Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 22. penasaran


__ADS_3

Sementara itu dikota Bunda Reni merasakan ada perubahan pada diri Gilang putranya. Sejak dia dipertemukan dengan pak Abdullah, berangsur, angsur kesehatannya membaik. Semangat hidupnya yang dulu hilang kini seolah menyala kembali.


Pagi ini adalah hari pertama Gilang berada dirumah. Sejak kemarin dia keluar dari ramah sakit, raut mendung diwajahnya kembali cerah. Nafsu makannya pun mulai membaik. Bahkan kemarin sore hidangan makan malam yang ada dimeja makan ludes tak tersisa.


Yang membuat bunda Reni terus bertanya-tanya dalam hati. Pada saat Gilang ditanya kabar Sekar, dia justru berusaha mengalihkan pembicaraan. Seolah enggan berbicara soal Sekar.


Dia juga tak lagi menyalahkan bundanya atas hilangnya Sekar. Sikapnya pada sang bunda kembali manis dan perhatian seperti dulu lagi.


Pagi ini bunda Reni ingin membangunkan putra kesayangannya. Karena saat waktunya berangkat ke kantor dia masih belum keluar kamar juga, atau mungkin Gilang belum berniat pergi ke kantor karena ingin istirahat terlebih dahulu.


Perlahan-lahan dia ketuk pintu kamar anak lelakinya. Hingga pada ketukan yang ketiga pun tak ada jawaban dari dalam. Kamar Gilang terasa sepi, sunyi seolah tak berpenghuni. Akhirnya karena merasa ketukan tangannya didaun pintu kamar Gilang tak di hiraukan oleh pemilik kamar. Bunda Reni pun memutuskan menerobos masuk dengan memgucapkan salam terlebih dahulu.


Alangkah terkejutnya bunda Reni saat masuk ke kamar putranya. Karena spring bed, bantal dan selimut tersusun rapi, sepertinys pemilik kamar telah bangun pagi-pagi sekali, pergi meninggalkan rumah. Bunda Reni langsung menelpon nomor Gilang, Setelah beberapa kali dihubungi, ternyata nomor Gilang tidak aktif


Bunda pun segera mengumpulkan seluruh asisten rumah tangga beserta satpam yang bertugas digerbang depan rumahnya. Tak satupun dari asisten rumah tangga yang mengetahui kemana perginya Gilang. Tiba-tiba pak satpam datang menyerahkan selembar surat.


"Pak Gilang berangkat pagi-pagi sekali bu, beliau berpesan agar saya menyerahkan amplop ini saat ibu menanyakan keberadaannya"


Pak satpam menjelaskan dengan penuh rasa gugup. Bunda Reni pun segera membubarkan seluruh asisten rumah tangga termasuk satpam yang berjaga digerbang depan rumahnya.

__ADS_1


Saat membuka surat tersebut bunda Reni sangat terkejut karena tidak biasanya Gilang pergi untuk beberapa hari demi urusan pekerjaan. Beliau pun langsung menghubungi nomor putra tercintanya kembali. Beberapa kali dihubungi, nomor Gilang tetap tidak aktif. Rasa khawatir melanda hati sang bunda, pak satpam segera diteleponnya guna menanyakan mobil yang mana yang dipakai putranya.


"Bapak pergi menggunakan ojek online dan berpakaian seperti orang yang yang hendak turun kerja kelapangan." jawab satpam. Resni sekertarisnya juga dihubungi.


"Bapak cuma pamit tidak akan masuk kantor untuk beberapa hari. Semua pekerjaan beres bu, sepertinya bapak sedang penuh semangat seperti habis mendapat amunisi baru," ungkap sekertaris Gilang.


Bunda Reni pun terus dilanda penasaran. Saat termenung dimeja makan setelah beberapa hari kepergian Gilang. Fikirannya terus berkelana mengenang sang putra.


"Gilang kamu dimana nak, bunda kangen, maafkan bunda atas semua kesalahan yang telah bunda perbuat"


"Gilang disini bunda sayang, Gilang baik-baik saja. Bunda jangan khawatir semua kesalahan bunda sudah Gilang maafkan habis tak tersisa," seorang pemuda tampan penuh pesona yang bunda Reni rindukan kini sedang memeluknya.


"Bunda ini drama banget deh...Gilang pergi karena Gilang berencana memperluas perusahaan kita"


Gilang lalu menjelaskan kalau dia baru saja survei, melihat kondisi lahan kosong yang terletak di desa Cipaganti jauh dipropinsi tetangga. Disana banyak tanah kosong yang dijual murah. Disana Gilang akan mendirikan sebuah perusahaan perkebunan porang.


"Bunda tahu porang kan? Itu lho tanaman yang saat ini sedang viral karena mampu menembus pasar ekspor dengan harga fantastis"


Gilang tertarik mengembangkan usaha porang di desa Cipaganti dan Sekitarnya karena tanaman porang tumbuh subur disana walaupun perawatannya serba minim. Berarti tanah, iklim dan cuaca disana cocok untuk syarat tumbuh tanaman porang.

__ADS_1


"Disana penduduknya sangat keterbelakangan sekali bunda. Gilang ingin merintis perusahaan disitu untuk menaikkan taraf hidup penduduk Cipaganti dan sekitarnya seperti desa Bumi Hangus dan Bumi Haranpan dan desa-desa yang lainnya. Bunda Reni hanya manggut-manggut mendengar cerita Gilang. Ada rasa bangga melihat semangat putra terkasihnya yang begitu peduli pada sesama.


Mungkin bulan depan bulan Gilang akan lebih banyak menghabiskan waktu Gilang disana. Karena Gilang akan memulai mendatangkan alat berat untuk membuka lahan. Kemarin Gilang sudah order Jutaan ton bibit porang pada pengusaha porang yang ada disekitar situ. Bulan depan setelah pengolahan lahan akan langsung dilakukan penanaman. Gilang juga akan merekrut karyawan, baik karyawan kantor maupun karyawan lapangan," terang Gilang. Dia berhenti sejenak dan menyeruput kopi milik bunda Reni.


"Haus," celoteh Gilang sambil ngengir.


"bi....tolong buatkan Gilang kopi panas kesukaannya. Bunda Reni berteriak meminta tolong pada ART. Tidak berapa lama kemudian, secangkir kopi susu kesukaan Gilang pun tersuguh dihadapannya. Lalu Gilang kembali menjelaskan pada bunda Reni. Agar bunda Reni tidak merasa khawatir. Karena bulan depan rencananya Gilang akan menikahi Sekar dan akan lebih lama tinggal disana demi menikmati masa pengantin baru sekaligus mengurus perusahaan yang sedang dirintisnya.


"Mengenai perusahaan disini bunda jangan khawatir. Gilang akan mengadakan meeting dengan semua jajaran manajemen. Agar mereka bekerja lebih baik lagi karena perusahaan sudah mempunyai tenaga ahli IT yang membuat perusahaan bisa di handle dari jarak jauh. Gilang sudah bisa mengawasi pekerjaan mereka secara virtual," ungkap Gilang.


"Terus bagaimana kabar Sekar nak, apakah kamu sudah menemukan dia dimana?, terus terang bunda merasa sangat khawatir dan rindu pada Sekar. Jika Sekar nantinya ditemukan, bunda akan melamarkan dia untukmu," Gilang nampak salah tingkah, dia bingung harus menjawab apa. Tarikan nafas panjang pun dia lakukan, demi untuk menguasai perasaan gugupnya.


Gilang lalu menegaskan kembali agar bundanya tidak perlu khawatir. Dia meminta doakan saja semoga Sekar dalam keadaan baik-baik saja dan Gilang segera bertemu dengannya, saat ini Gilang masih terus mencarinya. Wajah Gilang memandang kesegala arah, namun hatinya terbang jauh kesebuah saung di sawah di desa Cipaganti saat dia jalan-jalan santai bersama Sekar kekasih hatinya.


Bunda Reni terus bertanya dalam hati, kenapa putranya nampak biasa saja jika membahas masalah Sekar, walau terkadang terlihat gugup dan salah tingkah. Tapi tak lagi ada amarah yang semalam begitu membara. Dia benar-benar telah memaafkanku, Gilang sepertinya sudah benar-benar ikhlas kehilangan Sekar. Tapi kenapa kini justru aku yang benar-benar merindukan sosok menantu seperti Sekar yang penyayang yang akan mengisi hari tuaku.


Hingga sore hari, anak beranak itu melepas rindu setelah beberapa hari tak bertemu. Lalu mereka makan bersama saling menyuapi. Terlihat sekali rona bahagia terpancar dari wajah mereka.


"Bunda aku masuk kamar dulu ya, mau bersih-bersih badan sudah lengket kayanya. Sekalian kangen sama kamar," pamit Gilang seraya tersenyum, mencium kening bundanya dan berlalu masuk kekamar yang sudah beberapa hari tidak dia tempati.

__ADS_1


********


__ADS_2