Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 25. Pasangan Halal.


__ADS_3

"Silakan mempelai pria membaca sighat taklik ," ucap pak penghulu, suara pak penghulu mengejutkan dua insan yang sedang larut dalam rasa bahagia.


"Ba...baik pak, maaf kami lupa, ucap Gilang terbata-bata seraya menarik tangan Sekar untuk duduk di sampingnya.


"Tampaknya kalian sangat bahagia dengan pernikahan ini, mungkin banyak rintangan dan hambatan dalam menggapai ini semua sehingga pada saat apa yang kalian inginkan jadi kenyataan bahagianya luar biasa," ujar pak penghulu.


"Betul pak, saya sudah mengadakan acara pernikahan seperti ini dua kali namun yang pertama gagal karena calon istri saya diculik saat berangkat menuju tempat dimana akan dilangsungkannya akad nikah"


Pak penghulu tercengang mendengar penuturan Gilang. Gilang akhirnya menceritakan kalau dia baru sebulan yang lalu bertemu kembali dengan calon istrinya, itupun sempat mendapatkan penolakan dari bapak mertua karena berbagai alasan.


"oh begitu yah, suatu perjalan panjang dan berliku-liku menuju halal itu namanya," ujar pak penghulu dan disambut riuh dan tawa oleh para hadirin.


"Somoga saja pernikahan kalian selalu diberkahi, sakinah, mawaddah, warrohmah, sebagai hasil akhir dari perjuangan kalian menjadi suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi, sekarang ayo silakan dibaca sighat takliknya," sambung pak perhulu.


Gilang pun langsung membacakan sighat taklik yang berisi perjanjian pernikahan, dimana disana dijelaskan tentang hak dan kewajiban mereka sebagai suami istri. Selesai membaca sighat taklik mereka berdua pun menandatangi berkas pernikahan.


Selesai acara kedua mempelai mendatangi pak Hadi untuk meminta doa restunya.


"Bapak sudah serahkan Sekar anak bapak untuk menjadi istrimu nak Gilang. Sekarang dia sudah menjadi tanggung jawabmu, oleh karena itu bimbinglah dia menjadi seorang istri yang senantiasa taat kepadamu. Agar kalian bisa sama - sama ke surga di hari akhir nanti. Sekar, taati dan patuhilah suamimu. Layani dia dengan baik, agar engkau selalu mendapatkan ridhonya," nasihat pak Hadi kepada kedua mempelai.

__ADS_1


Setelahnya semua yang hadir pun mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan mendoakan agar mereka selalu bahagia disepanjang waktu pernikahan. Terlihat jelas senyum bahagia mengembang dari kedua bibir mempelai.


"Selamat ya sayang semoga kalian selalu mendapat kebahagiaan lahir dan batin dan semoga cepat mendapatkan momongan," ucap bu Nina kepada Sekar dan Gilang dengan penuh rasa haru.


"Jangan pernah lupakan ibu ya Sekar, ibu sudah menganggap kamu seperti anak gadis ibu sendiri," sambung bu Nina dengan mata berkaca-kaca, kemudian Sekar dan bu Nina pun berpelukan.


"Sekar juga sudah anggap ibu seperti ibu kandung aku sendiri. Dari ibulah Sekar tahu bagaimana rasanya kasih sayang seorang ibu dan pelukan hangatnya," ujar sekarang dengan mata berkaca-kaca.


"Tolong jaga Sekar baik-baik ya nak Gilang, cintai dia dan sayangi dia dengan sepenuh jiwa," ucap ibu Nina sambil menyalami Gilang.


"Tentu saja saya akan selalu menjaga Sekar bu, saya akan cintai dia dan sayangi dia sampai diakhir hayat kami. Saya juga terima kasih atas bantuan bu Nina hingga terwujudnya pernikahan ini, terima kasih juga karena telah menyayangi dan membantu Sekar dan pak Hadi selama beliau ada disini," ujar Gilang.


Warga desa berdecak kagum melihat kecantikan dan ketampanan Sekar dan Gilang yangampak Serasi. Bu Nina langsung mengajak warga yang ingin berfoto dengan pengantin secara bergantian di atas pelaminan.


Berbagai macam makanan nikmat disuguhkan dimeja prasmanan. Semua warga diperbolehkan memakan hidangan tersebut secara tertib tanpa harus memberi amplop.


"Hebat sekali ya pernikahan ini, makanan lezat-lezat semua, tapi kita tidak diperkenan memberi amplop, cukup datang memberi ucapan selamat kemudian makan sepuasnya," ujar salah satu warga yang sedang menikmati sepiring nasi rawon


"Mungkin karena orang kaya, jadi tidak perlu uang untuk mengembalikan modal biaya nikahan," ujar seorang warga.

__ADS_1


"Konon sang pengantin pria adalah seorang pengusaha yang akan membangun perusahaan perkebunan porang di desa ini," seorang wanita yang disebelah menimpali.


"Andai nanti anak gadisku bisa menikah dengan pemuda setajir dia, pasti aku akan sangat bahagia," ujar warga yang lain menyahut.


"Coba bu Tarni kalau si Sitah anak ibu diterima kerja diperusahaan porang nanti, dekati pak Gilang, siapa tahu dia berkenan menjadikan Sitah istri kedua. Kan lumayan, biar istri kedua kan juga bisa minta bellikan rumah, mobil, dan hidup mewah," ujar ibu yang lain.


"Janganlah bu, kan kasian neng Sekar kalau harus dimadu. Istri yang mana yang tidak hancur hatinya, kalau ada wanita lain hadir dalam rumah tangganya. Kita ini juga perempuan. Jadi harus faham perasaan perempuan,"ujar seorang nenek yang dari tadi hanya mendengarkan obrolan para ibu-ibu tadi.


"Tapi sekarang kan sudah biasa, jadi istri kedua, ketiga dan seterusnya yang penting segala kebutuhan terpenuhi. Kalau kita jadi istri satu-satunya tapi hidupnya melarat kan percuma," ujar bu Tarni menyahut lagi.


"Kalau aku sih lebih baik hidup melarat dari pada hidup mewah tapi menyakiti hati orang lain, ingat lho ibu-ibu karma itu pasti berlaku bagi siapa saja, siapa yang menanam dialah yang akan menuai. Menikah dengan lelaki single yang belum mempunyai pasangan, memulai semuanya dari nol dengan cara bekerja keras itu lebih membanggakan. Karena Allah akan melihat proses kita hidup didunia,proses bagaimana kita mendapatkan harta kekayaan yang halal. Allah tidak melihat seberapa hasil yang kita dapatkan. Buat apa harta banyak tapi hasil dari menyakiti istri orang," ujar ibu-ibu yang berpenampilan anggun.


Begitulah di masyarakat, ada banyak pendapat dan pola fikir, ada yang begitu peduli dengan hati dan perasaan orang lain. Ada juga yang bersikap masa bodoh yang penting dia bisa hidup enak, dan bergelimang harta dengan cara instan tanpa mau bekerja keras, dan tanpa peduli perasaan sesamanya.


Hari telah sore semua tamu datang dan pergi tuk mengucakan selamat pada calon pengusaha porang yang begitu dikagumi oleh warga sekitar, semua bangga dan kagum dengan Sekar karena telah berhasil memikat hati seorang Ceo tampan dari kota. Mereka tidak tahu bagaimana pahit dan getirnya perjalan cinta Sekar. Dia harus bekerja dihongkong demi untuk menjauhi Gilang atas permintaan bundanya. Harus berada dalam bahaya saat diculik oleh orang-orang bunda Reni demi menggagalkan pernikan mereka. Dan saat ini mereka pun menikah tanpa restu dari bundanya Gilang.


Demi mewujudkan agar bisa hidup bersama, Sekar dan Gilang rela jalani perjuangan panjang yang pahit dan melelahkan. Andai mereka tahu bahwa tak ada bahagia tanpa perjuangan. Apakah mereka juga akan seenaknya saja merenggut kebahagiaan orang lain seperti yang diinginkan bu Tarni pada putrinya. Walau kita semua tahu kalau bahagia harus diciptakan, harus diperjuangkan, namun sejatinya kita juga harus mengerti. Berjuanglah untuk meraih sesuatu dengan cara yang benar, dengan cara yang di rihdoi Tuhan kita, tanpa harus ada yang tersakiti.


*********

__ADS_1


.


__ADS_2