Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 42. Suasana Hati Bunda


__ADS_3

Sekitar satu jam kemudian mereka telah sampai dikediaman orang tua Enjela. Rombongan yang terdiri dari beberapa mobil memasuki halaman rumah orang tua Anjela, selanjutya berhenti dan parkir disitu. Semua orang yang ikut serta dalam rombongan teraebut pun keluar sembari menenteng barang-barang seserahan.


Beberapa kerabat dan orang tua Anjela menyambut calon besannya dengan senyum ramah dan aura bahagia. Mereka memasuki ruang tamu, saling memperkenalkan diri satu sama lain.


"Jadi ini kedua orang tuamu Deni, ternyata mereka masih muda dan sehat"


Sapa orang tua Anjela pada besannya untuk membuat suasana lebih santai, saat orang tua Deni memperkenalkan dirinya. Denipun membenarkan ucapan calon mertuanya. Dia juga memperkenalkan Gilang, pemilik perusahaan perkebunan porang dan istrinya, pak Hadi dan istrinya yang merupakan mertua Gilang. Dan yang terakhir Deni memperkenalkan bunda Reni orang tua Gilang, wanita berumur yang masih tampak cantik mempesona.


"Bunda sudah mau punya cucu tapi wajahnya seperti baru berumur tiga puluh tahun saja, sudah lama bunda hidup sendiri, apa tidak kepingin nikah lagi"


Mendapat pertanyaan yang sama dalam rentang waktu yang tidak begitu lama sungguh mengusik hatinya. Bibirnya mungkin hanya menyunggingkan seulas senyum untuk menanggapi pertanyaan itu. Namun jauh di lubuk hati yang paling dalam dia lantumkan sederet doa, meminta pada sang pemilik jagat raya agar sudi kiranya mempertemukan dengan jodoh lelaki yang pantas dan menerimanya apa adanya.


"Tuh kan bunda orang bilang, kalau ada yang sering mempertanyakan tentang seorang pendamping itu artinya jodohnya sudah dekat"


Bu Asih menimpali hingga membuat debaran dihati bunda Reni semakin meriap-riap memenuhi rongga dadanya.


Mereka seketika berhenti bicara, saat seorang pembawa acara memulai membuka acara lamaran sekaligus seserahan. Acara berlangsung secara khidmad, lancar tanpa hambatan. Kini Enjela telah resmi dilamar oleh Deni dan sekitar sebulan lagi pernikahan mereka akan dilaksanakan.


Orang tua Enjela adalah seorang tokoh terpandang dipropinsi tersebut. Sesuatu hal yang lumrah andai pesta pernikahan mereka dirayakan secara besar-besaran, mengingat Enjela adalah anak semata wayang dan pewaris tunggal seluruh harta kekayaan orang tuanya.


Namun berbeda dengan orang pada umumnya. Orang tua Enjela justru menginginkan pesta yang sederhana. Beliau lebih suka menggunakan uangnya untuk disumbangkan dipanti asuhan atau diberikan kepada orang yang berhak menerima.

__ADS_1


Tentu saja orang tua Deni yang berasal dari sebuah keluarga sederhana setuju dan merasa bersyukur, karena pesta pernikahan Deni tidak harus menjual sebagian aset yang mereka miliki seperti yang mereka rencanakan sebelumnya. Semua yang hadir disitu pun merasa kagum dengan cara berfikir papa Enjela yang tidak tertarik dengan pesta dan kemewahan.


Setelah semua acara selesai, para rombongan dari pihak Deni pun berpamitan pulang. Satu persatu mereka saling bersalaman. Deni menyempatkan diri menghampiri Enjela yang menggunakam kebaya berwarna marun. Gadis itu terlihat mempesona menurut Deni.


Tinggal beberapa langkah lagi dia akan sampai dihadapan Enjela, bu Asih langsung menarik tangannya.


"Tahan dulu kalian belum halal, sabar ya, akan tiba waktunya dimans kalian akan selalu bersama dan takkan terpisahkan"


Bu Asih berbicara sembari terus menggandeng tangan Deni melangkah menuju ke mobil. Semua yang menyaksikan pun tertawa riuh. Enjela pun tertunduk malu karena aksinya ketangkap basah.


Malam ini bunda Reni benar-benar tak bisa tidur, komentar beberapa orang yang menyarankan untuk mengakhiri masa jandanya sungguh mengganjal dihati. Baru kali ini batinnya merasa kesepian menginginkan tempat untuk berkeluh kesah.


Setiap kali menyaksikan Sekar bergelayut manja dipundak Gilang, ada rasa ingin melakukan hal yang sama pada lelaki yang dicintai. Masih mungkinkan hatinya terbuka untuk menerima cinta lelaki selain cinta almarhum suaminya. Kalau memang menikah adalah jalan terbaik, ya Allah dekatkan padaku lelaki baik, lelaki yang mau menerimaku apa adanya, gumamnya dalam hati.


"Kak.....kakak lagi ngerjain apa, dari tadi kakak kerja terus, kenapa sih hanya laptop yang selalu kakak sentuh setiap hari. Kenapa istrimu yang katanya cintamu setengah mati, dari tadi kamu cuekin aja"


Waktu sudah menunjukan pukul dua belas malam, tapi sepasang suami istri dikamar sebelah masih terjaga. Disebelah kamar bunda Reni adalah ruang kerja Gilang. Terkadang Gilang memang selalu membawa pekerjaannya pulang dan mengerjakan diruangan kerjanya. Demi agar bisa pulang tepat waktu agar waktunya dengan istrinya tidak berkurang karena harus lembur dikantor.


"Ini sedang menyusun rencana pembukaan lahan untuk perluasan perkebunan porang dan juga rencana perbaikan jalan-jalan desa yang mengarah ke perkebunan. Agar nantinya pengangkutan hasil porang bisa lebih mudah"


Setelah Gilang menjelaskan mengenai pekerjaannya Suasana sesaat hening suara langkah kaki masuk kedalam kamar.

__ADS_1


"Tapi aku dikamar sendirian tidak bisa tidur kak, anak kita bergerak terus, sepertinya dia minta dibelai oleh papanya"


"Sini tidur dipahaku biar aku belai sembari memeriksa laporan dari beberapa karyawan lapangan"


Suara Gilang terdengar diiringi suara kecupan dan dan ******* Sekar dan sesekali tawa kecil mereka. Mendengar kegiatan disebelah kamarnya, bunda Reni pun tersenyum-senyum sendiri. Tak sengaja fikirannya menerawang jauh, andaikan dia memiliki pasangan hidup yang menemani hari tuanya, mungkin dia akan menghabiskan sisa usianya dengan bahagia, berkah dan manfaat bagi orang disekitarnya.


Waktu terus berlalu, sampai akhirnya bundanya Gilang pun terlelap dalam senyum. Pagi-pagi sekali Gilang mengetuk pintu kamarnya. Dengan langkah yang berat bunda Reni pun membukakan pintu. Terlihatlah sang putra dengan pakaian rapi siap untuk berangkat kekantor.


"Bunda aku mau kekantor pagi-pagi, soalnya ada beberapa pekerjaan yang harus Gilang selesaikan. Hari ini Gilang rencananya pulang agak awal dari biasanya. Gilang dan Deni berencana menghadiri acara seratus hari meninggalnya istri pak Soko. Beliau adalah orang yang telah membantu mempertemukan Gilang dan Sekar. Tolong bunda jelaskan pada Sekar dan temani dia jika dia bangun nanti," ujar Gilang seraya mencium punggung tangan bundanya dan memeluknya.


Bunda Reni pun menutup pintu kamarnya kembali dan melanjutkan tidur.


Saat bangun dan melangkah ke meja makan, ternyata Sekar sedang duduk santai sambil meminum secangkir susu hangat ditemani beberapa roti panggang dengan dilayani oleh asisten.


"Pagi bunda, apa bunda ada lihat kak Gilang"


"Suamimu pagi-pagi sekali pergi ke kantor, katanya ada tugas kantor yang harus diselesaikan. Hari ini dia berencana pulang cepat karena akan menghadiri acara seratus hari istri sahabatnya yang bernama pak Soko, kamu kenal dia kan," ujar bunda Reni seraya duduk disamping Sekar dan meminta asisten untuk membuatkan secangkir teh hangat.


Sekar hanya manggut-manggut, dia ingat pak Soko adalah orang yang telah berjasa dalam pertemuan dia dan Gilang waktu itu. Tapi yang Sekar tahu istrinya pak Soko dalam keadaan Sehat dan sedang hamil.


"Umur memang tidak bisa kira-kira. Semoga mendiang istri pak Soko diterima semua amal kebaikkannya," gumamnya.

__ADS_1


*********


__ADS_2