
Mendengar penuturan pak Soko, hati Sitah semakin shock. Kini dia sadar kenapa dia mempunyai sifat buruk, rupanya itu adalah warisan dari sang ibu. Sitah kembali ingat pak Giman, ayah yang membesarkannya dan menyayanginya selama ini ternyata hanya ayah tiri. Lalu siapa ayah kandungnya. Apa mungkin dia juga menyayanginya seperti sayangnya pak Giman kepadanya. Rasanya tidak mungkin bagaimana mungkin dia menyayanginya sedangkan dia tak pernah menemuinya apalagi merindukannya.
"Ikut aku kedalam mas"
Bunda Reni menarik pergelangan tangan suaminya.
"Sebentar ya Sitah," ucap bunda Reni sebelum meninggalkan Sitah dan menarik tangan pak Soko, sepertinya ada yang ingin bunda Reni bicarakan.
Setelah Sitah menunggu lumayan lama sembari berusaha menetralisir gojolak dalam jiwanya. Pak Soko pun keluar dengan wajah terlihat lebih tenang. Bunda Reni dibelakangnya tersenyum ramah pada Sitah.
"Setelah mendengarkan nasihat dari istri saya, saya minta maaf ya Sitah. Sekarang saya memaafkanmu dengan ikhlas. Semoga kali ini kamu bersungguh-sungguh bertaubat tidak seperti sebelumnya"
Pak Soko terus bicara panjang lebar dan beberapa kali meminta maaf pada Sitah karena dia terlalu dikuasai amarah karena perbuatan Sitah. Dia bertingkah kalau dirinya seperti orang yang paling baik saja. Padahal sebenarnya diapun banyak mempunyai kesalahan yang terkadang dia sendiri tidak menyadarinya.
Pak Soko juga minta maaf atas aib bu Tarni yang sudah bertahun-tahun dia simpan dia buka didepan putrinya. Itu semata bukan untuk menyakiti tapi agar bisa dijadikan pelajaran hidup bagi Sitah kelak dikemudian hari. Jangan sampai dia mengikuti jejak ibunya. Apalagi ibunya kerap memberi pengaruh negatif pada Sitah.
Sitah pun mengerti apa yang dimaksud pak Soko. Dia sangat bersyukur mendapat maaf dari lelaki itu. Kali ini Sitah berusaha menerima takdirnya dengan ikhlas bagaimana masa lalu ibunya, karena itu semua bukanlah salah Sitah. Dia akan menjadikan pengalaman hidup ibunya sebagai pelajaran berharga.
"Karena saya sudah mendapat maaf dari bapak, saya pamit pulang pak Soko, bunda Reni"
Sitah menyalami sepasang suami istri yang menjadi bosnya. Langkahnya menuju gerbang dimana Gading telah menantinya terasa ringan. Beban berat yang selama ini menghimpitnya kini hilang sudah. Senyumnya terus terlukis dibibirnya.
"Gimana, sepertinya ada kabar bagus nih," ujar Gading
"Nanti aku ceritain dijalan ya, sekarang kita pulang.
__ADS_1
Sitah langsung naik ke kendaraan Gading dan tangannya melingkar di pinggangnya. Tiba-tiba hati Gading berdebar, ada gelenyar aneh yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.
Dia mulai berfikir, memikirkan hatinya yang selama ini merasa nyaman bila dekat dengan Sitah. Lelaki tampan itu mulai menerka-nerka, apakah dia jatuh cinta, seandainya dia jatuh cinta itu artinya dia harus lawan dan buang jauh-jauh perasaaan itu. Neneknya, pak Gilang dan orang terdekat dia tak mungkin merestui. Mengingat apa yang telah Sitah lakukan selama ini.
Suasana hening hanya detak jantung yang suaranya tertelan bunyi kendaraaan. Sitah tak menyadari kini dia dengan nyaman memeluk pinggang Gading, rasanya seperti ingin berbagi kebahagiaan dengan Gading lewat sentuhan dipinggangnya.
Keduanya saling diam tenggelam dengan alur fikirannya masing-masing. Hingga kini Gading telah menghentikan kendaraannya tepat dihalaman kontrakan Sitah. Hati Gading semakin berdebar, karena pelukan tangan Sitah semakin terasa, salah satu organ ditubuhnya mulai bereaksi membuat dadanya semakin sesak. Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Sitah terkejut mendengar hembusan nafas Gading yang terdengar jelas karena suara kendaraan tak terdengar lagi. Gadis itu baru menyadari kalau dia tengah memeluk Gading. Spontan dia langsung melepaskan pelukannya dipinggang lelaki itu.
"Maaf Gading, aku tidak sengaja, aku cuma merasa sedang sangat bahagia, nggak sengaja meluk kamu, maaf yah!"
Sitah terkekeh dan salah tingkah, sesaat wajah keduanya memerah. Ada rasa kecewa dihati Gading saat pelukan tangan Sitah terlepas dipinggangnya.
"Tidak apa-apa Sitah, aku senang kok kamu peluk, pelukanmu bikin aku panas dingin tapi nikmat"
"Ayo mampir, nyantai diteras, aku buatkan teh panas" ajak Sitah. Dia segera masuk kedalam kontarakannya diikuti oleh Gading yang naik keteras dan duduk selonjoran dilantai.
Beberapa saat kemudian, Sitah keluar dengan dua cangkir teh ditangannya. Kini pakaiannya telah berganti. Dia memakai daster berwarna cerah. Sebenarnya daster Sitah biasa saja, tidak kentat dan juga tidak terlalu longgar. Namun entah kenapa, fikiran Gading sibuk traveling membayangkan bagaimana bentuk tubuh Sitah dibalik dasternya.
"Ayo silakan minum Gading, jangan bengong lho, dari tadi kayanya kamu agak pendiam," tegur Sitah.
Gadang semakin salah tingkah, dia merubah posisi duduknya dan berfikir untuk memulai obrolan agar tak merasa canggung terus.
"Sebenarnya apa yang membuatmu bahagia, sejak keluar dari rumah pak Soko wajahmu terlihat berbinar," tanya Gading.
__ADS_1
Sitah langsung menceritakan kalau pak Soko telah memaafkannya walau disertai dengan banyak drama dan air mata yang membuat hati sedih dan pilu.
Gading mengernyitkan keningnya.
"Sampai segitunya, terus-terus lanjutkan ceritanya"
Gading tersenyum dengan senyuman yang menawan hati dan mendebarkan hati perempuan yang ada didepannya.
Sitah kembali menceritakan dimana pak Soko dulu adalah teman ibunya dan dia mengetahui masa lalu ibunya yang kelam. Sitah menceritakan secara detail tentang siapa dirinya yang cuma anak haram. Namun kali ini dia akan menerima takdirnya dengan ikhlas. Bagaimanapun itu semua diluar kemauannya. Karena tak seorangpun anak didunia ini yang mau terlahir sebagai anak tanpa nasab karena tak jelas siapa ayahnya.
Sitah tidak mau membuang-buang waktu untuk mencari tahu siapa ayah kandungnya. Baginya itu tak penting, lebih baik dia menata masa depannya menjadi lebih baik. Dia ingin hidupnya lebih bermanfaat untuk keluarganya dan orang sekitarnya.
Mendengar cerita Sitah hati Gading semakin menciut, bagaimana kalau dia jatuh cinta pada Sitah dan tak direatui oleh keluarganya.
"Ayo diminum tehnya Gading, terimakasih ya!"
"Terimakasih untuk?"
Potong Gading, netranya menatap lekat gadis berkulit eksotis yang semakin hari terlihat semakin mempesona dimatanya.
"Untuk semua kebaikkanmu, seandainya waktu itu yang menolongku bukan kamu mungkin Sitah sekarang hanya tinggal nama. Aku tidak mungkin mampu menghadapi ini semua. Berkat kamu, aku masih bernafas dan baik-baik saja. Berkat kamu aku telah berubah, bukan lagi Sitah genit, Sitah bermulut pedas yang suka menginginkan suami orang yang hidupnya sudah mapan"
Sitah tertunduk, matanya terasa lembab, bulir-bulir bening mulai mengalir di kedua pipinya. Gading benar-benar laki-laki istimewa dihati Sitah, baru kalii ini dia temukan lelaki sebaik Gading.
keduanya terus berbincang, saling memuji, saling memandang, bahkan sesekali mereka bercanda. kebersamaan itu begitu indah bagi keduanya. Waktu terus bergulir, hari semakin sore dan Gading pun pamit undur diri, Tak seperti biasa, langkahnya begitu berat. Rasanya dia enggan meninggal kontrakan Sitah.
__ADS_1
******