Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 121. Hari Yang Ditunggu-tunggu


__ADS_3

Hari ini pagi bersinar begitu cerah, dirumah bu Tarni semua orang nampak sibuk. Sitah sedang dihias oleh beberapa perias pengantin dari desa Cipaganti, begitupun bu Tarni yang sibuk mengarahkan seorang perias pengantin agar merias dirinya sesuai keinginannya. Sementara semua warga juga sibuk dengan tugasnya masing-masing.


Ada beberapa warga yang bertugas memasak nasi, menyiapkan kue-kue, ada yang melayani mengambilkan makanan buat para tamu undangan. Ada juga yang bagian menjaga tamu dan ada yang mengolah makanan dan lain sebagainya.


Dihalaman rumah beberapa warga menyambut seorang supir dan utusan dari keluarga Gading yang akan menjemput Sitah dan bu Tarni menuju ke KUA.


"Pengantin prianya mana, apa tidak ikut bareng ke KUA," tanya seorang warga pada seorang utusan dari keluarga Gading.


"Pak Gading dan keluarga menunggu di KUA pak, sedangkan saya disuruh menjemput bu Sitah dan bu Tarni untuk diantar ke KUA. keberangkatan memang sengaja tidak bersama-sama mengingat kedua mempelai kan belum halal," utusan keluarga Gading menjelaskan agar warga tidak bergunjing dan menduga yang tidak-tidak.


Tak lama kemudian Sitah, bu Tarni dan beberapa ibu-ibu teman bu Tarni yang ingin menemani pengantin berangkat dengan menggunakan mobil jemputan dari keluarga Gading menuju ke KUD.


Kini Gading telah duduk berhadapan dengan pak penghulu, tak jauh dari mereka keluarga besarnya duduk mendampinginya. Sedangkan Sitah dan bu Tarni juga duduk tak jauh dari mereka.


"Ini yang mau menikah Gading bin Haryono almarhum yah dengan Sitah binti Tarni. Oh jadi mempelai wanitanya bernasab pada ibunya," ujar pak penghulu, pandangannya menyoroti kearah Sitah dan bu Tarni.


Beberapa waktu yang lalu, terjadi perdebatan antara Sitah dan bu Tarni. Dimana bu Tarni yang belum begitu faham agama mencantumkan Sitah binti Giman ayah tiri Sitah dalam berkas pernikahan.


Melihat apa yang dilakukan ibunya, Sitah langsung protes dan menggantinya dengan Sitah binti Tarni. Gadis itu langsung berterus terang kalau dirinya telah mengetahui bagaimana Kehidupan bu Tarni dimasa silam hingga dia hamil seorang anak yaitu Sitah. Sitah sudah ikhlas menerima takdirnya bahwa dia tak pernah mengetahui siapa ayahnya. Sitah adalah anak yang lahir dari hasil hubungan diluar pernikahan. Menurut hukum islam anak tersebut nasabnya ikut ibunya karena anak itu murni milik ibunya. Sedangkan dengan ayahnya hanya terikat oleh darah namun tidak bernasab kepadanya.


Awalnya bu Tarni memang shock, karena rahasia yang telah puluhan tahun dia sembunyikan akhirnya justru putrinya sendiri telah mengetahuinya. Wanita setengah baya itu sangat bersyukur dan terharu karena Sitah sama sekali tak marah atau sakit hati kepadanya. Bu Tarni menangis pilu, hatinya begitu pedih, namun jauh dilubuk hatinya ada rasa bangga memiliki anak Gadis seperti Sitah yang bisa menerima dia apa adanya dan ikhlas menerima takdirnya.


Bu Tarni dan Sitah berharap apa yang dialami bu Tarni tak akan terjadi pada anak, cucu dan keturunan mereka. Itulah sebabnya setelah hamil nanti Sitah berniat akan resign dari pekerjaannya, dia kan fokus mengurus suami dan anak-anaknya. Mengarahkan putra dan putri mereka, menjadi guru bagi buah hatinya agar keturunannya nanti mempunyai prilaku baik, soleh dan soleha dan tak ada yang mengikiti jejaknya dan neneknya yaitu bu Tarni dimasa lalu.

__ADS_1


"Iya pak, anak saya memang terlahir dari hubungan diluar pernikahan. Jadi nasabnya ikut kesaya, saya harus jujur pak karena lahirnya dia adalah perbuatan dosa saya dimasa lalu. Saya tidak mau menutupi karena hal itu akan menyebabkan pernikahan ini menjadi tidak sah. Pada akhirnya akan terjadi zina secara turun-temurun," jawab bu Tarni.


"Saudara-saudara sekalian, apa yang dilakukan bu Tarni itu patut kita acungi jempol, bukan perzinahan dia yang diacungi jempol yah, tapi kejujuran dia, mengakui kalau putrinya lahir dari sebuah hubungan diluar pernikahan. Memang hal ini tidak semestiya ditutup-tutupi karena akan menimbulkan Zinah berkelanjutan karena pernikahannya tidak sah," ujar pak penghulu.


Setelah semua saksi dari kedua mempelai telah hadir. Pak memghulu mulai menjabat tangan gading.


"Gading, kamu sudah mantap berniat menikahi wanita bernama Sitah," tanya pak penghulu. Gading pun menjawab kalau dia telah yakin dan mantap menjadikan Sitah pendamping hidupnya.


"Gading....kamu sudah tahu dan kenal dengan wanita yang namanya Sitah," lanjut pak penghulu. Gading mengangguk dan dia menunjuk kearah Sitah.


"Oh ya syukur, jadi kalian sudah saling kenal dan sepakat untuk menikah.


Pak penghulu menjabat tangan Gading dengan erat.


"Saudara Gading bin Haryono, aku nikahkan dan aku kawinkan engkau dengan seorang wanita bernama Sitah binti Tarni dengan mahar seperangkat alat shalat dan emas dua ratus gram dibayar tunai"


"Bagaimana saksi," seru pak penghulu.


Semua yang hadir berteriak "sahh"


Semua mengucapkan alhamdullilah, terlihat jelas bu Tarni meneteskan air mata seraya terisak.


"Selamat ya nak, maafkan atas semua kesalahan ibu," ibu dan anak itu saling berpelukan.

__ADS_1


"Ayo Sitah datangi suamimu, salami dan cium tangannya," ujar salah satu ibu tetangga bu Tarni.


Sitah berjalan mendekati Gading dengan diiringi beberapa ibu-ibu. Gading menatap istri yang baru saja dinikahinya dengan begitu takjub. Dalam balutan kebaya berwarna putih senada dengan jilbabnya, Sitah nampak cantik, anggun dan mempesona. Pandangan Gading terus menatapnya, menyoroti langkah Sitah yang sedang berjalan kearahnya.


Sitah mencium tangan suaminya dan dibalas oleh Gading dengan mencium keningnya.


"Akhirnya kita resmi menikah," bisik Gading.


Pembacaan sighat ta'lik dan penandatangan beberapa berkas pernikahan berjalan lancar, begitupun juga acara foto-foto dan yang lainnya.


Sepasang suami istri yang baru mengucapkan ikrar suci itu pun masuk kedalam mobil meninggalkan KUA diringi oleh beberapa mobil yang ditumpangi oleh keluarga dan kerabat mereka. Iring-iringan itu menuju rumah bu Tarni.


Dihalaman rumah bu Tarni para warga beramai-ramai menyambut kedatangan pengantin dan keluarganya. Suara shalawat yang ditujukan untuk menyambut kedatangan pengantin terdengar begitu indah hingga keseluruh penjuru desa.


Gading dan Sitah berjalan dengan perlahan sambil bergandengan tangan menuju kepelaminan. Dibelakangnya bu Tarni, dan keluarga Gading mengiringi kedua mempelai.


Kini Gadihg dan Sitah telah duduk berdua di pelaminan, sedangkan disamping kanan dan kirinya ada sebuah tempat duduk yang juga dirias menyerupai pelaminan. Tempat duduk yang berada disebelah kanan ditempati oleh nenek Leni dan yang sebelah kiri ditempati oleh bu Tarni.


"Mereka memang pasangan serasi, pengantin laki-laki cucunya janda dan pengantin perempuan anaknya janda"


Seorang warga berkomentar, membuat warga yang lainnya tertawa. Sedangkan nenek Leni dan Bu Tarni juga mendengar komentar tersebut namun mereka hanya tersenyum tanpa sedikitpun merasa tersinggung.


"Jangan diambil hati ya. Bu, nek, ucapan orang, mungkin mereka sedang bercanda, walau sebenarnya bercandanya kelewatan"

__ADS_1


Salah satu warga memintakan maaf, bu Tarni dan nenek Leni mengangguk seraya tersenyum.


******


__ADS_2