
"Sitah, kamu sudah tahu belum gosip yang sedang beredar di kalangan ibu-ibu yang tinggal dirumah dinas karyawan dan sekitarnya"
Sejenak Sitah terdiam mengingat sesuatu.
"Gosip tentang bunda Reni yang sering mendatangi pak Soko, duda beranak dua yang punya bayi"
"Tepat sekali, kamu bisa contoh wanita kota itu, pepet terus pak Gilang, dekati dimanapun dia berada, cari alasan yang masuk akal"
Sitah pun mengangguk setuju dengan saran ibunya. Gadis desa itu mulai mencari tahu kebiasaan Gilang diluar jam kerja.
**
Sore ini Gilang sedang berjalan-jalan ditaman dekat kantor. Tangannya dengan erat menggandeng jari-jemari mulus milik istri tercintanya. Sepasang mata dengan sorot penuh kedengkian terus mengawal jalan santai mereka.
Seharusnya aku lebih pantas jalan berdampingan dengan pak Gilang, aku lebih, cantik, lebih seksi dan lebih menarik. Tidak seperti Sekar yang gendut.
"Tinggal sebentar lagi bayi kita akan lahir sayang, semoga semuanya berjalan lancar"
Gilang dan Sekar duduk dikursi panjang yang biasa digunakan untuk bersantai ditaman itu. Lelaki itu membelai lembut perut istrinya.
"Tapi kadang aku merasa khawatir kak"
Ucap Sekar yang sedang merasa resah memikirkan pasca melahirkan dia tak dapat melayani suaminya karena dalam masa nifas.
"Banyak para suami yang memilih selingkuh karena tidak sabar menunggu empat puluh hari pasca istrinya melahirkan"
Kembali Gilang terkekeh mendengar ucapan istrinya. Jangankan hanya menunggu empat puluh hari, menahan berbulan-bulan pun dia mampu saat sebelum bertemu Sekar. Padahal bundanya beberapa kali mengenalkan dia dengan wanita cantik.
"Sudahlah sayang, fokuslah pada kehamilanmu, percaya sama aku, hanya kamu wanita yang ingin aku sentuh"
Gilang merangkul Sekar dan memeluknya. Membuat sepasang mata yang dari tadi memperhatikannya menatap tajam kearahnya dengan tangan mengepal sempurna.
"Banyak sudah pahit dan getir yang kita lalui dalam perjuangan panjang meraih cintamu dan memiliki fisikmu. Haruskan aku memilih berpaling darimu hanya karena masa nifas empat puluh hari. Semurah itukah nilai perjuanganku untuk mendapatkanmu. Aku bukan lelaki bodoh yang tidak menghargai nilai dari sebuah perjuangan merai hatimu"
__ADS_1
"Terimakasih karena kak Gilang selalu ingat dengan masa-masa sulit kita"
"Tentu saja, masa sulit dan masa sakit harus selalu di kenang, agar kita tidak lupa diri, Saat ini kita merasa bahagia juga karena wujud dari rasa syukur karena pahit getir perjuangan kita kini berbuah bahagia.
Sekar menggenggam jemari suaminya. Dia bangga memiliki pasangan yang paripurna seperti Gilang. Namun acapkali hatinya merasa khawatir saat mengingat Gilang kini menjadi objek yang selalu di dambakan oleh kaum hawa dikampungnya.
Setelah puas main ditaman, Sekar dan Gilang pulang kerumah. Mereka sudah ada janji ingin membicarakan kelanjutan rencana pak Soko dan bunda Reni yang telah memutuskan untuk membina rumah tangga demi dua anak perempuan yang mereka sayangi.
"Assallamu allaikum bunda"
Suara nyaring Sarah terdengar diteras rumah. Dia datang bersama pak Soko, sedangkan Hawa tertawa ceria dalam dekapan ayahnya.
"Wa allaikum sallam, ayo masuk sayang"
Bunda Reni menyambut kedatangan calon anak sambungnya dengan hati bahagia. Dia segera mengambil Hawa dalam gendongan ayahnya yang sejak tadi mengulurkan tangannya. Mereka duduk diruang tamu, Sekar segera mengambil alih hawa yang ada dipangkuan bunda dan mengajak serta Sarah untuk memonton televisi. Sedangkan Bunda Reni, Gilang dan pak Soko akan membicarakan rencana mereka.
"Bunda sudah mantap menerima pak Soko jadi suami bunda." tanya Gilang pada bundanya.
Setelah berfikir dan shalat istikharah tadi malam, bunda Reni memutuskan untuk menerima pinangan pak Soko. Karena dengan menikahi duda dua anak itu, kehidupannya kelak lebih berwarna, apalagi kedua anak pak Soko sudah sangat dekat dengannya.
"Terus setelah menikah kalian rencananya akan tinggal dimana, soalnya bunda kan punya rumah dikota dan pak Soko juga bisa mulai memimpin Reni Baskara Grup"
Akhirnya yang dikhawatirkan pak Soko pun jadi nyata, dia akan merasa minder karena Reni calon istrinya seorang wanita yang mampu memimpin perusahaan. Sedangkan pak Soko hanya mampu menjadi kepala kerja.
"Aku terserah mas Soko saja, kalau dia lebih senang aku dirumah dan dia bekerja seperti biasa, aku tidak masalah," ujar bunda Reni. Setelah melewati diskusi yang cukup panjang, akhirnya kata sepakatpum di dapat.
Bunda Reni dan pak Soko pindah kekota setelah menikah. Bunda Reni akan tetap dirumah saja seperti biasa walau setelah menikah ditemani anak-anak. Sedangkan pak Soko akan bekerja diperusahaan Reni Baskara grup, diawali dari posisi terendah.
Hari sudah larut malam, namun Hawa dan Sarah enggan diajak pulang, mereka ingin menginap dan tidur bersama calon ibu sambungnya.
"Ayah pulang sendiri aja, Sarah masih kangen sama bunda, akhir-akhir ini bunda jarang kerumah, sungkan sama ibu-ibu komplek"
Dengan berat hati paK Soko pun pulang sendiri.
__ADS_1
"Titip anak-anak ya de Reni"
Mereka saling tersenyum, mulai ada sedikit rasa nyaman dihati calon pasangan duda dan janda itu.
"Iya mas mereka aman bersamaku," ujar bunda Reni yang mengantarkan calon suaminya hingga teras.
Saat melewati pos ronda yang tidak jauh dari rumahnya, ada beberapa bapak-bapak yang sedang nongkrong.
"Mampir pak Soko, ngobrol-ngobrol sebentar"
Selama tinggal di perumahan Dinas pak Soko memang jarang ngumpul bersama dipos ronda yang biasanya dipakai bersantai oleh kaum adam. Sebagai singgle parent waktunya habis untuk berkerja dan bercengkerama dengan keluarga kecilnya.
Kali ini mumpung anak-anak tidak dirumah, diapun menyempatkan diri untuk bersantai dipos ronda.
"Bagaimana rasanya dikejar-kejar sama janda kaya raya pak Soko, enak bukan?"
Salah satu warga bertanya karena isu yang beredar semakin santer kalau bunda Reni sering datang kerumah pak Soko untuk menemuinya. Padahal saat wanita cantik itu datang dia sudah pergi bekerja.
"Bundanya pak Gilang maksud"
"Tentu saja pak," jawab lelaki yang ternyata bernama Giman.
"Saya tidak pernah merasa dikejar-kejar bu Reni dan saya juga tidak pernah bertemu dia dirumah saya"
Pak Soko memjawab tanpa ekpresi. Sesaat para lelaki itu saling pandang dan saling tersenyum mengejek.
"Bapak kan tahu saya ini pekerja lapangan yang harus berangkat pagi sekitar jam tujuh agar sampai ditempat kerja tepat waktu. Dan pulang sudah sore saat sampai dirumah sekitar jam enam"
Para lelaki itu manggut-manggut. Mereka mulai paham kalau kabar yang beredar tentang apa yang dilakukan oleh ibu dari orang nomor satu diperusahaan mereka tidaklah benar.
Setelah berbasa-basi sebentar pak Soko pun pamit meninggalkan pos Ronda untuk pulang dan segera istirahat.
"Sebaiknya kita jangan mudah termakan gosip tidak karuan, apalagi tentang keluarga pak Gilang yang telah memberi kita pekerjaan dan tempat tinggal disini," ujar Giman pada teman-temannya.
__ADS_1
"Iya betul rasanya kita kok tidak tahu diri, sudah dikasih kehidupan yang layak tapi tega-teganya memperguncingkan orang tersebut.
*******