Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 119. Bisik-Bisik Tetangga


__ADS_3

"Bukannya tadi juga ada perempuan yang ingin mencium tangan dady, hayooo ngaku, dady pasti bahagia kan," tanya nyonya Antoni dengan spontan


"Ya sama aja mom, dady juga kan tidak mau tangannya dicium oleh mereka. Karena dady tahun kalau wanita-wanita itu tangannya bau bawang yang memyengat. Mungkin mereka baru selesai memotong bawang," jawab pak Antoni yang memang tidak memyukai bau aroma bawang mentah, mereka terus berbincang.


Sementara dirumah bu Asih semua ibu-ibu akan segera menikmati makanan setelah kepergian pak Antoni dan seluruh kerabatnya. Bebepa ibu-ibu membereskan meja makan sisa jamuan keluarga mertua Guntur. Dimeja itu pula para warga tetangga sekitar rumah bu Asih akan menikmati makanan yang telah mereka masak.


"Mana tadi makanan sisa pak Antoni, buat saya aja ya, mau saya kasih anak saya, siapa tahu masa depan anak saya juga cerah seperti pak Antoni," pinta seorang ibu-ibu.


"Kalau aku mau sisanya mbak Antinia buat anak perempuan saya yang baru berumur dua tahun. Agar kelak dia mempunyai wajah rupawan seperti perempuan yang bernama Antinia"


"Kalau aku mau makanan sisa nyonya Antoni saja, siapa tahu saya bisa punya suami keren seperti dia"


"Tapi ibu Romlah kan sudah punya suami," salah satu ibu-ibu menanggapi ucapan perempuan tadi yang ternyata bernama bu Romlah.


"Ya kan siapa tahu bisa ganti suami, jadi wajar dong kalau aku memilih yang lebih baik"


Bu Romlah tertawa ngakak, dia menertawakan ucapannya sendiri. Begitu pun warga yang semua bersorak gembira.


"Aamin.....Aamiin


Meja sudah bersih, makanan untuk makan para warga mulai dihidangkan.

__ADS_1


"Suami yang ada itulah yang terbaik bu Romlah, buktinya dia mau menerima bu Romlah apa adanya, menafkahi dan menyayangi bu Romlah. Ingat setan selalu menggoda sepasang suami istri sehingga memandang orang lain yang haram terlihat lebih indah dan yang halal yang telah mendampingi bertahun-tahun justru terlihat membosankan. Jadi saran saya, jangan dengar bisikan setan yang membuat bu Romlah memandang suami orang lebih menarik," ujar bu Asih mengingatkan.


"Astagfirullah, benar kata ibu, terimakasih bu sudah di ingatkan," jawab bu Romlah.


Acara makan dimulai, semua warga makan dengan lahap. Mereka terlihat gembira, beberapa wanita saling berbisik.


"Masakannya enak ini, seperti masakan restoran saja"


"Iya enak banget, mungkin karena kita habis melihat bule yang ganteng dan cantik-cantik, makan jadi berselera"


Mereka makan sambil asyik bicara, saling ledek dan saling menggoda hingga acara makan selesai. Waktu terus berlalu, kini hari telah berganti.


Resepsi pernikahan Guntur dan Antinia digelar dirumah pak Hadi orang tua Guntur di desa Cipaganti dan mengikuti tradisi warga desa Cipaganti. Dimana semua persiapan berupa tenda, pelaminan, dan beraneka menu makanan di olah dan dikerjakan secara gotong royong oleh tetangga pak Hadi. Sedangkan semua peralatan adalah milik desa dan warga yang sedang memerlukan untuk acara hajatan boleh memakainya.


Beberapa pemuda dan pemudi yang bertugas menyuguhkan makanan kepada para undangan terlihat sesekali saling berbisik.


"Lihat cantik banget penganten wanitanya, Guntur juga terlihat ganteng banget. Mereka benar-benar pasangan yang serasi. Semoga aku nanti juga seperti mereka, bersanding dengan orang yang cocok denganku," ujar seorang gadis.


"Yang cocok dengan kamu berarti yang tidak ganteng, soalnya kan kamu tidak cantik," jawab seorang pemuda yang jalan disampingnya.


"Ya mungkin begitulah, ganteng atau tidak bagiku tak masalah. Yang penting dia pemuda yang baik, tanggung jawab dan setia, selain itu juga memiliki pemahaman agama yang baik sehingga tahu caranya bagaimana memperlakukan seorang istri dengan baik," jawab si gadis.

__ADS_1


"Kalau memang ketampanan bukan kriteria utama bagimu, bolehkan aku lelaki yang tidak tampan ini mengajakmu menikah dan hidup bersama dalam suka maupun duka hingga maut memisahkan kita. Aku memang bukan pemuda yang baik dan seperti kriteria pria impianmu namun aku akan berusaha dan berjuang untuk menjadi lebih baik agar aku bisa memenuhi kriteria pria impianmu," jawab pemuda.


"Kalau nembak jangan disini ah malu, kalau kamu memang serius denganku, datang saja kerumah, mintalah aku pada kedua orang tuaku," sahut di gadis lagi.


"Ayo lanjut kerja, jangan ngobrol terus, kamu lagi nembak cewe kok ditempat orang hajatan," seorang ibu-ibu menegur dua muda-mudi yang sedang bicara serius. Mereka pun melanjutkan pekerjaan mengantar beberapa menu makanan ke meja-meja para undangan dengan sesekali saling lirik dan tersenyum.


"Selamat ya Guntur, Antinia, doa terbaikku untuk pernikahan kalian berdua"


Gading dan Sitah yang baru datang dari kota tadi pagi datang memberikan selamat pada kedua mempelai. Ada juga bunda Reni dan pak Soko beserta kedua putrinya yaitu Hawa dan Sarah yang sudah beranjak remaja dengan wajah yang rupawan. Rombongan keluarga pak Soko sudah datang dari kemarin, sengaja memang mereka datang lebih awal agar bunda Reni bisa istirahat lebih lama dan berkumpul dengan anak, cucu dan menantu. Agar hidup bunda Reni semakin bahagia sehingga imun tubuhnya meningkat, menurut pendapat pak Soko suaminya.


Beberapa warga terus mengamati pak Soko dan kedua putrinya. Ada yang merasa kagum karena kini mereka hidup bahagia dan bergelimang harta namun ada juga ada yang merasa iri. Mencibir bahkan meremehkan.


"Ya ampun Sarah sudah besar, dia terlihat cantik sekali, badannya ideal dan terawat, kulitnya putih bersih. Sepertinya dia memakai skincare yang mahal karena ibu tirinya orang kaya, apa-apa tinggal minta"


"Hem pak Soko apa ya enggak malu, lelaki kere kok ya bisa-bisanya memperistri orang kaya, dia kan cuma modal ******** saja. Kalau aku sih rasanya seperti lelaki yang tak punya harga diri"


"Bundanya Gilang itu orang kaya, perusahaannya besar, karyawannya ribuan, tapi kok mau-maunya kawin sama lelaki kere. Orang kalau sudah dimabuk cinta memang tak punya logika.


Belum tahu lagi rasanya dikhianati, kalau nanti pak Soko yang sekarang memimpin perusahaannya, dia nikah lagi dan membawa semua aset yang dia miliki, baru tahu rasa dia, terlalu percaya pada makhluk yang namanya lelaki"


Mereka terus berkomentar, Sarah yang mendengar bisik-bisik beberapa warga Cipaganti terlihat marah, tangannya mengepal dan wajahnya merah padam. Gadis itu tak terima dengan penilaian warga tentang ayah dan ibu tirinya. Langkahnya ingin mendekati warga yang sedang memperguncingkannya. Namun bunda dan ayahnya segera menahannya dan menasehatinya agar tidak membuat onar di acara resepsi keluarga besannya. Karena itu akan membuat besannya dan seluruh keluarga malu.

__ADS_1


"Tahan Sarah, tidak usah kamu ladeni komentar orang tentang kita. Mereka hanya berbicara tentang apa yang mereka tahu menurut pemahaman mereka. Biar saja orang dengan pola fikirnya. Tak usah repot-repot memarahinya. Seiring berjalannya waktu, mereka pasti akan tahu, bagaimana bunda dan ayahmu serya keluarga kita. Yang terpenting kita tetap kompak saling support dan saling menyayangi satu sama lain," bisik bunda Reni menasehati putri sambungnya.


******


__ADS_2