Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 115. Pasanganmu Pilihanmu


__ADS_3

Pak Hadi dan bu Asih terus melangkah mengikuti iring-iringan pengantin. Kini mereka telah sampai disebuah ruangan yang luas dan megah. Lampu-lampu yang indah bertebaran dimana-mana.


Sementara di depan sana sebuah pelaminan yang megah dimana Guntur dan Antinia duduk berdua menjadi raja dan ratu sehari. Didepan pelaminan sebuah taman yang terlihat asri berhiaskan bunga-bunga yang indah. Ada juga kolam kecil dengan air yang jernih dan terisi ikan hias yang berwarna-warni.


"Ya ampun pak!..... pesta pernikahan putra kita benar-benar megah luar biasa. Rasanya ibu kok seperti sedang berada dinegri dongeng saja pak," ujar bu Asih sambil mencubit lengannya memastikan apakah ini nyata ataukah hanya sekedar mimpi.


"Jangan nora bu, itu dia besan kita datang menghampiri kita. Ibu harus terlihat biasa saja bu, jangan sampai kelihatan katrok. Kasian besan kita, takutnya beliau malu dengan kelakuan kita," bisik pak Hadi seraya tersenyum, kepada pak Antoni yang digandeng mesra oleh istrinya.


"Ayo bu Asih, pak Hadi kita naik kepelaminan menemani kedua mempelai, bu Asih dan pak Hadi duduk dikursi yang terletak disebelah kanan pengantin, sedangkan saya dan suami saya disebelah kiri, tapi sebelumnya kita makan dulu yuk," ucap nyonya Antoni.


Bu Asih dan pak Hadi segera melangkah mengikuti kedua besannya. Mereka memilih menu nusantara yang jelas-jelas cocok dengan lidahnya.


Setelah makan kedua pasangan besan itu berjalan naik kepelaminan dan duduk disebelah kiri dan kanan pengantin baru bersama besannya.


Guntur dan Antinia segera turun dari singgasananya untuk menyalami orangtuanya.


Kedua mempelai berjalan beriringan menuju ketempat dimana kedua orang tuanya duduk.

__ADS_1


Bermula dengan mendatangi kursi yang di duduki oleh pak Antoni beserta nyonya. Kedua pengantinpun bersimpuh dan memohon ampun atas segala kesalahan yang pernah diperbuatnya. Antinia mengucapkan terimakasih karena telah dilahirkan dirawat dan disayang dengan sepenuh hati oleh kedua orang yang kini ada dihadapannya. Guntur juga mengucapkan terimakasih kepada pak Antoni dan bu Luna karena telah sudi menerima dia sebagai menantu. Pak Antoni dan istrinya secara bergantian menasehati kedua mempelai.


" Guntur menantuku, karena kamu sudah memilih Antinia putriku menjadi istrimu. Maka kamu sudah seharusnya mempertanggung jawabkan pilihanmu. Jika nanti istrimu tak menarik lagi karena kurangnya perawatan, itu semua terjadi karena dia sibuk mengurusmu dan anak-anakmu. Jika nanti milik istrimu tak sempit lagi karena telah hamil dan melahirkan, itu semua karena kamulah yang telah menghamilinya. Jika nanti istrimu menjadi lebih cerewet, maklumilah, biasanya itu terjadi karena dia lelah mengurus rumah tangga dan anak-anakmu hingga terkadang diapun lupa tidak merawat dirinya. Bersabarlah menghadapinya. jadi jangan pernah meninggalkan istrimu bagaimanapun keadaannya karena itu adalah tanggung jawabmu atas pilihanmu. Terkecuali dia menghianatimu maka kamu boleh menceraikannya"


Setelah meminta restu pada tuan Antoni dan nyonya Luna, Guntur dan Antinia berjalan beriringan menuju dimana pak Hadi dan bu Asih duduk. Guntur dan Antinia juga meminta maaf dan doa restu kepada pak Hadi dan istrinya. Sepasang suami istri yang sudah lama menikah itu juga memberi nasihat secara bergantian kepada kedua mempelai yang isinya kurang lebih sama seperti nasihat tuan dan nyonya Antoni.


Sepesang pengantin baru itupun kembali duduk pelaminan. Satu persatu para tamu undangan naik ke pelaminan untuk memberi doa restu dan ucapan selamat kepada kedua mempelai. Pesta terus berlalu hingga sore hari.


Sepasang pengantinpun diantar kekamarnya untuk beristirahat setelah acara selesai. Begitupun para saudara dan kerabat dekat, semuanya masuk kedalam kamar hotel yang telah sediakan tuan Antoni untuk beristirahat.


"Ayo kita turun, kita dansa biar tambah meriah suasananya," ajak Antinia pada suaminya.


"Anak desa kaya aku mana bisa berdansa. Ingat nasihat kedua orang tua kita agar kita bertanggung jawab pada pilihan kita. Jadi kamu harus terima aku apa adanya walaupun aku tidak bisa berdansa seperti teman-temanmu," sahut Guntur.


"Iya....iya deh, aku pasti akan terima kamu apa adanya. Tapi ada baiknya kamu tidak bisa dansa. Jadi kita tidak kelelahan karena kita harus menyiapkan tenaga kita untuk dansa diranjang nanti," ujar Antinia seraya tersenyum nakal pada suaminya.


Bu Asih dan pak Hadi hanya duduk santai menonton dansa sambil menikmati hidangan. Lain pula dengan tuan dan nyonya Antoni yang dari tadi berdansa ria dengan begitu mesra.

__ADS_1


"Akhirnya anak kita ada yang menikah ya dad, sebentar lagi kita akan punya cucu dan aku dipanggil oma. Tapi aku kok jadi takut tua ya dad, aku takut suatu saat tak bisa melayanimu diranjang, kalau itu terjadi apa dady akan menikah lagi?," ujar nyonya Luna sedih.


Tuan Antoni mengecup puncak kepala istrinya sambil terus berdansa.


"Mana mungkin aku akan menikah lagi, kamu fikir gampang ganti istri, aku bukan lelaki seperti itu. Bagiku istriku adalah pasangan hidupku. Yang namanya hidup berpasangan ya berdua, kalau bertiga dan berempat itu namanya berkelompok dan aku ingin kita hidup berpasangan.


Dengar ya sayang pasanganku adalah pilihanku, jadi bagaimanapun keadaannya aku akan selalu setia karena itu memang sebuah tanggung jawabku pada pilihan hidupku. Dulu disaat mommy muda masih cantik, masih bohay, aku begitu mendambakan mommy bahkan sampai hari ini. Nanti jika mommy sudah tua dan tak cantik lagi bahkan tak mampu lagi melayaniku di ranjang, aku akan tetap sayang mommy. Kalau aku menikah lagi saat mommy sudah tua dan tak mampu melayaniku menurutku, aku zalim pada mommy, aku tak bisa menyakiti mommy, jika melihat mommy menderita rasanya aku lebih menderita mom.


Jika mommy sudah tak mampu melayaniku diranjang, mungkin itu waktunya aku mendekatkan diri pada Allah. Aku akan menghabiskan waktu untuk lebih banyak beribadah, semoga dengan itu syahwatku bisa dikendalikan. Mommy juga harus melawan rasa malas yang timbul di diri mommy agar bersemangat melayaniku diranjang. Kita sama-sama berjuang untuk saling membahagiakan," ujar tuan Antoni.


"Terimakasih ya dad, aku merasa beruntung mempunyai suami seperti dady. I love you dady"


Nyonya luna memeluk suaminya, bulir bening membasahi kedua bola matanya. Hari sudah larut malam, pesta dansa pun usai, semua tamu undangan pulang. Sementara anggota keluarga dari kedua mempelai masuk kedalam kamarnya masing-masing.


Begitupun bu Asih yang begitu takjub dengan semua interior, perabot dan suasana kamarnya yang terasa begitu nyaman. Dia membaringkan Langit yang tertidur pulas disebuah ranjang bayi yang telah disediakan pihak hotel. Setelah itu diapun membersihkan diri dikamar mandi secara bergantian dikamar mandi yang ada dikamar tersebut. Setelahnya pasangan suami istri yang tak muda lagi itu membaringkan tubuhnya dan terlelap setelah melakukan ritual suami istri.


*******

__ADS_1


__ADS_2