
Semua keluarga, kerabat memberikan ucapan selamat kepada Gading dan sitah yang tak henti-hentinya menyunggingkan senyum. Satu persatu tamu yang diundang pun berdatangan untuk memberikan doa restu kepada sepasang pengantin agar selalu bahagia sakinah, mawaddah dan warrohmah.
Sesekali terlihat nenek Leni menyeka air matanya. Dia tidak menyangka hari tuanya begitu indah, tak lagi kekurangan makanan, tak lagi mengais sampah. Gading cucunya yang selalu menemani dalam setiap suka dan dukanya kini telah bahagia. Mempunyai pendidikan tinggi dan pekerjakan yang patut dibanggakan. Berkat anak angkat dan suaminya yang memberikan kehidupan yang sangat layak. Ternyata semua ini adalah buah dari kebaikan yang dia perbuat.
"Kenapa nenek jadi menangis, bukankah ini adalah hari bahagia nenek," seorang warga Cipaganti yang ingin bersalaman menyapa nenek Leni.
"ini Tangis Bahagia nak aku bahagia karena hari ini cucuku tersayangku telah menikah. Dialah yang menemaniku selama ini dalam suka maupun duka. Waktu terus berlalu kini acara resepsi pernikahan Gading dan Sitah telah Usai.
Semua warga merapikan tenda, pelaminan dan mengembalikan semua peralatan yang di pakai dalam acara tersebut ke balai desa Cipaganti. Sisa makanan yang tidak habis dibagikan kepada warga sekitar.
Alhamdulliah ya Tarni semua acara berjalan dengan lancar. Sekarang kami pamit pulang untuk membawa Sitah karena dia kan sudah menjadi istri Gading," ujar nenek Leni yang sedang istirahat santai bersama keluarga dan kerabat termasuk bu Tarni.
"Iya nek saya ikhlas kok kalau Sitah mengikuti suaminya. Memang kan sudah kewajiban dia sebagai istri harus ikut dan patuh terhadap suaminya.
"Sitah pamit bu, Sitah kan engga pergi jauh juga. Nanti kalau Sitah pulang kesini pasti Sitah selalu mampir untuk menjenguk ibu," ujar Sitah.
"Bagaimana kalau ibu ikut saja ke kota dan tinggal bersama kami. Daripada ibu hidup sendiri dikampung ini," sahut Gading.
Mendengar ucapan Gading sebenarnya bu Tarni tertarik untuk ikut mereka. Namun ada rasa tidak nyaman dengan keluarga Gading takut dikira seorang ibu yang parasit.
"Nanti sajalah kalau kalian sudah punya cucu. Jadi aku bisa nemenin cucu setiap hari," sahut bu Tarni.
"Kamu tidak perlu sungkan Tarni, kami keluarga Gading ikhlas kok kamu tinggal dengan mereka, asalkan jangan ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka"
Nenek Leni menepuk bahu bu Tarni dengan lembut seraya tersenyum, dan dibalas anggukan oleh bu Tarni, dia mengerti maksud nenek Leni.
Bu Tarni kekeh ingin ikut tinggal dengan Sitah dan menantunya jika nanti mereka telah memiliki momongan.
__ADS_1
Setelah pamitan dengan bu Tarni, keluarga Gading berangkat meninggalkan rumah bu Tarni menuju kekediamannya dengan membawa serta Sitah.
"Selamat datang dirumah kami Sitah, ayo Gading ajak istrimu kekamar untuk mandi dan istirahat sejenak, setelah itu aku tunggu kalian dimeja makan, tadi aku sudah meminta tolong kepada ARTnya Sekar untuk memasak demi menyambut menantu dirumah ini," titah nenek Leni.
Gading segera menggandeng istrinya masuk kekamarnya sambil membawa sebuah koper berisi baju-baju Sitah.
"Ini kamar kita, maaf ya mungkin kamu kurang cocok dengan penataannya, tapi kamu bisa menata ulang sesuai seleramu kok. Kalau aku sih menurut aja dengan selera istriku"
Gading tersenyum, meletakan kopernya dan memeluk Sitah dari belakang. Kemarin aku sudah belikan kamu lemari baju, kamu bisa masukan bajumu dilemari yang disebelah sana, tapi nanti aja, sekarang kita mandi, mau mandinya gantian atau mandi bareng biar cepet," ledek Gading.
Sitah hanya tersenyum dan langsung mengambil handuk lalu masuk kekamar mandi.
"Aku duluan aja, kita gantian mandinya," ujar Sitah.
Gading dengan sabar menunggu istrinya mandi. Mereka pun bergantian mandi. Setelahnya istirahat sejenak dan dilanjutkan makan bersama nenek Leni.
Nenek Leni meninggalkan meja makan setelah beberapa jam memberikan nasihat kepada pengantin baru, hingga sepasang pengantin itu beberapa kali menguap.
"Nenek memang seperti itu kalau sudah bicara suka lupa waktu. Bahkan dia sampai lupa kalau cucunya akan memulai ibadahnya sebagai pasangan suami istri"
Ucapan Gading membuat Sitah merona, dia menatap suaminya, ada rasa bersalah karena tidak dapat memberikan yang terbaik.
"Kamu kenapa tiba-tiba murung sayang, ingat sesuatu?"
"Aku cuma lagi sedih, seharusnya dimalam pertama ini, seorang istri memberikan mahkotanya yang sangat berharga untuk suaminya yang akan mendampingiku dan menjagaku seumur hidupku, tapi aku malah tidak mampu menjaga mahkota itu untuk aku berikan kepadamu," ucap Sitah sedih.
"Sudahlah, tidak ada gunanya menyesal, yang terpenting aku sudah menerimamu apa adanya. Aku tidak pernah menyesal menikahimu. Bagiku perawan atau tidak itu sama saja, toh aku tidak akan bisa membedakannya, karena aku hanya akan melakukannnya sama kamu, istriku yang halal bagiku"
__ADS_1
Gading memeluk Sitah dan menciumnya. Tanpa aba-aba dia langsung memulai sesuatu yang biasanya dilakukan oleh sepasang suami istri. Kedua insan berbeda jenis kelamin ini merasa bahagia menikmati apa yang selama ini mereka nantikan. Lelahnya berjuang untuk menyatukan cinta mereka kini berbuah nikmat.
Gading dan Sitah kini berpelukan sambil berucap syukur atas apa yang sudah Tuhan takdirkan setelah mengarungi lautan cinta yang begitu nikmat.
"Maaf yah kalau pelayananku kurang memuaskan, soalnya aku kan belum berpengalaman walaupun sudah tidak suci lagi"
Setetes bulir bening mengalir dipipi Sitah. Dengan cepat Gading langsung menghapusnya dan mempererat pelukannya.
"Kamu salah, saat ini aku sangat bahagia, kamu begitu pandai memuaskanku. Milikmu terasa enak kok, aku suka. Nanti kita ulangi lagi ya, tapi kita istirahat dulu. Rasanya aku lelah sekali"
Mereka terlelap dengan saling memeluk. Hingga pagi tiba.
Hari ini Sitah dan Gading berencana kembali ke kota setelah seminggu menghabiskan cuti mereka. Sebelum berangkat, Gading dan Sitah terlebih dahulu mengunjungi rumah bu Tarni.
"Bagaimana bu, apa sebaiknya ibu ikut kami saja, rasanya Sitah tak tega meninggalkan ibu sendirian disini karena setelah ini mungkin Sitah akan jarang pulang"
Mendengar Sitah akan jarang pulang, hati bu Tarni bimbang, tak sanggup rasanya jika dia terlalu lama berpisah dengan putri satu-satunya.
"Ia sebaiknya ibu ikut saja, ibu tidak sanggup berpisah lama denganmu Sitah, ibu janji tidak akan ikut campur urusan rumah tanggamu, pokoknya ibu janji," ucap bu Tarni. Sitahpun langsung membantu bu Tarni untuk menyiapkan segala keperluan untuk pindah kekota.
"Ini rumah kami bu, kemarin acara resepsi pernikahan kami dibuat sederhana, agar kami bisa membeli rumah ini dan mobil yang tadi kita pakai"
Bu Tarni memindai kesegala sudut ruangan. Rumah yang besar menurutnya. Kini dia merasa kagum dengan cara berfikir anak dan menantunya dengan mengadakan pesta pernikahan yang sederhana. Ternyata mereka sekarang menikmati rumah yang nyaman dengan beberapa kamar tidur dan kamar mandi didalamnya. Bu Tarni melihat kebelakang, ruang makan yang indah dengan dapur yang mewah menurutnya. Kini bu Tarni sangat bersyukur dengan semua rizeki yang Tuhan limpahkan kepadanya dan putrinya.
TAMAT
Terimakasih telah membaca karya saya. Silakan baca karya terbaru saya yang berjudul Menikahi Pria Bangkrut dan Arogan. Akan tayang dua hari lagi diniveltoon. Terimakasih atas perhatiannya.
__ADS_1