah janji mau ketemu seseorang, maaf yah bu, Guntur tidak bisa antar. Lain kali aja yah"


Guntur memeluk bu Asih dan mencium kening ibu tersayangnya. Bu Asih heran, tidak biasanya putra semata wayangnya menolak keinginannya, walaupun cara menolaknya masih sangat sopan, dan tak membuatnya tersakiti. Wanita paruh baya itu hanya heran, ada yang beda dengan suasana hati putra semata wayangnya. Aroma tubuhnya lebih harum dari biasanya, pakaiannya lebih rapi dari biasanya, walau hanya berpakaian santai, dan yang nampak jelas adalah raut wajahnya yang terlihat berseri.


"Kamu lagi jatuh cinta, apa kamu ada janji dengan seorang Gadis?"


Guntur terkejut dengan tebakan bu Asih, sepertinya seratus persen betul. Eh tunggu, jatuh cinta....benarkah pemuda tampan yang sedang digandrungi banyak wanita itu sedang jatuh cinta. Entahlah... Guntur sendiripun bingung, dengan kata hatinya karena dia sendiri belum tahu bagaimana rasanya jatuh cinta.


Namun dari beberapa buku yang pernah dia baca, berdebar saat bertemu pandang, tersenyum saat mengenangnya, bahagia saat bersamanya, rindu saat berjauhan, gelisah setelah lama tak bercengkerama.


"Ee...anu bu, Guntur janji mau menemui Antinia dirumah tempat dia tinggal, sekalian lihat kamarku sebentar, boleh ya bu?"


Guntur mengatubkan kedua telapak tangannya di dada, wajahnya merah padam seperti orang yang sedang ketangkap basah lagi maling ayam.


"Ternyata benar dugaan ibu, kamu jatuh cinta sama bule cantik itu kan?


Sudah tidak perlu, ibu senang ternyata kamu normal, tapi apa sibule juga suka sama kamu?"


Guntur bingung mendengar pertanyaan ibunya yang kesannya seperti mendahului takdir.


"Ya belum tahu lah bu, orang Guntur cuma mau main, dia bilang sedang kesepian karena dirumah sendirian," jawab Guntur.

__ADS_1


"Hati-hati tur, berdua-duaan sama anak gadis orang, ingat setan itu ada dimana-mana, untuk menjaga segala kemungkinan lebih baik kamu jemput saja dia, ajak dia main kesini, sekalian kalian main sama Langit. Biar ibu bisa masak dengan tenang, habisnya ibu kadang kerepotan ngurus rumah sama ngurus langit yang semakin hari semakin lincah"


Guntur langsung tertawa, dia tahu ada maksud lain dibalik permintaan ibunya.


"Ibu ini modus aja, mau nyuruh kami jagain Langit, okey bu....okey...baiklaaah," ujar Guntur sambil berlalu dan masuk kedalam mobilnya kemudian pergi menuju rumah yang ditempati Antinia, yaitu rumah dimana Guntur lahir dan dibesarkan.


Sampai disana, Antinia sedang menunggu dengan duduk manis diteras rumah dia pakaian santai dan make up seadanya. Antinia tersenyum manis saat langkah Guntur semakin dekat dan semakin mengikis jarak diantara mereka.


"Aku nggak nyangka kamu beneran datang, aku fikir kamu hanya bercanda"


Guntur tertawa mendengar candaan wanita yang sejak pagi hatinya tak menentu.


"Oh ya, apa aku terlihat seperti bercanda, apakah, sebaiknya kamu berkemas deh, ibuku mau kamu main kerumahku, soalnya kalau kita berduaan disini takut ada setan"


Ucap Guntur setelah dia menyelesaikan tertawanya.


"Maksud kamu di rumah ini ada setannya," jawab Antinia panik. Guntur kemudian menjelaskan, bahwa islam melarang umatnya berdua-duaan ditempat sepi antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya. Antinia pun mengangguk, karena dia pun tahu tentang hal itu,


Gadis itu langsung masuk kekamarnya untuk mengambil ponsel dan beberapa barang pribadinya yang biasa dibawa kemana-mana.


OK


"Ayo kita berangkat, aku engga apa-apa kan pakai pakaian santai seperti ini," tanya Antinia.


Guntur langsung menjawab tak masalah mau pakai baju apapun, selama itu sopan. Dirumahnya, ibunya tak pernah membuat peraturan harus pakai baju apa saat bertamu kerumahnya.


"Jadi bebas aja, gampangkan"


Tapi kita dirumahmu nanti enggak akan dinikahkan kan?


Pertanyaan Antinia sontak membuat tawa Guntur meledak. Bisa-bisanya Gadis itu punya fikiran seperti itu.

__ADS_1


"Ak....aku cuma takut karena menurut cerita kalau hidup di desa, laki-laki sampai dekat-dekatan dengan perempuan ditempat sepi, bisa digrebek dan langsung dinikahkan oleh warga. Ya...walaupun hati kecilku menginginkannya, karena mungkin sensasinya beda jika kita dinikahkan secara beramai-ramai oleh penduduk desa," ucap Antinia seraya terkekeh.


******


__ADS_2