Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 47. Memikirkan


__ADS_3

"Terimakasih banyak telah mengijinkan bunda Reni untuk menyayangi kedua anakku"


Pak Soko memulai pembicaraan saat mereka sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Saya.minta maaf pak Gilang, karena kedua anak saya telah merepotkan bunda anda"


Lelaki dari dua anak itu merasa tidak nyaman dengan Gilang karena tingkah kedua putrinya yang kurang bisa menempatkan situasi dan kondisi. Tapi disisi lain mereka hanya anak-anak yang tidak pernah memikirkan resiko dari perbuatannya. Dia hanya menginginkan rasa nyaman dimana perhatian dan kasih sayang mereka dapatkan.


"Silakan diminum tehnya pak Gilang. Bu


Sekar!!"


"Terimakasih mba Srintil"


"Sama-sama bu Sekar"


Srintil datang menghidangkan segelas teh dan cemilan ala kadarnya.


"Srintil apa yang bunda lakukan sepanjang kami tinggal tadi?," tanya Gilang to the point.


Bunda tak henti-hentinya menimang dan bernyanyi untuk Hawa, sehingga Hawa merasa rileks dan nyaman lantas tidur pulas sekali.


"Apa pendapatmu jika bunda menjadi bunda sambung Sarah dan Hawa"


Dengan wajah tegas, Gilang bertanya pada Srintil, dia menginginkan pendapat orang yang paling dekat dengan sarah dan Hawa.


"Maksudnya! ...bunda menikah dengan pak Soko"


"Tentu saja," Gilang menatap tajam kearah Srintil.


"Sa...saya adalah orang yang paling bahagia seandainya semua itu terjadi"


Srintil mengungkapkan apa yang dia saksikan setiap harinya, dimana Sarah begitu mendambakan bunda Reni menjadi ibu sambungnya. Sarah juga begitu mengidolakan wanita paruh baya itu, sehingga semua yang terdapat dalam diri bunda Reni dia sukai.


Sedangkan Hawa, entah apa yang ada dalam benak bayi cantik itu. Seperti ada ikatan batin antara bunda dan Hawa.


"Terimakasih atas jawabanmu, sekarang kamu boleh kembali bekerja"


Setelah dipersilakan undur diri, dengan menunduk hormat Srintil kembali kedapur. Hari ini semua pekerjaan beres, nanti malam dia akan tidur dengan puas karena pekerjaan rumah, mengepel, nyuci baju, nyuci piring dan lain-lain sudah beres.


Ada doa tulus terselip dalam setiap desah nafasnya, semoga pak Soko dan Bunda berjodoh. Tapi sepertinya tidak mungkin terjadi, mengingat antara pak Soko dan bunda jarang berkomunikasi dan sama-sama dingin terhadap lawan jenis. Tak mungkin rasanya ada cinta yang tumbuh dihati mereka.

__ADS_1


Pak Soko terlalu mencintai mendiang istrinya, yang belum begitu lama pergi. Sedangkan bunda Reni seperti sudah asyik dengan dunianya.


"Sekarang bagaimana keputusan bapak"


Setelah bertanya dan menyeruput teh yang disuguhkan oleh Srintil, Gilang kembali berbicara. Lelaki yang sebentar lagi akan menyandang gelar seorang ayah itu mengungkapkan pendapatnya. Dia hanya tidak tega melihat kedua buah hati pak Soko yang hidup tanpa seorang ibu. Kebahagiaan bunda juga menjadi salah satu pertimbangannya.


Memang bundanya tak berniat menikah lagi, tapi bunda menyukai anak-anak, bunda sangat bahagia bila hidup bersama anak-anak.


"Saya hanya merasa tidak pantas berdampingan dengan bunda anda pak Gilang. Saya hanya lelaki miskin, saya takut tidak bisa membahagiakan bunda bapak"


"Oh...jadi itu alasanya, masih ada alasan yang lain"


"Saya masih sangat mencintai mendiang istri saya, saya takut tidak bisa memberikan cinta kepada istri baru saya"


Pak Soko tertunduk, menunggu reaksi Gilang. Dia berharap mendapatkan solusi atas apa yang dia takutkan.


Mendengar jawaban pak Soko, terdengar tarikan nafas panjang dan dikeluarkan secara perlahan dari bibir Gilang. Sementara Sekar hanya memandang wajah suaminya dengan rasa penasaran dengan jawaban suaminya.


"Mungkin diantara bapak dan bunda tidak ada rasa cinta dan keinginan untuk menikah, kalian masih terikat cinta dengan masa lalu. Namun kalian sama-sama bahagia bila melihat Sarah dan Hawa bahagia. Setidaknya lakukanlah pernikahan demi kebahagian buah hati bapak"


Gilang kembali meminum tehnya dan kali ini dia menyomot cemilan kemudian memasukan kedalam mulutnya.


"Bagaimana dengan keseharian kami, seorang suami istri harus menjalankan kewajibannya, rasanya berat sekali menjalankan kewajiban dengan orang yang tidak kita cintai"


"Kalau itu bisa difikirkan kemudian, kalian bisa pendekatan dari hati kehati setelah menikah dan hidup serumah"


Gilang kembali mengungkapkan pendapatnya. Sementara pak Soko terus memikirkan pendapat atasannya sekaligus orang yang sangat berjasa dalam hidupnya.


Sementara itu di dalam kamar, Sarah terus menceritakan tentang temannya disekolah yang baru saja datang bulan. Dia menanyakan dimana dia harus membeli pembalut dan bagaimana cara memakainya.


Dia juga bercerita tentang tingkah laku kawan lelakinya disekolah. Ada beberapa yang menyatakan cintanya.


"Sarah malu kalau harus bercerita pada ayah, ayah tak mungkin mengerti perasaan Sarah"


Kedua pelupuk mata bunda Reni menghangat, ada tetesan air mata yang ia tahan. Hatinya tersentuh sekali dengan curahan hati gadis ABG dihadapannya.


Ternyata bukan hanya Hawa yang membutuhkan dekapan hangat seorang ibu. Namun Sarah juga membutuhkan bimbingan seorang ibu untuk mengawal masa-masa labilnya agar tidak salah jalan.


"Bunda apakah Sarah boleh minta sesuatu sama bunda?"


Bunda Reni membelai pucuk kepala Sarah lalu dia merangkulnya dan menatap kedua netra gadis ABG dihadapannya dengan tatapan hangat penuh kasih.

__ADS_1


"Tentu sayang!!...mintalah apa yang kamu inginkan sama bunda, bunda akan penuhi jika mampu"


"Sarah ingin bunda jadi ibunya Sarah"


Bunda Reni kembali tersenyum, kali ini dia memeluk Sarah.


"Kamu boleh anggap bunda seperti ibumu, bunda sangat sayang sama kamu dan adikmu.


"Maksud Sarah maukah bunda menikah dengan ayah?"


Bunda Reni langsung terdiam, namun bibirnya masih tetap menyunggingkan senyum. Diapun menjelaskan bahwa sebuah pernikahan tidaklah sesederhana itu. Tidak ada cinta diantara dia dan ayahnya. Bunda Reni hanya mencintai anak-anak ayahnya saja.


"Tapi seandainya ayah bersedia menikah dengan bunda demi kami anak-anaknya, apakah bunda bersedia menjadi istri ayah?"


Bunda Reni kembali tersenyum dan mengangguk.


"Demi kalian apa apapun bunda lakukan. Cinta bunda pada kalian sedalam lautan, seluas samudra"


"He....he...kaya lagu aja bunda"


Tawa mereka pun berderai, bertepatan dengan terbukanya pintu kamar. Muncullah pak Soko dihadapan mereka.


"Maafkan anak-anak saya bu Reni, karena mereka telah merepotkan ibu"


"Tidak masalah pak Soko, saya suka direpotkan oleh mereka," ujar bunda Reni.


Gilang pun muncul dan mengajak bunda Reni untuk pulang karena hari telah sore.


"Bunda mau ikut kami pulang atau nginap disini"


Gilang tersenyum meledek bundanya. Tak peduli dengan pelototan sang bunda.


"Tentu saja bunda ikut pulang, tapi tunggu sebentar bunda mau lihat Hawa"


Bunda Gilang segera bangun dan keluar kamar, dia melewati pak Soko dan Gilang. Lalu dia mencubit lengan putranya dengan gemas.


"Gilang lebih suka kalau bunda tetap disini, agar Gilang bisa bermesraan dengan Sekar diruang manapun Gilang suka," ucap Gilang sambil terkekeh.


Usai mengucapkan salam perpisahan dan ciuman hangat pada Hawa bunda Reni pun tak lupa pamit pada Sarah. Sarah mencium tangan bunda Reni dengan takzim dan dibalas dengan pelukan oleh wanita cantik itu.


Mereka bertiga masuk kemobil dan meninggalkan rumah pak Soko. Sarah melambaikan tangannya. Hatinya terus berdoa semoga kelak bunda Reni jadi ibu sambungnya.

__ADS_1


******


__ADS_2