Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 17. Kondisi Terkini Gilang


__ADS_3

Sudah beberapa bulan Sekar hilang. Gilang sudah menempuh berbagai cara untuk menemukannya. Entah sudah berapa puluh bahkan ratusan detektif dibayar untuk mencari keberadaan Sekar. Kabar terakhir Sekar dibuang ke truk sampah yang membuang sampahnya ke pembuangan akhir. Namun seluruh tempat sampah pembuangan akhir diseluruh penjuru propinsi telah dicarinya, tapi hasilnya nihil.


Hari berganti hari hingga bulan pun ikut juga berganti, semangat Gilang makin menurun, rasa putus asa kini telah menyelimuti hatinya. Tubuhnya kurus, jenggot dan bulu-bulu halus diwajahnya kini mulai tumbuh. Beberapa tender kerja sama perusahaan gagal, perusahaan merugi ratusan miliar.


Bunda Reni mulai panik, tak satu pun nasehatnya pada Gilang didengarnya. Bahkan sudah seminggu ini Gilang hanya terbaring mengurung diri dikamarnya sejak salah satu orang bayarannya mengabarkan kalau pak Hadi pindah domisili kepropinsi lain, setelah kembali dari berpetualang selama berhari-hari lamanya.


"Sadarlah Gilang, ribuan karyawanmu terancam diPHK, perusahaan terus mengalami kerugian. Kenapa cuma gara-gara perempuan desa kamu bisa terpuruk sedemikian rupa. Apa perempuan itu lebih berharga daripada perusahaan dan karyawan atau lebih berharga dari bunda," ucap bunda Reni, air matanya terus menetes, bibir bergetar, dia menangis tersedu.


"Seharusnya Gilang yang bertanya pada bunda. Kenapa bunda tega menculik Sekar, bagaimana seandainya Sekar bernasib tragis, bagaimana kalau Sekar tidak selamat. Bagaimana perasaan orang tuanya. Apa bunda tidak berfikir, bagaimana kalau nasib yang menimpa Sekar itu menimpaku juga. Atau jangan-jangan bunda tidak perduli, bunda membesarkan dan menyayangiku kan agar aku bisa meneruskan memimpin perusahaan yang bunda bangga-banggakan. Seandainya aku tidak bisa memimpin perusahaan atau tidak sesuai dengan keinginan bunda, mungkin bunda sudah membuangku dari dulu karena aku anak tak berguna.


Seketika itu tangis Gilang pun pecah, tubuhnya terguncang, bibirnya bergerak dengan cepat, tangan kanannya memegang pelipisnya dengan kuat. Hatinya kini telah hancur sehancur-hancurnya. Pencarian demi pencarian terhadap Sekar sama sekali tak membuahkan hasil. Dia hanya sering bertemu Sekar dalam mimpinya. Kini Sekar berada disuatu tempat yang baru, yang asing. Gilang selalu berusaha mendekati Sekar, dia rindu ingin memeluknya, namun Sekar selalu menjauh dan mengatakan "kita lebih baik berpisah. Karena bundamu tak akan pernah merestui kita. Perpisahan adalah jalan terbaik buat ," ucap Sekar dalam mimpinya.

__ADS_1


Sudah seminggu Gilang jatuh sakit, dia menolak dibawa kerumah sakit, hanya berdiam dikamarnya sambil meratapi kepergian Sekar. Sementara perusahaannya terancam Bangkut. Banyak pekerjaan yang tidak berjalan semestinya. Dalam kondisi seperti ini, bunda Reni pun mulai panik. Disisi lain dia harus merawat Gilang putra satu-satunya yang sedang sakit fisik dan hatinya. Dan yang lebih parah lagi Gilang selalu menyalahkan bunda Reni atas perbuatannya menculik Sekar. Gilang benar-benar terpuruk, begitu pun perusahaan yang telah dirintis puluhan tahun. Hari ini karyawan berdemo menuntut gaji yang sudah tiga bulan tidak dibayar


Ditengah kekalutan hatinya, bunda Reni perlahan mulai menyadari, seandainya dia benar-benar merestui hubungan Gilang dengan Sekar. Mungkin sekarang mereka telah menikah dan menikmati masa-masa pengantin baru. Gilang tentunya sedang giat-giatnya bekerja untuk memajukan perusahaan, demi masa depannya untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya kelak. Dalam keadaan bahagia, seseorang akan mampu menghasilkan ide-ide cemerlang, strategi jitu dalam meningkatkan aset perusahaan.


"Kenapa baru sekarang aku menyadari, Sekar adalah sumber kebahagiaan Gilang, tanpa Sekar disisinya, Gilang benar-benar terpuruk. Sekar memang tidak bisa membantu menangani perusahaan karena keterbatasan pendidikan dan pengetahuan. Tetapi dia bisa mensuport Gilang dengan memberi Gilang semangat sepanjang hari dan sepanjang hayat pernikahan mereka," batin bunda Reni.


Bunda Reni mulai menyadari kebahagian Gilang adalah sesuatu yang sangat berharga, bahkan lebih berharga dari apapun dan siapapun dan kebahagian Gilang adalah Sekar. Bunda Reni baru menyadari, kenapa selama ini dia sibuk berfikir untuk menyingkirkan Sekar, padahal yang menjadi sumber kebahagiaan bagi putranya dan secara tidak langsung akan berdampak baik pada perusahaan.


Akhirnya bunda Reni pun turun tangan untuk mencari tahu keberadaan Sekar dengan menyewa detektif handal yang disertai peralatan canggih. Sementara para detektif berjuang keras mencari keberadaan Sekar, bunda Reni kembali aktif ke kantor untuk menyelesaikan segala persoalan yang membelit perusahaan. Dengan kerja keras bunda Reni, satu persatu persoalan dikantor pun terselesaikan. Para karyawan yang gajinya tertunda segera dibayar dengan suntikan dana dari uang deposito milik bunda Reni. Sedangkan beberapa perusahaan yang membatalkan kerjasama, satu persatu mulai kembali. Itu semua berkat kerja keras Bunda Reni yang mengerahkan segala tenaga dan fikirannya.


"Gilaaaang....bangun Gilaaaang!!" bunda Reni berteriak histeris sambil berlari mendekati tubuh Gilang, meraba dan menggoyang-goyangnya, namun tak ada reaksi sama sekali. Dia raba lehernya untuk merasakan nadinya, masih ada namun terasa lemah sekali. Beberapa asisten rumah tangga yang mendengar teriakkannya berlarian masuk kedalam kamar Gilang, ada yang mengecek tubuhnya, ada yang berusaha mengangkatnya.

__ADS_1


"Ayo cepat siapkan mobil kita bawa pak Gilang ke rumah sakit teriak salah satu pekerja yang langsung di dengar oleh supir bunda Reni yang baru saja datang. Tubuh Gilangpun diangkat oleh dua orang asisten dan dibantu oleh satpam yang bertugas pagi ini. Setelah tubuh Gilang masuk dan dibaringkan dijok mobil, bunda Reni pun ikut masuk ke mobil mendampingi sang anak dengan wajah sembab. Tangannya menggenggam tangan Gilang yang terasa dingin, dia pandang wajah anak lelakinya yang terlihat semakin pucat, dia terisak, menyesali semua apa yang telah dia lakukan.


"Gilang maafkan bunda sayang....hu...hu.." seberapa pun dia menyesali perbuatannya tak akan bisa memutar kembali sang waktu. Mungkin Bunda Reni akan membatalkan segala rencananya, yang berakibat fatal, orang yang ingin dia jaga agar hidupnya bahagia dalam versinya justru dialah yang paling merasakan sakit atas perbuatannya.


"Bu, kita telah sampai, kami akan mengangkat pak Gilang. Seorang asisten berlari menuju IGD dan dia kembali lagi bersama dua orang suster yang menarik brankar menuju mobil dimana Gilang terbaring lemah. Mereka pun mengangkat dan membaringkan tubuh Gilang diatas brankar. Sementara dua orang suster langsung menarik brankar menuju IGD untuk melakukan penanganan lebih lanjut.


Sementara bunda Reni mengikuti dari belakang dengan tubuh lemas tak berdaya, sesekali dia menyeka sudut mata yang basah menggunakan tissu.


Sudah setengah jam Gilang ditangani oleh dokter. Bunda Reni dan beberapa asisten menunggu dengan dada berdebar. Tidak berapa lama kemudian dokter yang menangani Gilang keluar dan memberitahukan jika Gilang telah sadar, namun kondisinya masih lemah karena terjadi dehidrasi yang cukup parah. Selain itu juga sudah beberapa hari ini Gilang hanya makan beberapa suap saja, dia selalu menolak untuk di suapi.


Bunda Reni segera beranjak untuk menemui Gilang diruangan dimana Gilang ditangani dokter dengan mengenakan baju seragam rumah sakit. Kini dihadapannya terbaring lemah anak yang selalu diperjuangkan agar selalu mendapatkan kebahagiaan, bagaimana pun caranya. Namun karena ulahnya jualah kini buah hatinya tak berdaya.

__ADS_1


"Untuk apa bunda membawaku kerumah sakit, percuma bunda!!. Sakit fisikku mungkin bisa sembuh, tapi sakit dihatiku akan tetap ada, kenapa tidak bunda biarkan saja aku mati, karena hidup pun percuma, hanya memperpanjang siksa dan deritaku, karena Sekar tak mungkin kembali.


*******


__ADS_2