
"Sudahlah dad, jangan terus menggodaku.Dady membuatku jadi ingin mengulang kembali apa yang kita lakukan malam tadi," ujar nyonya Antoni seraya terkekeh.
*****
Sementara itu dikamar sebelahnya bu Asih dan pak Hadi sedang duduk menikmati secangkir kopi sambil mengobrol ringan, menikmati pagi yang indah lewat jendela kamarnya.
"Enak juga ya pak bercinta dikamar yang megah seperti ini, kasurnya empuk, rasanya seperti sedang memadu kasih diatas awan, terus rasanya adem, ibu jadi bergairah"
Bu Asih tersenyum menatap suaminya yang justru tersipu malu mengingat kegiatannya malam tadi. Dia heran dengan istrinya yang sudah cukup berumur namun gairahnya masih begitu menggebu.
"Lihat pak lantainya yang beralaskan permadani dengan kualitas terbaik. Saat kita melakukan gaya women on top, dan saat dengkulku berpijak disana rasanya empuk dan tidak lecet. Tidak seperti saat dirumah dengkul ibu sering lecet saat kita melakukan dengan gaya itu.
"Biar dengkul ibu lecet ya ibu tidak jera, selalu minta lagi dan lagi," sahut pak Hadi. Kedua pasangan yang telah puluhan tahun saling mencintai itu terus saja bergurau sambil sesekali menyeruput kopi dicangkirnya masing-masing.
Hari ini pak Hadi dan keluarganya rencananya akan pulang ke Cipaganti kecuali Guntur yang mendapatkan cuti selama sepuluh hari kedepan.
"Alhamdulliah ya pak akhirnya acara pernikahan dan resepsi pernikahan anak-anak kita berjalan lancar. Ini saya mau pamit dulu pulang kedesa. Saya akan mempersiapkan acara resepsi anak Guntur dan Antinia dikampung dengan adat dan tradisi disana"
Pak Hadi dan bu Asih yang menggendong Langit menyalami besannya. Mereka terlihat sangat bahagia, walau Guntur dan Antinia tidak ikut melepaskan keberangkatan pah Hadi dan bu Asih untuk pulang ke desa. Para orang tua itu sepakat tidak ingin mengganggu sepasang pengantin yang hingga kini belum memunculkan batang hidungnya. Mereka sangat memakluminya, mungkin mereka kelelahan setelah menjalankan rutinitas barunya.
"Saya titip salam sama Guntur dan mantu saya ya besan, semoga saja mereka cepat berhasil dalam mengadon buah hatinya," seloroh bu Asih saat bersalaman dengan nyonya Luna.
"Aamiin bu Asih, saya sudah tidak sabar lho bu kepingin menggendong cucu. Semoga mereka diberi semangat dalam usaha memberi kita cucu," sahut nyonya Luna.
__ADS_1
Para lelaki yang memdengar celotehan para istri mendadak hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
********
Gilang yang sejak usai akad nikah Guntur dan Antinia langsung pulang kini telah sampai dihalaman rumahnya. Sekar menyambutnya diteras rumah dengan mata sembab,
"Sayang....kamu kenapa? Sepertinya habis menangis, apa ada masalah dirumah, kamu baik-baik sajakan?"
Sederet tanya terucap dari bibir Gilang, lelaki itu sangat khawatir melihat istri terkasihnya berlinang air mata. Hatinya berdebar, takut terjadi sesuatu dirumah, sempat terpikir apa ada rampok yang menyatroni rumahnya. Kalau memang itu terjadi, Gilang merasa sangat bersyukur. Bukan bersyukur karena kerampokan, tapi karena anak istrinya yang masih terlihat baik-baik saja, walau jiwanya tentu saja tidak, pasti ada trauma mendalam yang dirasakannya. Namun yang penting mereka selamat. Mengenai harta benda yang telah dirampoknya dia tak perduli.
"Sayang apa rumah kita kerampokan, sudahlah relakan harta benda yang telah dibawa lari perampok. Bagiku yang terpenting kau dan Elang selamat"
Gilang memeluk istrinya yang tengah menggendong putra semata wayangnya. Sekar segera mengurai pelukan suaminya dan memperlihatkan sesuatu ditangannya.
"Apa ini sayang? Kamu hamil, hamil anakku kan, bukan anaknya perampok?"
"Perampok-perampok apa kak? siapa yang kerampokkan! Tentu saja aku hamil anakmu, kamu fikir aku perempuan hina"
Sekar melangkah cepat masuk kedalam rumah dengan menggendong anak semata wayangnya. Sementara Gilang mengikuti dibelakangnya. Lelaki itu tentu saja bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Sepertinya apapun yang dia lakukan sejak tadi selalu salah dimata istrinya.
Sekar langsung masuk kekamar dan membaringkan Elang yang sudah tertidur pulas. Sedangkan Gilang terus mengikutinya.
"Sekar maafkan aku, aku bingung Sekar, tolong jelaskan apa yang terjadi dirumah. Terus itu tespack siapa, apa punya kamu," tanya Gilang seraya duduk diranjang sambil meletakkan koper yang dari tadi dibawanya.
__ADS_1
"Iya kak, seharusnya aku memberitahumu terlebih dahulu, bukannya menangis, air mataku telah membuatmu khawatir sehingga tak mampu menyusun kalimat dengan benar.
Sekar duduk disamping suaminya. Dia menggenggam tangan lelaki yang begitu dicintai.
"Tidak ada perampok dirumah ini. Aku hamil anakmu kak, ya tentu saja anakmu karena aku istri yang setia, aku tidak pernah selingkuh, aku hanya bercinta dengan suamiku yang halal bagiku. Tapi sayangnya Elang masih kecil dan itulah yang membuatku sedih. Aku jadi takut kalau dia kurang kasih sayang, aku kasian padanya mas"
Tangisan Sekar terdengar pilu dan begitu menyayat hati. Namun beda halnya dengan Gilang, dia langsung tersenyum, karena sebentar lagi akan bertambah generasi penerusnya.
"Kenapa kamu mesti menangis, seharusnya kamu bersyukur karena anak adalah anugerah yang tak ternilai. Banyak pasangan halal diluar sana yang bertahun-tahun telah menikah dan merindukan seorang buah hati. Sedangkan kita, Tuhan telah menitipkannya kepada kita tanpa kita memintanya"
Gilang menasehati istrinya yang sedang dalam kondisi sedih, mungkin karena pengaruh hormon kehamilan sehingga dia begitu terbawa perasaan.
"Kakak benar, maaf ya kak, mungkin aku terlalu sayang sama Elang sehingga aku takut dia kekurangan kasih sayang setelah adiknya lahir nanti," ujar Sekar.
Kembali Gilang menasehati istrinya kalau Elang tak mungkin kekurangan kasih sayang. Justru dengan mempunyai adik, dia akan cepat menjadi anak yang mandiri dan mampu menjadi panutan untuk adik-adiknya kelak. Yang terpenting sebagai orang tua mereka harus terus membimbing keturunan mereka, mengajari bagaimana cara menjalani hidup agar hidupnya menjadi berkah dan manfaat bagi orang-orang disekitarnya.
"Terimakasih kak, setelah mendengar nasihat kakak kini hatiku merasa sejuk kembali, rasa sedih dan bingung yang begitu besar membuatku terus menangis. Padahal aku tahu itu tidak bagus untuk janin yang ada dalam kandunganku"
Gilang merasa bahagia, tak susah ternyata memberi pengertian pada istrinya. Dia bersyukur mempunyai istri yang baik dan penurut.
Setelah makan siang, Gilang pamit kerumah nenek Leni, membiarkan Sekar dan Elang untuk istirahat. Gilang berencana ingin melihat sejauh mana persiapan nenek Leni dan Gading untuk melakukan acara pernikahan yang tinggal dua minggu lagi.
"Sudah sampai mana persiapan pernikahan Gading nek, apa semua lancar?"
__ADS_1
Nenek Leni yang hanya sendirian dirumah menjelaskan kepada Gilang, kalau acara persiapan pernikahan mereka lancar saja, pendaftaran pernikahan ke KUA juga sudah dilakukan oleh Gading dan Sitah. Kalau acara hazatan bertempat dirumah bu Tarni dan sudah urus bu Tarni dibantu warga sekitar," ujar nenek Leni menjelaskan
*******