
"Aku percaya kamu sudah berubah Sitah, Sitah yang sekarang bukanlah Sitah yang dulu, semoga tetap istiqomah," ucap Sekar sembari memeluk Sitah.
Sitah mencoba menggendong Elang. Anak lelaki itu terlihat tampan dan menggemaskan, walau masih belum berumur dua tahun, namun Elang sudah terlihat supel dan pandai bergaul. Terbukti saat Sitah mengajaknya, dia tersenyum dan tak merasa takut pada orang yang baru dilihatnya, tidak seperti anak-anak pada umumnya.
"Kamu kok gemesin sih sayang, ikut tante kerumah yo"
Sitah terus menimang Elang yang terus tertawa gembira.
"Jangan enak aja, kalau mau bikin sendiri dong" sahut Sekar. Membuat Gading melirik kekasihnya seraya tersenyum genit sambil menaikkan sebelah alisnya beberapa kali. Sementara nenek Leni langsung memukul kepala Gading dengan sendok yang tadi dipakai untuk mengaduk minuman.
"Belum waktunya tahu" teguran nenek Leni membuat semuanya tertawa terpingkal-pingkal.
Hari semakin siang, akhirnya Sitah pamit pulang. Dia diantar Gading dengan kendaraan roda dua milik salah satu asisten Sekar. Dirumah nenek Leni tak ada kendaraan karena nenek Leni tak bisa mengendarainya.
Dalam perjalanan mereka kembali berbincang.
"Kamu kenapa enggak meluk pinggang aku," ujar Gading sambil menarik salah satu tangan Sitah agar memeluk pinggangnya. Namun Sitah menarik kembali tangannya, dia menolak memeluk Gading.
"Jangan ah, malu dilihat orang kampung, nanti malah jadi bahan perguncingan. Kasian kan orang tua dan keluarga kita yang mendengarnya"
Kepala Gading manggut-manggut, Sitah benar ada baiknya dia menjaga Sikap dan pergaulannya dengan Sitah, andai tingkah mereka di nilai tidak baik dan menjadi perguncingan para warga, orang yang pertama kali mendengar dan merasa malu adalah orang tua dan keluarga mereka yang tinggal di desa ini.
Tidak seharusnya sebagai anak yang berbakti kepada orang tua kelakuannya justru membuat mereka malu. Kini Gading membelokkan kendaraannya memasuki halaman rumah Sitah.
Bu Tarni yang sedang bersantai dengan tetangga merasa terkejut, mereka tidak menyangka tiba-tiba Sitah pulang dan diantar oleh Gading.
Bu Tarni apa engga salah, masa Sitah menolak dilamar oleh pak mister yang konglo....kongloooo....merat itu, tapi malah menerima Gading si pemulung itu," ujar salah satu ibu-ibu yang tinggal tak jauh dari rumah Sitah.
Bu Tarni hanya diam mendengar ucapan tetangganya, namun wajahnya merah padam menahan emosi, entah emosi pada siapa.
__ADS_1
"Assalamuallaikum, lagi banyak tamu rupanya"
Sitah dan Gading yang baru turun dari kendaraan langsung menyalami mereka satu persatu.
"Kalian serasi sekali yah, kelihatan banget kalau kalian saling mencintai, semoga kalian bahagia selalu, Aamiin"
Salah satu wanita yang paling muda disitu, ikut memberikan kementar.
"Tapi masih serasi sama pak mister good looking dan good rekening," sahut salah satu wanita renta yang sedang duduk santai diteras rumah bu Tarni.
"Ah ibu-ibu ini bisa saja"
Karena merasa risih dengan pembicaraan ibu-ibu diteras rumah Sitah, Gading pun langsung pamit pulang. Sedangkan Sitah langsung masuk kedalam kamarnya.
Setelah semua teman-temannya pergi, bu Tarni pun menuju meja makan dimana Sitah sedang asik menikmati makanan yang dimasak oleh bu Tarni hari ini. Sayur asem, ikan haruan yang digoreng dan sambel tomat.
"Tumben kamu sama Gading pulang bareng Sitah, apa kalian sudah baikkan, kamu tidak takut dimarahi nenek Leni karena pulang bersama cucunya. Apalagi banyak warga yang melihat kalau kalian pulang diantar Gading"
"Tidak bu"
Sitah menjawab singkat pertanyaan bu Tarni yang panjang kali lebar. Nasi dipiringnya telah kosong, Sitahpun kebelakang untuk mencuci piring yang barusan dipakai kemudian mengelapnya dan meletakkan kembali dirak piring yang ada didapur.
Sementara bu Tarni memandang terus kearah Sitah yang tampak begitu santai. Setelah meletakkan piring dan mengelap tangannya yang basah, wanita itu kembali kemeja makan dan duduk disamping ibunya.
"Kenapa kamu bisa pulang dengan Gading"
Bu Tarni mengulang kembali pertanyaannya dengan volume yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Sitah yang sudah duduk dijadapannya langsung menceritakan kalau dirinya telah mendapat restu dari seluruh keluarga Gilang, dia juga bercerita kalau Gading selama ini tidak pernah menghindarinya, melainkan hanya siasatnya agar mengetahui bagaimana pergaulannya, bagaimana taubatnya apakah sungguh-sungguh atau tidak.
__ADS_1
Bu Tarni hanya mencebikkan bibirnya.
"Sudah tahu anak bujangnya menyukai anak orang, bukannya disuruh melamar, takutnya terjadi sesuatu yang tak diinginkan, ini malah tidak direstui, memang tipe wanita seperti apa sih yang di inginkan oleh keluarga mereka.
Apa yang kaya raya, seharusnya Gading dan nenek Leni tuh sadar kalau dia hanya seorang pemulung dulunya. Lantaran pernah menolong Sekar hingga pak Gilang mengangkat derajatnya, coba kalau engga, mungkin sekarang dia sibuk mencari dan mengais-ngais sampah"
"Ibuuu....,bicaranya dijaga, setiap orang mempunyai masa lalu, yang berbeda. Ada yang hina ada yang pernah dihianati, tak sedikit dari mereka yang suka melakukan perbuatan maksiat"
Sitah menatap kesal sang ibu, dia heran kenapa sekarang ibunya lebih banyak bicara.
"Kita tidak perlu melihat masa lalu mereka, karena kita juga punya masa lalu yang terkadang tak kalah menyedihkan bahkan berlumur dosa"
Mendadak bu Tarni terdiam, dia teringat bagaimana masa lalunya yang sering ditiduri oleh banyak lelaki dari kalangan kaum penjahat. Bahkan dia sampai hamil dan bingung menentukan siapa bapak dari bayinya.
"Bukan begitu Sitah, ibu cuma belum terima, kamu menolak lamaran pak mister demi lelaki seperti Gading, coba kamu fikir, pak mister sudah tentu orangnya baik, belum apa-apa lihat apa yang sudah diberikan, soal harta Gading bukan lah apa-apa dibanding pak mister, kalau kamu nikah sama dia hidupmu bakal terjamin dan kamu juga akan jadi kebanggaan warga sini karena menikah dengan bule dan satu lagi Sitah keunggulan dari bule ibu kasih tahu. Tapi ini rahasia perempuan yah, jangan kamu bicara kemana,-mana, bule itu anunya besar, kamu bakal terpuaskan setiap malamnya"
Bola mata Sitah terbelalak mendengat ucapan ibunya, bagaimana mungkin ibunya punya fikiraan sejauh itu.
"Ibu ini ngapain juga bicarakan anunya pak Antonio. Ada-ada saja sih"
Sitah menahan tawa, merasa geli membayangkan ucapan bu Tarni.
"Lho ini penting Sitah untuk keharmonisan rumah tangga, banyak wanita berselingkuh, bahkan meminta cerai pada suaminya hanya karena masalah ranjang yang kurang memuaskan, punya suaminya kecil dan hanya bertahan sebentar.
"Ibu harap masalah seperti ini tidak terjadi dalam rumah tanggu nak"
Sitah tersenyum, dia merasa aneh dengan apa yang dikhawatirkan ibunya. Dia genggam tangan ibunya begiru erat.
"Itulah kenapa Sitah lebih memilih menikah dengan lelaki yang sitah cintai ketimbang menikahinya karena kekayaannya. Dengan adanya cinta, kita akan bisa memerima segala kekurangan dan kelebihannya. Dengan cinta kita akan selalu berusaha untuk menyenangkan hatinya, dan berusaha untuk tidak menyakitinya. Dengan cinta segala terasa indah, walau hidup tak ada harta.
__ADS_1
Ibu sering dengarkan saat seseorang disakiti oleh pasangan dan dia tetap bertahan dengan alasan sudah terlanjur cinta.
********