
Mendengar pertanyaan Sitah nenek Leni segera mengajak Sekar untuk duduk diruang tamu. Wajahnya nampak kesal, beberapa kali dia menarik nafas panjang dan menghebuskannya seketika. Sekarpun mengikuti keinginan nenek Leni, dia menyerahkan Elang kepada pengasuhnya.
"Aku lagi kesel sama Gading, dia ternyata mencintai Sitah, kamu tahu kan bagaimana Sitah"
Dengan wajah memerah menahan tangis. Nenek Leni menjelaskan apa yang membuatnya meninggalkan Gading dan pergi kerumah Sekar. Sekarang umi Dari Elang tahu apa yang menjadi beban fikiran nenek Leni.
"Kok bisa sih Gading jatuh cinta sama Sitah. Padahal dia tahu bagaimana kelakuannya. Disini dia mengganggu rumah tangga kami dikota dia sudah enak-enak dapat kerjaan bagus, tau-taunya menginginkan atasannya. Enggak tahu diri banget kan. Tapi dia sudah menuai buah dari perbuatannya"
Sekar berkata dengan berapi-api. Dia masih teringat kala pertama kali.melihat vidio suaminya dengan Sitah. Betapa sakit sekali hatinya waktu itu hingga terjadi pendarahan. Begitupun yang dirasakan bu asih ibunya. Bahkan sampai saat ini Gilang masih harus ke psikiater karena selalu dihantui rasa berdosa akibat melihat tubuhnya disentuh dan dicumbu wanita yang bukan istrinya.
Sekar mewanti-wanti nenek Leni jangan sampai mengijinkan Gading dekat dengan Sitah dan kalau bisa mereka dijauhkan saja.
"Kalian ngomongin apa sih? kayanya serius banget"
Gilang yang baru keluar dari kamar dan menghampiri istrinya yang sedang ngobrol serius dengan nenek Leni. Sekar langsung menyuruh Gilang duduk disampingnya. Dia menceritakan Gading yang telah menjalin hubungan asmara dengan Sitah.
"Lakukan apa saja nek, jangan sampai mereka menikah, aku tidak rela Gading yang baik dan berjiwa penolong harus mempunyai istri wanita rusak seperti Sitah. Bagaimana masa depannya nanti, bisa-bisa dia dimanfaatkan habis-habisan oleh benalu itu," ujar Gilang menahan geram.
Hati Gilang sangat murka, andai Sitah ada dihadapannya, ingin sekali dia memakinya habis-habisan. Sederet perbuatan buruk Sitah dan akibat yang ditimbulkan masih terekam segar dalam ingatannya.
"Itu pasti Sitah yang merayu Gading, Gading pemuda yang polos, jadi gampang diperdaya oleh Sitah siwanita berhati iblis"
Kembali Gilang mengungkapkan kekesalannya pada Sitah dan ibunya. Sekarang nenek Leni semakin yakin kalau dia akan menentang hubungan cucu kesayangannya dengan Sitah.
*****
Sementara Gading yang ditinggal neneknya begitu saja langsung mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dia menghubungi Sitah untuk menginformasikan reaksi sang nenek.
__ADS_1
"Sabar Gading, andai nenekmu tak merestui kita kamu harus ikhlas, mungkin kita tidak berjodoh"
Sitah berusaha bersikap tenang dan ikhlas mengetahui penolakkan nenek Leni. Dia berusaha tetap positif thingking, mungkin nenek Gading takut cucu kesayangannya tersakiti oleh perbuatannya kelak dikemudian hari. Mungkin nenek Gading mengira Sitah yang dulu dan Sitah yang sekarang sama saja. Diapun memakluminya, Wapnita itu sadar betul dia tidak mungkin memaksa orang lain untuk berfikir kalau sekarang dia telah berubah atau dalam kata lain telah hijrah. Dia juga tidak perlu membuktikan kepada siapapun kalau dia telah berubah menjadi lebih baik. Biarlah cukup Sitah dan Tuhan saja yang tahu bagaimana dia sekarang.
"Tidak Sitah, kita harus perjuangkan cinta kita, aku akan terus memohon restu pada nenekku dan tak pernah bosan sampai nenek merestui kita"
Ujar Gading memberi semangat pada Sitah yang sepertinya pasrah saja.
"Kamu jangan menyerah ya Sitah aku tidak mau kita berpisah, aku tidak mau kehilanganmu, bagaimana kalau kamu bantu aku meminta restu neneku, siapa tahu dengan nenek bicara sama kamu, kekerasan hatinya akan luluh oleh kebaikanmu "
Gading terus mohon agar Sitah tidak menyerah begitu saja. Sementara dibalik pintu kamar Sitah, bu Tarni mendengar semua pembicaraan Sitah dengan Gading lewat telepon yang di loud speaker oleh Sitah.
Wanita setengah baya itu, menitikkan air mata mengingat nasip putrinya. Hatinya terasa perih saat orang lain enggan menerima putrinya menjadi menantunya. Dia terus berfikir bagaimana cara membantu Gading dan Sitah.
Diam-Diam bu Tarni masuk kekamarnya berganti baju dan memoles wajanya dengan make up sederhana. Kini dia keluar dari kamarnya dan keluar rumah, mengeluarkan kendaraannya.
"Nggak papa panas, ibu kepingin minum es campur biar seger, kamu mau nitip engga"
"enggak bu, takut pilek" jawab Sitah dan kemudian dia kembali tertunduk sambil memainkan gawainya.
Setelah berpamitan pada Sitah, Bu Tarni segera malajukan sepeda motornya menuju kediaman nenek Leni.
"Assalamu allaikum"
Setelah turun dari kendaraannya, bu Tarni melangkah dan naik keteras rumah. Dengan perasaan tak menentu dia ucapkan salam. Tak ada sahutan dari dalam, rumah nenek Leni nampak Sepi. Setelah tiga kali mengucap salam, tak terdengar sahutan dari dalam. Namun yang mengejutkan, jawaban salam yang berasal dari suara nenek Leni justru terdengar dari luar tepatnya dibelakang bu Tarni. Sontak bu Tarni pun terkejut dan memegangi dadanya.
"Ada apa Tarni, kamu kesini, apa mau minta Gading tanggung jawab untuk menikahi Sitah seperti yang kau lakukan pada pak Soko. Kamu tenang saja, aku tidak bakalan merestui hubungan Gading dengan Sitah sampai kapanpun"
__ADS_1
Mendengar ucapan nenek Leni yang sangat memojokkannya. Mendadak nyali bu Tarni menciut, dia merasa begitu hina dihadapan nenek Leni.
"Maaf nek sa...saya.. Cuma mau ngobrol saja"
Mendadak rasa gugup mendera bu Tarni. Kata-kata yang telah dia susun sejak dari rumah, kini lupa tak tersisa.
"Ayo masuk dulu, masih didepan pintu sudah ngomong"
Nenek Leni membuka pintu dengan menggunakan kunci yang dia simpan dibalik bajunya tepat dibagian dadanya. Setelah pintu terbuka, nenek Leni mempersilakan bu Tarni duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan dia langsung masuk kedapur untuk beberapa saat. Kemudian dia keluar membawa dua cangkir es jeruk.
"Ini es jeruk asli ya Tarni, punyamu juga sama, tidak aku campur sama minuman keras, apalagi obat perangsang yang kini sedang marak dipakai orang untuk meningkatkan gairah ****.
Lagi-lagi bu Tarni semakin tertampar. Wajahnya kini menunduk, keringat dingin malai membasahi bajunya.
"Ayo sekarang kamu mau ngomong apa?"
Nenek Leni menatap bu Tarni yang terlihat samakin panik, takut dan khawatir.
"Begini nek, Sitah dan Gading kan saling jatuh ci....cinta, mereka terlihat bahagia, sa...saya mau meminta mohon sama nenek untuk merestui mereka"
Dengan terbata-bata dia bu Tarni mengutarakan maksud kedatangannya. Dengan wajah Sinis nenek renta itu mendengarkan kata demi kata yang leluar dari bibir bu Tarni.
"Kamu pikir itu Sitah siapa, jadi aku harus merestui hubungan mereka. Seandainya kamu punya anak lelaki baik dia menciintai wanita yang kelakuannya seperti Sitah, apa kau mau merestuinya, apa kamu tidak takut kalau perempuan itu menyakiti anak lelakimu"
Dengan tegas nenek Leni menolak permintaan bu Tarni membuat bu Tarni tertunduk, mati kutu, tidak tahu harus berucap apa lagi untuk melunakkan kerasnya hati nenek renta dihadapannya.
"Tapi Sitah sekarang sudah bertobat, sudah insaf dan dia sedang berusaha memperbaiki diri agar pantas menjadi pendamping Gading nek"
__ADS_1
*******