
Sementara di kamar yang megah, sepasang pengantin secara bergantian membersihkah Tubuh setelah seharian menjalankan akad nikah dan lanjut dengan resepsi pernikahan dan pesta dansa.
Guntur sedang membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket, sementara Antinia masih membersihkan make up di depan meja rias. Setelah Guntur selesai mandi lalu Gantian Antinialah yang mandi.
"Sebenarnya aku mau mandi bareng, tapi takut engga bisa nahan, soalnya kita belum sholat isya, kamu agak cepetan dikit ya mandinya, kita sholat isya berjemaah setelah itu ada hal penting yang akan aku perlihatkan," ujar Guntur serius.
Antinia masuk kekamar mandi dengan perasaan heran. Sebenarnya apa yang ingin diperlihatkan suaminya padanya, begitu pentingkah, apa tidak lebih penting dari sebuah malam pertama yang selalu dinantikan sepasang kekasih halal.
Sebagai wanita yang lama menantikan menjadi seorang istri. Sudah tentu dia sangat penasaran dengan kegiatan malam pertama dimana mereka akan memulai menabur benih demi mendapatkan keturunan yang sah secara hukum dan agama.
Memang Antinia belum begitu mendambakan hasilnya namun yang pasti dia ingin merasakan prosesnya bagaimana. Gadis itu tersenyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana dia dan suaminya bahu-membahu mencetak seorang bayi yang mungkin akan dimulai malam ini. Sesekali dia menggosok tubuhnya sambil berendam di bath tube dan memandang seluruh tubuh polosnya lalu membayangkan Guntur menyentuhnya dengan begitu romantis hingga membuat hatinya berdebar bahagia.
Selesai mandi mandi, sepasang suami istri itupun melakukan shalat isya dan dilanjutkan dengan shalat sunah dua rakaat. Selesai shalat Antinia mencium tangan suaminya dan Guntur membalas dengan mengecup keningnya perlahan dengan begitu takzim, lalu berdoa agar rumah tangga mereka diberi kerberkahan, bahagia sepanjang masa dan mampu melewati segala ujian dari Tuhan dengan baik dan Ikhlas.
"Sayang, lama banget sih doanya, entar keburu malam," ucap Antinia setelah selesai berdoa. Dia melepas mukenanya, melipatnya dan dan meletakkan didalam lemari kecil bersama sajadah yang barusan dipakai suaminya.
"Ayo cepat mas, apa yang mau mas perlihatkan kepadaku, keburu larut malam"
Mendengar ucapan sang istri, Guntur terkekeh, semakin kesini istrinya terlihat semakin menggemaskan dan membuat cintanya semakin besar.
"Kenapa sih kamu dari tadi seperti tidak sabaran, kamu ingin aku melakukan sesuatu dengan cepat, jangan seperti itulah, kamu harus mulai melatih kesabaran, karena menjadi istriku harus selalu sabar, karena apa? Karena aku selalu menikmati prosesnya dan kemudian berserah diri k kepada yang kuasa, bagaimana hasilnya setelah diiringi dengan doa tentunya.
__ADS_1
"Ya maaf mas, kalau aku terkesan tidak sabaran"
Antinia tertunduk, dia menyesal telah membuat Guntur tidak nyaman dimalam pertamanya.
"Terimakasih ya kamu sudah merubah panggilanmu, aku sangat tersanjung dengan cara kamu memanggilku, aku merasa seperti sangat dihargai sebagai seorang suami. Tadi kamu kepingin tahukan apa yang akan aku perlihatkan?"
Antinia mengangguk, dia sangat penasaran, apakah sesuatu yang sangat berharga, seberharga apa sih. Berapapun nilainya pemberian Guntur, baginya itu sangat berharga karena dia tahu bagaimana Guntur mendapatkan benda mewah itu, dengan penuh kerja keras dan cucuran keringat. Ya, diapun sebenarnya menyenangi prosesnya dan juga hasilnya tentunya.
Antinia menatap lekat tubuh suaminya yang dengan cekatan melepaskan satu persatu kain yang menutupi tubuhnya.
"Ini yang akan kuperlihatkan padamu, ayo kita mulai, aku tahu kamu sudah tidak sabar ingin menyentuhnya dan merasakan bagaimana dia bekerja," tangan Guntur menunjuk kearah juniornya seraya terkekeh.
Antinia sangat terkejut dengan tingkah suaminya. Seketika nafasnya seolah tertahan ditenggorokan, bibirnya pun sulit digerakan untuk menanyakan kenapa malam romantisnya dimulai dengan cara seperti ini. Hanya debar didada yang mampu ia perdengarkan dan membuat netra Guntur mengerling nakal.
Guntur mengulurkan tangannya, dia menyentuh pipi Antinia, dengan perlahan-lahan, dengan begitu lembut, menggeser jari-jemarinya, mengusapnya perlahan hingga membuat tubuh Antinia serasa bergetar, telapak tangannya terasa dingin, dan kakinya serasa seperti tak lagi berpijak dibumi.
Cara Guntur memulai percintaan benar-benar berbeda dengan apa yang pernah dia lihat di beberapa film romantis. Ini benar-benar kejutan, caranya memperlakukan dirinya yang berbeda dan sulit ditebak telah membuatnya terbuai dalam pesonanya.
"Tidak mas, aku cuma sedang terkesima dengan caramu memulai percintaan ini. Caramu benar-benar berbeda dengan yang aku tonton dalam beberapa adegan film romansa. Ini benar-benar menarik, beberapa gaya bercinta yang sudah aku persiapkan untuk mengimbangimu justru aku lupa. Sekarang aku hanya bisa mengikuti permainanmu. Tolong bimbing aku seperti apa yang kau inginkan"
Mereka saling tersenyum dan mulai saling meraba menyusuri dan mengenali tubuh mereka masing-masing. Sesekali kalimat cinta terucap dengan suara serak nan seksi dari bibir mereka saat mereka sama-sama saling mereguk kenikmatan surga dunia.
__ADS_1
Malam semakin larut, sepasang pengantin baru yang sedang saling menyatu terus berpacu mengarungi samudara yang luas. Beberapa kali mereka saling membisikan kata-kata cinta hingga semangat mereka terus terpantik.
Hingga menjelang dini hari, pergumulan mereka pun usai. Guntur yang terbaring dengan bermandikan keringat menyorotkan pandangannya kesegala arah . Dia pandangi satu-persatu pakaian yang mereka kenakan, kini teronggok dimana-mana. Bibirnya tersenyum saat teringat bagaimana dia melucuti pakaiannya sendiri dan istrinya, lalu melemparkannya kesembarang arah.
Lelaki tampan itu memandang wajah istrinya yang tertidur pulas dengan wajah menghadap kearah ketiaknya. Kini sorot matanya mengarah kebawah, tepat disepray dimana paha istrinya terlihat meringkuk, ceceran darah membasahi sepray yang menjadi saksi percintaan mereka untuk yang pertama kali.
"Ternyata engkau masih perawan sayang. Terimakasih telah menjaga dan memberikan mahkotamu padaku. Aku janji akan selalu menjaga hati, tubuh dan cintaku hanya untukmu seorang," gumam Guntur seraya memeluk tubuh istrinya dan segera terlelap.
********
"Dad...dady....ayo bangun ini sudah siang, kita bangunnya kesiangan, gara-gara dady, main sampai beberapa ronde, jadi kecapean kan"
Nyonya Antoni dengan susah payah membangunkan suaminya yang tertidur pulas. Wanita itu heran dengan suaminya, semakin tua malah semakin doyan.
"Tidak sia-sia aku meminum jamu setiap.hari, tubuhku sehat, staminaku juga selalu fit. Walaupun setiap malam selalu digempur oleh suamiku yang sedang puber kedua. Bagiku tak masalah, aku justru menikmati dan semakin candu dengan tubuh suamiku yang semakin menua"
Nyonya Antoni terus bergumam, membuat sesosok tubuh setengah baya yang masih terlihat gagah menggeliat.
"Ngapain sih mommy berisik banget, malam ini kita mengahabiskan malam panjang dengan beberapa ronde demi untuk merayakan pernikahan putri kita. Kita juga tidak boleh kalah oleh sepasang pengantin yang baru saja kemarin menikah," tuan Antoni menatap istrinya dengan tatapan nakal.
"Mereka memang masih muda mom, tenaga juga masih kuat, tapi ingat kita lebih berpengalaman. Kita menang dalam ukuran jam terbang, sedang mereka masih dalam fase belajar," ucap tuan Antoni yang berakhir dengan ******* manja akibat cubitan mesra sang istri.
__ADS_1
*******