
"Aku sangat senang karena bunda tidak marah padaku. Demi memenuhi keinginan aku dan bapakkulah kakak merahasiakan pernikahan kita."
"Oh iya aku lupa bunda juga memberikan oleh-oleh intukmu, aku hampir saja lupa memberitahu kamu," ujar Gilang.
"Itu bukan hampir lupa kak tapi memang sudah lupa. Mereka berdua pun bergegas keluar kamar untuk memerikaa oleh-oleh dari bunda Reni.
Beberapa bulir air mata Sekar jatuh kelantai kala netranya menatap sekardus oleh-oleh dari bunda mertua.
"Apa benar ini bunda yang ngasih kak," tanya Sekar tak percaya.
"Ya iya lah sayang....masa pak satpam. Kamu ini cuma dapat oleh-oleh seperti itu aja sampai terharu dan menangis, apa karena ada sambel pencoknya, pedeess!!.. Terus kamu jadi nangis"
"Aku bukan nangis karena sambel kak, tapi aku merasa sangat terharu dengan perhatian bunda"
Sekar mengungkapkan perasaannya pada Gilang. Bahwa dia sangat bahagia dengan pemberian bunda Reni, dia merasa dianggap dan bahkan merasa disayangi. Sekar tidak melihat dari sambel pencoknya yang dikirimkan bunda yang harganya mungkin cuma recehan. Tapi ini adalah bukti seberapa besar perhatian bunda terhadap dirinya yang sedang hamil. Ibu hamil pada umumnya memang suka mencok buah-buahan, begitupun Sekar.
"Coba kakak ingat, apa kakak terfikirkan untuk membelikan aku makanan seperti ini, padahal aku saat ini sangat menyukainya," tanya Sekar pada suaminya.
"Ya enggalah, kamu kan enggak minta?"
Sekar pun kembali berbicara bahwa Seseorang yang menyayangi kita akan berfikir dan mencari tahu tentang apa yang kita sukai dan apa yang tidak kita sukai. Kemudian memberikan apa yang kita sukai itu, agar kita merasa bahagia.
"Oh jadi seperti itu, berarti kamu merasa kalau aku ini tidak mencintai kamu, karena aku tidak pernah mencari tahu dan memberikan apa yang kamu inginkan"
Gilang mendekati Sekar kemudian langsung memeluknya sembari memaparkan bahwa cara orang menyayangi dan mencintai seseorang itu berbeda-beda.
__ADS_1
"Kamu tahu sayang, bagaimana caraku mencintaimu, begini....."
Gilang langsung mengangkat tubuh Sekar dan membaringkannya diatas ranjang. Dia langsung mencium dan mencumbu Sekar dengan membabi buta. Beberapa hari tak menyentuh istrinya membuat hasratnya kian melambung. Sekar tak mampu berkata-kata lagi setelah mendapatkan serangan secara spontan. Pasrah, menikmati dan mengimbangi adalah satu-satunya cara yang indah yang bisa dia lakukan. Mungkin inilah cara suaminya mencintainya, memberikan sesuatu yang Sekar sangat sukai tanpa Sekar harus memintanya.
Kurang lebih satu jam pergulatan panjang yang melelahkan namun menyenangkan pun selesai. Mereka sama-sama terhempas dipembaringan setelah sama-sama memenangkan pertarungan yang menyenangkan.
"Beginilah caraku mencintaimu, kamu suka kan?"
Gilang berbicara pada Sekar sambil mengatur kembali nafasnya yang ngos-ngosan. Hatinya merasa bahagia setelah mengajak istrinya bekerja dipagi hari. Gilang pun langsung tertidur karena kelelahan.
Diam-diam Sekar mengambil Hand phone dan melakukan vidio call dengan bunda Reni. Rasanya dia tak sabar ingin menyapa dan mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas oleh-oleh dari bunda mertuanya. Beberapa kali menghubungi bunda, namun telepon tak juga diangkat. Setelah yang ke empat kali Sekar menghubungi barulah panggilan Sekar diangkat.
"Hallo ini Sekar bukan?," Nampaklah wajah bunda Reni menyapa Sekar dengan nada terkejut dilayar hand phone membuat dada Sekar berdebar-debar.
"Assallamuallaikum bunda, ini Sekar, apa kabar bunda?"
Dengan wajah sedih bunda Reni Segera meminta maaf atas kesalahan yang selama ini diperbuatnya. Dia berjanji kali ini dia akan benar-benar merestui pernikahan Sekar dengan putranya. Dia juga berjanji akan menyayangi menantu dan cucunya dengan setulus hati.
Bunda Reni juga mengungkapkan betapa dia sangat menyesal sekaligus sangat malu dengan apa yang telah dia perbuat beberapa bulan lalu.
"Sekar sudah memaafkan bunda, Sekar juga minta maaf bunda, karena Sekar telah menikah dengan kak Gilang tanpa minta restu bunda. Sebenarnya Sekar sudah menolak kak Gilang tapi kak Gilang tidak ingin kami berpisah," ujar Sekar menjelaskan.
Bunda Reni pun memaafkan Sekar dan menerima itu sebagai hukuman atas perbuatan buruknya selama ini. Sekar amat bahagia karena sekarang pernikahannya telah mendapat restu dari bunda mertuanya.
"Kamu dirumah sendiri sayang, Gilangnya lagi kemana, rasanya tidak mungkin kalau dia langsung kerja setelah perjalanan jauh," ujar bunda Reni. Sekar pun langsung mengarahkan kamera hand phone nya kearah Gilang yang tertidur pulas. Sekar lupa kalau tubuh Gilang hanya ditutup handuk dibagian area sensitifnya.
__ADS_1
Bunda Reni langsung terbelalak melihat keadaan putranya. Dia tidak menyangka kalau ternyata menantunya seceroboh itu. Sekar segera meminta maaf karena dia lupa menutupi tubuh Gilang.
"Rupanya sampai rumah Gilang tidak langsung bekerja ke kantor melainkan langsung mengerjai istrinya," ujar bunda Reni sembari tertawa terbahak. Dengan wajah memerah Sekar hanya tersenyum mendengar celotehan bunda mertuanya.
"Bunda jadi ingat ayah Gilang. Dari dahulu bunda tak ada niatan ingin menikah lagi. Tapi melihat kebahagiaan kalian setelah menikah, bunda jadi ingin mengulang masa-masa itu," ujar bunda Reni dan langsung menutup mulutnya seolah dia tengah keceplosan. Lagi-lagi Sekar hanya tersenyum tanpa berani berkomentar apa-apa. Karena Sekar takut bicara, atau terkesan mencampuri urusan pribadi mertuanya.
Setelah berbicara panjang lebar sepasang mertua dan menantupun sepakat untuk mengakhiri panggilan vidio call yang mereka lakukan.
Usai melakukan vidio call dengan sang mertua Sekar kembali berfikir bagaimana cara menyampaikan kepada Hadi kalau Sekar dan bunda Reni telah berdamai dan saling memaafkan.
Sekar sangat paham watak bapaknya yang lembut, namun jika beliau sudah membuat keputusan tak akan bisa diganggu gugat. Akhirnya Sekar berpikir untuk memberitahu bapak lewat ibu Asih, ibu kandungnya yang telah terpisah puluhan tahun dan bertemu dalam keadaan lupa ingatan. Berkat ketekunan pak Hadi kini ingatan bu Asih telah kembali.
Keesokan harinya saat Gilang akan pergi kekantor, Sekar minta dianter kerumah orang tuanya. Rencananya dia akan mulai memberitahu tentang bunda secara perlahan.
"Aku hanya bisa berdoa, semoga Allah melembutkan hati bapak. Semoga tak ada lagi amarah dihati bapak kepada bundaku," ujar Gilang. Sekar pun menjawab dengan kata Aamiin.
Setelah mencium punggung tangan suaminya, Sekar menyuruh Gilang segera berangkat kerja karena takut telat.
Gilang pun langsung meluncur menuju kekantor. Sementara Sekar memandang kepergian suaminya dengan tersenyum kecil. Tangannya mengelus perutnya sedangkan jauh dilubuk hatinya dia berdoa semoga rumah tangganya senantiasa diberkahi. Dengan langkah yang tergesa-gesa Sekar langsung masuk kedalam kamar untuk meletakkan tas slempang kesayangannya. Dan kemudian melangkah menuju dapur membawa oleh-oleh dari bunda Reni.
Sampai didapur Sekar mendapatkan ibunya sedang memakan pencok sendirian. Diapun langsung bergabung dan mengeluarkan sambal pencok dan buah-buahan kiriman bunda Reni untuk para ibu hamil.
"Kamu punya beraneka macam buah Sekar lengkap dengan sambalnya lagi. Apa Gilang yang beli waktu dikota kamarin," ujar bu Asih sambil memilih beberapa buah yang dibawa oleh Sekar.
"Bukan bu, ini kiriman dari bunda Reni mertuaku yang dititipkan lewat Gilang," ujar Sekar.
__ADS_1
Bu Asih terkejut mendengar ucapan Sekar. Yang dia tahu, bukankah bunda Reni tak Pernah merestui pernikahan Gilang dan Sekar.
********