Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 83. Galau


__ADS_3

Sepeninggal Gading, hati Sitah terasa hampa, ruang dihatinya kini terasa kosong. Kebersamaannya dengan Gading semakin hari semakin membuatnya bahagia. Dia merasa sangat tergantung pada lelaki itu. Rasa khawatir mulai menelusup, bagaimana andai disuatu hari nanti. Gading tak pernah datang menemuinya. Atau bagaimana jika Gading jatuh cinta pada wanita lain dan menikahinya. Hal itu wajar saja, dia bukan siapa-siapanya. Tak ada hubungan spesial diantara mereka.


"Kenapa aku begitu merasa takut kehilangan lelaki itu, apakah aku mencintainya," batin Sitah.selama ini dia tak pernah jatuh cinta pada siapapun.


Sitah terus menatap punggung Gading yang terus menjauh dan tak terlihat lagi. Setelah itu Sitah pun masuk kekontrakannya. Membersihkan diri dikamar mandi, sholat dan langsung masak. Sepanjang apa saja yang dia lakukan dikontrakannya, wajah dan senyum Gading terus terbayang dipelupuk matanya. Beberapa kali dia mendesah kasar untuk mengusir resah yang kini menderanya.


*******


Gading terus melajukan kendaraannya dengan kecepatan maksimal. Rasanya dia ingin secepatnya pulang keapartemen milik Gilang yang dia tempati.


Sampai diaparteman, satpam yang berjaga di pos merasa heran. Gading yang biasa bersikap ramah dan periang kini nampak tegang. Setelah memarkirkan kendaraannya dia langsung melangkah cepat melewati pos satpam tanpa sepatah katapun terlontar dari bibirnya.


Sampai dimuka aparteman dilangsung mengambil keycard untuk membuka pintu aparteman. Pintu terbuka. Gading dengan buru-buru masuk kekamar mandi dan main solo disana.


Setelah setengah jam akhirnya dia keluar, dengan tubuh penuh keringat.

__ADS_1


"Akhirnya milikku bisa dijinakkan kembali," gumamnya. Dia terduduk santai disofa yang ada diruang tengah, tubuh terasa lemas. Bayangan wajah Sitah terus saja mengganggu fikirannya. Hatinya terus bertanya, kenapa akhir-akhir ini hatinya sering dilanda rindu, rindu pada Sitah, gadis berkulit eksotis itu terus membayanginya. Secara fisik dia memang menarik, walau wajahnya tidak terlalu cantik namun secara body, banyak lelaki suka body wanita seperti Sitah yang besar di beberapa bagian dari tubuhnya.


Hari ini sepulang dari kuliah, Gading langsung berangkat menuju kantor. Sampai dikantor dia terus berusaha konsentrasi bekerja, dia harus fokus, kuliah membuat jam kerjanya berkurang, namun dia terus semangat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu seperti karyawan yang lain. Gilang memberikan Gaji yang sama dengan karyawan lainnya kepada cucu nenek Leni itu. Walaupun jam kerjanya berkurang karena Gading harus kuliah. Namun dia mampu menyelesaikan semua pekerjaan seperti karyawan pada umumnya. Tepat jam makan siang, Gading meninggalkan meja kerjanya menuju kanten, perutnya terasa pedih, pagi tadi dia lupa sarapan. Tidur terlalu larut karena memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Sitah membuatnya bangun kesiangan.


Saat akan memasuki kantin, ternyata Sitah akan keluar dari kantin karena baru saja selesai makan. Gading langsung bersembunyi dibalik dinding. Senjata pamungkasnya yang bereaksi saat ketemu Sitah membuatnya enggan bertemu wanita itu. Walau sebenarnya rindunya kian menggebu. Dia hanya berani memandang Sitah dari tempat yang agak jauh.


"Kenapa aku harus menghindari, padahal hatiku begitu rindu. Baru kemarin kita bertemu dan ngobrol diteras kontrakanmu. Tapi rasanya sudah lama sekali kita tak berjumpa. Beginikah yang namanya cinta, bila jauh aku rindu ingin bertemu, bila dekat aku takut semakin terpikat. Setelah Sitah menjauh diapun melanjutkan niatnya untuk makan dikantin sambil senyam-senyum sendiri.


Sementara itu Sitah yang baru selesai makan dari kantin seperti merasakan kehadiran Gading. Hatinya sangat rindu, padahal baru saja kemarin mereka bertemu. Hari terus berlalu, hati Sitah dan Gading terus dilanda rindu karena lama tidak bertemu.


Sitah merasa Gading menjauhinya, dia menduga Gading telah melupakannya dan mungkin telah mempunyai kekasih wanita yang lebih baik darinya. Ingin sekali dia menghubungi Gading untuk memastikan bagaimana keadaannya, apa benar dugaannya. Namun Sitah sama sekali tak punya nyali. Dia sadar siapa dirinya, dia hanyalah mantan pendosa yang baru saja bertaubat dan belum tahu apakah taubatnya diterima Tuhan ataukah tidak.


Sitahpun berusaha meredam perasaannya yang semakin merindu, dengan cara menyendiri dan menangis dikamarnya. Kini baru dia merasakan rasanya terbuang. Namun dia terus berfikir positif, bukan dunia ini yang kejam, namun dunia sedang berusaha menguatkannya agar siap menghadapi berbagai ujian dan rintangan dalam hidup.


Gading yang ada dikontrakannya terus dilanda kebimbangan. Rindu didadanya kian membuncah. Terbayang terus dalam angannya tentang bagaimana rasanya membelai kulit halus berwarna eksotis. Betapa indahnya hidup ini andaikan cintanya pada Sitah terbalaskan.

__ADS_1


Sesaat dia kembali termenung, cintanya pada gadis berkulit eksotis itu mungkin terbalaskan karena diapun melihat getar cinta dalam setiap dekat dengannya, binar bahagia penuh cinta terlihat jelas dimata indahnya saat berbincang dengan dirinya. Namun tantangan terberatnya adalah neneknya, keluarga pak Gilang dan keluarga pak Soko, sosok orang-orang yang telah menjadi pahlawan dalam hidupnya. Mereka tak mungkin merestuinya. Perlu meyakinkan dengan bukti-bukti dan perjalanan panjang penuh drama dalam merai restunya. Itu semua mungkin akan menjadi nyata, andai cintanya dan Sitah begitu kuat. Namun bagaimana cinta Sitah akan kuat sedangkan dia tak pernah membuktikan betapa dia mencintainya.


setelah menimbang-nimbang, dia shalat istikharah memohon petunjuk, Gading memutuskan untuk mengungkapkan persaannya pada Sitah. Dengan tangan gemetar dia tekan aplikasi hijau, dicarinya nama Sitah dan ditekanlah tombol panggil.


"Hallo Gading, gimana kabarmu, lama tidak bertemu, aku rindu ups.....ma maaf ya Gading, aku cuma sedang senang hari ini, maaf"


Suara Sitah diseberang sana terdengar antusias. Dia tadi bilang rindu, benarkah?


"Sitah lama ya kita tidak ketemu, maaf aku lama tidak bisa menemuimu. Aku sangat sibuk, menyelesaikan tugas kuliah dan kerja juga, bagaimana kalau sekarang kita ketemuan, aku rindu kamu juga, ups....."


Gading ternyata keceplosan juga, dia tak mampu menyimpan gelora rindu dalam kalbu. Sitah tentu menyambut baik keinginan Gading untuk bertemu. Sore ini selepas pulang kerja, dua si joli yang sedang jatuh cinta itu berkendara berboncengan menuju sebuah kafe yang terkesan romantis di kota itu.


Sepanjang jalan, Sitah tak bisa mengondisikan tangannya untuk tidak melingkarkan pada pingggang Gading, lelaki itu pun tak mempermasalahkan dia malah senang.


Gading memasuki kafe dengan menggandeng tangan Sitah, membuat gadis berkulit eksotis itu merasa heran. Tak biasanya Gading bersikap manis. Gading menggeser sebuah kursi dan meminta Sitah untuk duduk. Sitah jadi merasa tersanjung dan dihargai, sekitar matanya terasa hangat, air matanya akan merembes keluar. Namun dia tahan semampunya. Setelah berbasa-basi sebentar, mereka memesan makanan. Mereka makan dengan santai karena memang kafe sedang terlihat tak begitu ramai. Usai melahap makanan di hadapannya. Gading menggenggam tangan Sitah hingga membuat wajah sitah merona dan tubuhnya panas dingin tak karuan. Gading mencoba membuka mulutnya yang kelu untuk berbicara hal penting pada wanita dihadapannya.

__ADS_1


"Sitah....aku jatuh cinta padamu, maukah kau menjadi kekasihku," ujar Gading, tangannya menggengam sekuntum mawar yang dia simpan dibalik kemejanya.


********


__ADS_2