Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 88. Perjuangan Sitah


__ADS_3

Seketika, Sitah shock mendengar kabar dari Gading, hatinya berdenyut nyeri. Dia sudah mengira nenek Leni akan menentang hubungannya dengan cucunya. Namun dia tidak menyangka kalau Gading begitu saja menyerah dan berhenti memperjuangkan cinta mereka, disaat cintanya mulai mekar.


"Telepon dari mana Sitah"


Bu Tarni yang melintasi kamar Sitah saat pintunya terbuka, dia terkejut melihat anak Gadisnya terisak. Sitahpun langsung menceritakan apa yang dikatakan Gading barusan.


"Terus rencanamu bagaimana, apakah kamu akan mengikuti jejak Gading dengan pasrah begitu saja"


Bu Tarni membelai pucuk kepala putrinya. Kemudian memeluknya untuk memberinya kekuatan.


"Sitah mau sholat dulu bu, Sitah ingin berdoa dan memohon petunjuk kepada Allah, jalan yang mana yang mesti Sitah tempuh," jawab Sitah.


"Kalau menurut ibu sih sebaiknya kamu temui dulu nenek Leni, mintalah restunya secara baik-baik. Tapi sebelumnya shalat dan berdoalah dulu agar niat baikmu diijabah Allah"


Sitah berdiri menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Kemudian melaksanakan shalat dan berdoa dengan khusuk.


"Sitah berangkat dulu kerumah nenek Leni bu"


"Hati-hati nak, ingat apapun hasilnya nanti kamu harus bisa menerimanya dengan ikhlas, yang penting kamu sudah memperjuangkan perasaanmu. Nenek Leni dan yang lainnya boleh menolakmu, tapi kalau nak Gading memang jodohmu maka Allah akan satukan kalian dengan cara yang tak pernah kita duga"


Sitah berangkat kerumah nenek Leni dengan mengendarai kendaraan metiknya. Hatinya merasa bersyukur karena ibunya kini telah banyak berubah. Diapun tidak mempermasalahkan masa lalu bu Tarni, baginya yang terpenting sekarang bu Tarni telah bermetamorfosis dari perempuan murahan, wanita penghibur yang mempunyai sifat iri dan dengki serta selalu berfikir untuk menguasai harta milik orang lain dengan memberikan tubuhnya menjadi wanita yang bijaksana, perhatian, penuh cinta dan kasih.


Beberapa saat kemudian Sitah berhenti didepan rumah nenek Leni. Gading yang sedang berada dikamarnya mengintip sekedar ingin tahu siapa yang datang bertamu kerumahnya. Dia sangat panik saat tahu Sitah datang menghampirinya.


Dengan terburu-buru Gading keluar dari kamarnya. Namun dia lihat Sitah menghampiri nenek Leni yang sedang menyiram bunga dihalaman samping.

__ADS_1


"Assalamuallaikum nek"


Sitah mendekati nenek Leni dan langsung mengulurkan tangan untuk menyalami nenek renta tersebut. Dengan terpaksa nenek dari Gading pun mengulurkan tangannya. Sitah mencium punggung tangannya dengan takzim.


"Aku bantu nyiram kembang ya nek"


Tanpa menunggu jawaban, Sitah mengambil gembor yang ada ditangan nenek Leni. Dia menyiramkan air didalam gembor ketanaman nenek Leni yang tumbuh subur dihalamam samping. Sedangkan nenek Leni hanya memandang gerak-gerik Sitah dengan pandangan menyelidik.


Terlihat jelas penampilan Sitah yang dulu kekurangan bahan sekarang justru anggun dan tertutup Gamis bermotif garis-garis berwarna abu-abu dan kerudung warna senada.


"Kamu sengaja datang kesini untuk meminta restuku agar bisa menikah dengan Gading kan Sitah, sebaiknya kamu jangan berharap agar nenek akan merestui kalian.


Nenek Leni berbicara dengan ketus menahan marah, dengan kedatangan Sitah dan bersikap sok akrab.


"Siapa bilang Sitah akan meminta restu nenek, ya nggak mungkinlah karena Sitah tahu nenek tidak bakalan merestui kami. Sitah sadar kok siapa Sitah, seorang mantan pelakor yang telah dinodai oleh beberapa pria.


Dengan nenek menolak Sitah sebagai calon pendamping Gading semoga membuat Sitah semakin sadar, bahwa sudah begitu banyak keburukan yang telah Sitah lakukan. Semoga Sitah semakin sadar diri dan akan selalu menerima dengan ikhlas segala bentuk penolakkan nenek.


Sitah selalu berdoa semoga Gading mendapatkan jodoh wanita solihah, wanita terbaik seperti impian nenek"


Sitah berhenti bicara dan memandang nenek Leni seraya tersenyum. Nenek Leni benar-benar tidak menyangka dengan pemaparan Sitah yang panjang lebar diluar ekspektasinya. Dia tidak menyangka kalau Sitah begitu ikhlas menerima keputusannya.


"kenapa kamu tidak memohon restu pada nenek agar bisa bersama Gading, apa cuma segitu kadar cintamu, apa kamu sudah menyerah tidak ingin memperjuangkan perasaanmu?"


Nada bicara nenek Leni melemah, kini dia tak ketus seperti tadi. Sementara Gading yang mengintip dari balik jendela merasa heran dengan sikap Sitah. Dia fikir Sitah akan memohon-mohon restu pada neneknya. Bahkan Gading sempat khawatir jika neneknya berbuat kasar atau mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati Sitah.

__ADS_1


"Percuma kan nek, kita meminta-minta sesuatu kepada orang yang Sitah sudah tahu orang tersebut tidak akan memberikannya. Lebih baik Sitah meminta langsung kepada Tuhan yang maha mengatur segalanya. Karena Tuhan lebih tahu yang terbaik buat kita, biarpun nenek merestui hubungan kami, kalau Tuhan tidak menghendaki maka hubungan kita akan putus entah apa sebabnya. Tapi kalau Tuhan menghendaki kami berjodoh maka Tuhan akan pertemukan kita dengan cara yang tak disangka-sangka.


Nenek Leni terdiam menunduk sikap garangnya hilang seketika. Begitupun Gading yang ada dibalik jendela, dia semakin terkagum-kagum pada Sitah.


"Ya sudah kalau memang begitu, nenek tidak melarang kalian berhubungan tapi nenek tidak mau kalian menikah cepat. Nenek lebih suka kalian berteman dulu, saling mengenali dan memahami watak dan karakter kalian masing-masing"


Akhirnya nenek Leni mencoba bersikap bijaksana. Memberi kesempatan Sitah agar bertaubat dan menjadi orang yang baik, bermanfaat bagi kehidupan orang banyak. Gading merasa lega mendengar pembicaraan nenek dan kekasihnya.


"Terimakasih nek, atas pengertian nenek, Sitah pamit dulu ya nek"


Sitah mencium tangan nenek Leni dan berlalu pergi.


"Sitaaah...gembornya jangan dibawa"


Sitah berbalik, dia meletakkan gembor didekat nenek Leni dan meminta maaf kemudian dia pergi meninggalkan nenek Leni yang tertawa tanpa suara, begitupun Gading yang ada dibalik jendela.


Keesokkan harinya Sitah kembali diantar bu Tarni sampai terminal.


"Hati-hati ya nak, jaga dirimu baik-baik"


Sitah menaiki bis menuju kota, bu Tarni menatap kepergian putrinya dengan mata berkaca-kaca. Sementara di dalam bis ditempat duduk paling belakang Gading yang memakai ikat kepala dan kacamata hitam dengan kumis palsu terus mengawasi Sitah. Ternyata Gading tidak membiarkan Sitah pulang sendirian. Diam-diam dia juga berangkat kekota dihari yang sama dengan Sitah, dimana dihari itu mereka telah berjanji akan pulang bersama.


Sampai dikontrakan, Sitah terkejut karena kontrakan kosong disamping kontrakannya telah terisi, padahal saat dia berangkat pulang, kontrakan itu masih kosong. Sitah merasa senang karena sekarang mempunyai tetangga baru sehingga bisa menjadi teman ngobrol. Walaupun Sitah belum tahu tetangga barunya itu laki-laki atau perempuan. Baginya tak masalah, toh hanya berteman dan sebatas ngobrol dan tidak lebih.


pagi-pagi sekali Sitah masuk kekantor, dia mengarahkan pandanganya kekontrakan yang baru seminggu yang lalu berpenghuni. Namun sampai hari ke tujuh, Sitah tak jua bertemu dengan pemilik kontrakan. Dikantor juga sudah seminggu dia tak bertemu Gading. Ingin rasanya dia bertanya pada teman-teman yang lain, namun entah mengapa terasa berat rasanya. Karena dia sadar kalau dia bukanlah siapa-siapanya Gading.

__ADS_1


*******


__ADS_2