
Bu Asih langsung menjewer telinga Guntur dan memulasnya perlahan hingga Guntur mengaduh kesakitan.
"Usaha-usaha sendiri, kapan? Dari dulu jomblo terus, lihat tuh Deni sudah punya anak, Gading juga sudah punya Sitah, lah kamu belum punya siapa-siapa. Percuma punya wajah ganteng kalau pasarannya seret" ujar bu Asih membuat siapa aaja yang mendengarnya pasti ingin tertawa.
Guntur dengan susah payah menjelaskan pada bu Asih bahwa dia saat ini sedang berusaha mendapatkan hati belahan jiwanya. Dia sangat mengharap kepada ibunya agar jangan berbuat sesuatu yang akan merusak rencananya. Karena kalimat cinta ingin dia ungkapkan kepada pemilik hatinya, wanita yang ada dihadapannya, jangan sampai karena kelakuan ibunya merusak suasana hatinya dan dia gagal mengungkapkan perasaannya, bisiknya pada telinga bu Asih. Bu Asih segera tersenyum pada Antinia yang ada dihadapannya dan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Maafkan ibu ya Anti, dia memang suka over orangnya, tapi aslinya dia baik dan pengertian"
Antinia sama sekali tidak tersinggung dengan perkataan bu Asih, baginya tingkah bu Asih terlihat lucu dan menghibur. Kembali dia nenatap Guntur yang sepertinya ingin bicara sesuatu hal yang penting.
"Antinia, detik ini langit dan bumi menjadi saksi, begitupun udara yang sedang kita nikmati, aku ingin semua yang ada disekitar kita menyaksikan dan mendengar apa yang akan aku sampaikan kepadamu bahwa aku mencintaimu dengan setulus hati, apakah kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Jika iya maukah kau menerima cintaku. Dan jika tidak aku akan terima dengan lapang dada karena dalam hidup ini tak semua yang kita inginkan akan kita dapatkan"
Guntur menggennggam kedua tangan Antinia yang seketika terasa dingin. Wajah Antinia terlihat merona, nafasnya seakan berhenti ditenggorokan. Dia sangat gugup karena ini kali pertama ada pemuda tampan yang mengungkapkan kata cinta dengan begitu romantis.
"Iya, aku juga jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama, aku mau jadi kekasihmu, menjadi pendampingmu bersama hingga kesurga"
Senyum Guntur langsung merekah, hatinya berbunga, tak menyangka cintanya pada seorang bule tak bertepuk sebelah tangan, cintanya diterima, dengan tangan yang sedikit gemetar, dia mengecup jemari Atinia membuat gadis itu tersipu
"Kamu tidak terpaksa kan menerima cintaku?," tanya Guntur.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, aku seharusnya yang bertanya seperti itu, karena aku takut kamu mencintaiku karena mengejar target agar tidak ketinggalan oleh teman-temanmu yang tadi disebutkan ibumu. Seandainya itu benar, akupun harus bersyukur karena aku hadir dalam hidupmu dalam setuasi yang tepat, saat temanmu semua sudah memiliki seseorang yang selalu dihati, saat kamu menginginkan ada seseorang yang mengisi hatimu. Andai aku hadir beberapa tahun yang lalu mungkin aku akan kamu kacangin saat aku mengungkapkan isi hatiku"
Jawaban Antinia membuat Guntur mempunyai kesimpulan bagaimana sosok seorang Antinia. Wanita yang kini menjadi kekasihnya adalah orang yang pandai memanfaatkan situasi atas setiap peristiwa yang terjadi. Dia pandai bersyukur dan tak pernah merasa berkecil hati dihadapan manusia dan dihadapan Allah. Guntur merasa bangga memilikinya.
"Jadi sekarang kita sudah resmi menjalin komitmen, untuk berjuang bersama dalam suka maupun duka, sedih ataupun gembira, ya intinya kita akan selalu bersama dalam setiapa situasi, gitu kan,"
Antinia mengangguk dan dibalas senyuman oleh Guntur.
"Ada satu hal yang kita lupa, bagaimana dengan kedua orang tuamu. Mungkinkah beliau bisa menerima hubungan kita. Karena sebagai orang tua pasti selalu menginginkan jodoh yang terbaik untuk anak-anaknya"
Antinia baru ingat bagaimana kriteria calon suami yang diinginkan orang tuanya, beberapa leleki dari kalangan pengusaha telah dijodohkan dengannya, namun tak satupun dari mereka menarik perhatiannya. Harta dan tahta sudah barang tentu okey, begitupun paras, tentu orang tuanyanya pun berusaha menjodohkannya dengan lelaki yang sepadan dengannya. Tapi baru saat bertemu dengan Gunturlah dia merasa ada ketertarikan sebagai lawan jenis.
"Kenapa kamu diam, pasti sulit yah, untuk mendapatkan restu orang tuamu. Tidak usah kamu risaukan itu. Setidaknya kita telah berusaha menyatukan hati kita yang saling mencinta. Restu .orang tua akan kita perjuangkan"
Jika Tuhan menakdirkan mereka berjodoh rintangan sesulit apapun pasti akan terlewati. Tapi kalau memang dia dan Antinia bukanlah jodoh dia akan berusaha menerima dengan ikhlas. Dia percaya Tuhan punya rencana indah untuknya asalkan dia taat dan bersabar.
"Bagaimana kalau seandainya, tapi ini seandainya lho, seandainya orang tuaku kekeh tidak mau merestui hubungan kita, apakah kita akan kawin lari," ucap Antinia, netranya menatap lekat manik hitam milik Guntur, laki-laki yang baru saja diterima menjadi kekasihnya.
"Tentu saja tidak, pantang bagi aku melarikan anak gadis orang, itu kriminal menurutku. Pernikahan adalah seuatu hubungan yang yang disahkan secara sakral dihadapan Tuhan dan manusia. Merupakan ibadah panjang manusia yang didalamnya, apapun yang dilakukannya selama itu baik sudah pasti bernilai ibadah dan pahala sebagai imbalannya.
__ADS_1
Bagiku sesuatu yang baik, harus diawali niat yang baik, cara yang baik, dan langkah-langkah yang baik pula.
Antinia tertegun mendengar pemaparan Guntur, kekagumannya satu level meningkat terhadap kekasihnya. Namun hatinya masih risau mungkinkah mommy dan dadynya akan memberikan restu padanya.
Saat akan menikahimu nanti, aku akan memintamu secara hormat kepada kedua orang tuamu. Karena beliaulah yang telah membuatmu ada di dunia ini dan merawat, membesarkan serta mendidikmu hingga menjadi sosok Antinia yang terlihat seperti sekarang ini, cantik, cerdas, elegan dan memikat siapa saja lelaki dihadapannya.
Wanita itu tersipu mendengar pujian dari kekasihnya.
"Semoga pujianmu tidak membuatku lantas menjadi sombong, kata orang pujian juga merupakan ujian yang bisa membuat kita takabur, iyakan?"
Guntur mengacungkan jempol tangannya seraya tersenyum.
"Kalau kedua orang tuaku menolakmu apa kamu akan pasrah begitu saja?"
"Bukan pasrah begitu saja, tepatnya kita juga harus menghormati apapun keputusan orang tua. Kalau kita memaksakan kehebendaknya apalagi melanggarnya dengan kawin lari seperti apa katamu, itu sama saja dengan meneginjak-injak harga diri mereka sebagai orang tua yang sudah selayaknya dihormati"
Antinia menunduk, dia mulai terisak, keinginannya untuk bersama dengan Guntur sepertinya sulit terwujud. Restu orang tua sudah jelas menghalanginya. Dia berharap Guntur akan berusaha lebih keras dalam memperjuangkannya. Namun sepertinya kekasihnya terlalu terbaik.
"Kok kamu malah jadi sedih, kita kan baru jadian harusnya kamu bahagia. Apa kamu menyesal menjadi kekasih orang kampung sepertiku. Kalau kamu menyesal kita bisa batalkan hubungan kita," ujar Guntur.
__ADS_1
"Oh tidak, ja...jangan, bukan itu maksudku. Aku sedih karena takut kita tak mendapat restu kedua orang tuaku dan kamu menerima begitu saja terus meninggalkan aku.
*******