
Bunda Reni langsung berlari menghampiri Sekar kemudian memeluk Sekar sembari terisak.
"Terimakasih nak, kamu sudah memaafkan bunda yang banyak salah ini. Sebenarnya bunda malu mengingat semua kebusukan bunda," ujar bunda Reni sembari menangis.
Bunda Reni kemudian meneruskan bicaranya, demi menebus rasa bersalah yang selalu mengganggu hidupnya. Dia rela membuang semua ego yang selama ini mempengaruhi fikirannya, sehingga bunda Reni telah menghalalkan segala macam cara untuk memisahkan dua sijoli yang ditakdirkan menjadi suami istri.
Dari situ kita bisa mengambil pelajaran. Bahwa sekeras apapun kita menghalangi orang lain yang ingin berbuat sesuatu, untuk menghalangi rencana kita. Kalau memang Tuhan menghendaki, maka tak ada gunanya.
"Ayo kita masuk bunda, bunda sebaiknya istirahat karena bunda pasti lelah setelah melewasti perjalanan panjang yang melelahkan. Deni kamu sebaiknya pulang dan kamu aku liburkan hari ini agar bisa istirahat. Ingat setelah menikah tidak boleh terlambat"
Mendengar ucapan Gilang, bunda Reni pun masuk kedalam rumah Gilang dengan digandeng olek Sekar menantunya. Sedangkan Deni pun beranjak pulang sembari tersenyum.
Dengan raut wajah bahagia, wanita setengah baya yang masih terlihat cantik karena rajin perawatan terus membelai perut buncit menantunya. Doa-doa terbaik ia panjatkan buat calon cucunya yang akan lahir beberapa bulan lagi.
Setelah Gilang pergi ke kantor yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari rumahnya. Sekar dan bunda Reni pun berangkat kerumah pak Hadi dan bu Asih diantar oleh supir pribadi mereka.
Sepanjang jalan menuju rumah bu Asih, bunda Reni terus memandang keluar jendela mobil untuk mengamati rumah warga yang terlihat sangat sederhana jika dibanding perumahan dikota, apalagi jika dibanding rumah bunda Reni, sungguh sangat jauh berbeda.
Terbesit rasa syukur dalam benak bunda Reni saat melihat pemandangan didepan matanya. Rumah sederhana yang terbuat dari kayu, jalanan tanah berbatu yang jauh dari kata mulus. Penduduk desa dengan pakaian sederhana, tanpa polesan make up, namun mereka senantiasa menunduk hormat dan tersenyum ramah saat berpapasan dan bertemu pandang dengannya.
Ada rasa bahagia, ada rasa nyaman dan tentram bercampur menjadi satu. Apalagi saat menyaksikan senyum warga yang begitu tulus, padahal mereka tiada saling mengenal.
Mobil terus meluncur perlahan dengan kecepatan rendah, sangat berbeda dengan laju kendaraan di kota. Selain sering berpapasan dengan warga, jalan yang sempit juga berbatu.
__ADS_1
Kini mobil yang ditumpangi oleh Sekar dan bunda Reni telah memasuki halaman rumah pak Hadi. Rumah yang terlihat paling bagus bila dibanding tetangganya. Namun dimata bunda Reni, rumah pak Hadi tetaplah sederhana bila dibanding rumah-rumah dikota.
Padahal jika mau, Gilang bisa saja membangunkan rumah yang sama bagusnya dengan rumah yang ditempati Gilang. Namun pak Hadi Justru menolaknya, dengan alasan lebih suka menikmati hasil jerih payah sendiri. Kecuali sudah tidak mampu bekerja, baru beliau akan menerima hasil keringat anak dan menantunya.
Bunda Reni merasa sangat malu bila mengingat apa yang pernah ia tuduhkan terhadap Sekar. Selama ini dia selalu menyamaratakan, kalau semua orang haus akan harta dunia, padahal pada kenyataannya masih ada saja orang yang baik, yang tidak memandang harta sebagai tolak ukur menentukan derajat manusia.
Selama ini bunda Reni merasa derajatnya telah meningkat berkat kerja kerasnya mengejar dunia. Padahal sesungguhnya harta yang dia dapat telah membuat dia menjadi sewenang-wenang, memaksakan kehendak dan memandang yang tak mempunyai harta derajatnya lebih rendah.
Diapun kini merasa sangat bersyukur, telah dibukakan mata hatinya, bisa berfikir lebih jernih, dalam memandang isi dunia. Betapa masih banyak orang-orang berhati mulia, yang hidup untuk sekedar mencari kebaikan dan keberkahan sembari menunggu datangnya hari dimana uang tak lagi berharga.
"Assalamuallaikum besan, bagaimana kabarnya? ya ampun ternyata yang namanya bunda Reni orang cantik sekali ya"
Sapaan bu Asih yang sudah ada dihadapannya, menyambutnya dihalaman rumahnya telah mengejutkan lamunan bunda Reni. Diapun langsung mengarahkan pandangannya, menyoroti wanita yang berdiri seumuran dengannya, dengan kondisi hamil dalam balutan daster sederhana.
Diapun langsung memeluk dengan erat, menyampaikan permohonan maaf atas apa yang telah dilakukan selama ini terhadap Sekar. Dengan hati tulus dan ikhlas bu Asih pun memaafkan semua kesalahan yang telah diperbuat bunda Reni.
Bu Asih lalu mengajak Bunda Reni dan Sekar untuk masuk kedalam rumahnya dan duduk disofa ruang tamu sederhana.
"Silakan duduk bu, dibikin enak saja, tidak usah sungkan, anggap saja dirumah besan sendiri," ujar bu Asih.
"Ya memang ini dirumah besan, ibu bicaranya aneh deh," Sekar yang ada dibelakang menimpali ucapan ibunya. Mendengar ucapan Sekar bu Asih hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan ruang tamu menuju kedapur.
"Pak...pak ada besan itu, baru datang dari kota"
__ADS_1
Suara bu Asih yang berteriak memanggil pak Hadi terdengar sampai keruang tamu. Membuat Sekar dan mertuanya saling pandang dan saling tersenyum.
Tak berapa lama kemudian muncullah pak Hadi yang masih memakai sarung dan kaos oblong berwarna putih memasuki ruang tamu. Bu Asih berjalan dibelakang membawa nampan dengan beberapa gelas teh di atasnya.
Bunda Reni langsung menyongsong kedatangan pak Had untuk menyalami dan meminta maaf langsung padanya atas segala kesalahannya dimasa silam. Dengan tulus dan ikhlas pak Hadi telah memaafkan kesalahan besannya. Mereka pun semua duduk dan bu Asih menyuguhkan teh hangat lalu duduk di samping besannya sambil memperhatikan penampilan bunda Reni yang begitu gelamor dimatanya.
"Saya sangat bersyukur karena hari ini bu Asih dan pak Hadi telah memaafkan saya, lega sekali rasaya hati saya saat ini," ujar bunda Reni sambil meminum teh yang disuguhkan besannya.
Bunda Reni pun membuka tas mewah yang dari tadi tergantung di pundaknya. Dia mengeluarkan dua set perhiasan yang sama dengan yang dia pakai, satu set dia berikan kepada bu Asih dan satu set dia berikan kepada Sekar sebagai hadiah.
"Saya memberikan ini untuk ibu dan Sekar sebagai hadiah atas kehamilan bu Asih dan Sekar"
Bu Asih langaung memandang perhiasan ditangannya tanpa berkedip. Dari tadi dia sedang mengagumi perhiasan yang dipakai oleh besannya. Tak menyangka dia akan mendapat hadiah perhiasan yang sama dengannya.
"Ini untuk saya besan?"
Dengan bibir bergetar dan rasa bahagia dia bertanya pada bunda Reni atas pemberianya. Sungguh dia tak percaya, orang desa sepertinya mendapat perhiasan semewah itu.
"Ya tentu saja bu Asih, hadiah itu tak seberapa bila dibanding kebahagiaan Gilang putraku sekarang. Terimakasih ya sudah menerima Gilang menjadi menantu kalian. Padahal saya sudah berprasangka dan berbuat buruk pada kalian," ucap bunda Reni.
"Sama-sama bunda, kita ini sama saja, sama-sama manusia biasa yang tidak pernah luput dari salah dan khilaf. Saya juga minta maaf karena tidak mengijinkan Sekar minta restu bunda saat akan melaksanakan akad nikah dengan Gilang," ujar pak Hadi sembari menyeruput teh dihadapannya.
"Oh ya, terima kasih karena bunda telah membuat istri saya begitu bahagia dengan perhiasan yang bunda berikan," sambungnya.
__ADS_1
******