Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 65. Pertengkaran


__ADS_3

"Darimana kamu Tarni, jam segini baru pulang, sudah tahu kelakuan anak Gadismu?"


pak Giman suami bu Tarni yang sedang duduk diruang tamu menikmati secangkir kopi hitam menyambut kedatangan Tarni dengan tatapan tajam.


"Tentu saja aku habis melanjutkan perjuangan anak tersayang kita pak, tinggal selangkah lagi, dia akan menikah dengan pak Gilang"


Mendengar jawaban istrinya pak Giman sangat marah dia menggebrak meja. Wajahnya merah padam. Lelaki itu sudah berulang kali mengingatkan anak dan istrinya agar jangan mengganggu rumah tangga orang lain.


Pak Giman juga sering menasehati Sitah, kalau dia ingin hidup berkecukupan dimasa depan maka dia harus bekerja keras, menginginkan harta milik orang lain, apalagi dengan cara merendahkan diri merayu dan merebut suami orang, sungguh dia tidak sependapat.


"Jadi kamu masih tetap ingin menjerumuskan anakmu kedalam lembah dosa, kamu ingin menistakan darah dagingmu sendiri menjadikan dia wanita murahan"


pak Giman benar-benar geram dengan kelakuan istrinya. Seorang ibu yang seharusnya menjadi panutan, menjadi contoh yang baik bagi anaknya, ini justru mengajarkan bahkan menuntut anaknya untuk menjadi pelakor demi agar hidup enak. Padahal sebagai suami, dia sudah bekerja keras mencari nafkah untuk anak dan istrinya. Namun dimata bu Tarni, kerja keras pak Giman tak ada harganya.


Memang sebagai pemuda desa yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Dia hanya mampu bekerja sebagai petani yang menanam berbagai sayuran. Namun dari jerih payahnyalah Sitah bisa sekolah tinggi hingga kini menjadi karyawan kantoran. Bu Tarni pun selalu mempunyai cukup uang walaupun tidak bisa hidup bermewah-mewah.


"Sebaiknya bapak tidak usah ikut campur, ini adalah caraku mendidik Sitah dengan benar"


Bu Tarni kerap sakit hati dengan perlakuan suaminya yang selalu menyalahkan dalam mendidik Sitah. Menurut suaminya, jika Sitah ingin menikah carilah lelaki single, biar miskin tak mengapa, tapi hidup tentram dan bahagia.


Namun berbeda dengan pendapat bu Tarni. Untuk apa mendapatkan lelaki single kalau dia tak punya harta. Hidup harus realistis. Uang sangat diperlukan dalam segala hal, jika ada uang maka semua masalah akan aman.


"Tidak bisa begitu Tarni, aku menafkahi dia sejak kecil, aku yang membiayai sekolahnya jadi aku juga berhak mendidik dan menasehatinya"


"Kamu hanya manafkahi dia dengan uang pas-pasan. Aku tidak ingin dia hidup sengsara sepertiku, mempunyai suami miskin yang hanya bisa bekerja dikebun, bahkan untuk kesalon perawatan pun kamu tak mampu membayarnya"

__ADS_1


Plaaak!


Sebuah tamparan mendarat dipipi bu Tarni. Kali ini hatinya benar-benar sakit, bertahun-tahun mendampingi Giman dengan hidup pas-pasan dia masih bisa bertahan walau seringkali dia berniat selingkuh dengan lelaki kaya, namun tak ada satupun lelaki kaya yang mau dengannya. Kali ini dia berlari masuk kekamarnya dan mengunci diri, meratapi nasibnya yang begitu pahit.


Pagi harinya, dia bangun kesiangan, suaminya yang malam tadi tidur di ruang tamu tak terlihat lagi. Sepertinya dia sudah berangkat ke kebun. Dibukanya tudung saji dimeja makan. Ternyata pak Giman sudah masak. Namun bu Tarni enggan memakan masakan lelaki yang telah menamparnya malam tadi.


Diliriknya kamar Sitahpun sepertinya telah kosong. Jam-jam seperti ini memang biasanya Sitah sudah berangkat bekerja.


Bu Tarni melangkah keluar menuju tempat penjual nasi uduk, hari ini dia ingin sarapan nasi uduk.


"Eh ada bu Tarni....bu itu anaknya gimana kok bisa kelonan sama suami orang, apa ibu tidak mendidiknya dengan benar?" ujar bu Lastri yang tengah duduk sambil menikmati nasi uduk.


"Kamu itu bu Lastri, kalau ngomong jangan asal, kalau nanti Sitah sudah jadi istri pak Gilang yang kaya raya itu baru ngiler kamu"


" Ya ampun.....kok tega-teganya Sitah mengambil suami orang, kasian Sekar yang harus operasi caesar gara-gara melihat vidio mesum suaminya," seorang wanita berambut pirang menimpali.


Wanita yang lain menyahut. Semua orang yang ada diwarung itu sontak menyorotkan pandangannya kearah bu Tarni dengan pandangan sinis. Bu Tarni benar-benar geram mendengar cibiran ibu-ibu itu.


Diapun mengatakan kepada ibu-ibu yang ada diwarung nasi uduk itu, kalau Sitah tidak merebut suami orang namun Gilanglah yang terus mengejar-ngejar Sitah dengan alasan Sekar tak menarik lagi karena gemuk. Sebenarnya Sitah tak tega pada Sekar tapi Gilang terus memaksanya dan mengancam akan memecatnya dari pekerjaan kalau dia menolak cinta Gilang.


"Ternyata kamu pintar sekali memfitnah pak Gilang yang baik hati itu bu Tarni"


Lastri dengan lantang memotong ucapan bu Tarni. Akhirnya dia pun memberitahukan kepada ibu-ibu disitu tentang apa yang dia ketahui sebenarnya. Vidio itu dibuat saat Gilang hilang diculik, pada waktu hari pernikahan bundanya dan pak Soko yang dirayakan begitu spektakuler. Sudah lama Sitah mengejar-ngejar Gilang atasannya. Bahkan menurut salah satu karyawan, Sitah pernah menukar air minum Gilang dengan minuman keras agar Gilang mabuk dan mau diajak hubungan badan dengan Sitah.


"Kabar itu masuk akal sih bu, mana mungkin pak Gilang mau sama Sitah yang bajunya kekurangan bahan, beda jauh dengan Sekar yang yang pakaiannya tertutup dan anggun," ujar wanita berambut pirang.

__ADS_1


"Iya Sekar kan gemuk kan karena lagi hamil, wanita hamil selalu nampak cantik dimata suaminya," ujar wanita yang lain menyahut.


Pandangannya menatap tajam ke arah bu Tarni dan dia pun berdiri karena telah selesai makan. Dengan sengaja wanita itu melemparkan sisa makanan kearah bu Tarni sambil berlalu pergi setelah menyerahkan sejumlah uang kepada penjual nasi uduk.


Bu Tarni yang menerima perlakuan tak mengenakan dari wanita tadi pun langsung berteriak.


"Perempuan sialan, awas kamu!"


Wanita tadi sudah duduk jok kendaraannya siap melajukan kendaraannya.


"Sialan mana?, sama anak kamu hah?"


"Kalau menurut saya pak Gilang itu lelaki cerdas dan berpendidikan. Dia juga mempunyai ahklak mulia. Lelaki seperti itu biasanya menganggap **** sebagai sesuatu yang eksklusif dan istimewa sehingga dia hanya akan melakukan dengan wanita yang dicintainya dan dinikahi secara sah" wanita yang baru saja datang ikut bicara memberikan pendapatnya.


Beberapa ibu-ibu itu mulai berfikir jernih, tak mungkin pak Gilang mau melakukan perbuatan hina itu. Mereka semua tahu pak Gilang sangat mencintai Sekar hingga dia rela mengejar Sekar sampai


ke desa Cipaganti. Pak Gilang mendirikan perusahaan perkebunan porang juga agar dia bisa menetap disini menjadi suami Sekar. Pak Hadi melarang Gilang membawa Sekar kekota waktu itu.


"Jadi begitu, yang menculik Gilang itu Sitah. Kurang ajar sekali ya wanita itu, ingin aku bejek-bejek rasanya wajah Sitah"


Wanita berambut pirang menyahut lagi, dia mendekati bu Tarni dengan pandangan menyeriangai.


"Ya sudah, Sitahnya nggak ada disini, ibunya saja kita hajar. Tumannn"


Beberapa wanita mendekati bu Tarni dan akan menjambak rambut wanita itu. Namun wanita itu segera meninggalkan warung nasi uduk. Niat akan membeli nasi udukpun dia batalkan, tak perduli perutnya yang sudah keroncongan.

__ADS_1


********


__ADS_2