Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 105. Bertemu Calon Mertua


__ADS_3

"Kalau menurut aku sih janganlah, kaya engga ada laki-laki lain aja. Kita kan sudah tahu kalau Guntur dan Antinia punya hubungan, masa harus nyerobot, malu sebagai wanita, jadi terkesan seperti wanita murahan. Tapi itu menurutku sih, tapi terserah kamu sih Dewi, mau mengikuti saran siapa," sahut Dian.


Dewi menghapus air matanya, nafasnya terlihat lebih cepat, dia berusaha menghentikan tangisnya. Dipandangnya satu persatu wajah sahabatnya, dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya seketika.


"Aku cukup tahu diri, siapa sih aku. Wajar jika pak Guntur lebih memilih gadis bule itu, dia lebih segala-galanya dibanding aku. Lagian diantara aku dan pak Guntur tidak ada hubungan apapun, lelaki itu tak pernah menjanjikan apa-apa kepadaku, dia cuma bersikap manis padaku hingga membuatku terbuai dan mengharapkan cintanya. Mungkin itu sudah sifatnya, aku yang salah terlalu terbawa perasaan"


Semua teman Dewi mendengarkan ucapan Dewi tanpa ada yang berani menyela. Ada yang sependapat dengan dia dan kagum dengan cara berfikirnya. Ada pula yang tersenyum mengejek menganggapnya cemen kalah sebelum berperang. Namun Dewi tak perduli, dia lebih suka menjalani hidup sesuai kata hatinya. Tak akan memaksakan kehendak apalagi memaksa laki-laki yang jelas-jelas tidak mencintainya, untuk menjadi kekasihnya. Baginya itu adalah sebuah kebodohan. Karena Guntur sudah pasti menolaknya dan Antinia akan memusuhinya.


"Pak Guntur dan Antinia saling mencintai, mereka pasangan yang serasi dan aku harus menghargai itu. Semoga dikemudian hari aku akan menemukan jodoh yang begitu mencintaiku, begitu juga aku"


Dian bertepuk tangan dan langsung memeluk Dewi. Kamu sahabat terbaikku, aku bahagia berteman denganmu. Setidaknya kelak jika kita mencintai lelaki yang sama dan laki-laki itu lebih memilihku, kamu tidak akan merebutnya diam-diam dan aku tidak akan pernah merasa khawatir dan mencurigaimu"


Semua wanita yang ada disitu mendadak tertawa lebar. mereka mengacungkan jempolnya pada Dian, begitupun Tia yang sejak tadi berbeda pendapat dengannya.


"Okey....kali ini pendapatmu masuk akal, aku mengaku kalah, sekarang aku sependapat denganmu Dian, Dewi"


Tia mengarahkan pandangan menyoroti wajah Dian dan Dewi seraya tersenyum.


"Andai semua wanita punya pemikiran seperti kalian, mungkin* pelakor tak pernah ada dimuka bumi ini," lanjut Tia.


*******


Pagi ini dihari minggu, Guntur memenuhi janjinya akan mengunjungi Antinia dirumahnya. Sementara Antinia sudah sejak kemarin pulang dijemput oleh supirnya.

__ADS_1


"Hati-hati dijalan ya Tur, tidak usah ngebut. Kamu sudah tahu kan alamat rumahnya Antinia? Disana yang sopan ya, kalau dikatain dengan ucapan yang kasar oleh keluarga kaya itu jangan emosi, jangan kasar. Tetaplah tenang dan sabar, berdoa kepada Allah agar hati kedua orang tua Antinia dilembutkan. Kamu sudah berdoakan?"


Sederet pesan dan pertanyaan dilontarkan pak Hadi pada putranya, seakan dia akan maju kemedan perang. Bu Asih yang mendengar itu semua langsung menggelengkan kepala.


"Sudahlah pak, tak perlu khawatir sama anak ganteng bapak, percaya sama dia kalau dia pasti bisa menyelesaikan masalahnya dengan benar. Tidak perlu begitu khawatir. Ingat waktu bapak mendapatkan ibu, perjuangan bapak juga tidak gampang kan, tapi bapak bisa melaluinya"


Ucapan bu Asih mengingatkan pak Hadi saat ingin menikahi bu Asih. Orang tua bu Asih juga tak merestuinya karena latar belakang pak Hadi yang berasal dari keluarga kurang mampu. Tapi pak Hadi begitu gigih dalam memperjuangkannya dengan cara mengambil hati calon mertuanya. Hingga akhirnya orang tua bu Asih yang tak suka pada pak Hadi akhirnya malah begitu kagum kepadanya lantaran cintanya yang begitu besar pada putri mereka.


"Iya, ya bu, bapak baru ingat. Ya sudah Tur kamu pasti bisa meluluhkan hati calon mertuamu, bapak percaya kalau kita banyak kemiripan dan bapak percaya kamu pasti bisa," ujar pak Hadi sambil menepuk-nepuk pundak putranya.


Kini Guntur berangkat setelah berpamitan pada bapak dan ibunya, mencium punggung tangan mereka dan meminta doanya juga.


Mobil Guntur terus melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan, Guntur terus melirihkan doa, memohon kepada yang maha kuasa agar dipermudah jalannya dalam meraih cintanya. Setelah mengemudi sekitar beberapa jam diapun bergantian mengemudi dengan seorang supir yang telah lama bekerja pada Gilang. Gilang sengaja menyuruh Tarno ikut dengan Guntur agar dia tidak kelelahan karena jarak yang memang jauh.


Guntur melangkah menghampiri satpam yang sedang berjaga, sementara Tarno hanya menunggu dimobil saja.


"Permisi pak saya mau tanya, apa benar ini rumah kediaman Antinia"


Dengan sangat hati-hati dan hati berdebar, Guntur menyapa dan bertanya kepada satpam.


"Bapak yang namanya pak Guntur"


"Betul pak"

__ADS_1


"Silakan pak, kelurga besar nons Antinia sudah menunggu kedatangan Anda," jawab satpam sembari menunduk hormat.


Guntur terkejut mendengar jawaban satpam. Benarkah keluarga Antinia sudah menunggunya, ataukah beliau menunggu kedatangannya hanya untuk menghakiminya karena telah lancang mencintai anak gadisnya.


Dengan jantung yang terus berdebar, Guntur terus melangkah memasuki halaman rumah Antinia yang tertata rapi dengan hiasan tanaman bunga yang mahal dan berkelas.


Sampai diteras rumah,Guntur langsung melepas alas kakinya. Dua orang wanita berumur setengah baya dan berpakaian seragam menyapanya.


"Silakan pak, anda sudah ditunggu oleh tuan dan nyonya sejak tadi, mari kami antar keruang keluarga"


Guntur mengangguk hormat. Dia mengikuti dua orang wanita setengah baya tadi menyusuri ruangan demi ruangan dengan interior yang begitu mengagumkan.


"Silakan masuk saja pak, anda sudah ditunggu"


Dua orang wanita tadi menyuruhnya masuk. Gunturpun masuk kedalam ruangan tersebut. Seorang wanita berumur sekitar lima puluh tahun yang masih terlihat cantik dan anggun menyambutnya dengan sebuah senyuman ramah. Gurtur langsung menunduk hormat. Selanjutnya seorang lelaki dengan rambut pirang justru berdiri dan menyambutnya dengan pelukan.


Selamat datang dikediaman kami nak Guntur, senang berkenalan dengan pemuda baik sepertimu. Lelaki bule yang ternyata dady Antinia terus menepuk-nepuk pundaknya. Guntur melirik kearah Antinia yang sedang menatapnya penuh senyum. Begitupun Antonio yang sudah beberapa kali bertemu dengannya juga ikut hadir disitu.


"Ayo silakan duduk nak Guntur, jangan sungkan ya, anggap saja dirumah sendiri. Antinia sudah bercerita banyak tentangmu. Jadi jangan heran kalau kami sudah seperti mengenalmu sejak lama," ujar dady Antinia.


"Iya tuan terima kasih sudah mau menerima saya bertamu kesini untuk berkenalan dengan tuan dan nyonya. Saya sangat tersanjung dengan sambutan dan keramahan kalian, sekali lagi terimakasih tuan," ujar Guntur dengan sangat gugup. Hatinya sangat bahagia karena kedatangannya disambut baik oleh kedua orang tua Antinia. Jauh dari bayangannya selama ini.


"Tentu saja kami akan menyambut baik siapapun yang datang dengan maksud baik dan telah memperlakukan putri kami dengan baik. Bukankah sebagai orang tua itu hal yang wajar," jawab dady Antinia seraya meneguk air putih yang ada dihadapan.

__ADS_1


*******


__ADS_2