Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 113. Lamaran


__ADS_3

Bu Tarni terlebih dahulu.mengintip dengan menyingkap horden untuk mengetahui siapa yang datang." Coba langsung dibuka aja bu, tidak usah di intip dulu, seperti orang banyak utang saja ibu ini.


kreeet!


Pintu dibuka bu Tarni dan Sitah kaget, Nenek Leni, Gilang, Sekar dan Gading telah ada didepan pintu. Sedangkan dihalaman sebuah mobil mewah terparkir, semua warga tahu kalau itu adalah mobil milik Gilang, karena hanya Gilanglah pemilik mobil mewah di desa ini.


Bu Tarni dan Sitah menatap barang bawaan yang dikemas cantik dan dibawa oleh semua yang berkunjung kerumahnya. Nenek Leni membawa kotak berisi sepatu, sendal, kotak make up dan sebuah kotak perhiasan. Sekar membawa kota berisi pakaian bermerk, seperangkat alat Shalat, pakaian dalam wanita, jilbab dan entah apalagi karena dikemas dalam sebuah kotak, jadi kurang begitu jelas. Gilang membawa sebuah kotak yang berisi buah-buahan dan makanan. Sedangkan Gading membawa sebuah kotak yang dibungkus kado, tentu saja isinya tak bisa dilihat dari luar.


"Silakan masuk nek, pak Gilang dan bu Sekar, ayo silakan duduk," ujar Sitah pada tamunya. Sejenak netranya melirik kearah Gading seraya mengulum senyum. Rona merah nampak jelas diwajahnya.


Setelah meletakkan semua barang-barang yang dibawanya dilantai, rombongan Gading dan keluarganya lalu duduk disofa sederhana milik bu Tarni.


"Mimpi apa ya saya malam tadi, kok kedatangan tamu orang-orang penting di desa ini. Sitah kamu tolong buatkan minum ya nak," suruh bu Tarni kepada putrinya. Sitah segera masuk kedapur merebus air. Setelah beberapa saat dia keluar dengan beberapa gelas minuman lengkap dengan cemilannya.


"Silakan diminum Nek, pak Gilang dan bu Sekar," ujar Sitah.


"Kenapa cuma kami yang kamu suruh minum Sitah. Gading tidak kamu tawari minum," ucap Gilang.


"Iya, padahal kami kesini atas keinginan Gading lho, tapi kenapa dari tadi aku lihat gading terkesan diabaikan," sahut Sekar.


"Kata siapa, justru dia yang dari tadi nenek lihat dapat servis paling mantap. Hanya Gadinglah yang mendapat senyuman dan lirikan dari Sitah secara diam-diam," nenek Leni ikut juga menggoda Gading dan Sitah.


Sitah semakin menunduk, hatinya berdebar. Tak menyangka kini keluarga Gading mau bencanda dengannya. Mereka terlihat santai seperti kepada keluarga sendiri. Gilang yang dulu begitu membenci Sitahpun kini terlihat santai, sepertinya dia telah ikhlas memaafkan segala kesalahan Sitah dimasa lalu.

__ADS_1


"Ini bu Tarni bagaimana kabarnya bu," tanya nenek Leni.


Bu Tarni tersenyum, hatinya merasa senang melihat kini Gilang dan keluarganya bersikap ramah padanya.


Saya keadaannya baik nek, kalau boleh tahu ada perlu apa ya?, nenek dan keluarga pak Gilang bertamu ketempat saya, sambil diminum, itu juga cemilannya dimakan, adanya cuma itu, soalnya saya tidak tahu kalau akan ada tamu orang penting datang kerumah saya," ucap bu Tarni gugup.


"Ah kamu bisa aja Tarni, memangnya kami ini sepenting apa, yang orang penting itu Gilang, karena ratusan penduduk desa hidupnya bergantung kepadanya he..he..," nenek Leni terkekeh.


"Begini lho Tarni, maksud kedatangan kami kesini ya mau itu....gimana ya aku kok jadi grogi, Gilang kamu ajalah yang ngomong aku gugup," nenek Leni menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara Gilang tersenyum dan menarik nafas panjang, Gading melirik neneknya yang terlihat salah tingkah, sementara Sekar yang ada disebelah nenek Leni merangkulnya agar tidak gugup.


"Begini bu Tarni, sebelumnya saya minta maaf, karena tidak memberitahu bu Tarni terlebih dahulu, memang ini dadakan bu, karena Gading yang terus mendesak. Kedatangan kami kesini bermaksud melamar Sitah putri ibu semata wayang, untuk menjadi istri Gading adik angkat saya. Apa ibu berkenan menerima Gading menjadi menantu ibu, kepada Sitah, apa Sitah bersedia menjadi pendamping Gading dalam suka maupun duka, sehat atau pun sakit, miskin ataupun kaya. Bagaimana bu, Sitah, apakah lamaran kami diterima?"


Nenek Leni memandang Gilang dan tersenyum.


"Sitah bersedia nek, eh....pak Gilang. Ayo bu...cepat bilang bersedia, jangan ditolak bu, mumpung Sitah ada yang mau"


Sitah menggoyang-goyang bahu ibunya, menyuruh agar ibunya juga menerima lamaran Gading kekasihnya.


"I...iya saya terima lamaran Gading untuk menjadi suami anak saya Sitah," ucap bu Tarni dengan wajah merah padam karena malu dengan sikap putrinya, yang memaksanya untuk setuju.


"Kenapa kita langsung terima gitu aja Sitah, apa tidak dikira murahan. Seharusnya kita pura-pura jual mahal dulu, biar tidak terkesan murahan," bisik bu Tarni kepada Sitah.


Nenek Leni yang dari tadi mendengarkan suara bu Tarni yang berbisik pada putrinya pun berkomentar.

__ADS_1


"Dengan jawaban Sitah yang spontan, saya justru senang bu Tarni, tidak ada sedikitpun dihati kami menganggap sikap Sitah murahan. Saya justru berfikir kalau Sitah sudah sangat siap menjadi istri Gading. Seperti halnya Gading yang sepertinya juga sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi," sahut nenek Leni yang kembali terkekeh.


"Sudah tidak tahan kaya mau pipis aja nek. Gading itu sudah pengin nikah. Ingin mempunyai keluarga yang bahagia nek," terang Gading.


Lamaran pun di terima, selanjutnya mereka membicarakan tentang hari pernikahan yang akan dilaksanakan sebulan kemudian di desa Cipaganti dengan acara yang sederhana saja. Gading dan Sitah sadar diri, mereka bukan orang kaya yang mempunyai rekan bisnis dimana-mana Itulah sebabnya mereka hanya menggelar pesta sederhana, yang penting semua warga Cipaganti mengetahui kalau mereka telah resmi menjadi suami istri.


Gading dan Sitah sama sekali tak perduli bagaimana komentar warga. Mereka fokus menata bahagia demi masa depan dan keturunan mereka.


Setelah acara lamaran selesai, Gading, Gilang, Sekar dan nenek Leni pun pamit pulang.


"Tidak menyangka akhirnya kita berbesan ya bu Tarni, semoga kita menjadi besan yang selalu rukun, damai dan sentosa. Kamu jangan ikut campur dalam urusan rumah tangga Sitah dan Gading ya Tarni, aku janji tidak akan mengurusi rumah tangga mereka juga. Jangan lupa ingatkabn aku kalau aku sampai lupa," ujar nenek Leni memberi nasihat pada bu Tarni.


Mendengar nasihat nenek Leni saat berpamitan pulang, bu Tarni hanya menganggukan kepalanya beberapa kali, lidahnya terasa kelu tak tahu harus berkata apa.


Semua rombongan satu persatu masuk kedalam mobil Gilang. Mobilpun perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah bu Tarni.


"Bu Tarni, ada apa itu kok keluarga kolong merat datang kerumah bu Tarni, apa Sitah dilaporkan kepolisi lagi"


Tiga orang ibu-ibu yang tinggalnya disekitar rumah bu Tarni tiba-tiba datang menghampiri saat mereka hendak menutup pintu. Rupanya mereka diam-diam memperhatikan rumah bu Tarni.


"Bukan kolong merat bu, tapi konglomerat," sahut ibu yang lain berusaha membenarkan dan dibalas anggukan oleh ibu yang bertanya pada bu Tarni Tadi.


Salah satu dari ibu-ibu itu langsung menyelonong masuk. Dia terkejut melihat banyak barang berharga tergeletak dilantai ruang tamu rumah bu Tarni.

__ADS_1


********


__ADS_2