
Hanya gelengan kepala yang Guntur perlihatkan untuk menanggapi celotehan Antinia yang menurutnya aneh. Setelah Antinia Siap, tak mau buang waktu, mereka berdua masuk kedalam mobil Guntur dan meluncur menuju rumah bu Asih dan pak Hadi yang hanya berjarak ratusan meter saja.
"Lihat Guntur, nasibnya berubah sekali semenjak bertemu dengan bapak dan kakak kandungnya yang menikah dengan bos porang. Dulu dia kemana-mana pakai sepeda motor butut tapi sekarang mobilnya mentereng, penampilannya pun semakin keren dan konon lagi dekat sama bule"
Ibu-ibu yang sedang berkerumun dipinggir jalan menunggu tukang sayur saling berkomentar saat melihat Guntur lewat dihadapan mereka.
Hanya dalam beberapa menit mobil Guntur telah memasuki halaman rumah orang tuanya. Bu Asih dengan tergopoh-gopoh menyambut kedatangan mereka. Sedangkan diteras rumah pak Hadi yang sedang menggendong langit putra bungsunya terus mengawasi mobil putranya.
"Assalamuallaikum Antinia, selamat datang dirumah kami yang sederhana ini, semoga anda senang"
Bu Asih menyalami Antinia dengan wajah ceria. Antinia mengajak bu Asih melakukan cipika dan cipiki membuat bu Asih terus mengusap pipinya yang baru saja bersentuhan dengan pipi Antinia. Dia sangat bangga bisa bersentuhan dengan bule.
"Tentu aku akan sangat senang bu diperkanankan main ketempat ibu," jawab Antinia singkat sambil melirik kearah Guntur yang tersenyum manis kepadanya.
Tiba diteras rumah mereka berhenti, Guntur memperkenalkan bapaknya kepada Antinia.
"Kenalkan Antinia ini bapakku dan ini Langit adik kesayanganku"
Merekapun saling berjabat tangan. Antinia mencium punggung tangan pak Hadi.
"Sering-seringlah main kesini kalau lagi libur kerja nak Antinia, dari pada jenuh dirumah sendirian. Disini kan ada ibunya Guntur yang bisa kamu ajak ngobrol. Dia itu sangat mengidolakan kamu lho nak Antinia"
Bu Asih sontak menapak lengan pak Hadi, dia meresa malu kalau selama ini sering membahas Antinia.
"Bapak jangan bikin saya malu pak, wajar kan kalau ibu mengidolakan bule cantik, gadis langka dan hanya satu-satunya di desa ini," sahut bu Asih.
Mereka semua langsung menuju keruang makan dimana bu Asih sudah menyiapkan beberapa masakan untuk menyambut kedatangan Antinia.
"Ayo silakan dimakan nak Antinia, Guntur kamu tidak usah sungkan, ayo makan saja," ujar bu Asih sambil memberikan.sebuah piring kepada Guntur dan Antinia. Guntur hanya nyengir menanggapi ocehan ibunya. Sementara Antinia melirik pak Hadi yang terus menggendong Langit sambil bersenandung.
"Pak Ayo makan bareng"
__ADS_1
"Kalau dia sudah makan duluan nak Antinia, tapi tenang, bapaknya Guntur tadi memakan nasi dan lauk sisa kemarin jadi hidangan ini bukan sisa," bu Asih yang menyahut.
"Nasi ini juga engga papa bu, kalau menurut saya bukan sisa kan ngambilnya pakai sendok," jawab Antinia.
"ya juga ya," kembali bu Asih menyahut.
"Sudah-sudah kalian makanlah yang tenang, jangan terus membicarakan bapak, nanti bapak malah keselek"
Pak Hadi menimpali pembicaraan mereka dan membuat mereka tersenyum lalu kembali melanjutkan makannya.
Selesai makan Guntur mengajak.Antinia ngobrol santai diteras rumah, tidak jauh dari mereka Langit sedang bermain. Sedangkan pak Hadi dan bu Asih entah sedang apa, sejak selesai makan mereka berdua belum juga keluar kamar.
Bagaimana perasaanmu sejak pindah kerja di desa ini, kerasan engga?"
Guntur mendudukkan pantatnya dikursi yang ada diteras rumahnya, kemudian meletakkan dua gelas es jeruk diatas meja. Begitupun Antinia yang duduk tak jauh Guntur.
"Kerasanlah disini lingkungan kerjanya kondusif, warga desanya juga ramah-ramah, sepertinya mereka sangat welcome dengan orang baru"
Makanya kamu jangan terlalu terbuka dan curhat masalah pribadimu pada mereka, dijamin akan disebar luaskan oleh mereka"
Guntur menasehati dan menjelaskan kelebihan dan kekurangan penduduk didesanya yang sebenarnya kurang lebih sama saja dengan ibu-ibu ditempat lain.
"Begitu ya sifat ibu-ibu, aku jadi membayangkan apakah jika aku jadi ibu -ibu juga seperti mereka he....he"
"Kapamln rencananya kamu ingin merubah statusmu dari seorang gadis jadi seorang ibu," tanya Guntur sembari memandang wajah cantik wanita yang ada dihadapannya. Antinia tersenyum mendengar perkataan Guntur.
"Nanti saat ada orang yang mengungkapkan perasaannya bahwasannya dia jatuh cinta padaku, maka aku akan terima dan ajak dia menikah"
Tawa Antinia pecah mendengar kalimat yang keluar dari bibirnya sendiri.
"Apa siapapun dia tanpa kecuali," tanya Guntur antusias.
__ADS_1
"Untuk detik ini hingga satu jam kedepan jawabannya ya, tapi setelah itu mungkin aku akan merubah.keputusanku"
Mereka tertawa bersama, namun Guntur hanya wajahnya saja yang terlihat tertawa, jauh dilubuk hatinya, dia sangat gugup. Haruskah detik itu juga dia nyatakan perasaannya, apakah ucapan Antinia adalah isyarat agar dia mengungkapkan perasaannya detik itu juga. Hati Guntur sangat bimbang, apakah mencintai gadis seperti Antinia adalah keputusan yang tepat. Dia merasa takut nantinya menyesal karena dirinya dan wanita dihadapannya berasal dari strata sosial yang berbeda. Namun dia ingat kakaknya dan Gilang yang hidup bahagia walaupun mereka berasal dari strata sosial yang jauh berbeda. Walau begitu berat perjuangan mereka, sanggupkah dia melewati semua itu.
"Kenapa diam, apa kamu sedang berfikir"
Guntur tersenyum, ucapan wanita cantik dihadapannya telah membuatnya berfikir keras.
"Iya aku sedang berfikir keras, ingin rasa aku mencoba menjadi kandidat salah satu orang yang mengungkapkan perasaannya detik ini juga, tapi aku takut dibilang lancang karena aku hanya kaum biasa"
Antinia terlihat merona, dia tersipu malu, ada rona bahagia terpancar dari wajah cantiknya.
"Kamu berfikir untuk mengambil kesempatan itu karena ada perasaan padaku atau karena ada kesempatan didepan mata?"
Antinia menatap lekat manik hitam lelaki dihadapannya, dia mencoba menyelami isi hati lelaki yang selama ini mencuri hatinya lewat sorot matanya. Adakah kejujuran disana, adakah kesempatan untuk memiliki pria tampan dihadapannya.
"Pisang gorengnya dimakan ini masih anget, wajah kalian terlihat tegang sekali, apa kalian sedang berdebat. Maafkan anak ibu ya nak Antinia dia memang menyebalkan"
Bu Asih keluar menyuguhkan pisang goreng dengan asap yang masih mengepul.
"Ibu tidak usah ikut campur, jangan kepo bu, ini urusan anak muda, ibu urus urusan ibu sendiri"
Ucap Guntur sambil mengambil sebuah pisang goreng dan memakannya. Kemudian dia mengambil tisu dan digunakan untuk mencomot pisang goreng satu lagi dan menyerahkan pada Antinia.
"Cobain deh, enak banget, ini pisang masak dipohon, dan hasil tanaman sendiri jadi dijamin tanpa pestisida dan bahan kimia berbahaya lainnya," ucap Guntur. Antinia menerimanya dengan rasa bahagia.
"Iya nak Antinia, pisangnya enak,legit dan gurih seperti anak ibu yang ganteng ini. Nak Antinia pasti tak akan kecewa jika memilikinya"
"Bu tidak usah promosikan aku segala, aku masih bisa usaha sendiri. Ibu sadar enggak sih kalau ucapan ibu itu telah menurunkan nilai jualku dihadapan wanita?"
******
__ADS_1