Cintaku Yang Tak Di Restui

Cintaku Yang Tak Di Restui
Bab. 73. Masa Lalu Bu Tarni


__ADS_3

Tak terasa setengah jam lamanya mereka berada dalam satu mobil. Supir mereka memarkirkan mobil mereka diparkiran ?khusus.


"Kita sudah sampai pak"


Supir memberitahu kedua bosnya. Gilang dan pak Soko keluar dari mobil dan melangkah dengan gagah menuju ruangan. Saat tengah memperbincangkan pekerjaan dalam ruangan pak Soko.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk," ucap pak Soko.


"Gilang ke toilet dulu ayah"


Pak Soko mengangguk, sementara seorang wanita muda masuk membawa setumpuk berkas ditangannya.


"Ada apa Sitah?"


"Ini pak ada beberapa berkas yang harus ditanda tangani oleh bapak, satu jam lagi kita akan dilakukan meeting dengan beberapa perwakilan dari perusahaan yang mengajukan kerja sama beberapa hari yang lalu," jawab Sitah.


Gilang yang baru keluar toilet dan akan masuk kembali ke ruangan itu menghentikan langkahnya. Dia terkejut setelah tahu kalau Sitah menjadi sekertaris ayah sambungnya. Diam-diam dia mendengarkan pembicaraan antara Sitah dan ayah sambungnya.


Hatinya merasa lega saat mendengar pembicaraan pak Soko dan Sitah yang hanya sebatas pekerjaan. Walaupun dia tidak tahu bagaimana kelangsungan pernikahan bundanya jika Sitah tetap menjadi sekertaris pak Soko.


Ada rasa percaya kalau pak Soko tidak akan pernah menghianati salah satu wanita yang sangat dicintainya. Ada sebuah ke khawatiran yang mengganggu dibenak Gilang, walau dia percaya jika pak Soko lelaki setia, namun Sitah selalu menghalalkan segala cara. Berbagai pertanyaan muncul dalam lubuk hatinya. Bagaimana kalau Pak Soko dijebak, menggunkan minuman keras atau pun obat perangsang agar seseorang bergairah dan ingin melakukan hubungan **** saat itu juga. Betapa hancur hati bunda, tak kuasa rasanya hati Gilang menyaksikan luka dihati bundanya. Jika terjadi hubungan badan antara ayah sambungnya dengan Sitah.


Gilang tetap berdiri dibalik pintu sampai pembicaraan ayah sambungnya dan Sitah selesai. Setelah Sitah meninggalkan ruangan pak Soko, Gilang langsung masuk.


"Itu sekertaris ayah?," tanya Gilang.

__ADS_1


"Iya, sudah dua bulan dibekerja disini menggantikan Resni yang resign"


Pak Soko pun menceritakan kalau banyak yang ingin dia tanyakan tentang Sitah yang dia ketahui adalah warga desa Cipaganti dan karyawati putra sambungnya.


"Apa kira-kira yang menyebabkan Sitah keluar dari perusahaanmu dan melamar kerja disini?"


Gilang terkejut mendengar pertanyaan pak Soko, ternyata ayah sambungnya belum tahu siapa yang menculik Gilang, dan vidio viral yang diunggah oleh Sitah sehingga menyebabkan istrinya harus melahirkan secara caesar dan mertuanya harus melahirkan dimobil karena shock.


Gilang lalu menceritakan apa yang terjadi diperusahaan Gilang pasca kepindahan pak Soko dan bundanya kekota. Dia ceritakan dengan detail semua rentetan peristiwa yang terjadi. Bermula saat diculiknya Gilang saat pernikahan orang tuanya hingga tersebarnya vidio mesum antara dirinya dan Sitah. Gilang mengambil tindakan tegas dengan memenjarakan Sitah.


Setahu Gilang, Sitah masih menggarap lahan bersama bu Tarni dikampung setelah dirinya mencabut tuntutannya. Dia tidak menyangka, Sitah bekerja diperusahaan bundanya yang dipimpin oleh ayah sambungnya.


Setelah mendengar kisah Gilang tentang perbuatan Sitah, Pak Soko pun menarik nafas panjang dan menyeruput kopi hitam yang ada dihadapannya.


Kembali ingatan pak Soko teringat kemasa puluhan tahun yang silam kala dia masih muda. Sejak muda dia sudah mengatahui bagaimana kisah hidup bu Tarni yang merupakan warga desa Bumi Hangus. Bu Tarni hidup sebatangkara. Dia bekerja sebagai pemuas nafsu para penjahat yang ada di desa itu. Usai merampok, menjambret dan membegal dan melakukan berbagai kejahatan lainnya. Para perapok pun menghabiskan hasil kejahatannya dengan bersenang-senang dengan wanita penghibur diantaranya adalah bu Tarni yang waktu itu masih muda dan cantik.


Lelaki yang mempunyai perus six pack itu menceritakan semua masa lalu Sitah secara detail pada putranya. Bukan sengaja membuka aib, namun untuk meminta pertimbangan Gilang langkah apa yang harus dilakukan sebagai antisipasi andaikata Sitah melakukan perbuatan yang merugikan orang lain.


"Jadi Seperti itu masa lalu Sitah, semoga saja dia tidak melakukan perbuatan tercela seperti saat diCipaganti"


Ucapan Gilang diaminkan oleh ayah sambungnya. Waktu terus berjalan, kini waktunya pak Soko harus meeting dengan beberapa orang perwakilan dari perusahaan yang akan ada kerjasama dengan perusahaannya, Selesai meeting Gilang dan pak Soko kembali diskusi mengenai pekerjaan, Gilang memberi beberapa masukan bagi pak Soko sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan untuk menerima atau menolak tawaran kerja sama yang diajukan oleh beberapa orang perwakilan dari perusahaan lain.


Saat selesai melakukan diskusi Gilang memutuskan ingin pulang. Rencananya sore ini dia akan mengajak istrinya jalan-jalan kebeberapa tempat. Telah lama Sekar tidak menginjakkan kakinya di kota ini, kota dimana dia lahir dan dibesarkan. Wajar jika Sekar ingin sekali mengunjungi tempat-tempat yang pernah menjadi kenangan dalam hidupnya.


Sebelum pulang, Gilang kembali membahas tentang keberadaan wanita bernama Sitah yang begitu membuatnya khawatir.


"Apa selama disini Sitah bekerja dengan baik ayah?"

__ADS_1


Pertanyaan Gilang membuat pak Soko, berusaha mengingat kembali rutinitas Sitah setiap harinya.


"Kalau untuk urusan pekerjaan, dia bekerja dengan baik dan cekatan. Dia menyiapkan segala jadwal dan pekerjaan ayah selama dikantor saja. Sedangkan jika ada meeting diluar, aku selalu mengajak boy untuk mendampingiku"


"Syukurlah ayah, Gilang harap ayah lebih berhati-hati dengan wanita itu karena kita tidak bisa seenaknya memecat orang. Gilang percaya ayah laki-laki yang setia"


Pak Soko tersenyum seraya menepuk-nepuk bahu putra sambungnya. Dia sangat mengerti betapa Gilang begitu khawatir takut bundanya tersakiti.


Gilang berjalan dengan cepat melewati lobi. Tak sengaja dia menabrak seseorang, saat padangan mereka bertemu, Gilang sangat terkejut.


"Sitah, rupanya kamu bekerja disini"


Gilang langsung menyapa Sitah yang berdiri gugup dengan wajah bersemu merah karena malu dihadapannya.


"Sa....saya baik" maaf saya baru sadar kalau perusahaan dimana saya mencari rezeki adalah perusahaaan Mililk bapak. Saya benar-benar tidak tahu pak, mohon jangan pecat saya, saya benar-benar perlu pekerja ini"


Sitah berbicara sambil terbata-bata, rasa gugup dan khawatir telah mendominasi, terlihat jelas rona ketakutan diwajahnya.


Gilang menatap tajam kearah Sitah, rasa benci dan jijik masih tersimpan di hati Gilang. Terbayang tubuh Istri tercintanya, saat bersimbah darah, usai menyaksikan vidio mesum yang dikirimkan oleh Sitah.


"Aku tidak akan memecatmu, jika kamu tidak berbuat sesuatu yang merugikan dan menyakiti hati orang lain. Tapi kalau sampai kamu mengulangi perbuatan yang pernah kamu lakukan beberapa bulan yang silam terhadapku. Kamu akan tahu akibatnya, tidak ada maafku untukmu"


Gilang berbicara dengan sorot mata tajam dan mengintimidasi. Membuat Sitah tertunduk dan bergidik ngeri. Masih sering terbayang dalam ingatannya. Wajah-wajah sangar dan beringas penghuni penjara, masih terasa dikulit di seluruh tubuhnya, bagaimana dinginnya tidur dibalik jeruji besi.


"Saya janji pak, saya akan menjadi orang baik dan tidak akan mengulangi kebodohan yang pernah saya lakukan.


*******

__ADS_1


__ADS_2