
Sontak Sekar merasa hatinya resah saat akan bertemu kembali dengan bunda Reni. Masih terbayang dalam ingatannya bagaimana sikap bunda Reni menolak kehadirannya sebagai pendamping hidup Gilang karena latar belakang keluarganya. perasaan sesak semakin terasa saat jarak yang semakin mendekati rumah buda Reni.
Gilang memarkirkan mobilnya di carport rumahnya kemudian dia keluar dan berlari memutari mobil kemudian membukakan pintu mobil untuk Sekar.
"Ayo masuk Sekar, tidak usah panik karena bunda sudah merestui hubungan kita, kamu tenang saja," ucap Gilang sambil menggandeng tangan Sekar memasuki ruang tamu.
"Assalamualaikum bunda, Gilang sama Sekar sudah datang bun, kami bawa rujak Gobet kesukaan bunda, " ucap Gilang sambil meletakkan beberapa bungkus rujak Gobet dimeja ruang tamu.
Wa allaikum sallam, kalian lama sekali!!. Bunda sudah kangen sama Sekar, lama sekali kita tidak ngobrol bareng, Gilang, tolong kamu pindahkan rujak-rujak ini ke dalam mangkok - mangkok kecil, kita makan disini sama-sama," kata bunda Reni sambil menyongsong kedatangan Sekar memeluknya dan kemudian duduk di sofa ruang tamu yang mewah. Sekar pun menerima pelukan seorang bunda Reni, mencium punggung tangannya dengan perasaan tak menentu.
"Biar Sekar aja bunda yang pindahkan rujaknya kedalam mangkok," ucap Sekar sambil melangkah menuju kedapur. Sementara Gilang dan bunda Reni menunggu di ruang tamu.
"Mari bunda, kak Gilang, kita makan rujak," Sekar datang membawa nampan yang diatasnya ada tiga buah mangkok berisi rujak Gobet.
"Seger ini rujaknya, bunda jadi nggak ngantuk lagi, dari tadi pagi bunda bawaannya ngantuk terus," celoteh bunda sambil terus memasukan rujak kedalam mulutnya.
"Bagaimana kabar bapak kamu Sekar," tanya bunda Reni sambil terus mengunyah rujak.
"Bapak sehat bunda," hanya itu jawaban Sekar selebihnya dia hanya tertunduk dan sibuk memakan rujak.
"Begini lho Sekar, rencananya besok lusa, bunda dan beberapa kerabat bunda akan bertandang kerumah Sekar, untuk melamarmu., tolong sampaikan pada bapak bahwa besok kami sekeluarga akan datang melamar," ujar bunda sambil meletakkan mangkok yang telah kosong diatas meja.
"Iya bunda, Sekar akan sampaikan pesan bunda pada ayah," jawab Sekar dengan dengan penuh hati - hati.
__ADS_1
Selama kurang lebih tiga jam Gilang dan bunda Reni mengobrol panjang lebar, namun Sekar lebih banyak diam, hatinya masih penuh tanda tanya, apakah bunda Reni tulus merestui pernikahan mereka, bagaimana jika bunda mempunyai rencana lain.
Hari terus berlalu, bunda Reni dengan beberapa kerabat telah datang melamar '.Sekar dikediaman pak Hadi dengan disaksikan oleh beberapa warga sekitar dan juga pak RT dan pak RW. Semua berkas pernikahan hingga acara resepsi, catering dan tanda mata telah disiapkan.
Kini hari yang dinanti-nanti oleh Gilang, Sekar dan seluruh keluarga yakni pernikahan Gilang dan Sekar telah tiba. pernikahan dilaksanakan di sebuah masjid yang tidak jauh dari kediaman Sekar. Sementara untuk acara resepsi akan dilaksanakan disalah satu Hotel bintang lima dikota ini.
Pagi-pagi sekali Sekar telah dihias oleh beberapa perias pengantin yang dikirimkan oleh bunda Reni. Mulai awal sampai selesai dihias Sekar merasa semuanya berjalan normal-normal saja. Dia memakai baju pengantin Pilihan Gilang yang mereka pesan di sebuah butik terkenal dikota ini.
Mobil yang akan digunakan untuk membawa mempelai wanita telah siap dihalaman rumah Sekar. Mobil tersebut dihias begitu indah.
"Nona silakan masuk kemobil, anda sudah di tunggu oleh mempelai pria dan pak penghulu," ucap salah satu perias pengantin yang menuntun Sekar menuju mobil.
Mobil melaju perlahan-lahan keluar dari halaman rumah. Sekitar dua puluh menit kemudian, Sekar mulai merasa heran. biasanya perjalanan dari rumahnya menuju masjid hanya memakan waktu lima belas menit jika berjalan kaki. Sedangkan dia dimobil sudah cukup lama sekitar dua puluh menit tapi mengapa belum juga sampai. Sekar segera membuka gorden yang menutupi kaca mobil, dia sangat terkejut karena jalan yang mereka lalui begitu asing baginya.
"Bang kenapa kita lewat sini, ini bukan jalan menuju masjid tempat kami akan melangsungkan akad nikah, " ucap Sekar pada supir yang mengemudikan mobil.
"Maaf nona saya cuma menjalankan tugas dari nyonya Reni, ini adalah petunjuk arah yang dikasih beliau kesaya, selebihnya saya tidak tahu apa-apa non," ucap abang supir gugup, mukanya terlihat pucat.
Satu jam, dua jam mobil terus melaju, Sekar semakin panik, dia sudah bertanya kepada perias yang tadi mendampinginya. namun iya hanya menggelengkan kepala, dia ingin menghubungi bapak, tapi dia baru sadar kalau dia lupa tidak membawa hand phone. Sekar mulai marah kepada supir dan perias pengantin yang tadi ikut didalam mobil, dia coba meminta abang supir untuk menghentikan mobil, abang supir justru menambah kecepatan mobilnya.
Saat sekar semakin panik, dia terus berteriak meminta tolong kepada mobil yang lalu lalang disekitarnya. untuk menghilangkan kecurigaan sesama pengguna jalan. akhirnya abang supir memberi kode kepada perias pengantin dan perias pengantin lalu membekap mulut Sekar dengan sapu tangan basah. Tubuh Sekar pun tumbang tak sadarkan diri.
********
__ADS_1
Sementara itu disebuah masjid tidak jauh dari kediaman Sekar, pak Hadi yang duduk tidak jauh dari pak penghulu yang akan menikahkan Gilang dan Sekar mulai gelisah, beberapa kali beliau menghubungi Sekar namun hpnya sepertinya Tidak aktif.
"Tolong susul Sekar calon istriku kerumahnya siapa tahu terjadi sesuatu, disana," ucap Gilang menelepon asistennya.
"Mempelai wanita sudah berangkat menuju masjid dijemput sebuah oleh sebuah mobil ditemani seorang perias pengantin dua jam yang lalu pak Gilang, tapi yang menjemput bukanlah mobil pengantin yang sudah kita siapkan, melainkan mobil lain yang sepertinya sengaja dikirim oleh seseorang," ujar orang yang ditelepon Gilang di seberang sana.
Hati Gilang semakin panik, mukanya terlihat merah padam, tampak sekali dari raut wajahnya dia sedang marah. Ada seseorang yang ia curigai telah menculik Sekar dan sengaja ingin menggagalkan pernikahannya dengan Sekar. Satu-satunya orang yang ia curigai adalah bundanya sendiri. kini dia merasa lemas, kakinya seakan tak mampu menahan beban tubuhnya, namun ia mencoba bertahan melangkah mendekati pak Hadi orang tua Sekar.
"Pak saat bapak menuju ke sini apa bapak melihat Sekar di jemput oleh mobil yang membawa pengantin," tanya Gilang berbisik pada pak Hadi. .
"Tidak nak Gilang, kebetulan bapak tadi shalat subuh di sini, itu memang sudah menjadi rutinitas saya setiap pagi. Tadi waktu bapak berangkat Sekar Sedang dirias oleh beberapa perias pengantin yang dikirimkan oleh bundanya nak Gilang dan ditemani juga oleh beberapa asisten nak Gilang," ucap pak Hadi dengan mata berkaca-kaca.
"Asisten saya yang saya tugaskan menjaga Sekar tadi mengabarkan kalau Sekar dijemput oleh mobil yang akan membawa Sekar kasini, tapi menurut asisten saya mobil yang menjemput Sekar ternyata lain mobil yang sudah kami siapkan, asisten saya berfikir kalau sayalah yang menugaskan mobil lain untuk menjemput Sekar, " ucapku menyesalkan kecerobohan asistenku.
kriiing....
kriiing..
Saat kami semua kalut, tiba-tiba ponselku berbunyi. kulihat nama asistenku tertera dilayar ponsel. Dengan sigap aku langsung mengangkatnya.
"Halo pak Gilang, kami sudah menemukan jejak mobil yang membawa non Sekar, mobil melaju kearah luar kota, saya sudah mengirim anak buah saya untuk mengikuti tapi mendadak kehilangan jejak saat di lampu merah," ujar seorang tim rahasia yang ditugaskan oleh Gilang untuk mencari keberadaan Sekar dan menyelidiki siapa otak dibalik kejadian tersebut.
*******
__ADS_1