Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 68. Penyesalan


__ADS_3

Setelah pak Giman berhasil membuka pintu rumahnya. Dia menuju ke kamarnya, disana istrinya sedang duduk termenung.


"Puas kamu sekarang bu, kamu sudah sukses dan berhasil memasukkan anakmu sendiri ke penjara"


Bu Tarni yang tersentak kaget menatap nyalang kearah suaminya.


"Kenapa bapak menyalahkan ibu, Sitah masuk penjara karena keteledoran dia"


Bu Tarni pun menceritakan tentang kebodohan Sitah dalam menjalankan Strategi yang sudah mereka rancang.


"Yang bodoh kamu, kamu yang mengajari dia agar menuruti ambisimu, tapi kamu sama sekali tidak merasa bersalah. Dasar perempuan bangsat, menyesal aku menikahimu, sia-sia kerja kerasku selama ini"


Pak Giman melayangkan tinjunya pada cermin hingga cermin itu pecah berkeping-keping. Seumur pernikahan mereka, baru kali ini pak Giman marah besar, emosinya memuncak, merasa gagal sebagai suami dan sebagai orang tua.


"Bapak fikir bapak saja yang marah, ibu juga marah pak. Kalau saja Sitah lebih cerdas waktu menculik Gilang, kejadiannya tidak seperti ini. Ibu malu punya anak dipenjara"


Bu Tini terus berteriak, dia menangis sesenggukan, mengingat ucapan para tetangga yang selalu menyudutkannya.


"Itu semua salahmu, dasar ibu yang bodoh, tidak bisa mendidik anak,"


Pak Giman mendekati bu Tarni kedua tangannya mencekal kedua bahu bu Tarni.


"Jadi kamu sama sekali tidak merasa bersalah haaah..."


"Ibu cuma ingin anak ibu hidup bahagia, tidak seperti ibunya yang selalu sengsara karena salah pilih suami. Ibu ingin Sitah menikah sama orang kaya agar hidupnya berkecukupan, dimana salahnya coba?"


Bu Tarni meluapkan semua isi hatinya yang dia pendam selama ini. Menikah dengan pak Giman, segala sandang, pangan dan papan tercukupi. Namun impian bu Tarni tidak hanya sebatas itu. Dia ingin selalu perawatan disalon mahal agar selalu tampak cantik dan sedap dipandang mata. Di juga ingin setiap hari bisa jalan-jalan ke mall. Sopping, menaiki mobil mewah, tinggal dirumah megah. Semua itu tidak mungkin bisa terwujud karena suami hanya seorang petani.

__ADS_1


"Oh jadi begitu, selama ini kamu berfikir kalau tolak ukur kebahagian seseorang tidak jauh dari uang dan harta"


Pak Giman melepaskan cekalannya pada bahu istrinya. Badannya terasa lemas. menatap nanar wajah wanita yang telah mendampinginya selama puluhan tahun.


"Tentu saja"


Dengan singkat bu Tarni menjawab, netranya membalas tatapan suaminya dengan sorot mata yang tajam.


"Kalau begitu....aku bukanlah sosok suami yang kamu inginkan?," tanya pak Giman dengan suara bergetar.


"lhaaa... Itu nyadar," sahut bu Tini


"Dengarkan baik-baik, Aku talak kamu, mulai sekarang kamu bukan istriku lagi"


Dengan bergetar namun masih terdengar sangat jelas, pak Giman mengucapkan kalimat talak. Bu Tarni terperangah mendengar kalimat yang barusan terucap dari orang yang telah menikahinya puluhan tahun yang lalu. Dia terduduk lemas, tetesan cairan bening mengalir dari kedua sudut matanya. Wanita itu tidak menyangka kalau suaminya akan menceraikannya tepat disaat dia sedang terpuruk.


Setelah mengucapkan kalimat talak, pak Giman langsung mengemasi semua barang-barangnya. Sambil menggendong sebuah tas ransel dan menarik sebuah koper pak Giman mendekati bu Tarni yang menatapnya dengan pandangan Shock.


Pak Giman meninggalkan Bu Tarni dengan sejuta rasa sakit, mengingat puluhan tahun kerja kerasnya tak pernah dihargai oleh istrinya.


Kini sebulan sudah pak Giman meninggalkan bu Tarni. Uang di dompet sudah mulai menipis. Bu Tarni mulai kebingungan bagaimana caranya dia memenuhi segala kebutuhannya. Hari-hari dia jalani seorang diri. Dia mencari pekerjaan kerumah-rumah penduduk Cipaganti dan sekitarnya, siapa tahu ada yang memerlukan tenaganya.


Seluruh rumah warga Cipaganti dan sekitarnya sudah dia datangi, tapi tak seorangpun mau mempekerjakannya. Mereka rata-rata takut kalau bu Tarni membuat masalah dalam rumah tangganya.


Saat dalam kondisi bingung, muncul dalam benaknya ide untuk berkebun, seperti yang biasanya pak Giman mantan suaminya lakukan. Kebetulan sebidang lahan dan peralatan untuk berkebun peninggalan Giman suaminya masih lengkap.


Dipanas yang terik, bu Tarni mulai turun ke kebun untuk menyemprot lahan dengan herbisida kontak untuk mematikan rumput liar yang tumbuh dikebun. Dia masih ingat bagaimana tahapan berkebun yang sering diajarkan oleh Giman saat mereka masih pengantin baru, kala itu, hubungan mereka masih sangat manis. Sehingga bu Tarni masih sering turun ke kebun sekedar untuk menemani pak Giman bekerja.

__ADS_1


Keesokan harinya rumput liar pun telah mati. Dia membersihkan untuk kemudian mencangkulnya. Rencananya dia akan menanam tanaman sayur yang panennya cepat. Seperti bayam, kangkung atau sawi hijau, karena cara tanamnya yang relatif mudah dan panennya pun lebih cepat, yaitu kurang dari satu bulan.


Keringat terus bercucuran diwajah lelahnya. Namun bu Tarni terus mengayunkan cangkulnya tuk menggemburkan tanah secara manual, sedikit-demi sedikit, karena dia tak mampu menyewa traktor.


Kini ibu setengah baya itu merasakan bagaimana lelahnya suaminya dulu mencari nafkah. Mulai ada setitik penyesalan yang kian lama kian menyesakkan dada. Andai dia tak pernah berambisi menginginkan Sitah bersuamikan orang kaya. Mungkin saat ini dia masih hidup santai tinggal menikmati hasil kerja suaminya.


Akibat dari perbuatannya yang berniat merusak kebahagiaan orang lain, justru kebahagiaan dirinya lah yang hancur berkeping-keping. Suami menceraikannya dan anaknya masuk penjara.


Setelah seminggu bu Tarni menggarap kebunnya akhirnya semua bibit yang dia beli ditoko pertanian pun tertanam sudah. Terbesit dalam fikirannya untuk menemui Gilang untuk meminta maaf dan memohon agar Sitah bisa dibebaskan. Andai Sitah bebas dia pasti tak akan kesepian mereka bisa berkebun berdua. Indah sekali rasanya, kali ini dia tak ingin lagi berabisi menikahkan putrinya dengan orang kaya.


Ternyata benar menurut pendapat beberapa orang. Kebahagiaan tidak hanya sebatas uang. Kebersamaan dengan orang yang dicinta dan kesehatan yang cukup juga merupakan kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Sayang baru saat ini dia menyadari.


Dengan menggunakan kendaraan metiknya, ibu dari Sitah melajukan kendaraan metiknya menuju rumah Gilang. Hatinya bertekad ingin meminta maaf dan memohon kebebasan Sitah putri semata wayangnya.


"lho ada bu Tarni, silakan masuk bu dan silakan duduk"


Sekar yang baru saja membukakan pintu, menyapanya dengan ramah. Wajahnya nampak putih berseri dan terawat. Badannya yang saat hamil terlihat subur kini telah langsing kembali.


Baru dia sadari betapa bodohnya dia. Tak mungkin pak Gilang tertarik pada putrinya. Kalau istrinya saja terlihat anggun dan cantik memukau.


"Secangkir coklat panas dihidangkan seorang asisten kepadanya.


"Silakan diminum bu, kebetulan pagi ini kak Gilang minta dibuatkan coklat panas. Jadi sekalian saya suruh asisten buatkan untuk ibu"


Sekar duduk dihadapan bu Tarni dengan sorot mata memindai keseluruh tubuh bu Tarni yang nampak kurus, menghitam. Kusut dan tak terawat.


"Sayangg....kamu lagi dimana istriku sayang"

__ADS_1


Pak Gilang muncul dari balik pintu, mengendong putra tampannya dan memanggil istrinya dengan panggilan penuh cinta.


*******


__ADS_2